
"Mi." Ariel baru sampai di rumah.
Ia yang rupanya pulang telat, karena ada pekerjaan yang mendadak.
"Mami ada apa?" Melihat ibunya berdiri di depan kamarnya.
"Mami mau nyuruh Delia makan, soalnya tadi Mami tanya bibi katanya istri kamu belum makan sepulang sekolah. Hanya makan salad buah saja, tapi Mami memanggilnya sedari tadi tidak ada sahutan. Apa mungkin Delia tidur?"
"Ya sudah, biar Ariel saja nanti yang menyuruhnya makan."
Rima kemudian pergi dari sana.
Ariel perlahan membuka pintu kamarnya, ia tentu saja mempunyai rasa bersalah karena tidak menepati janjinya untuk pulang cepat.
Sekarang bahkan sudah pukul lima sore, ia baru sampai rumah.
Ternyata dugaan Maminya benar, setelah masuk kamar ia bisa melihat istrinya yang sedang tertidur pulas.
Ia berjalan perlahan mendekati tempat tidurnya, ada senyuman yang tersungging di bibirnya.
Melihat bagaimana keadaan istrinya sekarang, masih mengenakan baju handuk dan kepalanya yang terbungkus handuk kecil.
Terdengar dengkuran halus, sepertinya istrinya itu tertidur ketika selesai mandi.
"Ceroboh sekali." Ariel menggumam.
...Area 18+...
Meskipun tidak akan ada yang berani masuk kamarnya tanpa ijin, tapi tetap saja seharusnya istrinya itu mengunci pintu terlebih dahulu.
Ariel melepaskan jas dan kemejanya hingga terpampang tubuh atletisnya, entah kenapa melihat posisi istrinya seperti itu membuat pikiran kotornya hadir begitu saja.
Setelah itu ia melepas celananya, hingga hanya dalaman yang menutupi benda perkasanya.
Dengan pelan ia mulai naik ke atas ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di samping Delia.
Ia menatap wajah damai yang masih tidak terganggu itu, entah setelah ini.
Ariel mulai menyentuh bibir pink yang setiap hari ia kecup, bahkan tidak hanya itu ia juga **********.
Dan pipi istrinya yang begitu lembut, rasa dingin masih ia rasakan. Aroma sabun masih tercium di indra penciumannya, hingga itu semakin membangkitkan hasratnya.
Tangan kekar itu terus turun, hingga berhenti di mana tali yang menjadi pengikat baju handuk itu berada.
Matanya sama sekali tidak teralihkan dari wajah ayu istrinya, tapi tangannya perlahan menarik tali itu dan kemudian terlepas dengan mudah.
Senyum di wajahnya semakin merekah, di saat usahanya berjalan mulus tanpa hambatan.
Ia mulai menyingkap baju handuk di bagian atas, hingga apa yang tersembunyi di dalamnya terlihat jelas olehnya.
Nalurinya sebagai bayi langsung meronta-ronta melihat dua bulatan milik istrinya, tanpa menunggu lama ia mulai mendekatkan mulutnya ke ujung puncaknya.
Ariel memang seperti bayi, menghisap bulatan itu dengan rakus.
"Eungh ..." Delia mengerang, sepertinya ia mulai terganggu.
Perlahan ia membuka matanya, dan seketika terbuka lebar saat mengetahui ada seseorang yang menjamah tubuhnya.
Ariel yang sigap langsung mencekal kedua tangan istrinya agar tidak berontak. "Apa aku membangunkan mu?" tanya nya tanpa rasa bersalah, ia sesaat menjeda kegiatannya.
"Mas!" Saat Delia mengetahui jika itu adalah suaminya. Matanya membulat karena rasa terkejut, dan dadanya yang naik turun.
"Kenapa kamu selalu menggodaku!"
Delia mendengus, ia bahkan tadi tertidur nyenyak. Dan suaminya lah yang telah membuatnya terbangun. "Aku tadi sedang tidur, siapa yang menggoda?"
"Bagiku, meskipun kamu tertidur, kamu tersadar, kamu makan, kamu mandi, semuanya membuatku tergoda." Ariel semakin merapatkan tubuhnya, hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Mana ada yang begituan!" ketua Delia. Dan ia baru menyadari jika suaminya sudah tidak memakai apa-apa di tubuhnya, hanya kain segitiga yang menempel di bawah sana.
"Ada, buktinya aku!" Ariel tersenyum senang.
"CK." Delia berdecak.
"Kalau begitu ayo kita lanjutkan." Ariel dengan semangatnya.
