
Joana menatap beberapa lembar foto di hadapannya, seseorang baru saja memberikannya.
Foto yang terdapat Ariel dan Delia, mereka terlihat cukup akrab.
"Namanya adalah Delia safitri, umur delapan belas tahun. Tinggal di perkampungan xxx." Suruhan Joana menerangkan hasil penyelidikannya.
Ia terpaksa menyuruh seseorang untuk mengikuti Ariel beberapa hari ini, karena sikap pria itu semakin hari semakin berubah.
Bahkan Ariel sudah tidak pernah menghubunginya lagi, mungkin pria itu memang sudah benar-benar tidak menginginkannya lagi.
"Hm... saingan berat nih!" Ike yang duduk di sampingnya. Ia juga menatap foto foto itu, dan ia merasa jika kedudukan modelnya yang ia ketahui sebagai kekasih dari Ariel terancam. "Apa sekarang seleranya ganti? Dari model berganti daun muda." Ia melihat ada salah satu foto Delia yang memakai seragam sekolah.
"Diam Lah!" sentak Joana. Ia tidak suka dengan ucapan Ike. Tangannya mengepal erat, ia bisa melihat dari tatapan Ariel ke Delia yang tidak biasa. Bahkan selama mengenal pria itu, ia belum pernah melihatnya seperti itu.
"Apa yang di lihat dari gadis seperti ini?" Padahal di dalam hati Joana, ada ketakutan tersendiri. Jika yang menjadi perbandingan wajah, tentu ia akan menang. Jika soal kekayaan ia akan lebih unggul, tapi tidak dengan usia. "Apa mereka sering bertemu?"
"Setidaknya sehari sekali mereka akan bertemu, hanya kemarin mereka tidak bertemu. Tapi malamnya terlihat mobil Tuan Ariel berada di depan rumah gadis itu, kemudian pergi." jawab suruhan Joana.
"Astaga!" Joana tersenyum miring, rasanya ini sangat lucu.
Ia yang berusaha mendekat dan menggoda, bahkan melemparkan tubuhnya di kalahkan oleh gadis ingusan. "Baiklah, kau boleh pergi. Kalau aku membutuhkanmu lagi akan ku hubungi." Joana memberikan segepok uang sebagai imbalan.
"Baik, terima kasih." Yang kemudian pria itu pergi dari sana.
"Aku juga mau pergi dulu." Ike juga pergi dari sana, karena ia tahu suasana hati Joana sedang tidak baik-baik saja. Ia tidak mau menjadi sasaran amukan kemarahannya.
Joana tidak memperdulikan kepergian Ike, fokusnya sekarang pada foto Ariel dan Delia. Semakin lama ia melihatnya, rasanya ia seperti mengenalinya. "Pernah bertemu di mana?" Ia mencoba mengingatnya.
Tidak lama ia memutuskan ke kantor Ariel, ia akan mencoba untuk mendapatkan hati Ariel kembali.
Sesampainya di kantor, seperti biasa ia akan langsung menuju ruangan Ariel.
"Ariel di dalam kan?" Ia bertanya pada Riska.
Riska yang sedang mengerjakan pekerjaannya, seketika mengangkat pandangannya. Rasanya ia malas sekali menjawab pertanyaan Joana. "Bapak lagi tidak ada di kantor."
"Kemana?"
"Sedang ada urusan keluar kota, berangkat tadi pagi." Riska menjawab.
"Keluar kota?"
"Iya, Nona Joana." Riska mulai kesal karena Joana terlalu banyak tanya.
"Berikan alamatnya?" pinta Joana.
Riska mengerutkan dahinya, ia merasa aneh dengan Joana. "Maaf Nona, saya tidak bisa memberikan informasi kepada sembarang orang."
Mata Joana membulat mendengarnya. "Kamu tidak tau aku!" bentaknya.
"Anda seorang model, tapi anda bukan karyawan di perusahaan ini. Jadi maaf tidak bisa." ujar Riska.
Joana menggeram. "Aku ini kekasih dari pemilik perusahaan ini."
"Tapi urusan pribadi di larang mencampur adukkan dalam pekerjaan, kecuali Bapak mengizinkannya." Riska menegaskan. "Dan maaf saya sedang ada banyak pekerjaan, kalau anda tidak ada keperluan lagi silahkan pergi." Riska meneruskan pekerjaannya tanpa memperdulikan Joana yang kesal padanya.
*
*
Ketika ia sedang menikmati istirahat di jam kerjanya, samar-samar ia mendengar keributan di luar dari ruang ganti dimana dirinya berada sekarang.
Ia sepertinya mengenali suara seseorang, hingga kemudian ia keluar.
