Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Kencan Pertama



"Kalian mau pergi?" Rima melihat putra dan menantunya sudah rapi.


"Mau keluar sebentar Mi, ada urusan." Ariel dan Delia sampai di meja makan.


"Mami pikir kalian mau kencan?" Rima mengambilkan makanan untuk suaminya setelah itu dirinya


"Dan itu juga." sahut Ariel.


Delia menggelengkan kepala mendengar itu, ia juga melakukan hal yang sama seperti ibu mertuanya.


"Apa ada urusan penting?" Bastian bertanya.


"Cuma mau ke rumah bos Delia, Pi."


Mereka memulai acara makan malam.


Rima menatap putra dan menantu nya secara bergantian dengan raut wajah heran.


"Delia mau berhenti kerja." ujar Delia.


"Kamu sudah memutuskan?" tanya Rima.


Delia menganggukkan kepalanya. "Sudah, dan Delia memilih berhenti."


"Apapun keputusan kamu, kami akan selalu mendukung sayang." kata Rima. "Tapi sejujurnya, Mami senang jika kamu berhenti bekerja, mengingat tangan kamu pernah cidera."


"Dan Mami senang di rumah ada yang menemani." sela Ariel.


"Dan itu juga benar." Rima tertawa.


Ariel mencebik melihat itu.


*


*


Malam ini jalanan kota seperti biasanya, tak pernah sepi oleh kendaraan. Dan mobil yang di kendarai Juna berada di antaranya.


"Mas, nanti mampir ke toko buah." pinta Delia saat mobil mereka sudah setengah perjalanan.


"Kamu mau buah? Di rumah kan selalu ada stok?" kata Ariel.


"Bukan, buat buah tangan."


Ariel memutar bola matanya. "Apa di rumah mereka tidak ada buah?"


"Memangnya kalau memberi harus tanya apa yang tidak ada di rumah mereka?" Delia membalikkan pertanyaan suaminya.


Ariel mendengus.


"Memberi orang tidak perlu memikirkan banyak hal seperti itu." Delia berujar.


"Sudah jangan berdebat, nanti kita bertengkar." Ariel mengakhiri.


Delia tersenyum melihatnya, raut wajah suaminya ketara sekali jika sedang kesal.


Hingga kemudian mereka berhenti di sebuah toko, yang menjual buah-buahan segar.


Delia memilih beberapa macam kemudian meminta sang penjaga toko membungkusnya sebagai parsel.


Tidak membutuhkan waktu lama Delia dan Ariel sudah sampai di kediaman Adi.


"Kamu sering berkunjung ke sini?" tanya Ariel saat mereka masih di dalam mobil.


"Tidak, hanya beberapa kali." jawab Delia.


Tapi tetap saja itu membuat Ariel sedikit cemburu.


"Ayo kita turun." ajak Delia.


Hingga saat ia baru keluar dari mobil sang pemilik rumah sudah menyambutnya.


"Nak, kamu kesini?" Arsyad datang menghampiri, setelah tadi ia mendapatkan laporan dari satpam rumahnya jika Delia bertamu. "Tadi Adi tidak bilang."


Delia menggapai tangan Arsyad untuk ia cium, begitupun dengan Ariel.


"Memang Delia tidak bilang, Pak." Delia berujar, lalu ia menoleh kepada suaminya memberi isyarat untuk memberikan buah tangannya.


"Ini untuk Bapak." Ariel menyerahkannya.


"Seharusnya tidak usah repot-repot, kalian mau kesini Bapak sudah senang."


"Tidak apa-apa Pak, tadi Mas Ariel yang ingin membawakan." Delia menoleh kepada suaminya dengan tersenyum.


"Kalau begitu terima kasih." Arsyad kemudian menerimanya. "Ayo masuk." Ia mempersilahkan tamunya masuk.


"Adi!" Panggil Arsyad pada putranya yang sedang menonton televisi. "Ada Delia."


Sang pemilik nama mendengar itu seketika saja menghampiri, tapi ia sedikit tertegun mengetahui sahabatnya itu datang dengan suaminya.


Namun keterkejutannya itu hanya sesaat, hingga ia mulai mengendalikan suasana. Ia segera menyalami pasangan suami istri itu secara bergantian. "Tadi nggak ngomong kalau mau datang?"


"Emang sengaja!" jawab Delia, membuat Adi berdecak.


Sedangkan Ariel hanya diam menyaksikan itu.


Delia lalu menoleh ke arah Arsyad. "Pak, Delia ke sini sebenarnya mau menyampaikan sesuatu."


"Apa Nak?"


Delia meremas kedua tangannya yang saling bertautan. "Ehm ... Delia mau berhenti bekerja Pak." Dengan gugup ia berbicara.


Arsyad tersenyum mendengarnya, tidak ada sedikitpun raut marah di wajahnya yang tak lagi muda. "Tidak apa Nak." ujar Arsyad, membuat hati Delia lega.


"Mengingat tangan kamu yang cidera, bapak takut jika nanti penyembuhannya tidak akan maksimal." Arsyad menatap Delia yang sudah di anggapnya sebagai putri sendiri. "Dan sekarang kamu sudah punya suami, sudah ada yang bertanggung jawab atas diri kamu."


Mendengar itu semua, tanpa di sadari mata Delia memanas begitu saja. Melihat kebaikan Pak Arsyad selama ini, seperti melihat sosok ayahnya yang hidup kembali.


Ariel segera menggenggam tangan istrinya saat mengetahui hati Delia merasa haru.


"Terima kasih Pak, untuk selama ini sudah membantu Delia." Delia dengan bibir bergetar.


Arsyad tersenyum mendengarnya.


