Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Selamat



Pintu bangunan tua seketika terbuka lebar setelah mendapat dobrakan keras dari beberapa orang yang masuk, di antaranya Nathan, Arga, Juna dan beberapa orang lainnya.


Mereka langsung mengepung tempat itu, agar orang-orang yang berada di dalamnya tidak bisa melarikan diri.


Sementara semua anak buah Joana dan tentunya ia sendiri tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Padahal ia merasa sudah merencanakan dengan matang, hingga bangunan tua yang ia buat sebagai tempat eksekusi juga jauh dari kota. Bisa di bilang tersembunyi.


Arga dan yang lainnya tanpa di komando langsung memberikan serangan terhadap anak buah Joana, karena jumlah yang tidak sebanding. Anak buah Joana dapat teringkus dengan mudah.


Bangunan tua yang sebelumnya memiliki udara pengap itu, sekarang bercampur bau anyir darah.


Darah berceceran di mana-mana membasahi lantai dan tembok usang itu.


Ariel yang sudah bisa terlepas itu segera menghampiri Delia, gadis itu tergeletak di lantai.


Ariel langsung membawanya dalam pelukan, tangisnya pecah melihat keadaan kekasihnya. Suara bising yang berasal dari teriakan anak buah Joana seakan tidak terdengar oleh pendengarannya.


"Maaf." Ariel berujar. Ia sungguh sangat menyesal dengan keadaan Delia karena tidak bisa melindunginya.


Dan ia juga tidak tau harus bersyukur atau tidak, karena penjahat penjahat itu gagal menyentuh kekasihnya. Tetapi melihat keadaan Delia yang seperti itu tetap saja hatinya merasa hancur.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sakit yang di rasakan oleh Delia, gadis yang biasanya tangguh dalam bertarung rela menerima hantaman bertubi-tubi demi dirinya. Sungguh kekasih macam apa dirinya itu.


Delia yang masih mempunyai sedikit kesadaran pun tidak bisa berkata-kata lagi, hanya air mata yang keluar dari mata indahnya.


Sekelebat bayangan Delia yang di pukuli oleh penjahat itu terlintas di pikirannya hingga, amarah yang tadi sempat terlupakan kini kembali memuncak.


Ariel perlahan meletakkan Delia ke lantai. "Tunggulah sebentar."


Ia beranjak, pandangannya begitu tajam menatap para penjahat itu yang sudah babak belur karena di hajar anak buah Bastian.


Ia segera menerjang mereka dengan membabi buta, melampiaskan semua apa yang sejak tadi ia rasakan.


Pukulan bertubi-tubi ia berikan, hingga membuat para penjahat itu semakin parah keadaannya.


Tidak ada yang menghentikan Ariel, mereka hanya melihat Ariel yang seperti tidak ada puasnya.


Setelah beberapa saat, Arga menghampiri Ariel. "Pak, saya rasa sudah cukup. Mereka sudah tidak sadarkan diri." Ia mencoba menghentikan atasannya itu. Karena seperti pesan Sbastian, mereka akan menghajar tapi tidak sampai menghangkan nyawa.


"Aku tidak peduli." Ariel berteriak. Tangannya sudah di penuhi oleh darah, bahkan posisinya tidak berubah.


"Lebih baik kita bawa Nona Delia ke rumah sakit saja, biarkan mereka kami yang mengurusnya." ucapan Arga sukses menghentikan Ariel.


Pikiran Ariel yang sedari tadi di penuhi oleh amarah seketika lenyap ketika mengingat Delia, dengan langkah gontai ia kembali menghampiri kekasihnya.


Tubuh gadis tak berdaya itu segera ia raup untuk di gendong, namun saat akan keluar matanya melihat Joana yang di ringkus oleh Nathan.


Wajah Joana berubah drastis, wanita itu sekarang sedang dalam ketakutan hebat. Apalagi melihat anak buahnya yang sudak sadarkan diri semuanya, di tambah kegilaan Ariel. Wajahnya terlihat pucat pasi.


Langkah Ariel berhenti tepat di depan Joana. "Urusan kita belum selesai."


"Pergilah dulu, bawa Delia ke rumah sakit." Nathan berujar.


Nathan sendiri langsung menyusul di mana Arga berada setelah mengetahui kabar dari Sbastian, dan ia melarang Reza juga Raka yang sebenarnya ingin ikut membantu. Tapi ia melarangnya mengingat istri mereka yang sedang hamil besar, ia takut terjadi apa-apa pada sahabatnya.


Ariel langsung pergi meninggalkan tempat itu bersama Juna yang akan menjadi supir mengantar mereka ke rumah sakit.


Di dalam perjalanan, Ariel sama sekali tidak melepaskan Delia. Ia merasa bahaya akan menghampiri gadis itu jika ia melepaskan pelukannya.


