Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Keinginan Ariel



Pintu ruang rawat Delia terbuka pada hari hampir siang itu.


Delia dan Ariel yang berada di dalam seketika menoleh ke arah pintu.


Dan ternyata wajah Meili di balik pintu.


"Tante... " Alma yang menerobos, ia tidak sabar ingin ketemu Delia saat sang ibu memberitahunya jika akan menjenguk Delia karena sakit.


Ariel memutar bola matanya malas melihat itu.


"Jangan berisik sayang!" Meili menginterupsi.


"Tidak apa-apa Kak." sahut Delia. Ia tersenyum menyambut kedatangan gadis kecil itu.


Alma segera mendekat ke arah Delia, lalu duduk di sebelah ranjang gadis itu.


Ternyata bukan hanya Meili dan Alma yang datang menjenguk, melainkan juga Jessy bersama Nathan, Aluna dan Reza.


Kedatangan mereka seperti nya akan membuat ruang rawat Delia menjadi ramai, terutama celotehan dari Alma.


"Tante habis jatuh?" Gadis kecil itu melihat luka pada wajah Delia, dan tidak lupa tangan yang sudah memakai arm sling.


Delia tersenyum melihat raut wajah polos Alma. "Iya."


"Makanya Alma tidak berani naik sepeda, karena takut jatuh. Tante jangan naik sepeda lagi ya!" Alma dengan pikirannya.


Delia tertawa mendengarnya. "Iya karena Tante tidak hati-hati." ujarnya. "Kenapa kamu semakin lucu sih!" Delia menyentuh pipi Alma dengan gemas.


"Kata Papa sama Mama juga begitu." sahut Alma.


Membuat semua orang yang sedari tadi mendengar celotehannya tertawa.


Ariel, Nathan, dan Reza memutuskan untuk mengobrol di luar. Sedangkan para wanita menemani Delia.


"Apa sudah lebih baik?" Meili mendekat sembari melihat keadaan Delia lebih jelas.


"Mendingan Kak." Delia menjawab. Meskipun dari raut wajahnya terlihat menahan nyeri saat tangannya tidak sengaja mengikuti pergerakannya.


"Baik apanya." sahut Jessy. "Melihatnya saja sudah bisa di pastikan rasanya sakit."


"Iya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya itu." Aluna juga merasa ngeri. "Andai saja waktu itu keamanan di rumah lebih di perketat pasti tidak akan terjadi seperti ini." Aluna merasa bersalah, karena kejadian itu berada di rumahnya.


"Semuanya musibah Kak, jadi jangan bicara seperti itu." Delia berujar.


*


*


Jessy dan Nathan memutuskan pulang terlebih dahulu, karena Jessy harus menjemput putranya sekolah. Setelah itu di susul oleh Reza dan Aluna yang memutuskan untuk pulang juga.


Sedangkan Meili dan Alma tetap berada di sana karena menunggu Raka yang sebentar lagi akan tiba.


"Maaf aku baru datang." Raka yang baru tiba.


Alma begitu saja berlari ke arah papanya sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Papa, Tante Delia baru saja bobok. Tadi baru saja minum obat." Ia yang memberitahu.


"Oh... Oke." Raka ikut berbisik kemudian menggendong putrinya.


"Tante Delia habis jatuh." Alma memberitahu seolah ayahnya belum mengetahui. "Habis jatuh dari sepeda."


Raka lalu mendekat ke arah Delia yang sudah tertidur, terdengar dengkuran halus.


"Dia sering sekali tertidur, apa tidak apa-apa?" Ariel bertanya pada Raka.


"Tidak apa, itu efek dari obat yang ia minum. Itu bisa membuatnya istirahat." kata Raka.


Beberapa saat kemudian Meili dan Raka memutuskan pulang, karena Alma yang mulai rewel memasuki jam tidur siangnya.


Saat mengantarkan kepergian Raka, terlihat Juna yang sedang berjalan di lorong rumah sakit.


"Pak, ini barang-barang Nona Delia yang waktu itu berada di mobil." Juna menyerahkan paper bag besar.


Ariel bahkan tidak mengingat itu sama sekali. "Terima kasih, kamu boleh pergi."


"Baik Pak." Juna kemuudian pergi dari sana.


Ariel kembali lagi ke ruang rawat Delia, ia lebih memilih duduk di sofa sudut ruangan agar tidak mengganggu Delia.


