Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Permainan Joana



Setelah menelpon Ike, rupanya Ariel mendapatkan sebuah pesan pada ponselnya.


Itu adalah sebuah foto, dan ketika ia membukannya seketika rahangnya mengetat. Giginya bergemeletuk saling bergesekan.


Bagaimana ia tidak marah, rupanya itu foto Delia yang sedang tidak sadarkan diri tergeletak di lantai yang sedikit basah.


Bahkan wajah ayu nya terlihat begitu menyedihkan.


Setelah itu sebuah pesan masuk kembali, menyuruh Ariel untuk datang ke jalan xxx sendirian. Kalau tidak nyawa Delia yang menjadi taruhannya.


Karena tidak mau mengambil resiko, Ariel begitu saja pergi dari kediaman Reza.


*


*


Ariel sudah sampai di jalan yang sudah di tentukan oleh si pengirim pesan, sampai saat ini ia belum tau siapa dalang di balik semua kejadian ini. Tapi ia meyakini jika Joana lah pelakunya.


Ia segera turun dari mobil, melihat keadaan sekitar yang benar-benar sepi. Sekarang ia berada di jalan yang sepertinya sudah tidak di pergunakan lagi, karena di sepanjang jalan hanya ada bangunan ruko yang terbengkalai.


"Lalu di mana mereka sekarang?" Ariel mencoba menyusuri jalan, jika ia harus mengecek ruko-ruko itu satu persatu makan ia akan lakukan yang terpenting ia menemukan kekasihnya.


Hingga beberapa ruko sudah ia cari, namun ia tidak menemukan tanda tanda kehidupan di sana. Semuanya kosong tanpa penghuni.


Tanpa ia sadari seseorang terus memperhatikannya, hingga di waktu yang tepat seseorang itu terus mendekat tanpa di ketahui Ariel.


Bugh.


Ariel yang seketika tidak sadarkan diri setelah seseorang itu memukulnya dari belakang.


*


*


Mata Delia sedikit mengerjab, ia masih menyesuaikan cahaya. Ia masih tidak tau sebenarnya apa yang terjadi, semuanya terjadi secara tiba-tiba.


Kepalanya terasa begitu berat, sepertinya obat bius yang mengenainya masih belum hilang sepenuhnya.


Di dalam setengah kesadarannya, ia merasakan dinginnya lantai yang bercampur air di tempatnya kini ia berada. Udara bahkan juga terasa begitu pengap, cahaya lampu bahkan tidak bisa membuatnya melihatnya dengan jelas.


Delia mulai menggerakkan tubuhnya, ia terduduk dalam keremangan.


Ia mengarahkan pandangannya ke sekitar, ia seperti berada di bangunan tua yang tidak terpakai. Bahkan atap bangunan itu sudah tidak sempurna, hingga ia bisa melihat langit malam.


Ia juga melihat beberapa orang berdiri di sekitarnya, namun ia tidak bisa melihat jelas wajah mereka. Tapi dari postur tubuh, ia bisa menebak lima laki-laki dan satu perempuan.


Hingga pandangannya terhenti pada dua orang, yang satu perempuan duduk di kursi dengan anggun dan yang satunya tergeletak di bawah seperti dirinya.


Beberapa saat kemudian, matanya membulat ketika menyadari jika yang tergeletak itu adalah kekasihnya.


"Mas!" Delia langsung bangkit, namun seseorang seketika menjambak rambutnya dari belakang.


Rupanya dia adalah perempuan yang di lihatnya dirumah Reza. Delia langsung menarik tangan perempuan itu, ia memutar tubuhnya dan membantingnya ke lantai.


Membuat perempuan itu terkapar.


Tapi tidak sampai di situ saja, rupanya para lelaki yang tadinya berdiri diam kini ikut menyerangnya.


Meskipun ia kewalahan, tapi ia berusaha memenangkan pertarungan ini.


"Stop!" Perempuan yang duduk di kursi menginterupsi, yang tak lain adalah Joana. "Jika kau tidak mau berhenti, maka Ariel yang akan terkena imbasnya."


Mendengar perkataan Joana membuat Delia berhenti.


Joana tersenyum miring. "Ternyata kucing kecil ini patuh juga." Ia lalu memberikan isyarat kepada salah satu anak buahnya.


Hingga tak lama, Laki-laki suruhan Joana kembali dengan seember air.


Byur.


Air itu segera saja membasahi tubuh Ariel, hingga membuatnya tersadar.


