
"Nggak sekalian bareng ke bengkel?" Adi bersiap untuk pulang.
Bel pulang sekolah berbunyi beberapa saat lalu.
"Nggak usah, aku jalan kaki aja seperti biasa." Delia juga merapikan buku-bukunya. "Aku juga mau ke toilet."
Mereka berdua kemudian berjalan bersisian keluar kelas.
"Ya udah aku pulang dulu." Adi lalu berjalan menuju parkiran, sedangkan Delia menuju toilet.
Di dalam bilik kamar mandi Delia menuntaskan buang air kecilnya sejak tadi sebelum bel pulang sekolah.
Tapi sebelum keluar, samar-samar ia mendengar suara siswi lain yang juga berada di toilet.
"Eh... denger gosip nggak sih! Kalau anak kelas tiga ada yang jadi simpanan Om Om." Salah satu dari mereka berbicara.
Hal itu membuat Delia mengurungkan niatnya untuk keluar.
"Iya tadi aku denger, malah yang ngasih berita teman sekelasnya sendiri. Dan di pastikan valid tuh gosip." Yang lainnya juga menanggapi.
"Nggak nyangka ya, padahal wajahnya lugu dapat beasiswa pula." Mereka terus saja berbicara tanpa menyadari keberadaan Delia.
"Jaman sekarang mah nggak jamin wajah lugu orangnya baik, tuh buktinya ada."
"Iya juga, mending seperti kita. Biar seperti bar bar yang penting gadis baik-baik." Mereka lalu tertawa dan pergi dari toilet setelah selesai memperbaiki riasan wajahnya.
Setelah kepergian para siswi itu, terlihat Lira dan Jeni memasuki toilet. Mereka mengendap endap memastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua.
Dan pintu toilet terlihat hanya satu yang tertutup rapat, mereka dapat pastikan jika itu Delia.
Mereka sedari tadi sebenarnya membuntuti Delia ke toilet, namun karena ada siswi lain mereka memutuskan untuk mengawasi dari jauh.
Mereka yakin jika Delia belum keluar dari toilet.
"Pasti Delia kan?" Jeni berbicara dengan cara berbisik.
"Kamu lihat sendiri kan, dari tadi dia belum keluar." Lira juga berbisik. "Sekarang cari sapu." Pintanya pada Jeni.
"Buat apa?" Jeni tidak mengerti.
"Kita kerjai dia." Lira menjawab
"Oh... Ok." Jeni yang setuju kemudian pergi untuk mencari sapu. Sedangkan Lira menahan handle pintu.
Tidak membutuhkan waktu lama Jeni sudah kembali dengan membawa sapu. "Ini." Ia serahkan kepada Lira.
Di dalam bilik, Delia menghembuskan nafasnya kasar. Ia merasa yang di bicarakan siswi tadi pasti dirinya, Ciri-ciri nya seratus persen mengarah padanya. Memang siapa lagi yang dapat beasiswa selain dirinya.
Delia lalu memutuskan untuk keluar, ia akan berpura pura untuk tidak mendengarnya. Tapi ketika ia menekan handle pintu, tidak bisa ia tekan secara sempurna. "Ini kenapa? Tadi baik-baik saja."
"Hei... ada orang di luar tidak?" Delia berteriak, namun tidak ada sahutan.
Sedangkan di luar Lira belum sempurna mengganjal handle pintu itu, karena Delia lebih dulu membukanya. "Jeni bantu aku." Lira kesal melihat sahabatnya itu justru menahan tawa melihatnya.
"Ok ok." Jeni kemudian ikut membantu memegangi gagang sapu itu.
Delia samar-samar mendengar suara dan cekikikan siswi lain di luar pintu biliknya. "Pasti ada seseorang yang kurang kerjaan." Ia menggumam. "Hei... buka pintunya!" Tapi pintu itu masih tidak bisa di buka.
Bahkan tawa itu kini terdengar jelas.
"Kalau rubuh nggak jadi masalah sepertinya, mereka yang akan mengganti." Delia dengan sesuatu di pikirannya.
Dan di detik berikutnya Delia memantapkan apa yang akan ia lakukan.
Brak.
