
Delia merasakan tubuhnya mulai tidak nyaman, dua hari hanya berbaring di atas ranjang rumah sakit.
Padahal ia biasanya begitu aktif, meskipun ranjang rumah sakit sudah lebih dari cukup nyaman untuk ia tidur.
Karena ia yang terus bergerak hingga membuat salah satu ujung bajunya tersingkap, dan ia tidak menyadarinya.
Pemandangan itu tentu saja tak luput dari Ariel yang terus saja memperhatikannya dari tempatnya sekarang yang duduk di sofa.
Ia menggeram, hingga seketika ia beranjak dari duduknya. "Kenapa kamu terus saja menggodaku!"
Delia hanya bisa tercengang di tempatnya, ia tidak tau apa yang di maksud suaminya.
Ariel dengan wajah masamnya keluar dari ruangan Delia, dan bertepatan itu Rima yang datang.
Tidak jauh berbeda dengan Delia, Rima juga heran melihat sikap putranya. "Dia kenapa?"
Rima berjalan mendekat ke arah menantunya, masa iya pengantin baru sudah bertengkar. Bukannya pengantin baru masa-masa yang paling indah?
Delia mengedikkan bahunya. "Nggak tau Mi, dari kemarin sore udah begitu."
Rima semakin kaget mendengar nya, ia masih ingat saat ia terakhir meninggalkan rumah sakit keadaan mereka masih baik-baik saja. "Kalian bertengkar?"
Tentu saja dengan cepat Delia menggelengkan kepala. "Tidak, Mi." jawabnya cepat. "Tapi Mas Ariel memang sedikit aneh mulai semalam."
"Dan tadi sebelum pergi, tiba-tiba bilang kalau aku menggodanya terus!" Delia bercerita dengan tujuan siapa tau mertuanya mempunyai jawaban. "Padahal, dari tadi aku cuma main hape."
Rima terdiam, ia memikirkan sebenarnya apa yang terjadi dengan putranya. Hingga kemungkinan kemungkinan yang sebenarnya di Ariel alami, apalagi melihat wajah menantunya yang datar datar saja.
Di detik berikutnya, Rima menyemburkan tawa yang tidak bisa ia tahan.
Alis Delia menukik tajam karena merasa heran, kenapa sekarang berganti mertuanya yang aneh.
"Ada yang lucu Mi?" tanya Delia.
Tentu saja Rima menggelengkan kepala. "Tidak, hanya saja... Ah, sudahlah jangan di pikirkan."
Rima merasa pasti putranya sekarang sedang tersiksa karena menahan sesuatu yang seharusnya pengantin baru dapatkan, apalagi ia tau tabiat putranya sebelum menikah. Kini giliran sudah menikah Ariel tidak bisa melakukannya.
Beberapa saat kemudian, terlihat Ariel yang sudah kembali. Hingga membuat dua perempuan berbeda usia itu mengalihkan perhatiannya.
Dan seperti ada yang aneh, kini pria itu tampak biasa saja tidak seperti saat keluar tadi.
"Apa mau sesuatu?" Ariel menawari. "Apa mau jalan-jalan, mungkin kamu bosan di kamar terus!"
Bukannya menjawab Delia justru hanya memandangi wajah suaminya.
Hingga kini mereka berada di taman rumah sakit, Delia yang duduk di kursi roda.
Di bawah pohon yang cukup rindang mereka menikmati suasana pagi itu.
Ariel memandangi raut wajah Delia yang tampak senang karena bisa keluar dari kamar rawat inap nya, padahal hanya hal sederhana tapi bisa membuatnya sesenang itu. Betapa bodohnya ia tadi bisa kesal dengan istrinya karena hal konyol.
Flashback On.
Ariel benar-benar tidak bisa meneruskannya, karena jika tidak ia tidak bisa menahan dirinya.
Tanpa bicara, Ariel beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Astaga... Kenapa menjadi begini!" Ariel melihat Tirex yang tegak berdiri, padahal itu semua hanya karena melihat punggung Delia.
Di saat ia yang frustasi menahan hasrat, matanya tidak sengaja melihat sabun mandi dan dengan cepat ia menggelengkan kepala. "Tidak mungkin."
Pikirannya benar-benar tidak bisa berpikir jernih, bukankah ia seorang mantan Casanova. Di dalam kamusnya tidak ada yang namanya bermain solo.
Apalagi ia sudah punya istri yang seharusnya kapan saja ia bisa meminta hak nya, hanya saja keadaan yang tidak bisa berbuat seenaknya.
Ariel berusaha menenangkan diri, agar alat tempurnya juga bisa beristirahat dengan tenang.
Hingga beberapa saat kemudian, ia melihat Tirex yang sudah bisa tenang dan ia memutuskan untuk keluar.
Ia melihat Delia yang dalam posisi masih sama terakhir ia tinggalkan. Ariel menghembuskan nafasnya kasar. "Akan aku panggilkan perawat."
