
Suara keributan terdengar begitu nyaring dari rumah kecil yang di tinggali Eva, bahkan beberapa tetangga juga ikut menyaksikan. Tapi mereka hanya bisa melihat tanpa ingin membantu, karena mereka harus berpikir ulang jika akan membantu. Yang mereka hadapi adalah seorang preman.
"Dasar orang miskin tidak tahu diri." Salah seorang preman yang memaki Eva. "Sudah aku peringatkan, jika tidak mampu membayar jangan berhutang."
"Pak, tolong beri sedikit waktu." Eva menghiba.
"Waktu untuk apa lagi, hasilnya akan tetap sama. Kau dan anakmu tidak ada yang bekerja." Preman itu melihat beberapa rekannya. "Keluarkan pakaian mereka, kita sita rumahnya."
"Aaa.... Jangan, aku mohon jangan lakukan itu, aku sudah tidak punya tempat lagi." Eva menangis.
"Itu bukan urusanku, dan jangan bilang aku kejam. Ini sudah menjadi sekepakatan kita di awal, kau pinjam uang aku berikan dan rumah menjadi jaminan."
Eva semakin histeris saat mereka mulai mengeluarkan pakaiannya dan beberapa barang miliknya.
Setelah selesai, preman itu mengunci rumah itu dan pergi dari sana.
Di saat seperti ini ia hanya bisa menangis sendirian, bahkan putra yang ia cintai belum pulang dari semalam.
"Aku harus bagaimana!" Eva bingung bagaimana melanjutkan hidup setelah ini.
*
*
"Mas!" Delia melemparkan bantal pada Ariel yang hampir berganti pakaian.
"Ada apa?" tanya Ariel.
"Jangan ganti pakaian di sini, di kamar mandi saja." Delia tidak habis pikir, apa suaminya itu tidak malu jika di lihat olehnya.
"Memangnya kenapa?" Tanpa di duga-duga Ariel melepaskan handuknya.
"Astagah!" Delia langsung memejamkan matanya.
Ariel terkekeh melihat itu. "Nanti kan kamu juga akan terbiasa melihatnya, bahkan merasakannya."
"Dasar tidak tau malu." Delia menghumam, namun masih bisa di dengar oleh Ariel.
"Hei... Buat apa malu dengan istri sendiri."
Delia berdecak.
"Apa kamu benar-benar nggak mau lihat Tirex! Biar nanti nggak kaget." Ariel berjalan mendekat.
"Nggak." jawab Delia tanpa membuka matanya.
"Mungkin kenalan dulu, biar lebih akrab."
"Nggak." Delia bergidik ngeri membayangkan itu. "Udah jangan dekat-dekat." Ia merasakan suaminya mendekat.
"Memangnya kenapa! Kita sudah halal."
"Kalau begini Mas bilangnya halal, kemarin-kemarin pas yang haram diam saja."
"Kapan aku melakukan yang haram?"
"Itu, waktu Mas bobok sama yang lain." Delia mengingatkan.
"Kenapa malah membahas itu."
"Tadi katanya lupa."
"Apanya!"
"Yang haram."
"Ah... Sudahlah, jangan bahas itu lagi." Ariel merasa jika obrolan ini di teruskan akan menjadi perdebatan. Masa iya pengantin baru masih beberapa jam sudah bertengkar. "Sekarang buka matamu."
"Nggak mau." Delia menolak.
"Ayo!" Ariel memaksa nya.
"Mas!" Delia yang kesal. "Ganti baju du--" Ia melihat suaminya sudah berganti pakaian.
"Apa! Mau lihat aku yang tidak pakai baju? Oke, akan aku buka. Kenapa tidak bilang dari tadi." Ariel bersiap membuka kaosnya.
"Apaan sih." Delia memalingkan wajahnya karena salah tingkah.
"Sekarang ayo aku bantu ganti baju." Ariel dengan bersemangat.
"Aku bisa sendiri."
"Bagaimana caranya? Tangan satunya di infus dan satunya lagi memakai arm sling!"
Delia terdiam, bagaimana caranya ia bisa menghindar.
"Sudah, sekarang ayo ganti pakaian. Tidak ada penolakan." Ariel kemudian ke kamar mandi, tidak lama kembali dengan baskom yang berisi air hangat dan handuk kecil.
"Tapi aku malu." Delia berkata lirih.
"Kenapa harus malu, aku suamimu. Nanti juga aku akan melihat semua nya."
Delia menghembuskan nafasnya perlahan, kenapa pikirannya dan suaminya berbeda.
