
"Jangan cemberut!" Ariel melihat wajah Delia yang masam.
Delia memutar bola matanya malas.
"Aku kan hanya meluapkan rasa kegembiraanku." Ariel berujar.
"Mas ngambil kesempatan dalam kesempitan." Delia yang masih dengan wajah masamnya.
Dan Ariel yang tersenyum lebar.
Kemudian Ariel membuka laci yang berada di sebelah ranjang Delia, mengambil ponsel gadis itu yang ia simpan di sana. "Ini." Ia memerikannya.
Delia tidak langsung mengambilnya, ia bahkan sama sekali tidak ingat tentang ponsel miliknya. "Aku lupa." Ia meraihnya.
"Temen kamu berisik dari tadi!" Ariel memberitahu, terlihat dari wajahnya ia tidak suka melihat Adi yang terlalu dekat dengan kekasihnya.
"Siapa?" Delia masih belum mengerti.
"Adi, siapa lagi." Ariel mendengus.
Delia hanya tersenyum melihat itu.
Ia lalu membuka aplikasi WA, dan memang benar terdapat banyak pesan dan panggilan.
"Sekalian saja kamu beritahu dia, kalau kamu akan menikah besok." kata Ariel. Ia juga mengotak atik ponselnya, berniat menghubungi Arga untuk menyiapkan segala keperluannya besok. Dan tidak lupa mengabari kedua orang tuanya jika ia berhasil mengajak Delia menikah.
"Apa!" Delia sepertinya salah pendengarannya.
"Sekalian beritahu, kalau kamu menikah besok." Ariel mengulangi perkataannya tanpa melihat Delia.
Delia mematung, ia sejenak mencerna ucapan kekasihnya. Ia memang setuju untuk menikah, tapi tidak tau jika akan secepat ini.
"Ada apa?" Ariel baru menyadari reaksi Delia. "Apa terlalu lama?"
"Bu-bukan." Delia dengan cepat menggelengkan kepala. "Besok?"
"Iya, besok."
"Apa tidak terlalu cepat?"
"Tidak, malah kalau bisa malam ini aku menikahnya." Ariel tersenyum sembari manaik turunkan kedua alisnya.
"Tapi sekolah ku?"
"Sudah aku bilang, semuanya akan baik-baik saja. Kamu masih bisa sekolah seperti biasanya."
"Tidak bisa di undur?"
"No!" Ariel menjawab cepat. "Niat baik harus di segerahkan bukan!"
Entah kenapa alasan itu rasanya tepat sekali ia pergunakan sekarang.
"Jadi kamu beritahu Adi saja, supaya sahabat kamu itu tahu hari bahagia kita besok." Ariel lalu berjalan ke arah sofa yang berada di ujung ruangan untuk menghubungi Arga.
Dari tempatnya sekarang, Delia bisa melihat raut wajah bahagia Ariel.
Apa ia tega jika melukai hati pria itu dengan mengundur acara pernikahan?
Ia menarik nafasnya dalam dalam, dan menghembuskannya secara perlahan. Mungkin ini memang jalan hidupnya yang di tentukan oleh Tuhan.
Ia lalu memutuskan untuk menghubungi Adi.
"De, kamu kemana saja! Mulai kemarin malam nggak ada kabar?" Adi begitu saja memberondong Delia pertanyaan setelah panggilan tersambung.
Delia tersenyum mendengar suara Adi, tapi ia juga bahagia karena dari suara Adi jelas sahabatnya itu begitu mengkhawatirkan dirinya. "Iya Di, sorry."
"Kamu membuat semua orang khawatir tau nggak!" Adi yang masih kesal, tapi jauh di lubuk hatinya ia merasa lega jika Delia sudah bisa di hubungi.
"Iya aku belum sempat mengabari, aku sakit. Dan sekarang berada di rumah sakit, uhm... Dan aku punya kabar."
"Kabar apa?" Adi merasa penasaran.
"Aku menikah besok, aku berharap kamu bisa datang."
Hening.
"Di!" Delia memanggil. Karena tidak ada sahutan dari sebrang sana.
"Ehm... Iya."
"Kamu besok bisa datang?" Delia memastikan.
"Akan aku usahakan." Adi tidak bisa menjanjikan nya. "Apa keadaanmu sudah baik-baik saja?" Ia mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, kalau begitu istirahat saja sekarang."
"Iya, dan sampaikan juga kepada Pak Arsyad aku minta maaf belum mengabarinya."