"Nggak mau, ini masih sore masak--"
Mulut Delia begitu saja di bungkam Ariel dengan bibirnya, tidak memberikan istrinya itu untuk berbicara sepatah katapun.
Hingga semakin lama, Delia tidak mampu berbuat apapun di saat tubuhnya justru menyerah setelah mendapatkan sentuhan-sentuhan tangan Koko milik Ariel.
Setelah merasakan tidak ada penolakan, bibir Ariel beralih ke tempat lain.
Bibir itu terus menyusuri kulit putih istrinya, mulai dari belakan telinga, leher, hingga berhenti di kedua bulatan yang sudah mengeras.
Lihatlah, puncaknya sudah mencuat sempurna. Pasti sangat nikmat jika ia mempermainkan dengan mulutnya.
"Akh..." Mata Delia terpejam saat merasakan mulut suaminya itu dengan sempurna mengulum salah satu asetnya.
Ariel mempermainkan puncak bulatan itu di dalam mulutnya, mengitari benda kecil itu dengan lidah nakalnya.
Di saat ia sudah merasa puas, di situlah Ariel menghisapnya dengan kuat. Bahkan sesekali memberikan gigitan kecil karena ia yang begitu gemas.
Tubuh Delia seketika menegang, respon tubuhnya tak dapat ia kendalikan.
Rasa geli bercampur nikmat, tapi entah kenapa ia begitu menyukainya.
Ariel mempermainkan kedua bulatan itu secara bergantian.
Tangan kanan nya secara perlahan menelusuri lekuk tubuh Delia, hingga tangan itu berhenti area pusat istrinya.
Kaki Delia reflek tertutup, ia masih malu jika suaminya itu menjamah area pribadinya.
Tapi bukan Ariel jika tidak bisa mendapatkan keinginannya.
"Mas...!" Delia menatap Ariel dengan memohon.
Namun Ariel kembali mencumbunya, hingga ia kembali terbuai.
Kaki Ariel perlahan merangsek di antara kedua paha Delia, setelah berhasil ia perlahan meregangkan ya. Hingga kaki Delia terbuka sempurna.
Tangannya tanpa permisi sudah berada di sana, dan dua jari menyelinap di pusat inti Delia. Membuat pemiliknya memekik.
"Kau begitu basah sayang!" Ariel mulai menggerakkan jarinya keluar masuk.
Wajah Delia rasanya semakin merona, tapi ia tidak tau harus berkata apa. Hanya tubuhnya yang tau akan situasi ini.
Tubuhnya merespon dengan hebat, permainan suaminya selalu bisa menaklukannya.
Tak membutuhkan waktu lama, pusat intinya berdenyut hebat saat ia akan mendapatkan pelepasan.
Tubuhnya melengkung, menandakan ia sudah tumbang. Keningnya sudah di penuhi oleh keringat, dan nafasnya yang memburu.
"Oh good job baby." Ariel dengan seringainya, ia rasanya puas telah membuat istrinya itu kalah dalam permainan ini.
Ariel melepas kain terakhir yang menutup di tubuhnya, hingga terpampang lah tirex yang sudah siap bertarung.
Benda itu sudah tampak sangat mengeras.
Delia yang melihat itu hanya bisa menelan saliva nya susah payah, tengahnya rasanya sudah terkuras habis tapi suaminya justru baru akan memulainya.
"Kita mulai sayang." Ariel dengan begitu saja membenamkan miliknya.
"Eungh..." Delia menggigit bibir bawahnya menerima serangan dari suaminya, meskipun ini bukan yang pertama tapi benda itu selalu sesak memenuhi pusat intinya.
Perlahan Ariel mulai bergerak, ia begitu menikmati di saat-saat seperti ini. Rasanya sungguh luar biasa.
Awalnya ia ingin bermain dengan pelan, tapi semakin lama hasrat di dalam dirinya semakin memanas. Hingga tanpa ia sadari pergerakannya semakin kuat.
Rintihan Delia pun semakin lama semakin nyaring terdengar, ia merasakan benda itu menyentuh pusat terdalamnya.
Untung saja kamar mereka kedap suara, hingga tidak memungkinkan ada seseorang yang bisa mendengarnya.
Ariel merasakan pusat tubuh istrinya mulai mencengkeram miliknya, menandakan Delia akan mendapatkan pelepasan keduanya.
Ariel kembali meraup salah satu bulatan yang mengayun indah, di saat ia menyesap di bawah sana ia semakin kuat menghentak.
Hingga di detik berikutnya ia sudah tidak lagi mampu untuk menahan pertahanannya.
"Arrgghh." Mereka berdua yang telah sampai di akhir permainan.
...----------------...
...Cuaca mendung guys ðŸ¤...