Ujang yang mencoba menghentikan ocehan Eva pun tak mampu, wanita itu sulit untuk di ajak bicara.
Perhatian Eva lalu beralih pada Delia begitu ia menyadari kehadiran gadis itu. "Dasar anak tidak tau diri! Aku sudah bersusah paya membesarkan mu hingga sebesar ini, giliran sudah bisa mencari uang kamu meninggalkan Ibu mu yang sudah tua ini." Eva memulai drama yang sudah ia rancang.
Delia hanya diam, ia membiarkan Eva menuntaskan bicaranya.
Eva menatap semua orang yang ada di sana. "Lihatlah dia putri yang tidak peduli dengan keadaan Ibunya ini." Ia lalu menatap Delia. "Apa gara-gara aku hanya Ibu tiri jadi tidak menganggap ku."
Eva mulai menangis.
Delia menghembuskan nafasnya kasar, kenapa seharian ini Ibunya tidak berhenti mengganggunya.
"Ibu tolong jangan membuat keributan di sini." Ujang berbicara. Ia tau Delia gadis yang baik, ia sudah mengenalnya lama.
Eva menajamkan matanya pada Ujang. "Jangan ikut campur kamu.
"Ada apa ini?" Arsyad yang baru tiba di bengkel.
"Ibu ini membuat keributan, Pak." Ujang memberitahu.
Arsyad menoleh pada Eva, terlihat nafas Eva naik turun. Menandakan jika Eva sedang emosi, matanya yang memerah menyiratkan kemarahan yang cukup besar.
Delia mendekat kepada Eva. "Bu, tolong jangan begini." Berharap wanita itu mau mendengarkannya.
"Kenapa? Kamu malu!" Eva justru mengeraskan suaranya.
Delia benar-benar merasa tidak enak kepada Arsyad. "Pak, maafkan Ibu."
Arsyad tersenyum melihat sikap Delia, ia yang sudah mengenal gadis itu mulai kecil. Dan mengetahui kejadian yang sebenarnya dari putranya, tentang kepergian Delia dari rumah.
Arsyad kemudian menoleh kepada Eva. "Tolong bicaralah baik-baik."
"Aku tidak peduli! Dia memang anak yang tidak bisa balas budi." Eva masih meluap luap.
"Balas budi mana yang kamu maksud?" Arsyad bertanya, sepertinya wanita itu lupa jika ia mengenal Delia. "Selama ini Delia sudah memberi nafkah untukmu, bahkan di saat dia masih sekolah." ucap Arsyad dengan tenangnya.
Membuat Eva terdiam.
"Bukankah seharusnya kamu sebagai Ibu yang menghidupi anakmu? Atau hanya karena dia anak tiri kamu memperlakukan dia seenaknya?" Arsyad yang masih terus berbicara. Biarkan saja semua tahu akan kebenarannya.
"Kamu tidak terlalu tua untuk bekerja, bahkan kamu masih bisa sampai di bengkel ini dengan selamat. Dan ingat, kamu juga mempunyai putra yang sudah dewasa. Seharusnya dia yang bekerja, bukan menyuruh anak yang masih sekolah untuk bekerja." Kata kata Arsyad rupanya semakin membuat Eva tersudut, bahkan beberapa pengunjung juga ada yang menatapnya dengan aneh.
"Tau apa kamu urusan keluargaku?" Eva merasa gugup.
"Aku memang tau, dan aku hanya mengingatkanmu sebagaimana benarnya. Dan kamu sendiri yang datang membuat keributan disini, dan Delia di sini adalah tanggung jawabku." Sikap Arsyad yang tenang semakin membuat Eva gelisah. "Jika sudah tidak ada yang di bicarakan lagi, silahkan pergi dari sini."
Tangan Eva mengepal erat, skenario yang ia susun dengan rapi nyatanya tidak sesuai harapan. Sekarang ia justru yang mendapatkan malu.
"Kalau kamu merasa masalah ini belum selesai, bagaimana kita selesaikan saja di kantor polisi." Arsyad menawarkan solusi, namun dengan cepat Eva menolaknya.
"Tidak perlu." Eva kemudian pergi dari sana.
"Jangan di pikirkan Nak, semua pasti akan berlalu." Arsyad menepuk bahu Delia, ia mencoba menyemangati gadis itu agar bisa melapangkan dada dalam menghadapi cobaan dalam hidupnya.
"Terima kasih Pak." Delia tidak bisa berkata-kata selain berucap syukur karena telah di pertemukan orang baik seperti Arsyad.
...----------------...
...Kayaknya Eva nih kebanyakan nonton sinetron deh... 😁...