Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Hari Bahagia



Ariel meninggalkan Delia begitu kedua orang tuanya datang, ia kembali ke kamar rawat Delia sebelumnya. Ia akan bersiap di sana di temani oleh sang ayah.


Delia masih mengalami situasi yang canggung bersama Rima, tentu saja karena ia tiba-tiba akan menjadi calon menantunya.


Tapi tidak dengan Rima, ia justru meluapkan rasa senangnya karena Delia yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.


"Sayang!" Rima dengan hati-hati memeluk Delia. "Nggak nyangka hari yang selama ini di tunggu-tunggu akan terjadi juga." Matanya bahkan mulai memanas.


Ia kemudian memberi jarak agar bisa melihat wajah Delia, dan gadis itu tampak tersenyum dan matanya juga mulai memanas sama seperti nya.


Sedangkan apa yang di rasakan Delia juga tidak jauh berbeda dengan Rima, tapi perbedaannya adalah ia akan memiliki keluarga baru. Keluarga dari calon suaminya, dan ia berharap keluarga barunya seperti keluarganya dulu.


"Tante, maaf. Karena keadaan Delia yang seperti ini." Ia menyadari jika sebenarnya Ariel mampu mencari calon istri yang lebih darinya. Dari segi materi dan fisik. Namun pria itu justru memilih dirinya, Delia yang hanya anak yatim piatu.


Rima menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Mulai sekarang jangan panggil Tante, panggil Mami seperti Ariel." katanya. "Dan bagaimana pun keadaanmu kami menerima apa adanya, oke." Ia meyakinkan.


Air mata Delia begitu sajah menetes saat kelopak matanya berkedip, setelah sedari tadi ia berusaha kuat menahan agar tidak menangis nyatanya ia tak mampu.


"Hei, calon pengantin jangan menangis." Rima kembali memeluknya, namun itu semakin membuat Delia tergugu.


*


*


Sedangkan di ruangan lain, Ariel merasa begitu frustasi. Ia pikir semuanya sudah berjalan dengan rencananya, namun ternyata ada satu hal yang ternyata tidak sesuai dengan prediksinya.


Ijab qobul.


Awalnya ia pikir akan gampang mengucapkan ijab qobul tapi nyatanya, sedari tadi ia mencoba menghafal tapi masih belum mengingatnya secara sempurna.


Bastian dan Arga yang juga berada di sana menemani hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Ariel.


Sudah tadi pria itu melupakan nama calon ayah mertuanya, dan sekarang bingung tidak bisa menghafal ijab qobul.


"Arghh... Kenapa susah sekali." Ariel kesal dengan dirinya sendiri.


Klek.


Pintu terbuka, menampilkan sosok Nathan, Reza dan Raka yang nampak rapi dengan setelan jas.


Mereka meluangkan waktu untuk menghadiri acara pernikahan dadakan sahabat mereka.


"Wo ho ho, kenapa calon pengantin ini! Sepertinya sedang tidak baik-baik saja." Reza melihat tampilang Ariel yang sudah rapi dengan setelan jas bewarna putih, namun tidak dengan raut wajahnya yang masam.


"Diamlah." Ariel mendengus.


Mereka kemudian menghampiri Bastian untuk memberikan selamat, sebelum mereka menghampiri Ariel.


Sedangkan para istri, mereka langsung menuju di mana calon pengantin perempuan berada.


"Dia sedang menghafalkan ijab qobul." Bastian memberitahu.


"Dan tidak bisa menghafalnya!" Reza dengan cepat menebak.


Ariel memutar bola matanya malas, apalagi tampang para sahabatnya yang tersenyum mengejeknya.


"Sekarang kau bisa merasakan apa yang aku dulu rasakan." Reza menepuk bahu Ariel. Ia ingat dimana dulu Ariel mengejeknya karena juga mengalami kendala untuk mengucap ijab qobul.


Ariel tidak menanggapinya.


"Sudah, jangan mengganggunya." Nathan membuka suara. Ariel sedikit tersenyum mendengar itu, ia merasa memang Nathan yang paling bijaksana di antara mereka. "Nanti dia bisa menangis." Nathan melanjutkan ucapannya.


Membuat senyum Ariel yang tadi sempat mengembang lenyap seketika. "Kalian semua sangat menyebalkan."


*


*


Di tempat Delia berada, gadis itu baru saja selesai di rias. Dan berganti gaun yang di bawa oleh Rima.


Gaun dengan model simple tapi begitu cantik di kenakan oleh Delia, gaun yang juga di belinya secara dadakan olehnya sesaat setelah Ariel mengabari tentang pernikahannya.


Dan gaun itu menempel dengan sempurna di tubuh Delia.


"Kamu bertambah sangat-sangat cantik." Rima memuji gadis itu. Bukan hanya Rima, tetapi Meili, Jessy, dan Aluna mengakui itu.


Bekas luka di wajah Delia tertutup sempurna oleh make-up, dan wajahnya juga tampak segar. Tidak sepucat sebelumnya.


Delia tersipu mendengarnya, ia sendiri memang tidak pernah berdandan. Dan di hari istimewanya sekarang, ia bagaikan ratu seperti di dongeng-dongeng. "Ini semua karena usahanya Mbak Ami." Perias yang di bawa oleh Rima.


"Tapi kamu juga sebenarnya juga sudah cantik." Aluna membuka suara.


