
Di dalam dapur itu hanya ada keheningan. Adapun suara yang berasal dari perabotan yang Delia gunakan untuk memasak.
Ariel yang berada di sampingnya cuma memandangi gadis itu tanpa banyak bicara atau mengganggu seperti biasanya. Kejadian di cafe tadi membuatnya merasakan hal yang berbeda.
Rasa bersyukur tentu menyelimuti hatinya, karena bisa mendapatkan gadis sebaik Delia. Tapi ada rasa bersalah juga yang menggerogoti hatinya, di mana gadis sebaik Delia juga mendapat mantan seorang Casanova seperti dirinya.
Apalagi Delia yang sama sekali tidak mempermasalahkan masa lalunya, sungguh takdir memang sedang berpihak padanya.
"Mas!" Delia melihat kekasihnya hanya diam dan menatapnya.
"Mas!" Kali ini ia menaikkan volume suaranya, dan benar saja pria itu tersadar dari lamunannya.
"Iya!" sahut Ariel.
"Ngelamun aja." Delia mematikan kompornya saat masakannya sudah matang.
Ayam krispi ia balur dengan saus yang sebelumnya ia bumbui, tidak lupa nasi putih yang masih mengepulkan uap panas.
Mereka berdua makan malam di temani acara televisi.
"Mas kenapa sih suka makan di sini! Di rumah Mas pasti tentunya masakannya lebih enak." Delia bertanya sembari menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
"Masakanmu juga enak." Ariel juga melakukan hal yang sama.
Memang selama ini pria itu tidak pernah mengeluh tentang makanan yang di buat Delia.
Pipi Delia merona mendengar ucapan sederhana Ariel.
"Ehm... Untuk kejadian tadi di cafe kamu benar-benar tidak marah!" Ariel ingin memastikannya kembali.
Delia menatap kekasihnya itu sejenak. "Mas ingin aku marah?"
Tentu saja dengan cepat Ariel menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Ya sudah jangan di bahas lagi, nanti aku bisa berubah pikiran." Delia berujar dan Ariel menganggukkan kepalanya cepat.
Tidak lama ponsel Ariel berbunyi, sebuah pesan masuk.
Setelah Ariel melihatnya ternyata dari Reza.
📩 Besok acara tujuh bulanan Aluna, datanglah ke rumah. Dan bawalah kekasih daun muda mu.
Ariel mendengus, pasti Meili sudah menyebar gosip tentangnya. Karena hanya Meili yang tau tentang Delia.
Ariel melihat ke arah Delia yang sedang fokus acara televisi, apa kekasihnya akan mau jika ia ajak!
"Sayang!" Ariel memanggil, membuat gadis itu menoleh. "Besok kamu mau ikut?"
"Kemana?"
"Ada acara tujuh bulanan temanku."
Delia berpikir sejenak, ia sebenarnya merasa tidak nyaman jika harus datang ke acara seperti itu. Karena tentu saja di sana pasti akan banyak orang seperti kekasihnya, pengusaha yang sukses. Dan ia akan terlihat berbeda di antara mereka.
"Kalau tidak bisa juga tidak apa-apa." Ariel melihat raut wajah kekasihnya yang bingung.
"Besok aku kan sekolah." kata Delia kemudian.
"Sebenarnya juga tidak apa-apa datang siang, yang penting kita hadir di sana. Lagi pula tidak mungkin pagi-pagi sekali acaranya akan di mulai."
Delia terdiam kembali, apa sebaiknya ia datang atau tidak ya?
"Sudah... Jangan di ambil pusing, kalau tidak bisa datang juga tidak apa-apa. Nanti aku akan datang sendiri." Ariel berujar.
*
*
Di dalam apartemen terlihat sebuah kamar yang cukup berantakan, bagaikan sudah terkena guncangan gempa bumi yang cukup dahsyat.
Dan penghuninya pun terlihat tidak baik-baik saja, raut wajahnya memerah pertanda amarah masih menguasainya.
"Aku tidak terima!" Joana berteriak. Membuat Ike yang berada di ruang tamu harus menghembuskan nafasnya kasar karena mendengar itu.
Ia sedari tadi sudah beberapa kali dikagetkan oleh teriakkan teriakkan Joana.
Joana sepertinya memang benar-benar menginginkan Ariel untuk menjadi miliknya.
