Go To Hell

Go To Hell
Bab 48



Di suatu tempat, Arifin, Purnomo dan Maman sedang berhadapan dengan sosok seorang pria yang untuk saat ini sengaja tidak di perlihatkan wajahnya, ini untuk membuat surprise nanti pada saat diungkapnya siapa sebenarnya sosok pria yang membantu dan menjadi kaki tangan Randi menjalankan semua aksinya selama ini .


Wajah Arifin, Purnomo dan Maman terlihat senang menerima uang , Arifin dan Purnomo masing masing mendapatkan upah 15 juta rupiah, sementara Maman mendapatkan upah 18 juta rupiah karena aksi sengajanya menabrakkan dirinya ke mobil Handoko sebagai bagian dari rencana yang sudah diatur untuk menahan Handoko menjemput Dewi di sekolah.


"Ingat, apapun yang terjadi, kalian jangan membocorkan rahasia ini pada siapapun, kalo pak Randi sampai tau diantara kalian ada yang membocorkan rahasia ini jika tertangkap, tau sendiri akibatnya." Ujar sosok pria tersebut.


"Tenang aja, kami gak bakalan buka mulut, dengan uang ini kami bakal menghilang sementara." Ujar Arifin, Purnomo dan Maman mengangguk, meyakini sosok pria itu agar percaya pada mereka.


"Ya sudah, untuk saat ini, kita akhiri disini, ingat, jangan tunjukkan batang hidung kalian sampai nanti aku yang hubungi lagi." Ujar sosok pria itu, Arifin, Purnomo dan Maman mengangguk, lalu mereka pergi meninggalkan sosok pria tersebut.


Dirumah paman Mulyono, malam itu Yana semakin gelisah, dia semakin cemas karena hingga malam ini Dewi belum juga pulang kerumahnya, dan tidak ada kabar juga dari Dewi, Yana mundar mandir cemas diruang tamu itu, wajahnya menunjukkan kepanikan dan kecemasan yang begitu besar, Gunawan, Kuncoro dan Handoko hanya bisa diam , paman Mulyono yang duduk di sebuah sofa juga diam berfikir, sebenarnya ada firasat tidak enak yang dirasakannya tentang Dewi, tapi dia tidak ingin Yana semakin syock dan panik jika dia menyampaikan firasatnya itu, di satu sisi juga paman Mulyono berharap agar Dewi baik baik saja.


Via yang mengetahui tentang Dewi yang belum pulang itu berfikir, dia melihat ke arah Yana yang sedang cemas dan kebingungan mundar mandir diruangan itu, Via lalu berbalik melangkah menuju kamarnya, masuk ke dalam kamar, Via lalu membuka tas dan mengambil ponsel pemberian Randi, Via mencoba menghubungi Randi, tapi tidak bisa terhubung karena ponsel Randi dalam posisi mati saat itu. Via menarik nafasnya, dia khawatir, kalau belum pulangnya Dewi ke rumah ada hubungannya dengan papahnya, dia ingin menanyakan hal itu pada papahnya, apakah papahnya sengaja menculik Dewi ? Via mencoba menghubungi papahnya dengan harapan Dewi tidak di culik papahnya. Via duduk di tepi ranjang, dia memutar mutar ponselnya, fikirannya menerawang, berfikir.


Di sebuah ruangan, Dewi yang sudah sadar dari pengaruh obat bius kaget dan bingung mengetahui dirinya terikat dan ada di dalam ruang sempit yang gelap. Mulutnya di tutup dengan lakban, Dewi menendang nendang kakinya yang terikat, berusaha melepaskan diri, raut wajahnya menunjukkan ketakutan, dia sadar, jika saat ini dirinya sedang di culik. Ada rasa penyesalan muncul dalam dirinya karena menyadari kesalahannya yang memutuskan untuk ikut naik ke mobil penculiknya, dia berfikir, jika saja dia menolak, tentu dia tidak akan di culik seperti saat ini. Dewi pun menangis menyesali keputusannya yang salah itu, meratapi dirinya, menangis pilu didalam ruangan yang sempit itu.


Suara ayam berkokok, matahari mulai menampakkan wajahnya, mulai memamerkan keindahan pancaran sinar cahayanya di pagi itu, Yana yang duduk di sofa ruang tamu ditemani Gunawan, Kuncoro dan Handoko terlihat lelah wajahnya karena semalaman tidak tidur, kesedihan menggelayut manja di wajahnya, Handoko dan Kuncoro mendekati Yana yang duduk di sofa dengan wajah sedih.