Perlahan ia menariknya ke bawah, hingga perlahan pula ia bisa melihat punggung mulus milik istrinya. Meskipun masih terlihat beberapa bagian yang terlihat samar keunguan bekas kejadian naas itu.
Namun hal itu saja sudah bisa membuat tenggorokannya kering, ia seperti sudah berpuasa beberapa hari tapi belum berbuka.
Hal yang sama juga di rasakan Delia, jemari Ariel yang tidak sengaja menyentuh kulit punggungnya seketika membuatnya meremang.
"Ya ampun, padahal dulu aku sering melihat perempuan tanpa pakaian. Tetapi kenapa sekarang baru melihat punggungnya saja Tirex sudah bangun?" Ariel menatap benda keramatnya yang sudah mengeras dengan sendirinya, dan itu tentu saja menyiksa dirinya.
"Mas, susahkan! Lebih baik panggil suster saja." Delia mencari jalan keluar untuk situasi ini.
"Nggak! Aku bisa." Ariel tetap kekeh pada pendiriannya. Padahal dahinya mulai berkeringat, walaupun di ruang rawat Delia tentunya sudah full AC.
*
*
Malam harinya, Delia tampak menikmati film yang ia tonton. Sebuah drama Korea, bergenre action.
Sedangkan Ariel duduk di kursi dengan wajah di tekuk.
"Cepat tidur, orang sakit di larang tidur malam-malam." Ariel menghampiri istrinya, tapi raut wajahnya tidak berubah.
"Sebentar lagi, sayang filmnya." Delia merasa sayang jika harus menjeda kegiatannya, karena film itu sebentar lagi akan berakhir.
Ariel ikut naik ke ranjang di mana istrinya berada.
"Mas ngapain?" Delia waspada.
"Tidur."
"Kenapa di sini?"
"Di sini masih muat jika aku tidur."
Delia mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Ingat ya, kita sudah menikah." Tanpa persetujuan dari istrinya, Ariel merebut remot TV dan mematikannya. Ia lalu membaringkan Delia dan memeluknya. "Sekarang ayo kita tidur."
"Kenapa sejak tadi dia begitu menyebalkan!" batin Delia sembari melihat suaminya yang mulai memejamkan mata.
"Mas jangan begini, aku tidak bisa tidur." Delia berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya.
"Nanti lama-lama juga bisa tidur." Ariel tidak merubah posisinya.
Delia menghembuskan nafasnya pelan. "Bagaimana kita mengobrol saja." Ia sepertinya memang tidak ingin tidur.
"Apa!" Ariel tetap memejamkan mata.
"Nanti kalau aku sembuh dan sekolah beneran nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa, kepala sekolah dan kepala yayasan kan sudah tau. Lagian Raka juga tidak mempermasalahkan nya, dia dan aku juga sudah sahabatan sejak lama. Jadi bisa di pastikan tidak apa-apa."
"Pantes."
Delia tidak menyangka jika kepala yayasan tempat dirinya bersekolah adalah sahabat suaminya, karena sebelumnya ia belum pernah ketemu.
Pantas saja, suaminya itu bisa saja mengajaknya menikah tanpa kendala.
"Apa kepala sekolah akan memberitahu guru yang lain?" tanya Delia lagi.
"Tidak, hanya dia yang tau." sahut Ariel lagi. "Sudah sekarang tidurlah, kenapa kamu jadi cerewet sekali."
Delia memutar bola matanya.
*
*
Pagi hari, Delia sudah tampak segar. Namun raut wajah suaminya masih tampak seperti kemarin. Masam.
Ariel sesekali melirik ke arah istrinya yang sedang bermain ponsel, dan entah kenapa pandangannya justru ke arah dada Delia.
Ia kemarin baru menyadari, jika istrinya itu tidak menggunakan pengaman di dadanya.
Tapi jika di pikir-pikir memang akan susah jika harus menggunakan pengaman di saat tangannya menggunakan arm sling.
Dan otaknya membayangkan benda yang ada di dalamnya. "Astaga!" Ariel mengusap wajahnya kasar.
"Mas kenapa sih dari kemarin?" Delia mengalihkan perhatiannya.
"Tidak apa-apa." sahutnya sedikit ketus.
"Aku ada salah?" tanya Delia.
"Tidak, hanya otakku yang salah." jawab Ariel dalam hati.
...----------------...
...Sabar Mas, Ariel. Tenangkan diri dulu, eh... yang tenang Ariel apa Tirex ya 😅...