Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Pikiran Kotor



"Astagah!" Semua orang terkejut dengan pemikiran Ariel.


Rima segera saja beranjak dari duduknya, ia langsung menerjang putranya.


Rambut Ariel yang tak seklimis biasanya menjadi sasaran utamanya, ia menjambak Ariel dengan kedua tangannya.


"Dasar anak kurang ajar!" Rima yang tidak bisa menahan emosinya, bahkan ia lupa jika sekarang sedang berada di rumah sakit. "Berani sekali kamu mau menghamili Delia sebelum menikah, ha... !"


"Ampun Mih..." Ariel merasakan beberapa helai rambutnya sudah rontok dari kepalanya.


"Apa karena kepalamu habis terkena pukulan kemarin, makannya otakmu jadi bergeser!" Rima masih tidak puas dengan apa yang ia lakukan sekarang, bahkan sesekali tangannya itu memukul punggung Ariel.


"Mami, ampun... " Ariel terus mendekap kepalanya, rasanya kepalanya sekarang sedang berputar putar.


Klek.


Perawat yang membantu Delia keluar dari ruangan, hingga menghentikan pertengkaran ibu dan anak itu.


"Maaf Pak, Bu tolong jangan berisik. Takut menganggu pasien yang lain." Perawat itu mengingatkan.


"Iya, saya minta maaf." Rima tersenyum kaku, sedangkan Ariel masih memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Kemudian perawat itu pergi dari sana.


*


*


"Mami sama Papi tidak pulang!" Ariel melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Rima yang mendangar itu hanya memutar bola matanya, ia tau jika putranya hanya ingin berduaan dengan Delia. "Memangnya kenapa jika kami masih belum mau pulang!"


"Sudah malam Mi, Mami kan harus istirahat. Di umur yang sedang lucu lucunya seperti Mami tidak boleh tidur malam-malam nanti sakit." kata Ariel.


Mata Rima seketika saja melebar. "Maksud kamu Mami sudah tua?"


Ariel langsung menggelengkan kepala.


"Asal kamu tau ya, gini gini Mami masih bisa memberi kamu adik." ucap Rima.


"Nggak usah Mih, Terima kasih. Nanti Ariel buat sendiri saja." Ariel bergidik ngeri membayangkan jika itu benar-benar terjadi.


Yang benar saja di umurnya ia sendiri bisa memproduksi anak, malah mendapatkan adik.


Delia hanya bisa diam sembari menyaksikan perdebatan ibu dan anak di depannya.


Bastian menghembuskan nafasnya pelan, anak dan istrinya yang mulai tadi sore tidak akur.


"Mih, ayo kita pulang." Bastian akhirnya mengajak Rima pulang, dari pada mereka berdua berisik di rumah sakit dan mengganggu yang lain.


Keduanya seketika diam.


Rima mendengus, ternyata suaminya memihak putranya. Sedangkan Ariel diam diam tersenyum.


"Mas kenapa sih sama Tante kayak gitu!" Delia buka suara.


"Apaan?"


"Mas sering bikin Tante kesel!"


"Mami aja yang baperan." Ariel beralasan.


Delia menggelengkan kepala.


Ariel kemudian mendekat ke arah ranjang Delia, dan tiba-tiba saja tersenyum.


Delia yang melihatnya merasa curiga. "Kenapa? Jangan aneh aneh ya?"


"Ck." Ariel berdecak. "Siapa yang aneh-aneh, pikiran kamu kotor sekali."


"Kelakuan Mas yang bikin pikiran aku kotor."


Ariel menatap wajah Delia lekat-lekat. "Memang aku pernah ngelakuin apa?"


Delia berkedip beberapa kali, dan pikirannya langsung mengingat adegan di mana Ariel menciumnya. Masa iya ia harus memperjelasnya.


"Apa!" Ariel menunggu Delia berbicara, namun gadis itu hanya diam.


Delia merasakan wajahnya memanas. "Uhm... Aku tidak ingat." katanya, dan ia segera memalingkan wajah.


"Hei... Katanya tadi aku yang membuatmu berpikir kotor, berarti kamu mengingatnya." Ariel menggapai tangan Delia agar gadis itu menoleh padanya.


Dan senyum tertahan tentu saja terpampang di wajah Ariel, ia tau jika kekasihnya telah menahan malu.


"Mas, udah jangan di bahas." Delia masih tidak mau menoleh, ia bisa menebak semerah apa pipinya sekarang.


"Apa mau aku ingatkan!"


"Apa!" Delia tanpa sadar menoleh seketika, raut wajahnya yang tadi menahan malu berubah terkejut.


"Mau aku ingatkan!" Ariel semakin mendekat.


"Jangan macam-macam ya!" Delia berubah seperti macan betina.


"Aku tidak macam-macam, aku hanya mau satu macam." Pandangannya tidak pernah teralihkan dari wajah ayu Delia yang sedikit pucat.


Ariel semakin mengikis jarak di antara mereka, di balik sakitnya Delia sepertinya ia bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Karena tentunya kekasihnya itu tidak akan bisa menolak.


...----------------...


...Ya ampun Mas, gak inget masih di rumah sakit. ...


...Eh... Tapi Mas Ariel mau ngapain ya?🤭...