"Lihat saja akan aku buat mereka menyesal!" geram Joana.
Di dalam pikirannya sekarang ia tidak mau hanya dirinya yang mengalami kesakitan ini.
*
*
Pagi hari Delia seperti sebelum sebelumnya, sang kekasih sudah menjemput untuk mengantarkannya ke sekolah.
"Kalau aku bisa dan tidak sibuk, Juna tidak perlu menjemput." kata Ariel sembari mengemudi. Jalanan pagi itu sudah lumayan ramai.
Delia hanya menganggukkan kepalanya.
Ia masih belum memberi jawaban pada Ariel tentang kesediaannya untuk ikut ke acara tujuh bulanan Aluna.
"Belajar yang pintar." Ariel berujar sebelum Delia turun dari mobil begitu mereka sudah tiba di depan gerbang sekolah.
Delia memutar bola matanya.
Ariel terkekeh. "Ah... Aku lupa jika kamu sudah menjadi juara."
"Ya sudah kalau begitu yang tambah rajin saja sekolahnya." Ariel mengubah pesannya terhadap gadis itu.
Delia mencebik. "Ya sudah aku masuk dulu. Om hati-hati di jalan."
"Oh... manisnya pacarku yang cantik." Ariel rasanya tidak mau berhenti menggoda Delia.
Ia tidak tau saja pipi gadis itu sudah sedikit merona.
"Sudahlah, aku mau masuk dulu." Delia segera pergi meninggalkan Ariel, ia tidak mau jika pria itu melihat keadaannya yang tersipu malu.
"Hei.... !" Ariel memanggil tapi Delia terus saja berjalan masuk ke arah sekolah tanpa menoleh ke arahnya. "Ya ampun dia semakin membuatku gemas." Kemudian BMW hitam itu melaju perlahan meninggalkan area sekolah.
Di dalam kelas, Delia masih sesekali tersenyum saat teringat kejadian tadi. Ia merasa konyol, tapi ia tidak bisa jika tidak tersenyum. Meskipun beberapa temannya memperhatikan dirinya dengan aneh.
Lira yang melihat Delia sudah duduk di bangku nya langsung menghampirinya bersama Jenni, apalagi ia melihat tidak adanya Adi. Sepertinya kejadian terakhir kali yang harus membuatnya mengganti pintu toilet tidak membuatnya jera.
"Delia... !" Lira membentak, membuat perhatian semua di kelasnya menuju ke arah mereka.
Delia menoleh, Lira dan Jenni berdiri di hadapannya. Namun di detik berikutnya ia mengarahkan pandangannya pada luar jendela, malas sekali meladeni dua gadis di depannya.
Padahal pagi ini hatinya sedang bahagia.
Lira yang melihat Delia mengabaikannya tentu membuatnya malu, dan akhirnya menyulut amarahnya. "He... Kamu jangan buat nama sekolah kita malu ya, kamu itu seharusnya bersyukur sudah masuk sekolah ini dengan mendapatkan beasiswa."
Delia masih bergeming tidak memperdulikannya.
"Kalau kamu maunya jadi simpanan Om Om, lebih baik jangan sekolah di sini." Jenni juga menambahi.
"Ada buktinya?" Delia bereaksi.
"Setiap pagi kamu di antar Om Om." Lira bersungut-sungut.
Delia tersenyum tipis. "Apa setiap orang yang di antar orang yang lebih tua bisa di sebut sebagai simpanannya?" ia memberikan pertanyaan balik.
Hampir saja Lira membuka mulut namun Delia lebih dulu mendahuluinya.
"Bagaimana kalau aku di antar ojek online, apa itu juga bisa di sebut simpanannya? Ah... Atau bagaimana kalau aku di antar oleh Papa kamu! Apa itu bisa di sebut sebagai SIMPANANNYA?" Delia tersenyum miring. "Kalau tidak punya bukti yang jelas jangan bicara sembarangan."
Setelah mengatakan itu, sebagian dari temannya ada yang berbisik bisik. Sepertinya mereka juga termakan oleh gosip yang tidak jelas itu.
Lira mengepalkan tangannya kuat, seperti nya semua rencana untuk menggangu Delia tidak ada yang pernah berhasil.
...----------------...
...Minal aidzin wal faidzin guys, mohon maaf lahir dan batin bagi yang merayakan 🙏. ...
...Maaf beberapa hari sudah libur up 🤭...