
Saat jam makan siang tiba, nyatanya Ariel baru menyelesaikan pekerjaannya.
"Sayang--" Ia yang ternyata tidak melihat keberadaan istrinya.
Dan ia baru ingat jika tadi istrinya sudah masuk ke dalam ruang istirahatnya.
Saat ia akan beranjak, terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk." sahut Ariel.
Yang ternyata adalah Riska. "Bapak mau saya pesankan makan siang?"
"Tidak usah, nanti saya pesan sendiri." Ariel melihat sekertaris nya yang sudah membawa dompet, sepertinya sudah bersiap untuk istirahat. "Jika ingin makan siang, pergilah."
"Baik, Pak." Setelah itu Riska pergi dari sana.
Ariel melihat ponselnya, yang ternyata ada beberapa pesan masuk yang belum sempat ia buka. Yang ternyata dari Rima, tentu saja perempuan itu mencari keberadaan menantunya yang tidak pulang-pulang.
✉️ Ariel kamu bawa kemana menantu Mami.
✉️ Cepat segera bawa pulang.
✉️ Atau Mami akan suruh anak buah Papi lacak keberadaan Delia.
Ariel yang melihatnya hanya bisa berdecak, ia merasa seolah-olah menculik istrinya sendiri.
"Apa Mami lupa jika yang aku bawa itu istriku sendiri?" Ariel menggerutu. "Apa Mami lupa jika setiap hari yang menyabotase istriku adalah Mami?"
Kemudian Ariel mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan dari Rima.
✉️ Mami jangan cari istriku, sekarang kami sedang membuat cucu untuk Mami.
Setelahnya ia mengubah mode ponselnya menjadi senyap.
Ariel berjalan ke arah ruang istirahatnya, dan nampak istrinya sedang tertidur pulas.
Ariel melihat ke penjuru kamar itu, nampak sedikit berbeda dari sebelumnya.
Ia sengaja mengganti beberapa barang di kamar itu, seperti ranjang, dan printilan lainnya.
Semua ia lakukan ketika awal masuk bekerja, selain mengganti agar lebih nyaman tentunya ia tidak mau ada kenangan lama yang masih tersimpan.
Kenangan beberapa wanita yang pernah ia ajak tidur, dan sekarang akan menjadi kenangannya saja bersama istrinya.
Ia mendekat, kemudian duduk di tepi ranjang. Memandangi wajah ayu istrinya yang damai di alam mimpi.
Ia menyingkirkan helaian rambut Delia yang berada di wajah, agar tidak mengganggu tidurnya.
Tapi meskipun Ariel sudah berhati-hati, nyatanya Delia tetap terusik.
Ia menggeliat dan perlahan membuka matanya, mendapati suaminya yang sedang menatapnya.
"Apa aku membangunkan mu?" tanya Ariel.
Delia menggeleng. "Sepertinya aku tadi ketiduran." Karena tadi ia sebenarnya tengah asik melihat Drakor di ponselnya, tapi tanpa ia sadari rasa kantuk membuatnya tertidur.
"Pasti kamu sedang melihat para laki-laki keputihan itu." Ariel mencibir. Kegiatan yang memang di lakukan istrinya selama di rumah.
"Mereka bukan keputihan, tapi memang kulitnya putih."
"CK, kamu kenapa menyukai pria pria seperti mereka?" Ariel tampak sedikit kesal.
"Aku tidak menyukai mereka, aku hanya suka drama yang mereka mainkan."
"Tapi bagiku itu sama saja." Ariel mendengus.
"Udah, stop. Jangan di teruskan nanti kita akan bertengkar karena masalah yang nggak jelas." Delia mengakhiri perdebatan. "Ayo sekarang kita cari makan saja."
"Makan!" Ariel membeo.
"Hm..." sahut Delia sembari membenarkan gaunnya yang sedikit berantakan. "Mas nggak laper?"
"Tentu saja aku lapar." Namun pikiran Ariel bukan lapar yang di maksud istrinya.
"Ya sudah ayo." Delia beranjak, tapi suaminya justru menahannya. "Kenapa?"
"Kita makan yang lain dulu." Ariel tersenyum penuh arti.
Delia memicingkan matanya. "Mas sudah pesan makanannya!"
"Belum."
Bukannya menjawab, tangan Ariel justru menggapai resleting gaun istrinya yang berada di dada lalu perlahan ia turunkan.
Delia memutar bola matanya, sekarang ia tau apa yang di maksud suaminya. "Mas, kita makan dulu."
Ariel justru segera menempelkan bibir mereka, hingga cumbuan Itu seketika terjadi.