"Nanti akan aku sampaikan."
Kemudian panggilan berakhir.
*
*
"Ada apa Di?" Sang ayah yang masih berdiri di sampingnya.
Adi tidak langsung menjawab, tenggorokannya tiba-tiba saja tercekat. Ia menoleh pada Arsyad. "Delia sakit, dan sekarang berada di rumah sakit."
"Benarkah! Sakit apa?"
Adi menggelengkan kepala. "Delia tidak bilang sakit apa, dia juga minta maaf karena belum bisa mengabari Papa."
"Tidak apa, mungkin Delia memang belum sempat menghubungi Papa. Yang penting keadaannya sekarang baik-baik saja."
"Dan Delia juga memberi kabar juga." Adi berucap lirih, namun masih bisa di dengar oleh Arsyad.
Arsyad menunggu putranya untuk berbicara.
"Delia akan menikah besok." kata Adi kemudian.
"Menikah!" Arsyad juga terkejud. "Kenapa tiba-tiba sekali?"
"Entahlah." Suara Adi semakin lirih dan tidak bersemangat.
Arsyad yang melihat perubahan raut wajah putranya itu sepertinya ia mengerti.
Di mana Adi yang tadinya merasa cemas, legah, kini menjadi tak bersemangat. Bahkan seperti orang yang kehilangan harapan.
Arsyad mengambil tempat di samping putranya untuk duduk. "Nak." Ia merangkul bahu putranya. "Ada kalanya semua yang kita inginkan dan harapkan tidak sesuai kehendak kita, dan inilah yang di namakan jalan hidup."
"Papa ngomong apaan sih." Adi hanya tersenyum tipis.
Arsyad juga ikut tersenyum. "Papa juga pernah muda, dan Papa juga pernah mengalami yang namanya asam manisnya hidup."
"Adi nggak ngerti apa yang Papa maksud." Pria muda itu berusaha menghindar dari pembicaraan itu.
"Papa tau kamu dan Delia bersahabat mulai dari kecil, dan terkadang rasa itu bisa berubah dengan seiringnya waktu. Yang awalnya sahabat, bisa saja berubah jadi cinta."
"Papa jangan ngaco deh ngomongnya." Adi mulai tersindir.
Arsyad terkekeh.
"Papa nggak ngaco, apa kamu mulai merasakan kalau ucapan Papa ini benar?" Arsyad melihat putranya yang salah tingkah. "Papa tau kamu sahabat dan pria yang baik, jikalau pun kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan, berarti Tuhan mempersiapkan yang lebih baik untukmu."
Adi terdiam.
"Jika kamu ingin melihat Delia bahagia, relakanlah dia bahagia dengan pilihannya." Arsyad memberikan nasehat dan membesarkan hati putranya.
"Apa besok Adi harus datang?" Adi kemudian bertanya.
"Terserah kamu, kalau kamu mau... Kamu bisa datang untuk melepas Delia untuk yang terakhir sebelum menjadi istri orang. Karena seseorang sudah menikah, semua akan ada batasannya. Apalagi sahabat antara laki-laki dan perempuan, ada hati yang harus di jaga."
Adi merasa seperti dejavu.
"Ya sudah kalau begitu Papa, tidur dulu." Arsyad beranjak. "Jangan tidur malam-malam, dan jika kamu besok belum siap untuk datang jangan memaksakan diri." pesannya sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana.
"Haa... " Adi menghembuskan nafasnya kasar.
Ia meraba dadanya sendiri. "Apa benar rasa itu sudah berubah?" Ia sendiri tidak menyadari perasaannya. "Sejak kapan ia tumbuh?"
Yang ia ingat jika dirinya dan Delia yang memang dekat dengan sendirinya hingga menjadikannya akrab.
Hingga seiring waktu, ada rasa yang lain tubuh di antara persahabatan mereka. Dan Adi tidak menyadari itu, ia terus membiarkannya tumbuh begitu saja tanpa bisa mencegahnya.
Hingga di saat seperti inilah ia baru menyadari, dan harus terpaksa untuk membuang rasa itu agar tidak menjadi bomerang untuk nya juga Delia.
"Semoga setelah ini kamu akan lebih bahagia De."
Dan mungkin ini yang di namakan sakit tak berdarah.
...----------------...
...Sabar ya Di, Mudah-mudahan dapat jodoh yang lebih baik ya ☺...