Saat baru saja ia meletakkan paper bag di lantai, terdengar ponsel Delia yang berdering.


Setelah ia mengotak atiknya beberapa saat, ternyata sang pengirim pesan adalah Adi. Sepertinya setelah pemuda itu tidak mendapat jawaban saat menelpon Delia kemudian memutuskan mengirimkan pesan.


Ariel mendengus melihat itu.


Rasanya ia tidak Terima jika ada laki-laki lain yang menghubungi kekasihnya, meskipun ia tau jika sebelum mengenal Delia, Adi lebih dulu sudah menjadi sahabat kekasihnya.


Karena penasaran Ariel membuka pesan dari Adi.


📩 Kenapa tidak kamu angkat? Kamu lagi kencan?


"Apa-apan dia, mau tau orang lagi berkencan atau tidak!" Ariel menggerutu.


Dari waktu yang tertera, pesan itu masuk saat malam naas kemarin.


📩 Besok ada balapan, mau iku apa tidak?"


Pesan kedua Adi, dan di pesan kedua itulah membuat mata Ariel membulat.


"Balapan?" Ariel seketika melihat ke arah Delia. "Jadi dia selama ini ikut balapan! Ya ampun." Ia tidak habis pikir.


Entah apa lagi yang masih belum ia ketahui tentang kekasihnya. Pantas saja waktu itu, Delia sampai membuatnya muntah naik mobil.


Dan di pesan terakhir, Adi menanyakan keberadaan Delia yang tidak masuk sekolah.


"Ck," Ariel berdecak. "Kenapa dia selalu saja mencari kekasihku? Apa dia tidak mempunyai teman yang lain." Ia bersungut-sungut.


Ia lalu melakukan panggilan telepon kepada Juna.


"Iya Pak." Begitu sambungan telepon tersambung.


"Pergilah ke sekolah Delia, katakan Delia beberapa hari tidak bisa masuk sekolah karena sakit." perintah Ariel.


"Baik Pak."


Kemudian panggilan berakhir.


Belum juga kekesalan Ariel mereda, sebuah pesan masuk di ponsel Delia membuatnya marah.


📩 Delia Ibu minta uang, yang kamu beri kemarin sudah habis.


"Apa dia pikir, Delia ini alat pencetak uang." Ariel menggeram. Sepertinya peringatannya terakhir kali tidak di dengarkan oleh Eva.


Ia lalu mencoba mengirimkan pesan, ingin melihat bagaimana reaksi Eva.


📩 Maaf Bu, Delia sedang sakit tidak bisa mengirim uang.


Ariel yang mengirim pesan balasan, dan rupanya tidak membutuhkan waktu lama untuk Eva membalasnya.


📩 Beli saja obat di warung, kamu biasanya juga gitu sudah sembuh. Jangan banyak alasan, kalau tidak Dandi saja yang datang ke kontrakanmu. Kamu sudah tau alamatnya.


Ariel rasanya ingin sekali merobek mulut Eva, entah kenapa wanita tua itu sama sekali tidak mempunyai rasa kasihan terhadap anak sambungnya yang selama ini sudah menghidupi nya.


Ariel menatap lekat ke arah Delia, entah cara apa yang harus ia lakukan agar kekasihnya itu terbebas dari semua penderitaannya.


Hingga beberapa saat, sebuah ide muncul di kepalanya.


*


*


Sore harinya Rima dan Bastian kembali ke rumah sakit untuk melihat perkembangan keadaan Delia.


Namun Ariel menghentikan mereka, dan mengajaknya duduk di depan ruang rawat Delia.


Rima dan Bastian merasa heran dengan kelakuan putranya. Bukan hanya kedua orang tuanya, bahkan Raka juga berada di sana kembali setelah mendapatkan telepon dari sahabatnya itu dan tentang keinginan Ariel yang tiba-tiba.


"Mi, Pi, Ariel mau menikah besok!" Ariel mengutarakan keinginannya.


Yang tentu saja membuat keduanya terkejut, sedangkan Raka memijat pangkal hidungnya karena kepalanya tiba-tiba merasa pusing.


...----------------...


...Mas Ariel minta nikah kayak minta beli kerupuk 😂...


...Maaf ya guys beberapa hari ini bakalan keteteran buat up, karena kerjaan di dunia nyata mulai aktif lagi. 🙏...