
Gunawan yang sedang menyetir mobil menyusuri jalan raya sedang menelpon salah seorang petugas kepolisian.
"Bagaimana ? ada hasil ?" Tanya Gunawan di telepon.
"Hapenya gak aktif, mati, jadi belum bisa di lacak posisinya." Ujar petugas kepolisian dari seberang teleponnya pada Gunawan.
"Usahakan terus, kasih kabar saya kalo ada hasilnya." Ujar Gunawan, lalu menutup teleponnya dan mengantongi ponselnya di kantong bajunya, dia menambah kecepatan laju mobilnya dijalan raya itu, wajah Gunawan terlihat menyimpan beban fikiran, dia berfikir, dimana Yana saat ini berada.
Di rumah lama Randi dan Yana, saat itu, Randi yang kini berubah menjadi Sanur, salah satu dari kepribadian ganda yang ada dalam dirinya meletakkan besi yang di pegangnya ke atas paha Yana yang terikat di kursi, dengan sekuat tenaganya, Randi menekan potongan besi yang di ujungnya sedikit runcing itu ke atas paha Yana, Yana mengerang merintih kesakitan saat besi itu menusuk, menghujam kulit atas pahanya, menembus kulitnya, dari paha atas Yana keluar darah segar, Yana teriak teriak kesakitan, Randi terus menekan besi itu ke paha Yana, wajahnya dingin, matanya melotot, menyeringai sangat mengerikan, menatap wajah Yana. Randi tiba tiba mengerang kesakitan, memegang kepalanya yang terasa sakit, lalu terdiam sejenak, menatap wajah Yana yang ada di hadapannya, saat ini, bukan Sanur yang ada, melainkan Randi , dia kembali dengan pribadi normalnya, Randi menatap Yana.
"Kamu tau, salahmu? Kamu tau kenapa aku jadi seperti ini padamu Yana ?!" Ujar Randi geram menyeringai, dia mendekati wajahnya ke wajah Yana.
"Karena apa yang kamu tanam selama ini, maka sekarang kamu akan menuai hasilnya." Ujar Randi.
"Kamu sudah mengingkari kepercayaanku, sudah menghancurkan kesetiaanmu sebagai istri." Ujar Randi geram pada Yana.
"Kamu kira selama ini aku gak tau perselingkuhanmu ? Aku tau Yana, aku tau, dan aku berusaha untuk sabar, berharap kamu meninggalkan semua itu dan kembali padaku, menjadi istriku seperti awal kita menikah." Ujar Randi menatap tajam.
"Setiap hari, setiap hari, aku menunggu, tapi kamu semakin menjadi, semakin liar, semakin berani melakukan perzinahan dengan laki laki yang bernama Herry itu!" Ujar Randi mulai dengan suara tinggi dan keras pada Yana.
"Beberapa kali aku mengikutimu secara diam diam, karena terlalu sering sikapmu aneh, membuat kecurigaanku semakin besar, aku tau di hotel mana kamu selalu melakukan perzinahan itu." Ujar Randi. Terlihat di kelopak mata Randi mulai menggenang air mata kesedihan.
"Andai aku tidak pernah bertemu denganmu dulu, mungkin aku tidak perlu merasa terbang terlalu jauh dan jatuh pun tidak terlalu keras, bahkan bertindak liar seperti sekarang ini." Ujar Randi menatap tajam pada Yana, ada rasa kecewa yang tersimpan pada raut wajahnya, Yana terus merintih menahan sakit di pahanya.
"Kamu tau Yana ? Aku jatuh cinta padamu bukan karena menemukan kesempurnaan pada dirimu, tapi karena aku melihat kesempurnaan pada dirimu yang tidak sempurna.” Ujar Randi, Yana terdiam menatap lekat wajah Randi.
"Bagiku, pernikahan bagaikan melihat daun yang jatuh di musim gugur, selalu berubah dan semakin indah setiap harinya." Ujar Randi tersenyum getir pada Yana.
" Aku mulai menemukan cinta yang sejati setelah pernikahan kita, aku semakin mencintaimu tiap saat, pernikahan itu bukan tentang aku atau kamu saja. Ini semua tentang kita, tentang kesetiaan dan kejujuran kita." Ujar Randi menatap tajam Yana. Randi menekan besi kembali ke paha atas Yana, Yana pun mengerang menahan sakitnya.