"Saya nanti kesekolahnya mbak Dewi untuk cari tau ke teman temannya bu." Ujar Handoko, Yana hanya mengangguk lemah tertunduk tanpa melihat Handoko.


Saat itu juga telepon Yana berbunyi, ada pesan yang masuk di ponselnya, Yana cepat meraih ponselnya lalu membuka dan melihat isi pesan yang di kirimkan padanya.


Saat Yana membuka dan melihat isi pesan itu, wajahnya kaget dan berubah panik.


"Dewiiiiii...!!" Teriak Yana histeris melihat ke ponselnya, mendengar teriakan Yana itu, Gunawan cepat mendekat dan mengambil ponsel Yana, Kuncoro dan Handoko mendekati Gunawan.


Di pesan itu terlihat ada photo Dewi yang sedang terikat dengan mulut di lakban. Gunawan membaca tulisan yang ada dipesan itu.


"Tunggu kabar selanjutnya dariku, Ingat, jangan libatkan polisi, jika tidak mau aku memotong motong tiap bagian tubuh anakmu dan mengirimkannya padamu." Begitu isi pesan tersebut yang membuat Yana bergetar, pucat pasi dan penuh rasa ketakutan.


Gunawan yang melihat photo Dewi terikat dan membaca isi pesan itu lalu memberikan ponsel Yana pada Kuncoro.


"Kamu cek dan lacak nomor yang mengirim pesan dan photo itu." Perintah Gunawan pada Kuncoro yang mengangguk menerima ponsel Yana, lalu bergegas meninggalkan ruangan itu, sementara Handoko terdiam merasa semakin bersalah karena Dewi ternyata di culik.


"Ini pasti ulah Randi !" Ujar Gunawan.


"Yang menculik mbak Dewi pasti kaki tangan Randi, saya yakin, orang yang kecelakaan itu juga, dia sengaja menabrakkan motornya ke mobil kamu agar menahanmu, dan teman temannya punya waktu menjemput lalu menculik mbak Dewi." Ujar Gunawan menjelaskan pada Handoko.


"Kurang ajar ! Berani dia nipu polisi!" Ujar Handoko marah , dia merasa sudah di tipu oleh aksi Maman yang berpura pura menjadi korban tabrakan mobilnya.


"Saya akan cek cctv disekitar jalanan tempat kejadian kecelakaan itu, biar saya lacak orang itu." Ujar Handoko pada Gunawan yang mengangguk, Handoko pergi meninggalkan Gunawan dan Yana diruangan itu.


"Apa maumu Randiiii !! Jangan libatkan anaaakkkuuu...!! Lepaskan dia !! Urusanmu denganku !!" Teriak Yana tiba tiba dengan suara melengking histeris dan menangis, suaranya itu membuat paman Mulyono kaget dan langsung berlari menemuinya, Via juga dengan cepat keluar kamarnya berlari ke arah Yana yang teriak histeris itu.


Gunawan berusaha menenangkan Yana yang panik itu, paman Mulyono mendekati Yana dan Gunawan.


"Kenapa ?!" Tanya paman Mulyono bingung.


"Dewi di culik pak, Randi mengirim photo dan pesan ke bu Yana." Ujar Gunawan menjelaskan. Mendengar Dewi di culik, paman Mulyono merasa kakikanya lemas, dia terhuyung, melangkah mundur terjajar hendak jatuh, Via yang tiba di ruangan itu dengan cepat menahan tubuh paman Mulyono agar tidak terjatuh.


Wajah Via menyimpan ke kesalan saat mengetahui Dewi di culik papahnya, dia kesal dan kecewa karena papahnya melibatkan dan mengancam nyawa Dewi karena masalahnya dengan Yana.


Paman Mulyono duduk di sofa, Yana masih terus menangis terisak isak, meratapi dirinya, dia sangat khawatir dengan keselamatan anaknya, Via melihat wajah Yana, dia menghela nafasnya berat. 


"Via akan cari dan menyelamatkan Dewi bunda." Ujar Via, lalu dia berbalik melangkah, namun saat baru dua langkah, Gunawan menghentikan langkahnya.


"Tunggu dulu mbak Via, jangan bertindak gegabah." Ujar Gunawan.


"Mau nunggu sampe kapan pak ? Papah saya itu gak kenal kompromi, dia gak kan bisa nunggu, saya tau, dia cuma ngikuti apa yang ada di otaknya, kalo otaknya nyuruh bunuh, Dewi akan dibunuhnya saat ini juga !" Ujar Via pada Gunawan, dia menahan marahnya.


