
Ariel terpaksa menghentikan kegiatan Delia, karena gadis itu yang terdiam dan membeku.
Ariel memposisikan dirinya hingga kini mereka saling berhadapan.
Delia merasa jantungnya semakin lama semakin berdetak dengan kencang, ada rasa yang ia tak mengerti.
"Aku tau, mungkin dari awal perkenalan kita hingga aku mengungkapkan perasaanku itu terlalu cepat. Tapi itu semua karena memang itu yang sedang aku rasakan." Ariel tidak menyerah untuk mendapat kepercayaan gadis itu.
"Dan aku--"
"Om... " Delia memotong perkataan pria itu yang sedari terus berbicara. Ia menatap mata Ariel yang sedang menatapnya, memang terlihat jika pria itu bersungguh-sungguh. "Aku sebelumnya tidak pernah dekat dengan laki-laki sebelumnya, kecuali keluarga dan sahabat ku Adi."
Ariel diam membiarkan gadis itu berbicara.
"Aku bahkan tidak mengerti apa cinta dan bagaimana rasanya, dan aku juga tidak bisa menggambarkan mendefinisikan nya."
"Aku juga tidak pernah berkomitmen dengan seseorang sebelumnya, mungkin biasanya orang menyebutnya pacaran."
"Aku terlalu sibuk untuk mengurusi hidupku, mencari uang setelah sekolah."
"Dan ada satu hal juga yang terkadang membuatku takut! Keluargaku berantakan dan status sosial."
Ariel menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah melihat dari segi itu semua."
"Tapi kita hidup tidak sendiri, lalu bagaimana dengan perasaan orang tua! Jika seandainya anak mereka berhubungan dengan seseorang yang tidak di inginkan." Mata Delia tiba-tiba saja memanas.
"Om tau! Kedua orang tuaku sudah meninggal dan hanya tinggal Ibu dan Kakak tiriku. Mereka juga yang menjadi alasan kenapa aku ingin hidup sendiri."
"Bertahun-tahun aku merasa terluka, dan berjuang untuk menyembuhkan luka itu." Air mata itu meluncur begitu saja dari mata Delia.
"Tapi setelah aku bertemu Om, aku sendiri merasakan warna yang berbeda. Meskipun Om sering membuatku kesal." Delia terkekeh dalam dalam tangisnya. "Tapi semakin hari, aku seperti merasakan sesuatu." Ia menyentuh dada. "Di sini seperti mau meledak setiap kali Om mendekat padaku."
Perlahan tapi pasti, ada senyuman yang terbit di bibir Ariel mendengar itu.
"Tapi aku tidak tau rasa apa yang sedang aku rasakan untuk saat ini." Delia mengakhiri perkataannya sebelum air matanya semakin deras mengalir.
Ariel segera membawanya dalam pelukannya. "Dan aku merasakan hal yang sama, jantungku rasanya begitu berdebar setiap kita berdekatan."
Dari kejauhan Rima dan Bastian menyimak adegan itu.
"Pih... Mami jadi terharu." Rima mengusap matanya yang mulai berembun.
"Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka, Mih." Bastian merangkul istrinya.
"Dan sepertinya anak kita sebentar lagi akan melepas masa lajangnya." Rima menambahkan.
Bastian tersenyum mendengar itu.
*
*
"Kenapa harus pulang!" Yang waktu itu Delia berpamitan kepada Rima.
"Iya Tante, sudah sore." Delia menjawab.
"Ya susah kalau begitu, jangan lupa. sering-sering main ke sini ya!" Rima mengantar kepergian Delia hingga ke teras rumah.
"Iya." sahut Delia. "Delia pulang dulu Tante, dan salam ke Om." Karena Bastian yang rupanya sedang tidur, akibat kelelahan bermain golf.
"Iya, nanti Tante sampaikan. Hati-hati di jalan." Rima melihat putranya yang sudah di balik kemudi. "Jangan ngebut!"
"Iya, Mih." sahut Ariel.
Di dalam mobil, sepasang anak manusia itu rupanya mengalami susana yang cukup canggung.
Padahal di antara mereka sudah ada status lebih dari sebelumnya, tapi itu membuat mereka saling diam dengan pikirannya masing-masing.
"Ehmm... Aku mau ke rumah Ibu." Delia teringat dengan janjinya tadi pagi.
Setelah tau apa yang sebenarnya terjadi, Ariel di buat bingung kenapa gadis yang sekarang statusnya menjadi kekasihnya itu masih mau menemui Ibu tirinya. "Kenapa?"
