
"Tidak ada yang ketinggalan?" Ariel memastikan jika istrinya tidak ketinggalan barang apapun sebelum turun dari mobil.
"Sepertinya tidak." Delia mengecek semua barang bawaannya, dan tidak ada yang tertinggal.
"Ya sudah kalau begitu, belajarlah yang rajin."
Namun Delia justru menatap suaminya dengan raut tak biasa, entahlah ... sepertinya ia merasa Ariel menyembunyikan sesuatu darinya. Dan itu sejak menerima telepon dari Arga pagi tadi.
"Kenapa?" Ariel bertanya.
Tapi Delia segera menggelengkan kepalanya, mungkin itu adalah urusan pekerjaan suaminya. "Tidak apa-apa."
Sebelum turun, Ariel tidak lupa memberikan kecupan singkat di bibir istrinya. Sebelum Delia benar-benar pergi.
*
*
Di kantor Ariel segera menyuruh Arga untuk menemuinya.
"Apa Delia di wajibkan datang ke persidangan?" tanya Ariel.
Ya, tadi pagi Arga memberikan kabar jika besok persidangan Joana akan di gelar. Dan tentu saja Ariel juga Delia di minta untuk hadir, sebagai korban juga saksi.
Namun Ariel rasanya tidak tega jika harus membawa istrinya ke persidangan, mengingat saat Delia menjalani pemeriksaan setelahnya istrinya itu tidak bisa tidur untuk beberapa hari karena merasa gelisah.
"Kalau keadaannya memungkinkan iya, Pak. Tapi kalau tidak bisa, bisa juga melalui video call." Arga menjelaskan apa yang di ketahui, setelah ia sempat berunding dengan beberapa pengacara yang di tunjuk oleh Ariel.
Ariel menghembuskan nafasnya kasar.
"Akan aku pikirkan lagi." Ariel akhirnya memutuskan.
Ia tidak mau gegabah dalam bertindak yang terpenting adalah kenyamanan istrinya, ia tidak mau sampai psikis istrinya terganggu oleh masalah ini.
*
*
"Di jemput?" Adi yang sudah merapikan semua bukunya.
Delia yang membaca pesan di ponselnya seketika mengalihkan perhatiannya. "Hm ..."
Suaminya yang memang baru saja mengirimkan pesan jika Juna akan menjemput.
"Ya sudah ayo pulang kalau begitu." ajak Adi.
Mereka jalan beriringan keluar kelas, hingga berpisah saat Adi berbelok menuju mobilnya terparkir.
Dari kejauhan nampak kedua gadis memperhatikan gerak-gerik Delia dan Adi, sungguh ketara di raut wajah mereka jika tidak menyukai keduanya.
"Aku heran, apa bagusnya dia?" Lira yang nampak ketara ketidaksukaannya terhadap Delia.
Jeni memfokuskan pandangan pada Delia, memang tidak ada yang spesial. Hanya penampilan yang berubah sejak pulang dari rumah sakit, gadis itu lebih anggun dari pada biasanya.
Tapi jika di lihat dari raut wajahnya, tetap saja Delia masih seperti yang dulu.
"Jen, udahlah kita jangan punya urusan sama Delia. Aku masih ngeri kalau inget kejadian di toilet." Jeni bergidik ngeri.
Meskipun Delia pernah cidera, bukan berarti dia tidak bisa menghajar orang.
Cukup sekali ia dan Lira mengganti pintu yang jebol.
"Kalau masalah Adi nggak suka sama kamu, ya kamu aja usaha lebih giat. Atau nggak cari yang lain, masih banyak kok cowok di sekolah kita yang good looking sama good rekening." Jeni dengan idenya.
Lira memutar bola matanya malas, sebenarnya tidak ada yang salah dengan ucapan sahabatnya. Hanya saja hatinya sudah tertambat pada Adi sejak lama.
Keduanya seketika terdiam begitu Delia sudah mendekat, hanya mata mereka yang saling lirik.
Delia menatap mereka sekilas, namun tidak berniat untuk menegur.
"Lir, kita tunggu jemputan di sana saja." Jeni mengajak sahabatnya itu untuk menghindari Delia. Ia takut jika nanti ada perdebatan antara Lira dan Delia.
...----------------...