Ingin sekali rasanya ia meluapkan rasa bahagia itu karena bisa bertemu kembali, tetapi baru saja ia berdiri dua laki-laki bertubuh kekar sudah mencekalnya.


Ariel menatap tajam ke arah Joana, ternyata tebakannya benar. Perempuan itu yang menjadi dalang semuanya.


"Sudah bangun sayang!" Joana bertanya dengan nada lemah lembut, bahkan terkesan manja.


"Aku menyesal pernah mengenal wanita sepertimu!" Ariel menatapnya penuh dengan kebencian.


Bukannya marah, Joana malah tertawa. Sepertinya ia senang melihat Ariel di penuhi amarah. "Jangan marah, nanti aku jadi takut." Ia membuat ekspresinya seolah olah ketakutan, tapi sedetik ke. udian ia kembali tertawa.


"Karena kalian berdua sudah bangun dari tidur nyenyak, bagaimana kalau sekarang kita bermain?" Joana menghampiri Delia.


Delia masih terdiam di tempatnya, ia masih tidak tau apa sebenarnya rencana Joana.


"Permainannya mudah, jika kamu masih bisa tetap di posisimu makan Ariel akan aman. Tapi jika kamu terjatuh, atau menghindar makan Ariel akan menerima akibatnya. Setuju?" Joana dengan segala kelicikannya.


Delia terdiam, menghadapi wanita di depannya ia juga harus pintar-pintar mengatur strategi.


Tapi memang apa yang akan di dapatkan oleh kekasihnya? Bukannya yang ia tau Joana tergila gila dengan Ariel? Atau dia hanya sengaja menggertak.


"Apa kamu perlu contoh?" Joana dengan senyum sinisnya. Tangannya terangkat, dan sasarannya adalah pipi Delia yang akan menjadi korbannya.


Tapi tentu saja Delia segera mencekal tangan Joana.


"Oh... Rupanya kamu masih belum mengerti?" Joana menatap Delia dengan pandangan mengejek. "Lakukan!" Perintahnya.


Hingga satu laki-laki maju mendekati Ariel yang sedang di cekal oleh dua orang, ia langsung melayangkan bogem mentah.


Membuat Ariel tersungkur.


Namun kedua laki-laki itu, memaksa Ariel untuk kembali berdiri.


Mata Delia yang melihat itu, hingga ia langsung melepaskan tangan Joana.


"Jangan pikir aku tidak tega menyakiti Ariel, aku memang dulu sangat menginginkannya. Tapi setelah dia membuangku begitu saja, yang tersisah hanya kebencian." Mata Joana berkilat memancarkan kebencian. "Padahal aku sudah memohon, tapi ia sama sekali tidak memperdulikannya. Kalian justru bahagia di atas PENDERITAANKU!" teriaknya.


Plak.


Satu tamparan mendarat di pipi Delia, dan gadis itu tidak bisa apa-apa selain menerimanya.


"Jangan sakiti dia!" Ariel berteriak, jelas saja ia tidak Terima kekasihnya di perlakukan seperti itu.


"Lihat... Bagaimana ia begitu ketakutan melihatmu tersakiti?" Joana tersenyum kecut. "Jadi, bagaimana? Apa kita akan bermain?"


"Jangan! Jangan pernah menerimanya?" Ariel menatap Delia dengan tatapan memohon.


Tangan Delia mengepal erat, sekrang ia harus bagaimana? Melawan dan melihat seseorang yang di kasihinya tersakiti? Atau menerima semuanya tanpa melawan!


"Baik, kita bermain." Akhirnya Delia memutuskan.


"Nggak!" Ariel meraung-raung, ia tidak rela kekasihnya akan di jadikan samsak hidup oleh Joana.


"Keputusan yang bagus!" Joana tersenyum dengan kemenangan. "Kita mulai sekarang."


Ia memutari tubuh Delia, mencari sasaran empuk nantinya. "Padahal tidak ada yang bagus denganmu tapi dia lebih memilihmu." Ia kembali di hadapan gadis itu.


Plak.


Satu tamparan lagi di dapatkan Delia.


"Arrrghhh." Ariel meronta-ronta, matanya memanas menyaksikan itu.


Delia berusaha tetap berada di posisinya.


"Pintar, kamu cepat paham dengan permainan ini." kata Joana. " Dan untuk selanjutnya apa kamu masih bisa?" Ia tersenyum.


...****************...


...Joana memang nggak punya hati 😭...