
Ariel di temani Delia mengantar kepergian sahabatnya satu persatu setelah acara benar-benar selesai saat hari beranjak siang.
Setelah itu mereka memutuskan untuk beristirahat.
"Aku berat?" Delia berada di gendongan suaminya.
Ariel menggendongnya ke lantai dua, di mana kamar suaminya berada dan sebentar lagi juga akan menjadi kamarnya.
"Siapa bilang, tubuhmu bahkan sangat ringan. Sepertinya makan mu kurang banyak." Ariel yang memang begitu santai menggendong Delia menaiki tangga.
Delia mencebikkan bibirnya. "Kenapa nggak ngikutin saran Mami aja, jadi Mas nggak usah gendong aku."
Rima tadi sebenarnya menyuruh mereka untuk menempati kamar yang berada di lantai satu, tapi Ariel tidak mau. Dengan dalih ia tidak bisa tidur jika bukan di kamarnya.
"Kamar di lantai satu tidak enak tau." ujar Ariel.
"Memangnya kamar bisa di makan apa, kan sama aja."
"Kamar di lantai bawah tidak kedap suara, aku takutnya waktu memakan mu akan terdengar suara eranganmu." kata Ariel, yang kemudian terkekeh. Dan sebab itulah ia tidak mau.
"Astaga mulutnya!" Delia menoleh ke sekitar dan tidak menemukan siapapun.
Namun suaminya itu malah tertawa.
Sesampainya di kamar, Delia langsung di baringkan di ranjang.
Delia melihat sekitar, dan seperti pada umumnya kamar seorang pria. Dinding dengan cat bewarna putih yang di kombinasi warna abu-abu, ia lalu melihat cermin hias di sana juga tertata rapi barang-barang suaminya seperti parfum dan lain-lain.
Namun, ia sedikit aneh karena melihat perlengkapan makeup nya.
"Semuanya sudah di bawah ke sini." Ariel mengetahui arah pandang istrinya. Ia lalu berjalan ke arah lemari besar kemudian membukanya. " Dan di sini semua pakaian juga seragam sudah ada."
Benar saja, Delia melihat semua pakaian dan seragamnya sudah tertata rapi di lemari. Bahkan sepertinya ada beberapa pakaian baru.
"Dan di situ tempat tas sekolah." Ariel menunjuk sebuah lemari yang dominan terbuat dari kaca, sehingga bisa terlihat walau tanpa membukanya.
Di sana juga sama, ada tas yang biasa ia pakai ke sekolah. Dan juga beberapa tas perempuan juga berada di sana.
"Itu semua milik siapa? Punyaku hanya satu." tanya Delia.
Ariel mendekati Delia, dan duduk di depannya. "Tentu saja milik istriku."
"Kamu bisa memakainya bergantian, dengar." Ariel menggenggam tangan Delia. "Aku ingin sekali memanjakan mu dengan caraku, jadi jangan menolak, ok."
"Baiklah sekarang istirahatlah." Ariel membaringkan Delia, mencarikan posisi ternyaman untuk tidur.
Hingga kemudian, ia juga berbaring Delia.
Delia tidak langsung tertidur, ia justru memandangi wajah suaminya yang sudah memejamkan mata. Bahkan tangan kokoh itu dengan hangat memeluknya.
"Ada apa?" Ariel merasa ada yang memperhatikan, dan ternyata itu adalah istrinya.
"Aku seperti mimpi." Delia berujar. "Bahkan mimpi yang begitu indah, aku rasanya tidak mau bangun."
Ariel mendengarkan.
"Dulu meskipun aku punya uang, rasanya sangat sayang jika untuk membeli baju dan tas. Bahkan bagiku dulu sebungkus nasi pecel saja sudah sangat mewah." Delia mengenang masa-masa terberatnya.
Hati Ariel begitu miris mendengarnya.
"Dulu uangku baru aku pakai kalau mau beli buku, jika di perpustakaan nggak ada. Jadi terpaksa beli." Delia tersenyum miris mengingatnya.
"Karena itu kamu ikut balapan, dan membahayakan nyawamu?" Ariel memutuskan untuk menanyakan hal itu.
Mata Delia membulat.
"Apa kamu terkejut aku mengetahuinya?" Ariel menghembuskan nafasnya perlahan. "Dan untuk yang satu itu jangan lakukan lagi, Oke."
Ariel menatap lekat Delia, hingga membuat perempuan itu tidak mempunyai jawaban atau pilihan lain selain mengangguk.
"Kamu sekarang sudah punya suami, yang mengkhawatirkan mu jika terjadi sesuatu. Jadi jangan lakukan hal berbahaya itu lagi."
Delia kini memang tidak hidup sendiri lagi, ia harus memikirkan perasaan orang lain selain dirinya.
"Jadi cukup sekolah saja, dan menjadi seorang istri."
...----------------...
...Maaf guys baru up, habis tidak enak badan beberapa hari 🙏...