Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Perasaan Adi



Saat jam istirahat tiba, tidak seperti biasanya. Delia yang biasanya di kelas kini berada di kantin, menikmati makan siang bersama Adi.


Seporsi bakso dan segelas es teh menjadi menu mereka siang ini.


Di sela-sela makan siangnya Delia sesekali melihat ke arah Adi, ia ingin sekali meminta pendapat tentang ajakan Ariel! Namun niatan itu seakan hanya dalam pikirannya saja.


Karena sahabatnya itu masih belum tau jika dirinya sudah menjalin kasih dengan Ariel.


"Kenapa?" Adi mengetahui gelagat aneh sahabatnya. "Aku tau, aku memang tampan."


Delia memutar bola matanya.


Adi tertawa melihat itu. "Serius, ada apa? Apa ada masalah?"


Delia mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Ck." Adi berdecak. "Kamu jadi aneh kalau seperti itu."


Delia mencebikkan mulutnya. "Aku cuma bingung Di!" Delia memulai percakapannya.


"Bingung kenapa?"


"Aku ada yang ngajak pergi, tapi nggak tau harus pergi atau nggak!"


"Kemana?"


"Ke acara tujuh bulanan."


Adi menautkan kedua alisnya karena merasa heran. "Siapa yang ajak?"


"Uhm... Mas Ariel." jawab Delia luruh namun masih bisa di dengar oleh Adi.


Adi menghentikan aktifitas makannya, ia menatap lekat wajah sahabatnya itu. Lihatlah ada rona merah saat Delia menyebutkan nama pria itu, padahal sebelum sebelumnya tidak.


Dan, Mas!


Sejak kapan panggilannya berubah, yang ia ketahui mereka berdua memanggil Ariel dengan sebutan Om.


"Kamu ada hubungan dengan Om itu?" tanya Adi kemudian.


Rona merah di wajah Delia semakin ketara mendengar itu.


"Jangan di jawab, aku udah tau jawabannya." Adi berujar. Ia sudah berteman lama dengan gadis itu, tentu saja sedikit banyaknya sudah memahami gadis itu.


Selama ini memang dia menganggap Delia sahabatnya, bahkan terkadang mereka seperti saudara tak sedarah. Tapi mengetahui gadis itu sudah mempunyai kekasih, kenapa ada sesuatu yang menyelinap di sudut hatinya. Entah ia tidak bisa menjelaskan apa itu.


"Ha... " Adi menghembuskan nafasnya kasar. Perutnya tiba-tiba terasa kenyang, sehingga ia menghentikan kegiatan makannya. "Kamu sama Om itu sama-sama suka kan? Bukan karna lain hal?"


Delia menganggukkan kepalanya perlahan.


"Aku nggak tau mau ngomong apa, tapi aku harap kamu bisa jaga diri. Ya... Meskipun selama ini kamu memang sudah bisa menjaga diri." Adi terkekeh. "Kalau kamu mau pergi, pergi saja. Karena jika Om itu benar-benar tulus, pasti akan melakukan apapun untuk menjagamu. Termasuk hatimu juga."


Entah kenapa ia bisa berbicara seperti itu, padahal hatinya sedang tidak sejalan.


"Jadi menurutmu tidak apa-apa jika aku pergi?" Delia memastikan.


"Pergilah, aku rasa semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatirkan apa yang belum terjadi."


Hingga kemudian ada senyuman di wajah cantik Delia, rasa kenyangnya tiba-tiba hilang. Namun yang di rasakan oleh Delia berbeda yang di rasakan oleh Adi.


Delia segera mengambil ponselnya, sepertinya ia akan mengirim pesan kepada Ariel.


"Terima kasih." kata Delia dengan raut wajah bahagia.


"Hm... "


*


*


Di saat meeting berlangsung, ponsel Ariel berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Ternyata dari nomer kekasihnya.


💌 Nanti aku jadi ikut.


Sontak saja itu membuatnya senang, ia kira Delia tidak akan ikut dengannya.


Ia sendiri baru bisa menghadiri undangan Reza sore nanti karena memang banyak pekerjaan.


"Pak!" Arga menginterupsi.


Namun Ariel mengangkat tangannya, pertanda ia meminta waktu sebentar.


Ia segera melakukan panggilan telepon kepada Juna.


"Ya Pak." sahut Juna dari sebrang sana begitu sambungan terhubung.


"Baik Pak."