"Ternyata kamu gak memiliki komitmen dan gak bisa menepati janjimu saat awal memintaku menikahimu dulu, kepercayaanku kamu khianati." Ujar Randi menatap nanar pada Yana yang meringis menahan sakitnya.
"Setiap hari aku menunggu kamu datang padaku, mengakui kesalahanmu yang sering gak pulang kerumah dan berselingkuh, jika kamu meminta maaf, aku anggap kamu berani mengakui ke salahanmu, dan mungkin aku akan menguatkan diriku mencoba memaafkanmu, dan melupakan semua perbuatanmu, demi kebahagiaan kita, karena aku sudah bertekat, gak kan gagal lagi dalam rumah tanggaku, gak mau membuat kesalahan yang sama seperti dulu ku lakukan terhadap mamanya Via, anakku.” Ujar Randi, tanpa sadar dia meneteskan air matanya, Yana tersentak, menatap wajah Randi yang menangis namun raut wajahnya masih tersimpan amarah yang meluap, ada rasa bersalah muncul pada diri Yana saat itu, namun dia takut untuk mengakuinya, melihat saat ini Randi sangat menyeramkan.
"Aku ini sabar. Tapi lebih baik kamu jangan menguji kesabaranku." Ujar Randi melotot tajam pada Yana.
"Aku yang selalu berusaha tetap sabar setiap hari melihat perbuatanmu semakin merasakan sakit di hatiku, aku begitu kecewa kamu semakin jauh dariku, mengabaikanku, gak mau mendekat apalagi melihat wajahku, bahkan kamu menghina dan menganggapku sampah, itu membuatku jenuh, jenuh Yana, dan kejenuhan itu berubah menjadi kemarahan dan kebencian yang meluap luap dalam jiwaku !!" Ujar Randi tiba tiba membentak Yana dengan suara kerasnya, Yana terlihat ketakutan melihat sikap Randi seperti itu.
"Saat aku melihatmu disebuah kamar hotel sedang melakukan perzinahan, aku berkata pada diriku sendiri, Tenang aja Yana, nikmatilah, aku udah biasa kecewa, terusin aja sampai kamu puas." Ujar Randi menatap tajam wajah Yana.
Saat itu terlintas di pikiranku, aku akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan, tapi akhirnya aku mengurungkan niatku, aku pikir, kalau aku berbuat sama, memperlakukanmu seperti caramu memperlakukanku. Kamu akan membenciku." Ujar Randi dengan tatapan tajamnya pada Yana yang terdiam, tak mampu berkata kata saat itu.
"Aku pun memilih diam, dan mencoba tetap bersikap baik padamu, berpura pura gak ada yang terjadi pada pernikahan kita." Ujar Randi.
"Namun yang kamu harus tau Yana, ketika aku diam, aku memiliki petir yang tersembunyi, yang secara tiba tiba tanpa kamu duga akan menyambar dan menghancurkan dirimu." Ujar Randi menatap dengan geram, Yana terlihat takut pada Randi yang saat itu raut wajahnya semakin menakutkan.
"Setelah kamu gak bisa lagi menghancurkan hatiku dengan semua penghinaan, cacianmu dan perbuatan zinahmu, kamu mulai menghancurkan jiwaku." Ujar Randi.
"Dan yang terpenting dari semua itu, kamu telah mengusik ketenangan pribadi pribadi yang ada dalam diriku." Ujar Randi menyeringai menakutkan, berbisik di telinga Yana.
Tiba tiba Randi mengerang kesakitan kembali, dia memegang kepalanya, menahan rasa sakit, Yana yang melihat itu heran, kenapa tiap Randi seperti kesakitan lalu berubah menjadi seperti orang lain yang tidak dia kenal selama ini.
Randi terdiam, kepalanya tertunduk, untuk sesaat suasana hening, Yana mencoba berontak, berusaha melepaskan ikatannya, namun ikatan itu sangat kuat, Yana tidak bisa melepaskannya. Tiba tiba kepala Randi terangkat, matanya melotot, menyeringai buas, menatap tajam pada Yana yang ketakutan saat melihat perubahan sikap pada diri Randi.
"Apa maksudmu ?" Tanya Yana pada Randi yang saat itu berubah menjadi Rahman yang mendekati telinga Yana.
"Aku katakan pada Sekar saat itu..." Ujar Randi yang berubah menjadi Rahman dengan berbisik di telinga Yana yang melotot matanya berusaha agar telinganya jelas mendengar tiap kata yang di ucapkan Randi padanya.
