
Hari ini Delia dapat bernafas lega, karena Kakaknya tidak terlihat di sekitar sekolahnya.
Namun, baru saja bel masuk berbunyi seorang siswa memberi tahunya jika ia di panggil ke ruang guru.
"Ada apa?" tanya Adi.
Delia hanya mengedikkan bahunya lalu pergi ke ruang guru.
Ketika di depan ruang guru samar-samar terdengar sedikit keributan, dan benar saja saat di berdiri di ambang pintu ia bisa melihat jika di dalam ada Eva juga Dandi.
"Masuk Nak!" Tomo sang kepala sekolah mempersilahkan begitu melihat keberadaan Delia.
Delia lalu duduk di kursi yang bersebrangan dengan Eva juga Dandi, sepertinya ini berkaitan dengan kejadian kemarin.
Delia hanya bisa menghembuskan nafasnya perlahan, entah akan drama apalagi yang terjadi hari ini.
"Lihat Pak, anak kurang ajar ini yang membuat Kakaknya babak belur seperti ini." Begitu melihat Eva. Ia rasanya tidak terima anak kesayangannya di buat seperti itu.
"Sabar Bu, kita bisa membicarakannya baik-baik." Tomo yang menengahi.
"Bagaimana saya bisa tenang, jika kelakuannya seperti itu." Ava terus saja emosi.
"Iya Pak." Dandi menimpali.
"Bu saja juga tidak bisa mengambil keputusan karena hanya mendengar cerita dari satu pihak saja, Delia sebagai tanggung jawab saya di sekolah juga berhak menjelaskan semuanya." Tomo menjelaskan. Lalu ia menoleh ke arah Delia. "Nak, kamu bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Ia yakin muridnya itu adalah salah satu murid teladan di sekolah.
Delia menatap Eva dan Dandi, mereka yang kini sedang menatapnya dengan tajam seolah mengintimidasi.
"Saya hanya membela diri Pak, karena Kakak saya dan temannya mau berbuat kasar." Delia berucap.
"Bohong." Dandi menyela.
"Lagi pula, apa ada saksi yang melihat jika aku memukul Kakak dengan sengaja?" Delia bertanya pada Dandi. "Jangan bilang kalau saksi itu adalah teman Kakak sendiri." ujar Delia saat melihat Dandi akan bicara.
Benar saja, Kakaknya langsung terdiam.
"Bu, dari sini bisa di lihat. Sebenarnya ini adalah masalah keluarga, jadi lihat sekolah tidak akan terlalu ikut campur terlalu dalam. Berhubung Ibu datang kemari, maka sekolah akan menjadi penengah." Tomo akhirnya buka suara.
"Dan sepertinya, masalah ini sebenarnya yang salah dari pihak Kakak Delia. Bagaimana mungkin seorang Kakak mau berbuat kasar terhadap adiknya, apalagi perempuan." Tomo berujar.
"Bapak jangan tertipu dengan wajah polosnya, dia itu sebenarnya tidak sebaik yang bapak kira." Eva terus saja memojokkan Delia.
"Tapi Bu, selama Delia sekolah di sini tidak ada kenakalan yang di perbuat. Bahkan nilainya juga yang terbaik, mungkin Ibu belum mengetahuinya." Secara tidak langsung Tomo menyindirnya, karena ia tahu Eva tidak pernah menghadiri pembagian rapot selama Delia sekolah.
Hal itu membuat Eva tidak berkutik.
Delia hanya diam mendengarkan, mungkin ia tidak usah berkoar-koar menjelaskan siapa yang salah. Nyatanya Tuhan begitu sayang padanya, hingga melalui kepala sekolahnya semuanya dapat di laluinya.
"Jadi saya rasa masalahnya sudah selesai." Tomo mengakhiri, karena melihat Eva yang sudah tidak bisa lagi berbicara. Ia lalu menoleh kepada Delia. "Kembalilah ke kelas Nak, agar tidak ketinggalan pelajaran."
Delia berdiri, sebelum kembali ke kelasnya ia sempat berpamitan pada Eva. Tapi yang ia dapatkan hanya penolakan.
Tomo beranjak dari duduknya. "Kalau saya menjadi Ibu, saya akan bangga mempunyai putri sepintar Delia. Meskipun sekedar Ibu sambung." katanya. "Saya permisi Bu, saya harus kembali bekerja." Tomo meninggalkan Eva dan Dandi.
"Kamu lihat, bukannya Delia yang mendapatkan hukuman. Tapi kita justru di permalukan!" Eva menggeram. "Lagian kamu itu lelaki, kenapa bisa kalah berkelahi dengan perempuan? Memalukan." Ia yang juga kesal dengan putranya. "Sekarang ayo kita pulang, sudah tidak ada gunanya kita disini. Nanti kita pikirkan cara selanjutnya, agar Delia mau pulang."