"Aku mengantuk." Delia berucap lirih. Matanya semakin sayu.


"Nggak, kamu nggak boleh tidur. Kita sebentar lagi akan sampai." Ariel mencoba membuat gadis itu agar tetap terjaga.


"Tapi aku capek." lirh Delia lagi dan matanya hampir terpejam.


Air mata Ariel kembali mengalir di buatnya, ia menggelengkan kepalanya. "Aku mohon jangan tertidur, sebentar lagi kita akan sampai." Suaranya bergetar dan terbatah batah menahan sesak di dadanya.


"Cepatlah." Ariel yang meminta Juna menambah kecepatan laju mobil mereka. Rasa panik dan takut kini menguasainya.


*


*


Saat sampai di rumah sakit, ternyata Bastian dan Rima sudah berada di sana. Mereka sudah berkoordinasi dengan rumah sakit, agar begitu putra mereka sampai langsung mendapatkan penanganan oleh pihak rumah sakit.


Sesaat setelah Ariel pergi membawa Delia ke rumah sakit, Arga sudah menghubungi Bastian dan memberitabukan keadaan mereka.


Delia langsung di bawah masuk ke dalam IGD begitu tiba untuk mendapat kan pemeriksaan.


Ariel rasanya berat sekali melepas Delia.


"Sayang, kamu juga harus mendapatkan perawatan." Rima yang baru bisa memeluk anaknya.


Melihat keadaan putranya sungguh belum pernah ada di dalam bayangannya. Wajah tampannya, di hiasi lebam dan cipratan darah.


Begitu dengan pakaian yang di pakai oleh Ariel, tidak jauh berbeda dengan Delia.


"Iya Nak, kamu juga harus mendapatkan perawatan." Bastian juga ikut berbicara.


Namun Ariel hanya menggeleng, dan pandangan matanya tertuju ke dalam ruang IGD yang tidak bisa ia lihat dari luar.


Rima yang melihat itu hampir saja membuka suara, namun ia urungkan saat Bastian menggelengkan kepala. Isyarat agar istrinya itu tidak memaksa Ariel.


Beberapa saaat kemudian, seorang Dokter keluar dari ruang IGD. "Keluarga pasien Delia."


Membuat Ariel dan kedua orang tuanya mendekat. "Saya Dok." kata Ariel.


"Bapak siapanya pasien?" Dokter itu bertanya.


"Saya walinya, Delia sudah tidak mempunyai orang tua." Ariel menjelaskan.


Dokter itu mengangguk anggukkan kepalanya. "Begini Pak, setelah melakukan serangkaian pemeriksaan. Saya membutuhkan persetujuan untuk tindakan operasi, karena tulang bahu di bagian kiri patah. Kami akan memasang pena dan untuk tulang lutut di bagian kanan juga mengalami pergeseran. " Dokter itu menjelaskan.


Tangan Ariel mengepal mendengar penuturan Dokter, ia tidak menyangka akan separa itu. "Lakukan yang terbaik Dok."


"Baiklah kalau begitu, silahkan anda menandatangani surat persetujuan." Dokter itu kembali masuk ke dalam IGD.


Tidak lama seorang perawat menghampiri Ariel, menyerahkan beberapa lembar kertas yang berisi tentang surat persetujuan tindakan operasi.


Tidak berpikir lama, Ariel segera membubuhkan tanda tangannya.


Setelah itu perawat itu pergi dari sana.


Dan tak lama setelahnya terlihat beberapa perawat, mendorong brankar Delia keluar dari IGD. Mereka akan membawanya ke ruang operasi.


Ariel yang melihatnya hanya bisa berjalan di samping brankar, mengikuti kekasihnya yang sudah tidak sadarkan diri. Begitu pun Sbastian dan Rima yang juga ikut mengantar.


Hingga langkah mereka harus terhenti, saat Delia sudah benar-benar masuk dalam ruangan operasi.


...----------------...


...Alhamdulillah ya akhirnya selamat dedek Delia....


...Nah di sini othor mau jawab dari pertanyaan kalian....


...Kenapa sih Ariel kok cemen?...


...Soalnya dari awal karakter yang menonjol itu Delia, dan yang bisa action juga Delia. Ariel memang bisa bertarung, tapi hanya sewajarnya saja....


...Kok ceritanya yang ini drama, nggak kayak Nathan sama Raka?...


...Setiap novel kan memang feel nya berbeda beda, dan sebenarnya menurut aku nggak begitu drama juga. Karena di kehidupan nyata juga ada karakter seperti Joana, di berita banyak guys. Hanya saja tidak di ceritakan secara detailnya....


...Udah gitu aja penjelasannya, dan meskipun kadang aku nggak balas komen kalian secara langsung tetap sebenarnya aku baca komen dari kalian. Terima kasih 🙏🥰...