
Karena Ariel yang terus memaksa mengajaknya pergi, akhirnya Delia hanya sarapan roti dengan selai.
"Sebenarnya mau pergi kemana?" Delia sudah berganti pakaian. Sekarang ia mengenakan celana jins dan kaos oversize, terakhir ia mengenakan hoodie.
"Hanya jalan-jalan, memangnya kamu tidak mau menikmati hari libur?" Ariel bertanya.
"Biasanya aku menikmatinya dengan tidur seharian."
"Ya ampun standar sekali." Ariel mencibir.
Delia memutar bola matanya.
Selama perjalanan, Ariel masih tidak memberitahu akan kemana mereka nantinya.
Delia menikmati suasana Jakarta yang hari ini tidak sepadat biasanya. Hingga kemudian mobil Ariel mulai memasuki kawasan perumahan elit.
"Ini sebenarnya kita mau kemana?" Delia mulai sedikit curiga.
Namun sayangnya mobil Ariel sudah berbelok ke salah satu rumah yang berada di sana.
"Ayo turun!" Ariel mempersilahkan.
"Ini rumah siapa?" Delia melihat sekeliling, terdapat halaman yang cukup luas. Dan bangunan rumah yang terlihat kokoh dan megah.
Ariel masih belum menjawab pertanyaan Delia, ia justru menggandeng tangan gadis itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Om ini sebenarnya rumah si--"
"Mami... !" Ariel berteriak memanggil Rima.
Mata Delia seketika melebar, Mami! Jadi ini rumah Ariel? Yang benar saja pria itu mengajaknya untuk ke rumahnya.
"Om yang benar saja!" Delia hampir protes kepada Ariel. Tapi suara seseorang menginterupsi mereka.
"Kamu dari ma--" Rima terkejut melihat kedatangan Delia, ia tidak menyangka jika putranya itu akan membawa seorang gadis pulang. Tapi ia sendiri juga senang jika Ariel mulai memperkenalkan Delia kepadanya.
"Mami tadi katanya butuh teman! Ini Ariel bawakan, namanya Delia" Ariel seolah tidak memperdulikan raut wajah Delia yang panik untuk saat ini.
Hingga saat Delia tersadar dari keterkejutannya, ia segera menggapai tangan Rima untuk ia cium.
Otak Delia rasanya untuk saat ini tidak berfungsi dengan baik, kejadian ini terlalu tiba-tiba. Dan ia tidak tau harus melakukan apa.
"Oh... Kamu sangat cantik." Rima memuji. Meskipun tampilan Delia sangat sederhana, tetapi gadis itu tetap saja terlihat cantik.
"Terima kasih, Tante." sahut Delia sembari tersenyum.
"Kalau begitu, ayo kita kebelakang saja." Rima menggandeng tangan Delia untuk ia ajak melihat kebun yang ada di belakang rumahnya.
"Apa-apaan itu!" Ariel mendengus. Ternyata dirinya di lupakan begitu saja oleh dua perempuan yang berbeda usia itu.
Di kebun belakang rumah, Lagi-lagi Delia di buat takjub. Di sana ada berbagai jenis tanaman, mulai dari bunga, buah hingga sayur.
"Nah... Di sini biasanya Tante menghabiskan waktu kalau Papi nya Ariel sedang pergi, seperti sekarang ini." Rima mengajak Delia untuk duduk di gazebo yang berada di tengah-tengah kebun.
"Ayo di minum." Dua cangkir teh hijau hangat juga beberapa cemilan yang baru saja di antarkan oleh asisten rumah tangga. "Tante nggak tau kamu suka nya apa."
"Terima kasih Tante, Delia sukanya cappucino." ujar Delia. Ia yang seperti biasanya apa adanya.
Rima tertawa. "Oh... Benarkah! Nanti akan Tante suruh Bibi untuk buatkan." Ia menyukai kejujuran Delia, tidak seperti kebanyakan perempuan lainnya yang terlalu naif.
"Tidak usah, ini Delia juga bisa meminumnya." Delia meniup sedikit sebelum ia minum, dan rasanya tidak terlalu buruk.
"Tante suka menanam sayur?" Delia melihat di kebun itu tanaman sayuran lebih mendominasi.
Ada yang di paralon, di satukan dengan kolam ikan, ada juga di pot kecil dan botol bekas yang di tata dengan rapi.