"Jangan bilang begitu Kak, nanti aku bisa besar kepala." Delia menahan senyum.


"Tapi Tante memang sangat cantik seeprti Alma." Alma yang sedari tadi memperhatikan Delia saat di rias. Gadis kecil itu hari ini mengenakan gaun warna senada dengan Meili.


Beberapa saat kemudian beberapa saudara yang Rima undang sudah berdatangan, ia tidak mengundang semua saudara di karenakan acara yang di selenggarakan di rumah sakit.


Hingga saat yang di tunggu tunggu pun tiba, di mana acara ijab qobul akan segera di mulai.


Meskipun Delia tidak ikut mengikrarkan ijab qobul, namun ia juga merasakan kegugugupan hebat. Detak jantungnya terasa semakin berdetak cepat, saat seseorang memberi isyarat jika Ariel akan tiba di sana.


Tidak jauh berbeda dengan Delia, keadaan Ariel pun sama. Semakin dekat langkahnya semakin pula ia merasa gugup.


Kini langkahnya benar-benar berhenti, ketika ia sudah berada di ambang pintu.


Dan matanya hanya terkunci oleh sosok yang sebentar lagi akan menjadi istrinya, gadis yang terduduk di atas ranjang rumah sakit namun hari ini terlihat seperti bidadari.


Deg.


Ada rasa tidak sabar untuk ia memulai dan menyelesaikan semuanya.


Pipi keduanya sama-sama merona saling mengagumi, betapa hari ini akan menjadi hari yang tidak akan pernah mereka lupakan untuk selamanya.


Ariel kemudian duduk di kursi yang telah di sediakan, di mana di sana sudah ada seorang penghulu yang menanti.


Delia sejenak mengedarkan pandangannya, meskipun hari ini ia merasakan bahagia yang teramat sangat. Tapi sejujurnya ia juga merasa sedih karena tidak ada satu anggota keluarganya yang datang.


Tadi ia sudah menyempatkan untuk menghubungi Eva, memintanya untuk datang. Tapi Eva dengan cepat menolaknya.


Dan matanya pun tidak menangkap keberadaan sahabatnya, mungkin sahabatnya itu tidak bisa datang.


"Ada apa Nak!" Rima menyadari itu.


Delia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. "Tidak ada apa-apa Mi."


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, hari ini adalah hari bahagia untukmu." Rima bisa merasakan apa yang di rasakan Delia, ia sendiri jika menjadi gadis itu belum tentu bisa setegar Delia. Di hari bahagia yang tidak bisa di saksikan oleh kedua orang tua atau sanak saudara.


"Bisa di mulai?" Suara penghulu menginterupsi.


Ariel seketika menegakkan punggungnya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian menghembuskannya secara perlahan.


"Maaf, saya terlambat." Adi dengan nafas memburu tiba di sana.


Delia yang melihatnya tersenyum, ia tidak menyangka sahabatnya itu hadir di detik-detik pembacaan ijab qobul. "Masuk lah Di."


Hingga kemudian, sang penghulu menjabat tangan Ariel untuk memulai. Karena Delia tidak mempunyai wali, hingga akhirnya di wakili oleh penghulu.


Ariel tidak mengalihkan perhatiannya sama sekali dari sang penghulu, bahkan pendengarannya hanya terfokus kan oleh apa yang di bacakan penghulu.


Hingga tiba saatnya ia mengucabkan ijab qobul, setelah sang penghulu sedikit menyentakkan tangannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Delia Safitri binti almarhum Yusuf dengan seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar seratus juta, tunai."


Ariel menghembuskan nafasnya kasar, setelah berhasil mengucabkan ijab qobul dalam satu kali tarikan nafas.


"Bagaimana?" Penghulu bertanya pada saksi.


"Sah." Raka dan Tomo yang hadir sebagai saksi.


Raka sebagai perwakilan dari Ariel, dan Tomo kepala sekolah Delia sebagai saksi perwakilan dari Delia.


"Alhamdulillah." Semuanya mengucap syukur.


Rima seketika memeluk Delia, rasa bahagianya sungguh membuncah. "Alhamdulillah nak, sekarang kamu sudah menjadi menantu juga putri Mami."


Delia sendiri hanya bisa menangis sebagai bentuk rasa bahagiannya.


Setelah selesai menandatangi berkas-berkas, mata Ariel seketika tertuju pada istrinya, Delia sekarang sudah benar-benar menjadi miliknya.


Dengan langkah cepat ia menghampiri Delia, ia tidak memperdulikan orang-orang yang sedang mengucapkan selamat padanya.


Delia yang mengetahui keberadaan Ariel tersenyum, rasanya ini sedikit canggung. Karena statusnya yang tiba-tiba berubah menjadi istri.


Di detik kemudian semua orang di buat tercengang oleh ulah Ariel.


Di mana Ariel yang secepat kilat tangannya membingkai wajah Delia, dan di seperkian detik bibir keduanya sudah saling bertemu.


"Oh... Astaga!" Meili langsung menutup mata Alma.


"Mama ada apa sih!" Gadis itu mencoba melepaskan tangan ibunya.


"Nanti kamu sawan Alma."


...----------------...


...Alhamdulillah sah juga 🥰...


...Hayo abis ini mau ngapain ya pengantin baru 🤭...