
Hari ini rupanya Ariel sama sekali tidak bisa berkutik. Tentu saja banyaknya pekerjaan yang membuatnya tidak bisa kemana-mana.
Selain itu pertemuan dengan beberapa klien juga ia lakukan di kantor untuk membahas kelanjutan tentang kerja sama yang sudah berlanjut.
Sehingga ia hanya bisa menghubungi Delia sesekali melalui sambungan telepon.
Dan tidak lupa ia juga menerima laporan dari seseorang yang ia tugaskan untuk mengawasi kekasihnya itu tanpa sepengetahuan Delia.
Hingga hari menjelang petang, mata Ariel membulat saat ia menerima sebuah laporan. Sebuah foto Delia dan seorang perempuan yang tentu sangat ia kenali, Joana.
Mereka nampak duduk di sebuah cafe.
"Si*al." umpatnya dan bergegas pergi dari kantor.
*
*
Di cafe sendiri Joana duduk dengan angkuh, lihatlah pandangannya menelisik Delia dari atas kepala hingga ujung kaki.
Lebih tepatnya ia yang membandingkan dirinya dengan gadis itu.
Bagaimana bisa Ariel bisa terpikat oleh gadis seperti dia, kampungan.
Delia sendiri sebenarnya sangat malas sekali pergi bersama Joana, hanya saja wanita itu mengancam akan membuat keributan di bengkel jika ia tidak mau ikut.
Ya, Joana datang ke bengkel tempat Delia bekerja dan ingin bicara dengan gadis itu. Lebih tepatnya Joana memaksa.
Sehingga Delia harus ijin kepada Arsyad untuk pergi.
"Apa kau tidak mengenaliku?" Joana dengan sombongnya bertanya, ia menyakini semua orang mengenalnya karena ia adalah seorang model yang sukses.
"Tidak." Delia menjawab cepat.
Membuat Joana terkejut. "Benarkah!" Ia tidak percaya. "Aku seorang model yang terkenal."
"Laku apa urusannya denganku!"
Joana menggeram, tangannya terkepal erat. Belum ia berbicara pada pokok inti permasalahannya ia sudah merasakan emosi.
"Jika Ariel, pasti kau mengenalnya!" Joana tersenyum miring.
Alis Delia saling bertautan karena merasa heran, kenapa sekarang giliran kekasihnya yang di bawa-bawa.
"Tinggalkan dia." Tanpa basa basi Joana memintanya.
Delia masih diam menyimak ucapan Joana.
"Aku sekarang masih berbaik hati karena hanya memintamu untuk meninggalkan kekasihku." kata Joana. "Aku dan Ariel sudah menjalin hubungan sejak lama."
"Mungkin kamu belum tau bagaimana gaya orang dewasa seperti kami berpacaran, kami bahkan sering menghabiskan waktu berdua di hotel untuk tidur bersama." Joana terkekeh. "Mungkin dia mendekatimu hanya untuk bersenang-senang saja."
Joana berusaha meracuni otak Delia.
Delia menghembuskan nafasnya kasar setelah mendengar perkataan Joana yang panjang lebar. "Tante udah ngomongnya?" ia menatap Joana tanpa rasa takut sedikitpun.
"Apa!" Joana tidak percaya.
"Memang aku tidak tau bagaimana orang dewasa pacaran, entah itu bermesraan atau tidur bersama." Delia mulai berbicara. "Tapi Tante harus tau, jika orang yang bernama Ariel sekarang sedang menjalin hubungan denganku." Ia menegaskan.
Joana mengetatkan rahangnya, amarahnya kembali memuncak mendengar dan melihat gaya berbicara Delia yang tetap santai tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Delia melipat kedua tangannya. "Dan Tante tadi bilang apa? Sudah tidur bersama!" Ia menatap lekat wanita yang duduk di hadapannya. "Sepertinya Tante bangga sekaki sudah tidur dengan seorang pria!"
"Kau!" Joana mengacungkan tangannya ke arah Delia.
"Apa Tante marah!" Delia sedikit tertawa. "Bukankah tadi Tante yang bilang sendiri. Jadi kenapa harus marah!" Delia berujar. "Tapi aku kalau jadi Tante seharusnya malu, udah tidur bareng masih aja di tinggal pergi."
Joana berdiri dari duduknya, ia ingin sekali menampar mulut gadis itu.
Delia yang terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan Joana untuk membalasnya. "Dengan caption apa? Habis tidur bersama lalu di tinggal pergi? Apa kekasihku memilih gadis yang lebih muda?"