Kita kembali ke waktu, dimana pada saat dulu Randi dan Yana menemui Sekar di ruang isolasi rumah sakit jiwa.
Saat itu, di masa lalu sebelum kematian Sekar, Randi yang berdiri di hadapan Sekar lalu memeluk tubuh Sekar yang duduk diam tak bergeming, Randi berbisik di telinganya.
"Gak ada gunanya kamu hidup, Mamamu sangat malu punya anak sepertimu, lebih baik kamu akhiri hidupmu." Ujar Randi berbisik pelan ditelinga Sekar saat itu, yang membuat Sekar bereaksi, matanya bergerak gerak cepat, terbuka lebar.
"Akhiri hidupmu dengan pisau ini." Ujar Randi berbisik lagi, dari tangannya secara tersembunyi tanpa di ketahui Yana dan petugas jaga yang menunggu diluar ruang isolasi itu, Randi memberikan sebilah pisau lipat ketangan Sekar yang menerima dan menggenggam pisau lipat itu, Sekar dengan gerakan perlahan, menyelipkan pisau lipat pemberian Randi itu di balik kain sprei kasurnya.
"Terima kasih, udah memberiku kepuasan, menggantikan mamamu selama ini." Ujar Randi berbisik, tersenyum puas lalu menyeringai tajam, seketika saat mendengar ucapan Randi itu, tubuh Sekar bergetar, matanya melotot, dia mulai teriak teriak, memegang kepala , menarik rambutnya, dia teriak teriak seperti orang kesurupan, histeris, Randi pura pura kaget melihat sikap Sekar yang mengamuk teriak teriak itu, dia melangkah mundur, memberikan ruang untuk petugas jaga yang berlari masuk mendekati Sekar dan Randi, untuk kemudian, cerita seperti yang sudah di ceritakan pada bab sebelumnya.
Kembali ke masa sekarang, Yana yang saat itu terikat dengan kondisi paha atasnya terluka dan berdarah menatap tajam wajah Randi penuh amarah.
"Jahanaaaaammm ....kamu iblis Randi, Ibbbliiiiissss !! Kamu berpura pura baik saat itu, ternyata kamu yang membuat anakku bunuh diri!!" Teriak Yana sekeras kerasnya, Randi tertawa senang melihat Yana yang mengamuk dalam keadaan terikat itu, Randi yang berubah menjadi pribadi Rahman menatap tajam wajah Yana.
"Aku mempermudah jalan anakmu ke neraka Yana.Dan itu balasanku untukmu." Ujar Rahman menyeringai.
"Saat kamu menghina, mencaci, merendahkan dan mengusirku, aku bertekat, aku gak akan membiarkan kamu bahagia, aku akan membuat hidupmu kelam, buruk, hancur." Ujar Randi yang berubah menjadi sosok Rahman geram dengan suara berat dan paraunya. Yana terlihat semakin jijik pada Randi, dia tak bisa memaafkan perbuatan Randi yang mengakibatkan anaknya bunuh diri, Yana sangat marah dan terpukul, dia baru tahu bahwa Randilah yang memberikan pisau pada Sekar, hingga Sekar mengakhiri hidupnya, andai saja saat itu dia tak membawa Randi, tentu anaknya masih hidup hingga saat ini. Yana terlihat meneteskan air matanya, dia sedih dan marah, dengan kebencian dan rasa jijiknya dia menatap Randi, lalu Yana meludahi wajah Randi.
Randi yang berubah menjadi pribadi Rahman tersentak saat ludah Yana mengenai wajahnya, dia menghapus air ludah dari wajahnya, matanya terbelalak, melotot menatap marah pada Yana, dengan wajah geram dia memukuli wajah Yana sekeras kerasnya, Yana yang mendapatkan pukulan keras di wajahnya teriak kesakitan, dari pinggir bibirnya keluar darah segar, Randi yang berubah menjadi Rahman terus memukuli wajahnya, kemudian dia menendang kaki Yana, memukulkan besi yang ada ditangannya pada kedua kaki Yana, Yana teriak kuat kesakitan mendapatkan pukulan itu, dia meronta ronta kesakitan, Randi yang berubah menjadi Rahman tidak perduli dengan teriak kesakitan Yana saat itu.
"Bunuuuh aku Randiii....cepat bunuuuh akuuuu...!!" Teriak Yana kesakitan karena pukulan pada wajah dan kedua kakinya, dia meminta agar Randi segera membunuhnya, agar dia tidak merasakan lagi sakit yang begitu luar biasa seperti ini, Yana berusaha menguatkan dirinya, menahan rasa sakit yang di deritanya.