Kemudian panggilan berakhir.


"Arga teruskan meeting nya." Yang kemudian Ariel pergi dari ruangan itu.


Arga menghembuskan nafasnya perlahan melihat kelakuan atasannya itu, untung hanya meeting biasa. Coba saja kalau dengan klien.


*


*


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Delia sudah bersiap untuk pulang.


"Jadi ikut?" Adi yang juga sudah selesai memberikan peralatan sekolahnya.


"Hm... " Delia menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu hati-hati." pesan Adi.


"Oke." Kemudian Delia pergi lebih dulu.


Adi melihat punggung sahabatnya itu yang perlahan menghilang di balik pintu, sepertinya Delia memang benar-benar bahagia saat ini.


"Adi--" Lira baru saja menghampiri pria itu, namun Adi mengabaikannya.


"Aku mau pulang." Adi lalu pergi meninggalkan Lira yang sedang kesal.


"Sabar... Masih banyak seribu cara untuk mendekati Adi." Jenni menyemangati.


"Tapi caranya selalu gagal semua." Lira frustasi.


Dan Jenni hanya bisa tertawa.


Ketika sampai di depan gerbang, Delia sudah melihat Juna berdiri di samping mobilnya.


"Silahkan masuk, Nona." Juna membukakan pintu untuk Delia.


Delia berhenti tidak langsung masuk kedalam mobil. "Apa tidak bisa jika tidak memanggilku Nona? Itu terdengar aneh."


"Tidak bisa Nona, saya tidak berani." jawab Juna.


"Tidak berani pada siapa?"


"Tidak berani pada Pak Ariel."


Delia memutar bola matanya. "Padahal dia sendiri tidak pandai berkelahi, tapi sangat di takuti." batin Delia.


Hingga kemudian ia masuk kedalam mobil, dan di susul Juna yang duduk di kursi pengemudi.


Mobil warna merah menyala itu lalu perlahan membawanya pergi dari sana.


Delia menyempatkan diri untuk menghubungi Arsyad, memberitahunya untuk tidak masuk hari ini. Dan akan menggantinya dengan hari liburnya.


Untung saja atasannya itu tidak pernah marah jika ia ijin tidak masuk bekerja.


"Saya di tugaskan untuk membawa Nona ke butik." Juna melihat Delia yang bingung kerena melewati jalan yang tidak biasanya.


"Untuk apa?" tanya Delia tidak mengerti. Karena kekasihnya itu tidak memberi kabar sebelumnya.


"Saya tidak tau, saya hanya di suruh mengantar Nona ke sana." jawab Juna.


Dan tidak berapa lama, mobil mereka berhenti di salah satu butik yang cukup mewah. Terlihat dari bangunannya berdiri kokoh di pusat kota.


"Silahkan." Juna membuka pintu untuk Delia. "Pak Ariel sudah berada di dalam." beritahu nya.


Delia ragu ragu mulai masuk ke dalam butik, ia sedikit merasa tidak percaya diri. Dirinya sama sekali belum pernah pergi ke tempat seperti ini sebelumnya.


Biasanya ia hanya membeli baju di online shop, atau di mall yang terdapat diskon besar. Maklum saja, ia merasa sayang jika uangnya di gunakan untuk membeli baju mahal.


"Selamat datang Nona." Seorang pegawai menyambutnya ramah. "Ada yang bisa saya bantu?"


Ternyata bayangan Delia salah, ia pikir orang biasa sepertinya tidak akan mendapatkan pelayanan yang ramah.


"Uhm... Saya Delia, saya di suruh Mas-- Eh.. Pak Ariel datang kesini." Delia menjelaskan.


Pegawai itu tersenyum. "Oh, Nona Delia. Silahkan ikuti saya." Pegawai itu mengantarkan Delia ke salah satu ruangan VIP di dalam butik itu. "Silahkan." Ia membuka pintu ruangan itu untuk Delia.


Delia masuk ke dalam, dan di sana rupanya Ariel sedang duduk di sofa sembari melihat majalah yang menampilkan beberapa produk baju perempuan.


"Hei... Kamu sudah datang!" Ariel beranjak dari duduknya ketika menyadari kedatangan Delia. "Ke marilah." Ia menggandeng tangan gadis itu dan membawanya duduk di sofa bersamanya.


...----------------...


...Aku juga mau kalau di belanjain baju 🤭, biar belinya nggak nunggu waktu lebaran 😂...