Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Mandi Dan Berolahraga Bersama



"Kamu bersih-bersih dulu, setelah itu makan." Rima menghampiri menantunya yang baru pulang sekolah.


"Oh ya, Mami tadi buat rujak buah. Kamu mau?"


Mendengar itu Delia seketika merasakan air liurnya menggenang seketika, pasti nikmat sekali memakan rujak buah di cuaca yang panas seperti ini.


Tidak menunggu lama, ia langsung menganggukkan kepala. "Ya udah Mi, Delia ke kamar dulu."


*


*


Di teras belakang rumah menjadi tempat mereka berdua menikmati rujak buah.


Rima mendesis begitu ia memakan irisan buah kedondong yang bercampur dengan sambal gula merah, rasa asam begitu mendominasi. "Ya ampun, asam sekali." Ia bergidik. "Mungkin harus menunggu benar-benar matang agar terasa manis."


Untuk menetralkan rasa asam, Rima meneguk teh hijau hangat.


Berbeda dengan ibu mertuanya, sepertinya Delia begitu menikmati rujak buah buatan Rima. Bahkan begitu memakan buah yang tadinya masam, ia terlihat biasa saja.


"Sayang, kamu sangat suka rujak buah?" Rima melihat Delia begitu lahap.


"Uhm ... Rujak buah buatan Mami enak, apalagi cuaca nya pas." jawab Delia.


Hingga beberapa saat kemudian sepiring buah dan sambal gula merah itu habis tak tersisa, lebih tepatnya Delia lah yang menghabiskannya.


"Oh ya, Papi tidak kelihatan Mi?" Menyadari tidak melihat keberadaan ayah mertuanya sejak tadi.


"Papi sedang keluar, katanya mau ketemu teman bisnisnya dulu. Tapi sekarang sudah sama-sama pensiun." jawab Rima.


"Mimi nggak ikut?"


"Nggak, cuaca lagi panas-panasnya enak di rumah." Keduanya kemudian tertawa.


Sejenak keduanya menikmati hari yang semakin sore. Pemandangan di belakang rumah cukup menyegarkan mata, apalagi melihat tanaman yang mulai berbunga dan berbuah.


"Sayang!" Rima memanggil menantunya.


"Ya,,," sahut Delia.


"Apa Ariel pernah mengatakan tentang ingin hidup mandiri?" Rasa yang beberapa hari ini menjadi pikiran Mira.


Kening Delia tampak mengkerut, ia tidak mengerti apa yang di maksud ibu mertuanya.


"Begini, apa Ariel pernah mengajak kamu untuk mempunyai rumah sendiri?" Rima memperjelas pertanyaannya.


Delia menggelengkan kepalanya, dan terlihat Rima menghembuskan nafas. Seperti sesuatu benda besar telah terlepas dari dadanya.


"Mami tau ini bukan rana Mami, karena kalian sudah berkeluarga dan berhak menentukan jalan kehidupan kalian."


Delia menyimak apa yang di ucapkan ibu mertuanya dalam diam.


Pandangan Rima nampak menerawang jauh. "Karena sesungguhnya Mami mempunyai keinginan agar kalian tetap tinggal di rumah ini bersama kami." Mira menjeda ucapannya, hembusan nafas lagi-lagi terdengar. "Kami sudah tua, dan keinginan kami ingin menikmati masa tua bersama keluarga, anak dan cucu."


Bibir Rima mulai bergetar, di iringi matanya yang mulai memanas.


"Mi ... " Delia seketika menggenggam tangan mertuanya. "Tidak akan ada yang ninggalin Mami dan Papi, kami akan tetap bersama kalian."


Delia mengalami gejolak emosi dan haru.


Ia sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk pergi meninggalkan mertuanya, baginya keluarga barunya itu adalah hal terbaik yang ia dapatkan.


"Oh ... Terima kasih, sayang." Rima yang tak lagi mampu membendung air matanya di karenakan rasa bahagia yang begitu membuncah.


Delia menghambur untuk memeluk Rima, ia juga merasakan apa yang di alami oleh ibu mertuanya. Ia tau bagaimana rasanya di tinggalkan oleh orang tersayang.


Tanpa.mereka sadari pemandangan haru itu juga di saksikan oleh Ariel yang baru saja pulang bekerja.


*


*


"Tadi mengobrol apa sama Mami! Kelihatanya seru." Ariel menatap istrinya yang tengah membantu melepaskan pakaiannya.