Tiba tiba Randi mengejang, meringis sakit di kepalanya, kemudian sosok dirinya berubah menjadi Roni saat ini.
"Kamu pasti akan ku bunuh Yana, tapi tidak sekarang." Ujar Randi yang sekarang kepribadiannya sudah berganti menjadi Roni. Dengan tatapan yang tajam ke wajah Yana.
"Sebelum kamu ku antar ke neraka, ada hal yang perlu kamu ketahui." Ujar Randi yang sekarang menjadi sosok Roni dengan sikap yang tenang, berbeda dengan sebelumnya, namun dibalik ketenangan sikapnya, ada seraut wajah yang menunjukkan kekejaman dirinya. Yana berusaha memberanikan dirinya menatap wajah Randi, dia semakin heran, kenapa sikap dan pribadi Randi terus berubah ubah ? Apa yang terjadi, ada apa sebenarnya pada Randi ? ada pertanyaan yang muncul dalam dirinya, ada keanehan yang ditunjukkan Yana saat melihat perubahan perubahan sikap Randi itu, dia seperti menjadi beberapa orang yang berbeda saat ini.
"Gak ada yang perlu aku ketahui lagi darimu ! Aku muak, aku jijik denganmu, bunuh aku Randiii, bunuh akuuuu...!! Jangan kamu siksa aku begiiiniiii...!!" Teriak Yana meronta histeris pada Randi yang kini berubah menjadi sosok Roni yang lebih beringas dan buas dari pribadi lainnya. Randi yang berubah menjadi Roni menatap lekat wajah Yana yang meronta teriak teriak itu, dia mendekati wajah Yana, wajahnya dengan wajah Yana sangat dekat sekali.
" Ini tentang anakmu, Sekar." Ujar Roni dengan sikap tenang dihadapan wajah Yana. Mendengar itu, mata Yana melotot, dia semakin marah karena Randi berani menyebut nama anaknya.
"Jangan kamu sebut sebut nama anakku !! Kamu gak pantas menyebutnya !! Kamu bajingan, jahanaaaam, Iiibbblliiiissss !" Teriak Yana histeris sekuat kuatnya, Randi yang berubah menjadi Roni tak peduli Yana teriak, karena dia tahu, rumah lamanya itu kedap suara, tidak akan ada orang orang di luar yang mendengar teriakan Yana.
"Kamu yang menjadikanku Iblis Yana, karena perbuatanmu, ucapanmu, penghinaanmu, kamu udah membangunkan iblis iblis yang ada di dalam diriku" Ujar Randi yang berubah menjadi Roni itu menyeringai pada Yana.
"Selama ini, jiwa iblis yang ada dalam diriku tertidur, terkurung jauh di dasar jiwaku, aku berusaha membuatnya agar gak keluar dari diriku seperti dulu, tapi kamu, kamu mengusik ketenangannya, dan membangunkan serta membangkitkan kembali jiwa iblisku !!" Bentak Randi yang menjadi sosok Roni itu dengan suara keras, matanya melotot tajam mengerikan pada Yana yang terlihat menahan takutnya, ada rasa takut Yana pada Randi, karena orang yang dihadapinya saat ini berbeda dari orang sebelumnya, Yana merasakan bahwa orang yang sekarang ada di hadapannya itu lebih menakutkan dengan sikap tenang dan dinginnya.
"Kamu tau, apa yang terjadi dengan anakmu Sekar ? Kamu mau tau mengapa anakmu hamil ?" Ujar Randi yang telah berubah menjadi Roni dengan sikap tenang dan suara yang santai , menatap wajah Yana.
"Apa maksudmu ?!" Tanya Yana menatap tajam menahan amarahnya pada Randi.
Randi yang berubah menjadi sosok Roni tersenyum sinis menatap tajam wajah Yana yang terlihat ada rasa penasaran dan keingin tahuan tentang Sekar, anaknya.
"Tubuh anakmu Sekar lebih nikmat dari tubuhmu Yana." Ujar Randi yang berubah menjadi sosok Roni, berbisik dengan suara datar dan tenang di telinga Yana, mendengar perkataan Randi itu, Yana syock, matanya terbelalak, dia menahan geramnya. Yana menatap tajam penuh kebencian pada Randi yang berdiri di hadapannya dengan menyeringai, dengan penuh rasa jijik Yana menahan amarahnya pada Randi.