Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Datang Bulan



Delia yang sedang terlelap tiba-tiba saja merasakan tidurnya terusik karena sesuatu.


Ada tangan kokoh yang menyentuh perutnya.


"Mas..." Tanpa membuka matanya ia tau siapa pemilik tangan itu, tentu saja itu suaminya memang siapa lagi. "Aku ingin tidur."


"Tidur saja." Ariel berbisik di telinganya, tapi ia tidak menghentikan aktifitas tangannya.


"Jangan pegang-pegang." Delia menyentuh tangan suaminya dan menyingkirkannya.


Namun belum beberapa detik tangan kekar itu kembali ke tempat semula.


Delia akhirnya membuka matanya yang memerah, dan mendapatkan suaminya tengah tersenyum sembari menatapnya.


Delia merasa curiga, pasalnya sekarang jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat pagi. "Curiga deh!"


Tapi senyuman di wajah Ariel justru semakin lebar. "Ayo kita anuan lagi!"


Mata Delia seketika mendelik. "Nggak, besok besok aja lagi. Ini aja masih sakit."


Delia saja bahkan masih merasa tidak nyaman dengan pusat intinya, seperti ada yang mengganjal dan rasa perih masih terasa.


Senyum di wajah Ariel memudar seketika. "Mungkin itu karena cuma sekali kita melakukannya, kalau sudah berkali kali tidak akan sakit." Ia mencoba keberuntungannya sekali lagi.


Ariel tentu saja menginginkannya kembali, melakukannya bersama Delia membuatnya menggila. Sensasi yang ia dapatkan berbeda saat ia melakukannya dengan teman wanitanya dulu. Mungkin karena ia yang pertama bagi Delia.


"Nggak Mas, lagi pula aku juga ngantuk." Delia tetap menolak, ia lalu memutuskan untuk memejamkan kembali.


"Tapi Tirex udah bangun!" kata Ariel lirih, tapi Delia masih bisa mendengarnya.


"Aku kan nggak ngapa-ngapain." Delia tetap memejamkan mata dan berusaha agar cepat tidur kembali.


Ariel terdiam, ia memikirkan cara agar istrinya mau. Mengingat kadang istrinya juga keras kepala seperti dirinya.


Dan hanya ada satu cara yang bisa ia gunakan, yaitu memaksanya.


Delia merasakan pergerakan ranjang tempat suaminya tadi tidur, mungkin saja suaminya itu sedang ngambek karena kemauannya tidak ia turuti. Tapi bagus lah ia bisa beristirahat.


Hingga beberapa saat kemudian, ia di kejutkan karena tiba-tiba suaminya sudah mengungkungnya. Dan yang semakin membuatnya terkejut suaminya sudah tidak mengenakan sehelai kain pun.


...Area 18+...


"Ayo aku sudah siap." kata Ariel.


Tanpa menunggu persetujuan Delia, ia segera memulainya dengan menautkan bibir mereka.


Ariel menikmati bibir Delia yang selalu terasa manis untuknya, hingga membuatnya tidak ingin berhenti untuk mengecap nya.


Sedangkan tangan kokohnya sudah menyelinap di balik pakaian Delia, dan dengan mudah menemukan dua bulatan yang selalu membuatnya gemas untuk meremasnya.


Delia yang tadinya sempat menolak pun kini mulai ikut terhanyut, apalagi setiap suaminya meremas salah satu asetnya dan mempermainkan ujungnya. Membuat ia tidak karuan, bahkan di dalam sudut hatinya ia menginginkan lebih dari itu.


Tangan Ariel dengan terampil mulai membuka kancing baju Delia satu persatu, hingga tidak membutuhkan waktu lama baju itu terbuka sempurna.


Dan lihatlah, dua bulatan itu rupanya sudah mengeras dengan ujung yang sudah mencuat.


Mata Ariel berbinar melihat itu, ia seperti menemukan mainan kesayangannya.


"Ungh.. " Delia menggelinjang, saat suaminya menyesap salah satu asetnya. Dan pria itu memainkannya dengan sesuka hati, tapi entah kenapa ia justru menyukainya.


Tak henti hentinya Delia mengeluarkan suara yang membuat Ariel menjadi lebih bersemangat.


Ariel sepertinya tidak ingin begitu saja meninggalkan mainannya, sesekali ia juga memberikan tanda cintanya di sana.


Membuat benda itu di kelilingi warna merah keunguan.


Tangan Ariel perlahan menyusuri perut ramping Delia, hingga terus bergerak ke bawah.


Tangan itu lalu menyelinap di balik celananya dan kain segitiga, mencari pusat inti milik istrinya yang beberapa saat lalu berhasil ia masuki dan kini menjadi rumah bagi senjata keramatnya.


Hingga di satu titik ia menemukan nya, ia menyentuhnya dan merasakan di sana telah basah.


Namun ada yang sedikit berbeda, sepertinya rumah baru Tirex itu masih sedikit membengkak sisa pergu mulannya tadi.


"Akh... Mas." Delia menegang.


"Yes babby." Ariel menekan di mana titik sensitif seperti biji kecil.


Hal itu membuat Delia tidak bisa berkata-kata, dan hanya nafasnya yang semakin memburu.


Gejolak di dalam dirinya begitu saja menanjak, matanya menatap penuh arti pada Ariel.


Ariel tersenyum penuh kemenangan, ia akhirnya berhasil mengajak istrinya untuk mengikuti permainannya.


Hal berikutnya yang ia lakukan adalah melepas semua kain yang menempel pada tubuh istrinya.