Suara decapan itu perlahan mulai terdengar saat keduanya mulai terbakar gairah.
Delia yang tadinya merengek ingin makan terlebih dahulu sepertinya telah lupa oleh kegiatannya sekarang.
Tangan Ariel yang sudah berhasil menurunkan resleting gaun Delia kini menyelinap di dalamnya, meremas salah satu bulatan yang masih tertutup oleh penghalang.
"Eungh..." Delia melenguh.
Mata yang terpejam menikmati sentuhan suaminya, membuat tubuhnya menegang.
Setelah berhasil membuat bibir istrinya membengkak, kini bibir Ariel mulai mengabsen leher jenjang Delia.
Menikmati rasa yang selalu membuatnya mabuk kepayang.
Delia menggeliat, tubuhnya merespon sentuhan-sentuhan itu. Rasa geli dan hasrat bercampur menjadi satu. "Mas..." lirihnya.
Tangan Ariel yang sedari tadi meremas bulatan Delia, kini ia mencoba untuk mengeluarkan dari persembunyiannya.
Dan nampaknya usahanya berjalan mulus, bulatan itu terbebas tanpa halangan.
Lihatlah, puncaknya nampak begitu mencuat. Menandakan jika istrinya benar-benar terbakar gairah.
Tidak membuang waktu, Ariel segera melahapnya. Merasai puncak bulatan itu yang sudah mengeras di dalam mulutnya.
"Akh ..." Satu des*ahan lolos dari bibir Delia.
Tubuhnya rasanya di aliri oleh listrik seiring suaminya yang semakin tak terkendali menyentuhnya.
Tanpa di sadari sesapan Ariel rasanya semakin kuat, hingga membuat tubuh Delia semakin lama tidak karuan.
Beberapa saat kemudian, entah siapa yang memulainya kini mereka berdua sudah polos tanpa sehelai benang.
Dan Ariel semakin bebas menyentuh tubuh istrinya.
Nafas Delia sudah tidak beraturan, gejolak di dalam tubuhnya rasanya sudah di puncak ubun-ubun.
Apalagi melihat suaminya yang sedari tadi tidak melepaskan kedua asetnya, menyesapnya dengan gemas secara bergantian.
Tangan Ariel perlahan turun, ia mencari pusat inti istrinya. Ia menemukan tempat itu telah basah dan berarti sudah siap untuk memulai inti dari permainan mereka.
Tirex pun sudah menegang mulai awal ia menyentuh Delia, ia pun harus mati-matian menahan agar ia bisa mengulur waktu percintaan mereka.
Delia menggigit bibir bawahnya begitu merasakan alat tempur suaminya mulai memasukinya, dan ia tidak sanggup jika tidak melepaskan suara desa*Hannya.
"Ahhh..." Dadanya membusung saat Tirex begitu saja menerobos masuk.
Ariel tak menyia-nyiakan nya, ia kembali melahap salah satu bulatan itu. Sedangkan tangannya meremas bulatan satunya.
Ariel mulai menghentak, ia merasakan alat tempurnya di remas kuat di bawah sana. Hingga membuatnya tak sabar untuk tidak menghentak.
"Oh... Sayang kenapa kau selalu membuatku menggila." Ariel yang terus meracau di sela-sela kegiatan mereka.
Sedangkan Delia sudah tidak mampu menyahuti perkataan suaminya, yang ia rasakan sekarang alat tempur suaminya itu rasanya menyentuh dinding rahimnya.
"Eungh...." Rasanya ia sudah tidak lagi mampu bertahan.
Delia menatap kecewa pada suaminya saat Ariel tiba-tiba mencabut alat tempurnya, padahal ia sebentar lagi akan mencapai puncaknya.
Ariel membalikkan tubuh Delia, dan tanpa aba-aba ia membenamkan alat tempurnya dari belakang.
"Eungh..." Delia tersentak, rasanya alat tempur suaminya benar-benar menyentuh titik terdalamnya.
Ariel terus menghentak, ia merasa jika pertahannya juga akan berakhir. Ia lalu menggapai dua bulatan yang menggantung bebas, kemudian meremasnya dengan kuat di barengi oleh ia yang menghentak semakin cepat.
Dan di detik berikutnya, gelombang pelepasan hebat menggulung keduanya.
"Ahh... " Ariel yang ambruk menindih tubuh istrinya. "Kamu memang yang terhebat." Ia mengecup bahu istrinya yang basah oleh keringat.
...****************...
...Ya ampun itu lagi ngapain di kantor 🫣...
...Selamat hari raya idul adha guys, bagi yang merayakan 🙏...