*
*
Pagi harinya, Ariel nyatanya masih kesulitan untuk menghadapi situasi ini. Hingga memutuskan keluar dari kamar rawat inap istrinya, apalagi Rima sudah datang.
Saat ia sudah berada di luar dengan mulutnya yang tidak berhenti menggerutu, tiba-tiba telponnya berdering. Ketika ia melihatnya ternyata Juna yang menghubunginya.
"Ya!" Begitu sambungan terhubung.
"Pak, ada Nyonya Eva di lobi rumah sakit." Juna memberi tahu. Ia memang di tugaskan untuk berjaga-jaga jika ibu dan saudara tiri Delia datang untuk tidak membiarkannya masuk begitu saja.
Lagi-lagi Ariel harus membuang nafasnya kasar. "Aku akan segera kesana."
*
*
Kini mereka berada di kafe seberang rumah sakit.
Ariel yang duduk dengan santai, dengan Juna yang berdiri di sampingnya.
Sedangkan Eva dengan raut wajah tegang duduk di depannya dengan di temani oleh Dandi.
"Aku tidak menyangka jika kalian masih memiliki muka untuk datang." Ariel sembari meminum kopinya yang masih sedikit mengepulkan uap panas.
Eva tidak banyak bicara, lebih tepatnya ia takut jika akan salah bicara jika menjawabnya.
"Istriku kemarin menghubungi kalian, tapi kalian menolaknya. Aku pikir kalian sudah memutuskan hubungan, hingga aku tidak usah capek-capek menyingkirkan kalian dari kehidupan putri tiri mu yang kau sia-siakan." Ariel terus saja berbicara.
Dandi yang sebenarnya tidak terima, hanya bisa diam di tempat karena Eva terus mencengkeram kuat tangannya agar tidak berbuat macam-macam.
"Sekarang apa yang kalian inginkan?" tanya Ariel kemudian.
Baru saja Eva akan menjawab, Ariel lebih dulu menyela.
"Ah... Aku lupa kebiasaan kalian, biasanya jika begini pasti hanya ada satu alasan." Ariel tersenyum miring. "Uang!" tebaknya.
Eva semakin menelan ludahnya dengan susah payah, ia tidak menyangkal jika putri tirinya yang dulu sering ia manfaatkan dengan seenak hati akan menikah dengan orang yang menyeramkan.
"Mudah sekali di tebak." Ariel menggelengkan kepala.
"Uhm... Begini saja, sebagai menantu yang baik aku akan memberikan sebuah penawaran. Aku akan memberikan uang kepada kalian, asal kalian pergi yang jauh dan jangan kembali lagi." kata Ariel.
"Kau gi*la!" Dandi akhirnya tidak tahan untuk tidak memaki pria di hadapannya.
Bukannya marah Ariel justru tertawa. "Rupanya kau masih punya nyali." Ia menatap Dandi seperti menatap bangkai tikus. "Dengar ya, kalian hidup itu hanya sebagai benalu untuk orang lain. Jadi harusnya kalian itu tak pantas untuk hidup, menyusahkan."
Ariel menatap mereka berdua dengan serius, membuat Dandi yang tadi sempat memanas seketika menciut.
"Sekarang aku ubah penawarannya menjadi sebuah keharusan. Kalian pergi sejauh mungkin, dengan rumah dan uang yang tersedia. Atau mendekam di penjara dan tak akan pernah bisa keluar untuk selamanya!" Ariel benar-benar serius dengan perkataannya. "Tentu saja perbuatan kalian yang sangat tidak menyenangkan terhadap putri tiri kalian itu bisa melempar kalian ke dalam penjara, dan jangan tanyakan bagaimana caranya aku membawa kalian ke sana. Mungkin kalian sudah tau caranya."
Eva dan Dandi saling pandang, seperti nya tidak ada pilihan bagi mereka selain mengambil pilihan yang pertama.
Untung-untung mereka masih mendapatkan rumah dan uang meskipun entah akan di buang ke mana mereka selanjutnya, dari pada harus mendekam di hotel prodeo yang sudah pasti tidak akan ada yang bisa membantunya untuk keluar.
"A-aku pilih yang pertama saja." Eva yang sekarang ini benar-benar ketakutan.
"Bagus." Ariel tersenyum. "Jika kalian suatu saat berani kembali lagi ke sini, jangan harap kalian bisa melihat cahaya matahari lagi." Ariel menatap keluar jendela kafe, sinar matahari yang mulai menghangat.
"I-iya, kami berjanji." Eva menyanggupi.
"Juna, suruh Arga mengurus semuanya." Ariel kemudian beranjak dari sana. "Aku tidak betah berlama-lama di sini, padahal ini kafe sangat bagus tapi kenapa sedari tadi bau busuk." Ia lalu benar-benar pergi dari sana.
Flashback Off.
...----------------...
...Tirex sih baperan, jadinya Ariel marah-marah melulu ðŸ¤...