
Suasana di dalam ruangan rawat Delia cukup canggung, itu semua di sebabkan mereka yang tidak saling mengenal.
Jika Delia yang biasanya memang tidak begitu akrab dengan teman-temannya, di tambah dua orang asing . Yaitu Ariel dan Rima.
"Kalian jika ingin menjenguk Delia tidak usah repot-repot membawa buah tangan." Rima mencoba memecah suasana.
"Kalian sudah mau datang menjenguk saja, Tante sudah senang." Rima menaruh buah tangan dari muda mudi yang berupa parsel dengan berisi beberapa macam buah.
Sedangkan Ariel hanya duduk di sofa, ia tidak berniat untuk bergabung dengan mereka. Dari wajahnya saja terlihat ia tidak menyukai kedatangan teman-teman istrinya, menurutnya itu sangat mengganggu.
Sebenarnya ada yang lebih mengesalkan, karena ia tidak bisa berduaan dengan istrinya sedari tadi.
"Tidak apa-apa Tante." Seorang di antara teman Delia menjawab, ia adalah ketua kelas.
Delia sendiri juga tidak tau harus berbicara apa, hingga membiarkan ibu mertuanya yang terus berbicara.
"Uhm ... Tante ini--" Lira yang tidak tahan untuk tidak bertanya, rasa penasarannya sudah sampai ke ubun-ubun.
"Oh ... Iya perkenalkan, saya ibu mertuanya Delia." kata Rima tanpa sadar.
"Ha ..." Membuat semua orang di sana tercengang.
Adi memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba kepalanya merasa pening.
"Maksud Tante, Tante ini calon ibu mertuanya Delia." Rima tersadar oleh ucapannya. "Karena Delia sudah bertunangan dengan anak Tante." Rima mengarahkan pandangannya pada Ariel.
"Oh ..." Meskipun begitu berita itu tetap saja mengejutkan semuanya, siapa sangka Delia yang tidak pernah dekat dengan siswa lain selain Adi tau-tau sudah bertunangan.
Mereka pikir Delia akan melanjutkan kuliah setelah lulus SMA.
Delia tersenyum mendengarnya, pasti setelah ini akan ada banyak gosip tentangnya di sekolah.
*
*
"Tidak apa-apa Pak." Delia yang malam itu sedang menerima telepon dari Arsyad, bos nya itu mengatakan jika belum bisa menjenguknya.
Hingga kemudian panggilan berakhir.
"Mas tangannya kondisikan." Delia kesal melihat kelakuan suaminya yang sedari tadi mengganggunya. Ia bahkan harus menyingkirkan tangan Ariel berkali-kali yang ingin menelusup di balik bajunya.
"Kamu sedari tadi mengabaikan ku." Ariel lalu memeluk Delia.
Kini mereka berdua sedang berbaring di ranjang, setelah pemeriksaan terakhir malam itu mereka bersiap untuk tidur.
"Mengabaikan apanya! Aku hanya sedang menerima telepon."
"Tapi sangat lama."
Delia memutar bola matanya malas.
Lihatlah suaminya itu seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Apa kamu akan bekerja lagi?" tanya Ariel.
"Iya, setelah sembuh." Delia sepertinya lupa jika ia menikah dengan seorang pimpinan perusahaan yang tentu saja sanggup memenuhi kebutuhannya.
"Tanganmu sudah cidera, tidak boleh beraktifitas yang berat-berat. Kakimu juga baru saja membaik." Ariel mengingat apa yang di katan Dokter tadi setelah menyampaikan keinginan istrinya untuk pulang, dan Dokter segera melakukan pemeriksaan secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan untuk memulangkannya atau tidak.
Dan setelah hasil pemeriksaan keluar, semuanya menunjukkan hasil perkembangan yang cukup pesat. Hingga Delia di perbolehkan pulang besok pagi, bahkan penyangga kakinya juga sudah di lepas hari ini.
Mengingat cidera yang terjadi pada lututnya, tidak begitu parah. Tidak seperti tangannya yang masih harus mengenakan arm Sling.
Delia terdiam, apa yang di katakan suaminya memang benar. "Tapi kalau aku tidak bekerja, aku dapat penghasilan dari mana?" lirihnya.