Dandi yang sudah tidak berdaya hanya bisa mematuhi perintah Eva.
*
*
"Hei tadi ada apa?" Begitu terdengar bel istirahat, Adi segera bertanya. Ia penasaran apa yang terjadi pada Delia saat di ruang guru.
Delia menyandarkan punggungnya. "Masalah kemarin yang rupanya bersambung sampai hari ini." ucapnya lesu. "Ibu dan Kakak ngadu ke kepala sekolah."
Adi terkekeh mendengarnya, ia sendiri tau tentang kejadian kemarin karena Delia bercerita padanya. "Kayak sinetron aja!"
Delia memutar bola matanya malas.
"Terus bagaimana?" tanya Adi.
"Ya untungnya, kepala sekolah nggak percaya gitu aja sama cerita Ibu dan Kakak."
"Ya bagus kalau gitu."
"Hm... " Delia mengamini.
"Makannya kamu keluar dari rumah itu udah keputusan yang paling bagus."
"Sepertinya."
*
*
Terlihat dari keadaannya yang sepi, juga lampu ruang tamu yang sudah padam.
"Ha..." Ariel menghembuskan nafasnya kasar.
Seharian ini pekerjaan kantor sangat menumpuk, hingga membuatnya tidak bisa berkutik kemanapun. Dan waktu hampir tengah malam inilah pekerjaannya selesai sebelum ia harus berangkat ke Bogor besok pagi.
Dengan berat hati ia akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.
*
*
Pagi-pagi sekali, Ariel rasanya benar benar malas untuk berangkat ke Bogor.
"Kenapa sih?" Rima melihat putranya tak bersemangat.
"Ariel malas pergi ke Bogor." adunya.
"Bekerja tidak boleh malas-malasan, itu semua demi masa depan kamu nanti. Siapa yang mau menikah denganmu jika setelah menikah kamu ajak susah." ujar Rima.
Ariel mendengus.
"Ingat Nak, bagaimanapun keadaannya kamu tidak boleh melalaikan tugas kamu. Ada ribuan karyawan yang bergantung mencari nafkah di perusahaan kita." Bastian ikut bicara.
Tentu saja Ariel tau itu, makannya meskipun berat hati ia akhirnya tetap berangkat.
"Iya Pih." jawab Ariel. "Aku berangkat dulu." Ketika mengetahui kedatangan Arga."
"Hati-hati." Rima dan Bastian mengingatkan.
"Iya." Ariel beranjak dari sana.
"Tidak ada yang ketinggalan?" tanya Rima.
"Tidak." sahut Ariel dari kejauhan. Hingga kemudian ia menghilang di balik pintu.
"Pih, mungkin hatinya yang ketinggalan." Rima terkekeh.
Bastian tersenyum mendengarnya.
"Sepertinya anak kita akan jadi abg lagi." Mengingat Delia masih sekolah. "Dan menemukan pawangnya." Melihat anaknya yang sekarang tidak pernah terlambat pulang ke rumah atau pergi ke club.
*
*
"Arga nanti kita mampir sebentar." Ariel berujar pada Arga di balik kemudi.
"Iya Pak."
Dan mobil yang di kemudikan Arga rupanya menuju jalan rumah Delia setelah mendapat arahan dari Ariel.
Arga mengembuskan nafasnya pelan, ia tahu jika itu adalah rumah gadis yang belakangan ini membuat bos nya berubah. Tanpa sepengetahuan Ariel, Arga juga mencari informasi tentang Delia.
Ariel turun begitu saja, ketika melihat Delia keluar dari rumah. Seperti nya gadis itu akan berangkat sekolah.
"Om!" Delia terkejut melihat kedatangan Ariel.
"Mana Hape?" Ariel menengadah kan tangannya.
"Untuk apa?"
"Cepatlah, tidak ada waktu. Nanti kamu terlambat ke sekolah." Ariel melihat ojek online yang baru saja tiba di halaman rumah Delia.
Delia yang bingung kemudian memberikan ponselnya.
Ariel mengotak atiknya sebentar lalu mengembalikan laki kepada Delia. "Ini." Rupanya Ariel hanya ingin tau nomer ponsel Delia, karena selama ini ia lupa jika belum memiliki nya. "Sudah sana pergi."
Ariel lalu kembali ke mobilnya, meninggalkan Delia yang kebingungan.
Di dalam mobil, Ariel tersenyum melihat wajah Delia seperti itu. Dan seketika ia memotret nya. "Menggemaskan." melihat hasil jepretan nya. "Ayo jalan, Arga."
"Baik Pak."
...----------------...
...Nah kan habis ini nggak ketemu ...