
Delia merasa sisi ranjang tempat ia berbaring telah kosong, sudah tidak ada lagi keberadaan suaminya di sana.
Dari jendela ia dapat melihat jika hari mulai beranjak petang, sepertinya ia tertidur cukup lama setelah mengobrol dengan suaminya tadi.
"Sudah bangun?" Ariel yang baru saja datang.
Delia tidak langsung menjawab, tapi ia memperhatikan penampilan suaminya yang sudah rapi. Dan aroma parfum yang juga tercium di indra penciumannya.
"Hei, kenapa melamun?" Ariel sudah duduk di depan istrinya. "Mau mandi sekarang?" tawarnya.
Mendengar kata mandi Delia segera memicingkan matanya.
"Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" Ariel tertawa.
"Hanya sedikit curiga?" kata Delia.
"Curiga apa?"
"Takut nanti di modusin."
Ariel semakin tertawa mendengarnya. "Padahal aku tadi benar-benar hanya menawari mandi, tapi boleh juga kalau ada modus-modus sedikit."
Delia berdecak.
Hingga kemudian Ariel benar-benar membantu istrinya membersihkan diri tanpa embel-embel modus, meskipun acara membersihkan diri itu jauh lebih lama dari pada normalnya.
*
*
Setelah acara makan malam, kini pengantin baru itu bersantai di balkon kamar. Menikmati udara malam yang cukup dingin.
Mereka berdua duduk di kursi santai, dengan Delia yang bersandar pada dada suaminya.
"Mas!" panggil Delia.
"Hmm."
"Kalau aku tinggal di sini, rumah kontrakan gimana? Kan udah sewa beberapa taun ke depan!"
"Bagaimana kalau di oper kontrak saja?"
"Memang bisa begitu?"
"Tentu saja bisa, apalagi rumah itu sudah lengkap dengan perabotan."
Ariel yang memang seorang pebisnis tentu saja mengerti akan hal seperti itu.
"Ya sudah kalau begitu."
"Atau kita tempati saja sesekali, biar saat kita melakukan itu lebih leluasa." Pikiran Ariel yang entah tiba-tiba saja melayang kemana.
"Melakukan apa?" Delia mendongak, hingga mendapati suaminya yang tersenyum aneh.
"Tentu saja mengantarkan tirex ke rumahnya."
Delia memutar bola matanya. "Dasar otak me sum."
"Tapi kemarin-kemarin juga me sum sama perempuan lain, makannya sampai bobok bareng."
"Kenapa malah jadi bahas itu." Ariel tidak senang mendengarnya.
"Tapi kan--"
"Stop jangan di teruskan nanti kita bisa bertengkar." Ariel menyudahi.
Dan beberapa saat sempat ada keheningan di antara mereka.
"Mas, kapan aku bisa masuk sekolah?"
"Tunggulah beberapa hari lagi, sampai benar-benar pulih."
"Nanti kalau kelamaan libur, nilaiku bisa turun dan beasiswaku bisa di cabut." Delia mencemaskan nilainya, ia takut tidak bisa mengejar pelajaran.
"Kalau di cabut, aku masih mampu membiayainya." ujar Ariel enteng.
"Tapi aku sudah mempertahankan beasiswa itu sejak lama, masa kelas tiga mau di cabut! Kan sayang, sia-sia dong perjuangan aku." Delia tidak bisa membayangkan itu, bahkan dulu ia harus berjuang mati-matian agar mendapatkan beasiswa. Hingga harus mengalahkan beberapa murid dari sekolah lain agar bisa lolos.
"Tapi yang jadi masalah kamu sekarang lagi sakit, pihak sekolah pasti mengerti." Ariel memberi pengertian.
Delia lalu menghembuskan nafasnya perlahan, yang di ucapkan suaminya memang benar.
Ariel mendekap tubuh istrinya semakin erat, saat udara malam terasa semakin dingin.
Ariel menyandarkan dagunya pada bahu Delia, menikmati aroma yang selalu membuatnya mabuk.
"Aku punya sesuatu." bisik Ariel di telinga Delia.
"Hmm!"
Tangan kanan Ariel kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya.
Sebuah kotak persegi, dengan warna hitam.
Delia masih belum tau apa yang akan di tunjukkan suaminya.
Hingga kemudian matanya membulat, saat Ariel membukanya.
Sebuah cincin yang begitu cantik.
Ariel mengambil cincin itu, dan menggapai tangan kanan Delia. "Maaf, aku baru memberikannya." Ia memakaikan di jari manis istrinya, dan cincin itu terlihat pas. "Cincin yang cantik, untuk orang yang cantik."
Delia memandangi cincin yang berada di jarinya, cincin dengan satu batu permata kecil namun terlihat begitu mewah.
"Kamu suka?" tanya Ariel.
Delia menoleh ke arah suaminya, kemudian tersenyum. "Cincinnya sangat cantik."
"Dan yang memakainya jauh lebih cantik." Ariel berujar, dan memberikan kecupan di bibir Delia.
...----------------...
...Bang Ariel mah nggak tau susahnya bayar daftar ulang sekolah anak, makannya uangnya di belikan cincin ðŸ¤...