"Hei..." Ariel kemudian duduk. "Apa kamu lupa menikah dengan siapa?" Ia gemas sekali dengan istrinya, apakah istrinya itu berfikir ia tidak bisa menghidupinya.
Delia melihat wajah suaminya yang tampak sedikit kesal.
"Aku Ariel Manuela bisa menghidupi mu bahkan kalau kita mempunyai anak dua belas aku masih mampu." Ariel menyombongkan dirinya.
Delia menghembuskan nafasnya pelan, melihat kesombongan suaminya rasanya ia baru tersadar menikah dengan siapa. Dan apa katanya tadi mempunyai anak dua belas, apa dia mau membuat klub sepak bola.
Mata Delia membulat melihat suaminya melepas kaos. "M-mau apa?"
"Tentu saja aku akan membuktikannya." sahut Ariel. "Dan di mulai untuk memperbanyak generasi kita."
"Nggak, aku mau tidur." Delia segera memejamkan mata. "Dan malam ini aku nggak mau di ganggu."
Ariel mencebikkan bibirnya, sepertinya istrinya itu benar-benar serius dengan ucapannya. Ia menunggu sesaat, dan benar saja tidak lama terdengar dengkuran halus.
"Baru juga pengantin baru, sekarang sudah libur aja." Ariel melempar kaosnya ke sofa, ia lalu berbaring di samping Delia. Hingga kemudian ia menyusul istrinya yang mengarungi mimpi.
*
*
Pagi harinya, setelah pemeriksaan akhir sebelum pulang dan pengurusan administrasi kini Delia sudah bersiap. Dan ia harus menggunakan kursi roda untuk sementara.
"Mami nggak ke sini?" Delia mendongak, menatap suaminya yang sedang mendorong kursi roda nya.
"Mungkin Mami sedang ada keperluan." jawab Ariel.
Delia hanya menganggukkan kepalanya.
Beberapa hari selalu di temani mertuanya, ia serasa memiliki ibu lagi.
Di perjalanan pulang Delia mengarahkan pandangannya pada luar mobil, rasanya ia sudah lama tidak melihat pemandangan ini.
Dan melihat beberapa pelajar yang berangkat sekolah, membuatnya rindu akan suasana sekolah.
"Kenapa?" Ariel menautkan tangan mereka.
Delia lalu menatap suaminya dan tersenyum. "Hanya rindu sekolah, mengerjakan tugas, dan bertemu teman-teman."
"Jika sudah benar-benar sembuh, kamu bisa sekolah lagi." kata Ariel. Tentu saja mendengar itu senyum Delia semakin merekah.
*
*
"Mas, kita mau kemana?" Delia melihat jalan yang mereka lewati bukan jalan ke arah rumahnya.
"Tentu saja pulang."
"Tapi bukan ini jalannya."
"Kita pulang ke rumah Mami, kamu lupa kita sudah menikah?"
Astaga, Delia benar-benar lupa. Mungkin karena pernikahan yang secara mendadak membuatnya belum terbiasa.
Hingga tidak lama, mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di kediaman Rima. Gerbang menjulang tinggi itu perlahan terbuka ketika mengetahui mobil dari penghuni rumah datang.
Suasana rumah pagi itu tampak sepi, sepertinya penghuni rumah yang lain memang sedang ada keperluan hingga tidak ada yang terlihat kecuali beberapa pekerja.
Mobil berhenti tepat di depan pintu yang masih tertutup rapat.
Ariel terlebih dulu turun, ia lalu membantu Delia keluar dari mobil kemudian membantunya duduk di kursi roda yang di siapkan oleh Juna.
Untuk kali kedua Delia kembali menginjakkan kakinya di rumah ini, dan sekarang status nya sebagai seorang menantu.
Perlahan pintu mulai terbuka, hingga samar-samar terlihat beberapa orang berdiri di balik pintu.
"Selamat datang di rumah." Semua orang berteriak begitu pintu benar-benar terbuka.
Yang ternyata semua orang tengah berkumpul, termasuk para sahabat suaminya.
Delia tidak bereaksi apa-apa, ia hanya bisa melihat raut wajah orang-orang yang begitu bahagia menyambut kepulangannya.
Hingga di detik berikutnya, airmata meluncur begitu saja dari matanya. Ia tidak dapat membendung rasa bahagia yang membuncah dalam hatinya.
...----------------...
...Sehat-sehat ya dedek Delia 🥰 ...