"Saya paham situasi itu, jika mbak Via mau membantu bu Yana, saya punya rencana, mbak bisa ikuti semua rencana saya untuk menyelamatkan mbak Dewi." Ujar Gunawan memberi penjelasan pada Via yang menatap lekat wajahnya.


"Rencana apa ?" Tanya Via menatapnya tajam.


"Nanti saya arahkan dan jelaskan begitu tim saya kembali ke sini. Untuk saat ini, kita menunggu." Ujar Gunawan.


"Menunggu ? Diam duduk di sini tanpa berbuat apa apa ?" Tanya Via heran mendengar perkataan Gunawan.


"Saya yakin, Randi pasti akan menghubungi bu Yana lagi, dia pasti punya rencana untuk bisa bertemu bu Yana seorang diri, mbak Dewi jadi sandera untuk mempermudah rencananya." Ujar Gunawan, Via menatap tajam wajah Gunawan.


"Saya paham betul karakter para pembunuh, apalagi psikopat mbak, karena sudah bertahun tahun menjalani tugas saya, mereka rata rata tidak akan puas dan tidak akan berhenti sebelum mangsa mereka berhasil di bunuh, tidak akan ada yang bisa menghentikannya." Ujar Gunawan.


"Sebaiknya, ikuti aja apa yang dikatakan pak Gunawan." Ujar paman Mulyono menenangkan Via.


"Kakek khawatir, kalo kamu langsung bertindak , akan membahayakan nyawa Dewi." Ujar paman Mulyono, Via terdiam, lalu menatap wajah Gunawan.


"Saya ikuti rencana bapak." Ujar Via, dia akhirnya mau mendengarkan semua penjelasan Gunawan.


   Di tempat persembunyiannya, Randi terlihat sedang bicara dengan sosok pria misterius yang memberikan upah pada Arifin cs.


"Apa dia mau makan ?" Tanya Randi. 


"Dia menolak makanan yang saya berikan." Ujar sosok pria misterius memberikan laporan pada Randi.


"Paksa dia makan, bila perlu, kamu suapin paksa, jangan sampe dia jatuh sakit ! Saya mau dia tetap sehat , agar bisa meneror Yana dengan tubuh Dewi !" Ujar Randi dengan tatapan tajam.


Sosok pria itu mengangguk, dia menuruti perintah Randi .


   Di rumah paman Mulyono, Gunawan, Handoko, Kuncoro, paman Mulyono, Yana serta Via berkumpul, mereka sedang mendengarkan semua penjelasan Gunawan yang menyusun rencana untuk menangkap Randi, langkah demi langkah di sampaikan Gunawan pada mereka, apa yang harus mereka lakukan, dan memberikan tugas tugas pada mereka masing masing.


Via terlihat wajahnya serius mendengarkan, dia berusaha memahami setiap penjelasan yang disampaikan Gunawan, ketika ada hal yang Via tidak paham dan mengerti, dia langsung menanyakannya pada Gunawan, dan Gunawan pun menjelaskan padanya.


Sementara itu, di sofa yang tak jauh dari mereka berkumpul, Yana duduk di sofa dengan wajah sedih, lemah tak bersemangat, tertunduk lesu. 


   Dewi mendengar suara kunci di pintu, lalu pintu ruangan terbuka, semburat sinar cahaya masuk kedalam ruangan sempit dan gelap itu, mata Dewi berusaha menghindar dari sinar cahaya yang masuk itu, lalu dia melihat sosok orang melangkah jalan mendekat ke arahnya, Dewi menegaskan pandangannya, dia ingin tahu siapa orang yang sedang berjalan kearahnya, saat orang itu berdiri di depan Dewi, mata Dewi melotot tajam penuh kemarahan dan rasa takut, dia mengenal sosok itu.


"Apa kabar Dewi ? Kita ketemu lagi." Ujar Randi , sosok pria yang mendatangi Dewi di ruangan itu.


Dewi meronta ronta, matanya melotot tajam menatap Randi penuh amarah, Randi hanya tersenyum dingin menatapnya. Lakban yang menutup mulut Dewi dilepas paksa Randi, setelah lakban itu terlepas dari mulutnya, Dewi meludahi Randi penuh jijik.


"Dasar binatang ! Lepaskan aku !!" Teriak Dewi pada Randi yang tertawa sambil mengusap wajahnya yang terkena ludah Dewi.


"Belum saatnya, kamu masih aku butuhkan sekarang, nanti aku pasti akan melepaskanmu, setelah mamamu berhasil ku bunuh." Ujar Randi menyeringai tajam, matanya melotot mengerikan menatap Dewi yang mulai takut melihat perubahan wajah Randi itu. Randi menutup mulut Dewi dengan lakban lagi, lalu dia memegang rambut Dewi, menatap tajam ke rambut dan wajah Dewi, dia tersenyum menyeringai.