Joana rasanya sudah tidak tahan lagi, dengan cepat ia maju menghampiri Delia. Namun belum sampai menggapai gadis itu, tubuh tegap sudah menjadi tamengnya.
"Ssa-yang!" Joana terkejut melihat kedatangan Ariel. Ia tidak menyangka jika lelaki itu akan hadir di sana, padahal sebelumnya ia mendapat informasi bahwa pria itu akan sibuk di kantor hingga malam.
"Jangan pernah lagi memanggilku sayang!" Ariel menatap tajam ke arah Joana.
Hati Joana seakan hancur berkeping-keping, setelah tadi ia rasanya naik darah karena Delia sekarang karena lelaki pujaannya.
"Di sini aku menegaskan, kita tidak pernah terlibat hubungan apapun." Mata Ariel sesekali melirik ke arah Delia, sebenarnya ia sendiri takut jika Joana sudah berkata yang tidak-tidak. "Jadi jangan ganggu kekasihku."
Delia diam menyimak obrolan mereka.
Joana menggelengkan kepalanya. "Tapi itu tidak mungkin." Ia tentu saja tidak mau kehilangan Ariel.
"Kenapa tidak bisa, aku tidak pernah mengucapkan apapun untuk mengikatmu. Kita hanya melakukan sesuatu hanya untuk bersenang senang."
"Dan mulai hari ini jangan menggangguku atau kekasihku." Ariel menekankan perkataannya, meskipun ia tidak yakin Joana melakukannya atau tidak.
"Aku tidak Terima dengan semua ini." Setelah mengatakan itu, Joana pergi dari sana dengan air mata yang membanjiri wajah cantiknya.
Sekarang giliran Ariel yang segera duduk di hadapan Delia. "Sayang aku bisa jelaskan!" katanya sedikit memelas, lebih baik ia bercerita tentang kelakuannya sebelum bertemu Delia. Lebih baik kekasihnya tau dari mulutnya sendiri dari pada orang lain.
"Jelasin apa! Kalau Tante tadi pernah bobok sama Mas?" kata Delia, sembari menyesap minumannya yang mulai berembun.
Tenggorokan Ariel rasanya tercekat, sebelum mulai menjelaskan rupanya kekasihnya itu tau lebih dulu. Pasti Joana yang mengatakannya.
"Apalagi yang belum aku tau?" Delia menatap Ariel yang kini semakin tidak berkutik.
Mulut Ariel rasanya seperti ada lem yang merekatkannya. "Aku... Aku dulu sering pergi ke klub."
"Terus!" Delia kembali bertanya.
"Hanya itu saja, dan sesekali mabuk." Ariel mengakui.
"Bobok dengan perempuan lain selain tante itu tadi!" Delia menyesap habis minumannya. "Ah... kenapa sekarang aku jadi lapar!" ujarnya.
Ariel benar-benar merasakan nyawanya tinggal setengah. "Kita pesan makanan." Ariel mengusulkan.
"Nggak, nanti masak aja di rumah. Mas belum jawab pertanyaanku." Delia kembali pada topik awal.
"Hanya sesekali, sungguh. Tapi sejak aku mengenalmu sudah tidak lagi, semuanya sudah aku tinggalkan." Ariel berkata bersungguh-sungguh, ia bahkan menatap dalam pada mata Delia.
Delia menelisik. "Benarkah!"
Dengan cepat Ariel mengangguk.
"Oke." kata Delia kemudian.
"Ha!" Ariel terkejut dengan reaksi kekasihnya. "Kamu tidak marah?"
"Nggak, lagi pula kan waktu itu Mas nggak sama aku. Semua orang pernah punya masa lalu baik atau buruk, dan aku nggak berhak untuk menghakimi." Delia mengungkapkan pendapatnya. Lagi pula kekasihnya itu juga sudah mau menerima masa lalunya dan keadaannya.
Ariel yang mendengarnya langsung mendekap Delia. "Oh ya ampun, aku merasa benar-benar beruntung memilikimu."
"Mas, malu ih... Di lihat orang." Delia melihat beberapa orang menatap ke arahnya.
"Aku tidak peduli." sahut Ariel.
Delia memutar bola matanya malas. "Tapi kalau sekarang Mas berani macam-macam, Tirex kebanggaan Mas, akan ku jadikan marmut kecil yang baru lahir." Delia berbisik.
Senyum lebar yang tadinya menghiasi wajah tampan Ariel, langsung lenyap seketika. Di gantikan tubuhnya yang tiba-tiba merinding.
...----------------...
...Halo guys, sepertinya beberapa hari ke depan sampai lebaran aku nulisnya agak ketetran. Tapi kalau ada waktu pasti aku usahain buat up. ☺...