Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Joana Menghilang



"Dengar kan Pih, sepertinya hubungan Ariel dan Delia ada perkembangan." Rima terlihat bahagia setelah beberapa saat lalu menghubungi putranya, bahkan mengobrol bersama Delia. "Mami juga nggak nolak kalau jodoh putra kita itu Delia, Mami yakin gadis itu bisa jadi pawangnya Ariel."


"Kita doakan saja Mi." sahut Bastian.


Bastian juga merasa jika Delia cocok untuk anaknya, setelah menyelidiki latar belakang dan kesehariannya tidak ada masalah. Kecuali keadaan keluarga gadis itu yang sedikit rumit.


*


*


"Sebenarnya Joana kemana?" Ike mulai pagi menghubungi Joana namun sama sekali tidak bisa. Ia mau mengingatkan jika besok mereka akan berangkat ke Singapura untuk peragaan busana, dan seperti biasanya ia yang mempersiapkan semua keperluan.


Setelah semalam ia meninggalkan Joana dalam keadaan marah, dan terakhir itulah ia melihat Joana.


Ike baru saja sampai di apartemen Joana, ia memutuskan untuk mencarinya ke sana karena siapa tau Joana masih tidak bisa menerima kenyataan jika pria pujaannya sudah tidak menginginkannya lagi.


Ia langsung masuk seperti biasanya, karena ia memang mengetahui kode akses unit Joana.


"Joana... " Ike memanggil, tapi sama sekali tidak ada sahutan.


Ruang tamu terlihat begitu sunyi, bahkan tirai jendela masih tertutup rapat seperti kemarin malam.


Ia lalu berjalan ke arah kamar yang di tempati Joana.


Beberapa kali ia mengetuk dan memanggilnya juga tidak ada jawaban, sehingga membuat Ike perlahan menekan handle pintu agar terbuka.


Dan terlihat penampakan kamar yang begitu berantakan, bahkan mengalahkan ruangan yang habis terkena gempa bumi.


"Sebenarnya dia kemana?" Ike kembali ke ruang tamu.


Ia mencoba kembali menelpon Joana, berharap kali ini perempuan itu mengangkatnya. Tapi tetap saja tidak bisa. "Semoga saja dia tidak melakukan hal bodoh."


*


*


"Ah... Jika perutku kenyang begini rasanya mataku mulai ngantuk." Meili mengusap perut buncit nya, kemudian menyandarkan punggungnya.


"Meili, tidak baik kalau habis makan langsung tidur." Jessy menegurnya.


Delia memperhatikan keduanya, ia sangat kagum melihat kedua perempuan itu. Mereka tampak seumuran dengannya meskipun sudah usia berkepala tiga.


"Jessy, kamu tidak tahu ya kalau tidur itu ibadah!" kata Meili. "Bisa membuat kita melepas lelah, dan yang paling penting agar kita tidak mendengarkan gibahan tetangga."


Jessy memutar bola matanya mendengar itu.


"Iya kan Del." Meili mencari sekutu.


Delia hanya mengangguk dan tersenyum.


"Ah... Aku rasanya benar-benar mengantuk." Meili beranjak dari duduknya. "Nanti kalau papanya Alma datang suruh langsung ke atas saja ya." Pesannya pada Jessy.


Ia lalu berjalan menaiki tangga di mana Alma sedang tertidur, ia akan menemani putrinya. Dan tadi suaminya mengirimkan kabar kalau baru saja menyelesaikan operasi nya.


"Dasar bulat!" Jessy menggumam.


Memang Meili yang terlihat begitu berisi di kehamilannya yang sekarang, mungkin karena janin kembar sedang di kandungnya.


"Del, kamu selama pacaran sama Ariel ngapain aja?" Entah kenapa Jessy tiba-tiba ingin tau.


"Di antar sekolah, lalu di jemput. Terus di anterin ke bengkel, lalu di jemput." Delia bercerita.


Jessy mengerutkan dahi merasa heran. "Kamu kerja?"


Sepertinya Meili melupakan untuk menceritakan pekerjaan Delia waktu bergosip.


Lalu Jessy teringat sesuatu. "Terus, Ariel nggak pernah aneh-aneh kan sama kamu!" Mengingat kelakuan Ariel.


Delia mengerti apa yang di maksud, dan ia menggelengkan kepalanya. Masa ia harus bercerita jika kekasihnya itu beberapa kali sudah menciumnya.


"Ah... Syukurlah." Jessy merasa lega, tapi ia sebenarnya sedikit tidak percaya. "Kamu harus hati-hati, jangan sampai mau di bodohi sama Ariel." Ia berpesan.


"Iya Kak." sahut Delia.


"Uhm... Kak, aku mau ke toilet dulu." Delia beranjak.


"Mau aku temani!" kata Jessy.


"Tidak usah Kak, nanti aku tanya sama yang lain saja."


"Ya sudah kalau begitu."


Delia kemudian berjalan menuju para pekerja yang sepertinya sudah mulai membereskan sisa-sisa bekas makanan.


"Sayang... Mau kemana?" tanya Ariel yang menghampiri.


Delia kemudian menghentikan langkahnya. "Mau ke toilet, Mas tau tempatnya?"


"Ke toilet kamar tamu saja." kata Ariel. Ia lalu berjalan menuju kamar tamu, yang memang ada satu di lantai bawah. "Masuk lah." Ia membukakan pintu untuk Delia.


"Mas jangan ikut masuk!" Delia memperingatkan.


"Ya ya ya, baiklah aku tidak akan masuk." Ariel menyanggupi.


Setelah Delia masuk, Ariel segera pergi dari sana.


Tok.


Tok.


"Mas, udah aku bilangin jangan masuk." Delia dari dalam kamar mandi berteriak. Ia sudah menyelesaikan urusannya.


Klek.


"Mas-- " Belum sempat Delia protes, sesuatu seperti mengenai wajahnya.


Dan memang benar, seseorang sengaja menyemprotkan sesuatu tepat di wajahnya.


"Kamu siapa?" Delia dengan cepat siaga. Ia melihat seorang perempuan dengan memakai seragam pelayan.


Namun seseorang itu hanya tersenyum.


Delia hampir saja melayangkan bogem mentah, tapi di detik berikutnya kepalanya mendadak pusing dan pandangannya mengabur.


"Mas... !" Delia berteriak. Di saat tubuhnya semakin lemas.


"Si*al!" Seseorang itu langsung membekap mulut Delia.


Delia mengerahkan seluruh tenaga terakhirnya untuk melawan. Namun semuannya sia-sia, saat semua pandangannya tiba-tiba berubah gelap.


...----------------...


...Mas... Pacarmu di culik 😭...