
Bel sekolah begitu nyaring terdengar kala waktu istirahat sudah tiba.
Kantin sekolah seperti biasa, penuh dengan murid yang akan mengisi perut mereka.
Tidak ada stand pun yang sepi, semuanya ramai dengan pembeli.
"Biar aku aja yang pesan, kalian yang cari tempat duduk." Reksa yang hari itu beristirahat dengan Delia dan Adi.
"Oke, aku bakso sama es jeruk." sahut Adi, ia lalu menoleh pada Delia. "Kamu mau apa?"
"Eum ... Aku jus alpukat saja."
"Ya sudah kalau begitu." Reksa yang kemudian pergi dari sana.
Adi dan Delia mendapatkan tempat duduk di area pojok kantin.
Delia mengeluarkan bekal yang tadi di bawakan ibu mertuanya, dan saat ia buka tampak matanya berbinar begitu juga dengan senyumnya yang mengembang.
Nasi yang di cetak dengan bentuk lucu, juga hiasan sayur yang di tumis. Lauknya pun ada ayam goreng tepung yang di balur saus asam manis, dan ada juga sosis yang di potong-potong. Bekal itu tampak menggugah selera.
Delia juga menemukan minuman kemasan s*usu pisang di kotak bekalnya yang lain, saat ia mengambilnya ada selembar uang seratus ribu di bawahnya.
Alis Delia saling bertautan, kenapa ada uang di kotak bekalnya. Namun penasarannya itu hilang, ketika ia melihat selembar kertas, bertuliskan uang saku untuknya. Yang tentu saja itu pasti dari ibu mertuanya.
Adi melihat sahabatnya itu dalam diam, sepertinya kehidupan Delia memang sudah lebih baik dari pada sebelumnya dan itu sejak dia menikah.
Bahkan melihat tampilan Delia yang sekarang sangat jauh berbeda jika dulu terkesan tomboy, sekarang terlihat begitu manis.
Terlihat keluarga suaminya memperlakukannya dengan baik.
Dan ia bahagia untuk itu.
"Di, mau nyoba nggak? Rasanya enak." Pertanyaan Delia membuyarkan lamunan Adi.
"Nggak usah, tadi kan aku juga udah pesan makanan." tolak Adi.
Benar saja, tidak lama Reksa datang membawa nampan berisi makanan.
"Makasih." Delia menerima jus alpukat miliknya.
"It's Oke." sahut Reksa.
Mereka lalu memulai acara makan.
"De kamu sekarang berubah." Reksa memulai obrolan di sela-sela makan. Membuat Delia menghentikan makan nya, ia menoleh ke arah Reksa.
Reksa sendiri sebenarnya juga tidak pernah mengobrol dengan Delia, jika bukan karena ia istirahat bersama seperti sekarang ini. "Semenjak habis sakit, kamu sedikit lebih ramah." Ia tertawa setelahnya.
Adi hanya mendengarkan ocehan temannya itu.
"Biasanya?" Delia bertanya.
"Kamu jutek, dan cuma mau ngomong sama Adi." Reksa takut-takut mengatakannya apa yang ada di pikirannya.
Delia melirik sekilas ke arah Adi yang sedang santai menyantap makanannya, ia lalu menoleh lagi ke arah Reksa. "Apa ada yang di rugikan jika aku tidak ramah dengan orang lain?"
"Em ... Ya tidak juga sih." Reksa tidak mempunyai jawaban.
"Ya sudah." Delia melanjutkan makannya lagi.
Adi diam-diam tersenyum, dan sifat dari sahabatnya ternyata tidak berubah. Mungkin hanya berubah jika di depan suaminya, dan keluarga barunya.
"De, kamu masih mau kerja?" tanya Adi.
Mereka sudah menyelesaikan makan, dan hanya menunggu bel sekolah masuk. Kantin pun tidak seramai tadi.
Delia terdiam, ia sendiri belum mengambil keputusan. Tapi pernah ada pembicaraan dengan suaminya jika Ariel menginginkan ia untuk tidak bekerja lagi.
"Kamu kerja De?" Reksa baru mengetahuinya dan ia terkejut.
"Nggak juga, Papa ngiranya kamu memang belum sembuh."
Pak Arsyad memang pernah menjenguknya saat beberapa hari ia pulang dari rumah sakit.
"Kamu kerja di bengkel papa nya Adi!" Reksa dengan rasa takjub. Ia mengetahui jika keluarga Adi mempunyai usaha bengkel.
"Kehidupan kamu udah nggak seperti dulu De, mungkin udah saatnya kamu menikmati menjadi pelajar yang sesungguhnya."
Delia tersenyum mendengar perkataan sahabatnya.
"Woy ... Aku tanya dari tadi kenapa nggak ada yang jawab?" Reksa dengan raut wajah kesalnya.
"Ya udah kita kembali saja ke kelas, bentar lagi masuk." Adi melihat jam di pergelangan tangannya.
"Kalian memang benar-benar !" Reksa menggeram melihat Adi dan Delia beranjak dari sana.
*
*
Sebelum istirahat benar-benar selesai, Delia melihat ponselnya. Entah kenapa ia seperti melupakan sesuatu.
Benar saja, puluhan pesan dan panggilan tidak terjawab terlihat di layar ponselnya.
Saat ia buka, rupanya itu semua dari suaminya, sekarang ia baru ingat jika ia lupa memberikan nomer rekeningnya yang di minta suaminya tadi pagi.
✉️ Maaf Mas, aku benar-benar lupa ☺️
✉️ xxxxxxx
Tidak lama ia mengirim pesan kepada suaminya, terlihat ada balasan dari Ariel.
✉️ Kamu membuatku gelisah sayang.
Delia tersenyum membaca pesan itu, kenapa saat ini suaminya itu terlihat lucu. Belum sempat ia membalasnya, sudah ada lagi pesan yang masuk.
✉️Aku sudah mentransfer nya, untuk uang saku satu bulan. Jika kurang kamu bilang saja oke, dan aku tidak bisa membalas lagi pesan lagi karena sedang rapat.
Delia langsung membuka aplikasi m-banking miliknya, betapa terkejutnya ia dengan mata membulat.
Jumlah uang yang di kirim suaminya sama sekali tidak ada di pikirannya.
Uang sejumlah dua puluh juta hanya untuk saku sekolahnya. Dan apa katanya tadi, jika kurang ia di mintanya lagi.
Ini bahkan cukup untuk sampai ia lulus nanti.
Memangnya ia sekolah akan memborong semua makanan di kantin?
Delia segera mengirimkan pesan ke suaminya, siapa tau suaminya itu salah memasukkan jumlah uangnya.
Namun hingga beberapa saat terkirim, tidak ada tanda-tanda centang pesannya itu berubah menjadi biru.
Sedangkan di perusahaan, semua mata tertuju pada Ariel yang tiba-tiba menghentikan meeting. Rupanya pria itu tengah sibuk dengan ponselnya, dan sesekali tersenyum tanpa sebab.
Setelah selesai berbalas pesan dengan istrinya, Ariel kembali menyimpan ponselnya.
Ia melihat semuanya tengah menantikan dirinya. "Lanjutkan." Tanpa rasa berdosa.
Hingga meeting kembali di lanjutkan dengan seseorang yang mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan.
Dan wajah Ariel yang tadi sempat santai kini kembali serius, ia memang tidak pernah main-main jika menyangkut pekerjaan.
...----------------...
...Aku juga mau kalau di kasih jatah uang jajan segitu 🤭...