Ariel memposisikan dirinya, ia bersiap untuk menyatukan tubuh mereka kembali.


"Katakanlah lagi, aku suka mendengarnya." Ariel mulai bergerak.


"Sayang." Delia merasakan pusat intinya benar-benar penuh, mungkin karena ukuran milik suaminya yang terlalu besar.


Ariel semakin di awang-awang, ia mengetatkan rahangnya begitu sensasi yang luar biasa ia rasakan.


Hingga beberapa saat kemudian kesadarannya mulai menghilang, hentakan yang tadi masih ia kontrol perlahan kini mulai menghentak cepat.


"Ungh... " Delia merasakan milik suaminya benar-benar menyentuh dinding rahimnya ketika Ariel menekan pinggulnya dengan dalam.


Saat semua gejolak menggulung jadi satu, di saat itulah Ariel benar-benar menekan pinggulnya membenamkan Tirex jauh di dalam sana. Bersama keluarnya ****** ***** mereka yang datang melanda secara bersama.


*


*


"Papi nggak ikut ke rumah sakit?" Rima sembari menyiapkan beberapa makanan. Hari ini ia berencana ke rumah sakit sambil membawa makanan dari rumah, ia khawatir jika menantunya itu bosan dengan makanan rumah sakit.


"Hari ini Papi mau ke perusahaan Mi, kasian Arga beberapa hari harus mengurus perusahaan sendirian." Sebastian sebenarnya yakin jika Arga bisa melakukannya, hanya saja ia yang merasa tidak tega.


"Oh... Baiklah kalau begitu." Rima sudah selesai menyiapkan semua makanan yang ia masukkan ke dalam kotak makan. "Mami pergi dulu ya." pamitnya.


"Iya hati-hati, katakan juga pada Delia Papi minta maaf karena tidak bisa ikut." Sebastian juga akan berangkat ke kantor.


"Oke."


Jalan pagi ini cukup padat, apalagi memang bersamaan dengan pelajar dan para pekerja yang sedang berangkat.


Rima sampai di rumah sakit ketika waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi.


"Pagi... " Begitu ia masuk kedalam kamar rawat Delia. Dan ia mendapati perawat yang akan keluar membawa seprei, sepertinya baru saja selesai di ganti.


"Pagi Mi." jawab Delia.


"Habis ganti seprei?" Rima meletakkan barang bawaannya di meja dan bersiap menata nya.


Delia tersenyum kaku, ia tidak mempunyai jawaban untuk pertanyaan mertuanya. Ia masih belum memikirkannya, masak iya ia harus bilang kena darah karena semalam.


Tadi saja suaminya yang memanggil perawat untuk mengganti, dan entah apa yang di katakan suaminya pada perawat.


"Delia datang bulan Mi." Ariel keluar dari kamar mandi, dan ia terlihat begitu segar. Apalagi dengan rambut basahnya yang masih meneteskan sedikit air.


"Benarkah? Lalu pembalut nya bagaimana! Kenapa tadi tidak telepon Mami, biar sekalian Mami belikan." Rima menatap menantunya.


"Tadi aku susah minta pada perawat." Ariel menjawab, kemudian ia duduk di sofa yang di depannya sudah tertata makanan.


"Oh... Syukurlah kalau begitu." Rima sama sekali tidak curiga. "Sayang, mau makan!" Ia menawari Delia.


Delia langsung menganggukkan kepala, meskipun ia tidak tau makanan apa yang di bawa oleh Rima. Setidaknya itu adalah makanan rumah.


"Mami tidak menawariku." Ariel protes.


"Kamu bisa ambil sendiri. Ya sudah, sana. Mami mau menyuapi Delia." Rima sudah mengambil nasi, sayur sop dan beberapa lauk dalam satu piring.


"Biar aku aja Mi." Ariel berniat merebut piring yang di bawa Rima.


"Nggak usah, kamu makan saja." Rima lalu menghampiri Delia. "Biar Mami suapi ya."


"Delia bisa makan sendiri Mi." Delia merasa sungkan.


"Tidak apa-apa, biar Mami saja. Mami senang melakukannya." Rima yang kemudian menyuapkan satu sendok yang berisi makanan.


Delia dengan senang hati menerima nya, sudah lama ia tidak merasakan hal seperti ini.


"Makan yang banyak, biar cepat sehat kembali... Oke." Rima menyemangati di sela-sela ia menyuapi.


Delia menganggukkan kepala. "Iya Mi."


"Makanan yang Mami bawa rasanya enak." Delia cocok dengan rasanya. "Mami memang pandai memasak."


Rima tertawa. "Mami cuma membantu, yang memasak bibi."


Hingga beberapa saat kemudian, tinggal beberapa suapan lagi makanan yang ada di piring habis.


"Kamu kenapa! Mami lihat dari tadi kamu bergerak terus. Ada yang sakit?" Rima melihat menantunya tidak nyaman dalam duduknya.


Mendengar itu justru Ariel yang tersedak makanannya.


"Kamu itu kenapa! Makan nggak ada yang ngajak ngobrol sama gangguin kok ya tersedak. Cepat minum." Rima menggelengkan kepala. "Apa ada yang sakit?" Rima kembali bertanya pada menantunya.


"Nggak Mi, cuma gara-gara datang bulan saja jadi tidak nyaman." Delia berkilah. "Dosa nggak ya bohong?" batin Delia


...----------------...


...Ariel mah tukang maksa, masi di edisi pengantin baru ya guys 🤭...