Rima menganggukkan kepalanya. "Iya, lagi kepingin berkebun sayur. Kalau kata netizen namanya kebun dapur." Ia tertawa.
Memang di kebunnya jadi terlihat berbeda, tapi tidak mengurangi keindahannya. Berbagai macam sawi, tomat, cabai, kangkung dan selada.
"Ada kesenangan tersendiri saat memanennya." Rima menceritakan hal yang memang ia sukai. "Tapi sebenarnya yang menanam dan merawatnya tukang kebun, Tante cuma sesekali menyiramnya."
Delia yang mendengarnya juga ikut tertawa.
Ariel yang berada di balkon kamarnya tersenyum melihat kedekatan mereka, sepertinya langkahnya semakin mulus.
*
*
"Maaf Tante nggak bisa bantu!" Delia merasa tidak enak.
"Ini juga namanya membantu, kamu membantu Tante menyiapkan bahannya." kata Rima.
Hingga membuat keduanya tertawa.
"Mi... !" Bastian yang baru pulang, ia langsung menuju dapur begitu mendengar suara istrinya dan seorang gadis. Dan ia tau siapa dia.
Meskipun biasanya ia hanya diam, bukan berarti ia tidak tahu tentang keluarganya. Termasuk yang dekat dengan putranya, sebelum istrinya menyelidiki Delia dulu. Tapi ia hanya diam karena merasa semuanya baik-baik saja.
"Oh... Papi." Rima menjeda kegiatannya lalu menghampiri suaminya. "Papi, kenalkan ini Delia."
Delia sendiri langsung, melakukan hal yang sama seperti bertemu Rima tadi.
Sebastian juga tersenyum menanggapi itu.
"Sayang, Tante mau pergi sebentar menemani Papi." Rima yang mau menemani sebastian ke kamar. Suaminya itu pasti akan membersihkan diri. "Nanti kue nya biar di teruskan bibi."
"Biar Delia saja yang teruskan, Tante beritahu saja cara selanjutnya." Delia menawarkan diri, hitung-hitung ia juga belajar membuat kue.
"Benarkah!" Rima senang mendengarnya, ia lalu memberitahu langkah selanjutnya apa yang harus di lakukan Delia. "Ya sudah, Tante tinggal dulu ya, nanti kalau tidak mengerti kamu tanya saja sama bibi."
"Iya Tante." Delia kemudian memulai mengaduk adonan dengan mixer. Sepertinya ini juga menyenangkan.
Ariel berjalan menuju dapur, rupanya di sana hanya ada Delia. "Mami kemana?" Ia sudah tidak mau lagi mengagetkan gadis itu, teringat kejadian terakhir kali.
"Tadi Papi Om pulang, jadi Tante temani." jawab Delia tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kamu sedang apa?" Ariel berdiri di belakang Delia dan melihat apa yang di lakukan gadis itu. "Kamu bisa bikin kue?"
"Tidak, ini pertama kalinya."
"Kalau nanti tidak jadi bagaimana?"
"Makannya ini lagi belajar, kalau tidak jadi ya bikin lagi."
"Kalau masih tidak jadi?" Sepertinya Ariel sengaja membuat Delia kesal.
"Beli saja." jawab Delia. Dan itu membuat Ariel tertawa.
"Kenapa kalau kamu kesal semakin membuatku gemas!" Ariel mencubit pipi Delia.
"Om!" pekik Delia tidak terima. "Jangan ganggu."
Ariel lalu melingkarkan tangannya di pinggang Delia dan menyandarkan dagunya pada bahu gadis itu.
"Om!" Mata Delia membulat, ia hampir saja bergerak tapi Ariel menahannya.
"Jangan bergerak, nanti kuenya tidak jadi." Ariel berujar.
"Tapi jangan begini!"
"Hanya sebentar saja." Ariel memohon.
"Ck!" Delia berdecak.
Beberapa saat kemudian posisi mereka masih saja tetap begitu.
"Apa masih belum ada jawabannya." Ariel berujar.
Delia terdiam, ia tau apa maksud pria itu. Tapi untuk sekarang tanpa di pungkiri ia merasa debaran jantungnya yang begitu cepat.
"Apa untuk sekarang kesungguhan ku masih belum membuatmu percaya? Dan asal kamu tau aku tidak pernah seserius ini sebelumnya."
...----------------...
...Nggak ikut di peluk tapi kok ikut deg-degan ya 😄...