"Akh..." Lira dan Jeni yang sama-sama kesakitan. Kening mereka terkena pintu yang roboh, dan boko*ng mereka yang mencium dinginnya lantai toilet.
Delia berdecak ternyata pelakunya adalah Lira juga Jeni, kenapa mereka berdua suka sekali mengganggunya. "Besok jangan lupa ganti pintunya." Delia berujar, lalu pergi dari sana.
"Awas lo ya!" Lira dan Jeni tidak terima. Bukan soal ganti pintunya, jika itu sangat mudah bagi mereka jika hanya membeli pintu.
Tapi rasa malu akibat gagal mengerjai Delia dan justru mereka yang tertimpa si*al.
*
*
Pada malam harinya pukul tujuh, Ariel sudah berada di depan bengkel. Dari dalam mobilnya ia bisa melihat Delia belum selesai bekerja.
Tapi beberapa teman yang lainnya sudah mulai membereskan peralatan bengkel.
"Kenapa dia selalu di kelilingi laki-laki." Ariel terlihat tidak suka. Bahkan ia masih mengingat Adi yang juga pernah main ke kontrakan Delia waktu itu.
"Kenapa dari sekian banyak perempuan hanya dia yang mencuri perhatianku?" Tatapan Ariel terus terkunci pada Delia.
Jika tidak bertemu, ia akan selalu memikirkannya dan gelisah. Tapi jika bertemu membuat dadanya selalu berdebar. Ia masih mencari jawaban pasti dalam dirinya, mungkin memang kali ini ia sangat bod*h jika berhadapan dengan Delia.
Ia seperti seseorang yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Cinta?
Benarkah apa yang ia sekarang rasakan itu cinta?
Ariel terkekeh dengan pikirannya sendiri.
Bukankah selama ini ia sudah sering dekat dengan perempuan, bahkan tidur bersama! Kenapa jika dengan Delia hatinya begitu berbeda, bahkan mereka hanya mengobrol tidak lebih. Kecuali kejadian tadi malam, yang sekarang semakin membuatnya tidak karuan.
Di dalam bengkel, mata Ujang tidak sengaja melihat mobile Ariel yang terparkir di bahu jalan. Ia bahkan bisa melihat pemiliknya sedang melihat ke arah bengkel.
"De... Bukannya itu mobil pelanggan sini? Tuh kenapa lihat kesini dari tadi?" Ujang menghampiri Delia yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang terakhir.
Delia melihat ke arah pandang Ujang, hingga membuat pandangannya bertabrakan dengan Ariel. Ia menghembuskan nafasnya perlahan, ternyata Ariel benar-benar menunggunya.
*
*
Sekarang di sinilah mereka berdua, di dalam mobil.
Ariel melihat Delia yang diam saja, dengan pandangannya lurus ke depan.
"Delia aku minta maaf!" Ariel memulai percakapannya, tapi gadis itu masih tidak merespon. "Aku semalam hanya merasa bahagia saja melihatmu baik-baik saja."
Kening Delia berkerut merasa heran, ia lalu menoleh pada Ariel yang sedang menatapnya.
"Kamu ingat waktu video call terakhir kali, aku melihat mata mu yang begitu sembab. Dan hal itu selalu mengganggu pikiranku." Ariel menjelaskan. "Dan di sini!" Ariel menyentuh dadanya. "Aku merasa begitu gelisah saat tidak melihatmu, aku mencoba untuk melupakan tapi tidak bisa."
"Aku sendiri tidak tau apa yang terjadi, tapi kamu hampir memenuhi semua pikiran dan hatiku." Ariel mengungkapkan apa yang ia rasakan.
Delia membeku mendengarkan itu semua, ia masih belum bisa memahami situasi ini.
"Jadi aku mohon biarkan aku mendekat, dan biarkan aku berusaha membuatmu merasakan apa yang aku rasakan." Ungkap akhirnya Ariel.
Ariel tau ini terlalu mendadak untuk gadis itu, apalagi di usia perkenalan mereka yang baru saja terjalin. Tapi ia berharap ini adalah awal yang baik untuk nya.
...----------------...
...Cie.. Cie... Ini apa maksudnya ini ðŸ¤...