*


*


"Apa semuanya baik-baik saja?" Ariel melihat istrinya yang hanya diam sejak kepulangan mereka dari rumah Adi.


Delia menoleh ke arah suaminya, dan seketika matanya kembali memanas.


Ariel mengeratkan genggaman tangannya. "Mau pergi ke suatu tempat?"


"Kemana?" jawab Delia dengan suara bergetar.


"Nanti kamu juga akan tau." Ariel lalu menyuruh Juna ke suatu tempat.


Beberapa saat berkendara, samar-samar suara ombak mulai terdengar. Hingga kemudian Juna menghentikan laju mobilnya tepat di depan restoran.


Ia segera turun untuk membukakan pintu mobil.


"Ayo." Ariel menggandeng Delia untuk memasuki restoran.


Nampak beberapa pengunjung terlihat menikmati makan malam.


Tapi Ariel terus saja berjalan, hingga langkahnya berhenti ketika di area restoran yang menghadap langsung ke arah pantai. Di sana hanya ada satu meja, dan sudah terhias sedemikian rupa.


"Kamu suka?" Ariel membantu istrinya duduk.


Delia memperhatikan disekelilingnya dan memang tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua. "Di sini hanya ada kita berdua?"


Delia justru memberikan pertanyaan.


"Memangnya apa enaknya banyak orang!" sahut Ariel yang duduk berhadapan dengan Delia.


"Mas sudah mengaturnya?" Delia kembali memberikan pertanyaan.


"Tentu saja." Ariel dengan bangganya. "Aku bisa melakukan apapun."


Delia memutar bola matanya malas melihat itu, tapi tidak bisa di bohongi ia suka dengan apa yang di lakukan suaminya. "Suamiku memang yang terbaik." Sekalian saja ia memujinya agar suaminya besar kepala.


"Dan itu kenyataan." Ariel tersenyum percaya diri.


Delia menghembuskan nafasnya perlahan.


Salah satu pelayan kemudian menghampiri mereka, menanyakan makanan apa yang akan mereka pesan.


Ariel dan Delia memesan beberapa makanan, yang menu utama restoran itu adalah seafood. Di tambah seporsi salad buah, dan minuman kelapa muda.


Tidak membutuhkan waktu lama, makanan mereka sudah siap tersaji. Meskipun mereka tadi sudah menikmati makan malam di rumah, tapi melihat itu sanggup membuat perut mereka keroncongan.


"Silahkan menikmati." Pelayan itu memastikan jika pesanan pengantin baru itu sudah lengkap.


"Terima kasih." sahut Delia, dan pelayan restoran kemudian pergi dari sana.


"Apa ini di sebut kencan?" tanya Delia sebelum makan.


"Kencan?"


"Hmm..."


"Anggap saja begitu." jawab Ariel. "Makanlah."


"Jadi seperti ini!" Delia menggumam, namun Ariel masih bisa mendengarnya.


Hingga membuatnya sejenak terdiam dan menatap ke arah istrinya yang mulai menikmati makan malam mereka.


Kini ia baru menyadari jika selama bersama istrinya ia memang belum pernah mengajaknya berkencan.


Bahkan seharusnya itu adalah hal mudah baginya tapi ia malah tidak ingat.


"Sayang, apa kamu mau mengadakan pesta pernikahan kita di pantai?" tanya nya kemudian.


"Hmm ..." Delia seketika menoleh ke arah suaminya. "Pesta?"


"Iya nanti setelah kelulusan sekolah."


"Apa perlu?"


Delia sepertinya tidak memikirkan soal pesta, karena baginya pernikahan waktu di rumah sakit sudah hal sakral baginya.


"Apa kamu tidak mau?"


"Aku ... Hanya saja tidak memikirkan soal pesta, aku pikir pernikahan kita di rumah sakit sudah cukup."


"Tapi biasanya seseorang akan memimpikan pesta impian mereka, apalagi untuk perempuan. Dan aku sebagai laki-laki juga suami pasti sebisa mungkin akan mewujudkannya."


Pandangan mereka saling beradu, kini di hati mereka sama-sama menyelami perasaan. Rasa bersyukur karena memiliki pasangan yang begitu saling menyayangi.


Bibir Delia membentuk senyuman. "Ya sudah kita pikirkan nanti setelah aku lulus sekolah."


Membuat Ariel tersenyum.


Malam itu mereka lewati dengan indah, makan malam romantis yang di temani deburan ombak menjadi pelengkap.


*


*


Pagi harinya seperti biasa, Ariel yang selalu menggoda istrinya.


"Aku tidak suka melihatmu secantik ini jika akan pergi ke sekolah." Ariel yang sedari tadi memeluk Delia dari belakang, melihat istrinya yang sedang berdandan.


Delia tertawa. "Nggak usah gombal deh, aku cuma pakai bedak aja sama pelembab bibir."


"Tapi bagiku kamu sudah sangat cantik, dan aku tidak rela membaginya dengan orang lain."


Pipi Delia memanas, meskipun hal itu sudah sering ia dengar dari suaminya. Tetapi tetap saja ia tersipu.


Interaksi itu harus terganggu karena ponsel Ariel yang berdering, menandakan ada panggilan masuk.


"Siapa yang pagi-pagi begini menganggu!" Ariel menggerutu tapi tak urung juga ia melihatnya.


Tertera nama Arga di layar ponselnya.


"Ya!" Begitu Ariel mengangkatnya.


("")


"Katakan saja, aku tidak punya banyak waktu."


("")


Membuat ekspresi wajah Ariel seketika berubah.


"Ada apa Mas!" Delia menyadari perubahan ekspresi suaminya.


Namun Ariel hanya menatapnya dengan diam.


...----------------...