"Mau ngasih Ibu uang."
"Kan ada Kakak kamu?" Ariel merasa tidak suka, apalagi mengingat kejadian sebelum Delia pergi meninggalkan rumah.
"Kak Dandi nggak kerja."
"Jadi selama ini?"
"Aku yang bekerja." jawab Delia.
Ariel mendengus, ia rasanya semakin tidak suka dengan Eva dan Dandi. Mereka tak ubahnya seperti parasit.
"Seharusnya kamu jangan memikirkan mereka lagi, apa kamu tidak ingat jika mereka tidak pernah baik terhadapmu." Ariel mengungkapkan apa yang ia rasakan.
Delia hanya tersenyum tipis. "Seharusnya begitu, tapi aku tidak tega."
"Kamu terlalu baik."
Eva yang sedang duduk di teras rumah langsung berdiri begitu melihat kedatangan Delia, ia langsung saja menghampiri.
Sepertinya Eva memang menantikan kedatangan Delia.
"Kenapa lama sekali, mana uangnya." Tanpa basa-basi Eva langsung menengadah kan tangannya.
Ariel yang baru saja turun dari mobil, segera menarik Delia di dekatnya. Ia merasa gadis itu terancam jika terlalu dekat dengan Eva.
Eva tidak memperdulikan sikap Ariel, yang terpenting ia mendapatkan uang.
Delia mengambil uang bewarna merah lima lembar dari dompetnya. "Ini Bu."
Secepat kilat Eva menyambar uang yang di berikan Delia. "Kenapa hanya segini?" Biasanya jumlahnya lebih dari itu.
"Jika kurang silahkan cari sendiri." Ariel tidak segan-segan mengatakan apa yang ada di pikirannya.
Mata Eva membulat, ia merasa tidak suka dengan ucapan Ariel. "Tidak sopan."
Ariel terkekeh. "Siapa yang tidak sopan, saya atau anda! Apa perlu saya ingatkan, Delia ini tugasnya sekolah bukan menghidupi orang yang tidak menghargainya. Lagipula senang sekali menyusahkan hidup orang lain."
Eva menggeram.
"Sudah selesai kan! Ayo kita pulang." Ariel mengajak Delia untuk cepat-cepat pergi dari sana. Namun sebelum pergi Ariel memperingatkan Eva. "Ah... Iya, ini untuk yang terakhir kalinya Delia memberi uang."
Setelah itu ia benar-benar pergi dari sana.
"Kenapa masih ada orang seperti mereka!" Ariel masih tetap menggerutu.
Padahal. mereka sudah pergi dari sana dan dalam perjalanan ke rumah Delia.
"Memanfaatkan kebaikan orang lain hanya untuk kepentingan dirinya sendiri."
Delia hanya diam mendengarkan Ariel yang terus saja mengoceh, tapi ia tau jika Ariel begitu karena peduli dengannya.
"Ingat ya, jangan mau di manfaatkan oleh orang lain." Ariel menoleh kepada Delia.
Dan gadis itu menganggukkan kepala, kemudian tersenyum.
"Ha... Jika melihatmu tersenyum seperti itu kesal ku menjadi hilang."
Delia memutar bola matanya malas.
"Sungguh aku tidak bohong."
"Iya ya ya, aku percaya." sahut Delia.
"Tapi wajahmu menunjukkan tidak percaya."
"Masa?" Delia tersenyum.
"Apalagi jika seperti itu."
*
*
"Om mau kemana?" Delia melihat Ariel yang akan ikut turun.
Mereka beberapa saat lalu sudah sampai.
"Mau masuk juga." Ariel dengan cueknya.
"Aku mau tidur." kata Delia, ia sudah merasa mengantuk.
"Apa! Kamu mengajakku tidur?" Ariel terkejut, ia sepertinya sengaja menggoda kekasihnya itu.
"Ck." Delia berdecak.
Ariel kemudian teringat sesuatu. "Tadi kamu manggil Papi apa?"
"Om." jawab Delia.
Ariel mendengus. "Lalu kenapa kamu juga masih memanggilku Om!" Ia tidak terima."
Delia tertawa, ia baru menyadari itu.
"Kamu harus mengubahnya." ujar Ariel.
"Di ubah bagaimana? Aku susah nyaman memanggil Om." sahut Delia. Hingga membuat Ariel bersungut-sungut.
...----------------...
...Cie cie... Ada yang baru jadian nih... ðŸ¤...
...Jangan lupa dukungannya guys 🥰...