Karena ia yang duduk di ranjang, posisinya lebih rendah dari Delia yang berdiri di depannya. Dan ia bisa menikmati wajah ayu istrinya yang selalu membuatnya rindu.


Delia tersenyum. "Rahasia." katanya.


Tangannya dengan terampil melepaskan kancing kemeja suaminya satu persatu, kegiatan yang setiap hari ia lakukan sejak pulih dari sakitnya.


Ariel mencebik.


"Mentang-mentang kalian sesama perempuan, sekarang main rahasia-rahasiaan."


Hal itu membuat istrinya tertawa.


Bukannya menjawab Ariel justru menatap lekat wajah Delia. "Kamu sudah mandi?"


"Belum." jawab Delia. Ia memeriksa saku kemeja Ariel, takut-takut ada sesuatu yang tertinggal di saku.


Ia tidak menyadari ada seringaian di wajah suaminya.


"Mas mandi duluan aja, aku nanti aja."


Delia berniat menaruh baju kotor Ariel, tapi suaminya itu malah memeluknya erat tidak membiarkannya pergi.


"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" Ariel menawarkan.


"Nggak ah." jawab Delia.


Ia tau akan mengarah kemana jika sampai hal itu terjadi.


"Oh ayolah, biar tidak memakan waktu lama. Jadi sekalian saja." Ariel berdalih.


Delia memutar bola matanya, apa suaminya pikir ia tidak tau akal bulus itu.


"Bahkan mandi sendiri sendiri jauh lebih cepat di bandingkan jika kita mandi bersama." Delia berujar.


Ariel tertawa, rupanya istrinya sudah pintar menebak apa yang ada di pikirannya.


"Aaahhhh!!!" Delia terkejut karena suaminya itu tiba-tiba menggendongnya.


"Aku nggak mau!" Delia meronta ketika tau Ariel berjalan ke arah kamar mandi.


"Waktunya kita mandi dan berolah raga." Ariel tersenyum penuh kemenangan saat berhasil membawa istrinya masuk ke dalam kamar mandi.


Hingga tidak lama, terdengar suara dari gemercik air yang bercampur erangan dari keduanya.


*


*


"Kalian jam segini baru selesai mandi?" Rima bertanya pada anak dan menantunya.


Terlihat rambut keduanya nampak masih basah.


Mereka kini sedang menikmati acara makan malam.


Delia tersenyum canggung. "Iya, Mih."


"Kalau mandi jam segini pakai air hangat, biar nggak masuk angin." kata Rima.


Dan Delia hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Kalau saja bukan perbuatan suaminya yang berlama-lama di kamar mandi, mungkin rambutnya sudah kering.


Karena tadi ia baru saja selesai berganti pakaian, Rima langsung memanggilnya untuk makan malam.


Sedangkan Ariel hanya diam saja, bukannya ia tidak mau mendengarkan. Tapi nampaknya ia sedang memikirkan hal lain.


Iya, ia masih bingung bagaimana cara menyampaikan kabar untuk persidangan besok.


Ia menoleh ke arah istrinya, nampak Delia yang lahap menikmati makan malam mereka.


Sebelum makan malam benar-benar usai, Ariel memutuskan untuk bicara.


"Ehm ..." Ariel menginterupsi. "Ada yang mau aku sampaikan pada kalian semua."


"Apa ada hal serius?" Bastian melihat raut wajah putranya sedikit tegang.


Ariel menganggukkan kepalanya. "Ini tentang Joana." Ia lalu menoleh ke arah Delia.


Seperti dugaannya, raut wajah Delia seketika berubah. Ia menggenggam erat tangan istrinya, berharap bisa membuatnya tenang.


"Besok persidangannya akan di gelar." Ariel menjelaskan.


"Tadi aku sudah berkonsultasi dengan pengacara, jika Delia tidak apa jika tidak hadir secara langsung ke pengadilan."


Semuanya menyimak, apa yang di katakan Ariel.


"Jadi yang akan pergi ke pengadilan besok hanya Ariel dan pengacara, juga di temani Arga." Seperti apa yang tadi di rencanakan bersama pengacaranya.


...****************...


...Alhamdulillah guys akhirnya aku bisa kembali lagi di sini, setelah sekian purnama 🤭....


...Meskipun aku nggak bisa janjikan untuk up tiap hari, tapi aku pastikan cerita Ariel ini akan aku selesaikan sampai tamat....


...Terima kasih untuk kalian yang masih mau menunggu 🙏 love you 🥰...