
Pagi-pagi sekali Rima sudah pergi dari rumah, ia memutuskan melanjutkan pengintaiannya.
Hingga kemudian ia sampai tidak jauh dari rumah Delia.
Matanya terus saja menatap pintu rumah Delia yang masih tertutup. Namun beberapa saat kemudian terbuka, terlihat Delia sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
Dahi Rima berkerut, ia sedikit heran dengan tampilan Delia sebagai siswi. "Jadi dia masih sekolah?"
Yang kemudian ia teringat cerita Ariel, tentang seorang gadis beberapa hari lalu. "Ah... sekarang aku mengerti." Ia mulai paham.
Ada rasa kagum dan Iba yang dirasakan Rima setelah mengetahui sedikit tentang Delia. "Ariel benar, seharusnya ia masih bisa menikmati masa remajanya dengan indah."
Rima akhirnya memutuskan untuk terus mengikuti Delia yang pergi ke sekolah dengan ojek.
Dan lagi-lagi ia di kagetkan saat melihat Delia justru berbelok di samping sekolah, bukan di depan gerbang sekolah.
Setelah Delia membayar ojek yang mengantarkannya, ia akan melakukan hal yang sama seperti kemarin. Karena Dandi rupanya masih berada di depan sekolah.
Namun, saat ia hampir saja melompat seseorang memergokinya.
"Dan... " Seseorang berterima memanggil Dandi setelah mengetahui kedatangan Delia ke sekolah. "Dia ada di sini!" beritahu nya.
Delia memutar bola matanya malas, sepertinya hari ini akan ada sedikit keributan.
Benar saja Dandi kemudian datang menghampiri, Ia tersenyum miring melihat adiknya yang selama beberapa hari tidak di lihatnya. "Rupanya kamu baik-baik saja?" ia mencibir.
"Bukan hanya baik Kak, tapi sangat baik." sahut Delia.
Dandi menggeram mendengarnya, adiknya semakin berani saja setelah pergi dari rumah.
"Nanti malam kamu harus pulang ke rumah." perintah Dandi.
"Mau tidak mau kamu harus pulang, jika tidak --"
"Apa?" Delia menyela, ia lalu tersenyum. "Aku tahu Kakak sama Ibu nyuruh aku pulang karena sudah tidak ada yang bisa kalian mintai uang kan?"
Hati Delia begitu sakit mengingat itu, beberapa tahun ia rela menjadi sapi perah mereka karena ia menganggap mereka seperti keluarga. Tapi nyatanya hanya rasa sakit yang mereka berikan untuknya.
"Kamu!" Dandi yang sudah terbakar amarah segera saja menghampiri. Tangannya yang sejak tadi mengepal langsung melayang menyerang Delia.
Tapi sebelum tangan kekar itu berhasil mendarat di wajah cantiknya, Delia dengan cepat menghindar. "Sepertinya pagi ini aku akan lapar kembali." gumamnya.
Delia dengan gesit meladeni Dandi dan satu temannya yang bersamaan ingin memukulnya. Untuk kali ini ia akan memberikan gambar tanda sayang untuk kakaknya, yaitu sebuah pukulan keras yang tepat mendarat pada hidung Dandi. Sehingga membuat hidung pria itu mengeluarkan cairan merah berbau anyir.
Jika sebelum sebelumnya Delia mengalah, tapi tidak untuk saat ini. Karena sudah tidak ada lagi alasan baginya.
Beberapa saat kemudian, Dandi dan temannya memutuskan untuk pergi dari sana. Setelah di rasa mereka sudah tidak mampu lagi melawan Delia.
"Astaga... seragam ku menjadi kusut begini." Delia merapikan seragamnya yang sedikit kusut. "Lumayan lah olahraga pagi." ia terkekeh.
Ia lalu memanjat tembok sekolah untuk masuk, karena ia malas jika harus berjalan memutar.
Sedangkan di dalam mobil, Rima sama sekali tidak berkedip melihat atraksi yang di suguhkan Delia. "Ya ampun... dia seperti Charley Angels." Takjub nya.
Apalagi ia tahu jika Delia berkelahi karena ingin melindungi dirinya.
...----------------...
...Sedikit dulu ya guys, anaknya lagi ngereog dari pagi 🙏🤭...