   Hari berikutnya, sebuah motor berhenti di depan rumah paman Mulyono, pemuda yang mengendarai motor itu teriak.


"Pakeeett !" Teriak, lalu melemparkan bungkusan kotak kardus ke halaman rumah paman Mulyono, seorang petugas polisi yang berjaga di depan rumah paman Mulyono melihat pemuda itu melemparkan kotak kardus segera berlari mengejarnya.


"Heeei , tunggu !" Teriaknya memanggil, namun pemuda itu sudah pergi menghilang dengan motornya, petugas polisi itu berbalik, melangkah mendekati kotak kardus yang tergeletak di lantai keramik halaman rumah paman Mulyono, dia mengambil bungkusan kotak kardus itu, mengamati kotak itu, mengguncang guncangkan kotak itu, lalu mengarahkan kotak itu ke telinganya, dia mendengarkan, berjaga jaga kalau kalau isi kotak itu bom, setelah aman, tak ada bunyi bunyian suara dari dalam kotak kardus itu, lalu dia melangkah ke arah dalam rumah paman Mulyono dengan membawa bungkusan kotak kardus itu.


Petugas polisi yang membawa kotak kardus masuk kedalam rumah paman Mulyono menemui Gunawan yang sedang berkumpul dengan yang lainnya diruang keluarga rumah itu.


"Lapor ! Ada orang yang sengaja melemparkan bungkusan ini, katanya paket ." Ujar petugas polisi memberikan kotak kardus kepada Gunawan yang menoleh pada paman Gunawan.


"Apa ada yang menunggu kiriman paket ?" Tanya Gunawan.


Paman Mulyono menggeleng, dia tidak merasa pernah membeli sesuatu secara online, Gunawan melirik Via yang juga menggelengkan kepalanya, lalu Gunawan melihat Yana yang juga menggelengkan kepalanya dengan lemah.


Karena tidak ada yang merasa memesan barang secara online, Gunawan pun meletakkan kotak kardus itu diatas meja, dia berhati hati, mengambil pulpen yang tergeletak di samping buku yang ada diatas meja, secara perlahan lahan Gunawan membuka kotak kardus, menyobek lakban yang menutupi kotak kardus dengan pulpen ditangannya, setelah itu, Gunawan perlahan membuka kotak kardusnya, orang orang yang ada diruangan itu termasuk Yana menunggu dengan rasa was was, menunggu apa yang ada didalam kotak kardus itu.


Gunawan membuka kotak kardus itu, melihat ke isi di dalamnya, lalu tangan Gunawan masuk kedalam kotak, mengambil isi yang ada didalam kotak dan menariknya keluar.


Ditangan Gunawan ada segumpal rambut dan bekas potongan potongan kuku yang dimasukkan ke dalam kantong plastik kecil. Melihat gumpalan rambut di tangan Gunawan, Yana pun panik dan histeris.


"Dewiiiiii !! Itu rambut Dewi, itu rambut anakku !! " Teriak Yana histeris, paman Mulyono langsung memeluk tubuh Yana, menahan dirinya agar tidak semakin kalap.


"Dewi paman, Dewi gak mati kan paman ? Dewi masih hidupkan ?!" Ujar Yana dengan tatapan nanar dan menangis pada paman Mulyono.


"Kamu tenangin dirimu, kita belum tau, berdoa saja Dewi tetap hidup." Ujar Paman Mulyono.


"Tapi...tapi itu rambut Dewi , aku tau itu !" Ujar Yana menangis, Via terdiam menatap ke rambut yang diletakkan Gunawan diatas meja, beserta potongan kuku yang ada dalam kantong plastik kecil.


Gunawan mengambil secarik kertas yang ada didalam kotak kardus. Membaca tulisan yang ada di secarik kertas itu.


"Ini baru rambut dan potongan kuku kukunya, lain kali, jika kamu tidak juga menurutiku, maka, aku akan mengirimkan bagian tubuh anakmu, di mulai dari tangannya . (Randi )" Tertulis isi pesan disecarik kertas itu.


Yana merampas kertas dari tangan Gunawan dan membacanya, setelah membacanya dia teriak histeris.


"Apa maumu Randiiii !! Aku gak takut sama kamu, aku gak takut ancamanmu !! Lepaskan anakku ! Bawa akuuuu...!!" Teriak Yana histeris, dia panik , cemas dan penuh ketakutan, dia sangat khawatir dengan keselamatan diri anaknya, Yana meraung raung menangis diruangan itu.