Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Siuman



Perlahan Ariel membuka matanya, ia mengedarkan ke seluruh ruangan. Sepertinya ia mengenali tempatnya sekarang ia berada, tapi entah bagaimana caranya ia bisa sampai di sana.


Ia melihat dirinya yang sudah menggunakan baju pasien, hingga sesaat kemudian ia teringat dengan keadaan kekasihnya yang masih menjalani operasi.


Ariel seketika bangun dari tidurnya.


"Istirahatlah dulu." Bastian yang baru saja masuk.


"Delia!" Ariel bertanya.


"Operasi nya berjalan lancar, dan dia sudah di pindahkan." Bastian duduk di samping ranjang putranya. "Kamu juga perlu istirahat, Mami sekarang sedang menjaga Delia."


Ia ingat putranya yang pingsan saat menunggu Delia operasi.


"Tapi aku tidak apa-apa Pih." Ariel yang awalnya keras kepala memang sangat sulit di cegah. "Ini hanya goresan." Ia lalu turun dari ranjang dan berjalan keluar.


Bastian menghembuskan nafasnya kasar. "Kamu tau di mana tempat Delia di rawat?" Yang membuat langkah Ariel berhenti.


*


*


Mata Delia berkedut, menandakan gadis itu yang mulai sadar setelah operasi.


Delia merasakan matanya begitu berat saat ia mencoba untuk membukanya, hingga perlahan ia mulai merasa silau akibat cahaya.


Samar-samar Delia mendengar suara seorang perempuan di dekatnya.


"Kamu sudah siuman Nak?" Rima menyadari pergerakan gadis itu.


Hingga kemudian saat Delia sudah menyesuaikan pandangannya, ia bisa melihat Rima berada di sampingnya.


Raut wajah perempuan itu tampak khawatir bercampur legah, dan sedikit senyuman terbit di bibirnya.


"Sebentar, biar Tante panggil Dokter dulu." Lalu ia menekan tombol yang berada tepat di sisi ranjang Delia berbaring.


Hingga tak lama Dokter juga perawat datang, memeriksa untuk memastikan keadaan Delia baik-baik saja pasca operasi.


"Keadaan Nona Delia sangat baik Bu pasca operasi, kalau keadaannya terus membaik seperti ini pasti akan segera pulih." Dokter menjelaskan hasil pemeriksaannya.


"Terima kasi Dokter." Rima merasa senang mendengar nya.


Kemudian Dokter dan perawat pergi dari sana.


"Kamu dengar Nak, semuanya akan baik-baik saja." Rima berujar.


"Maaf." lirih Delia, matanya memanas. "Sudah merepotkan."


Rima menggelengkan kepalanya, ia tidak suka Delia berbicara seperti itu. "Kamu tidak merepotkan, ini semua terjadi bukan karena keinginan kamu. Jadi jangan bicara seperti itu."


Mendengar ucapan Rima justru membuat air mata Delia mengalir. Bibirnya bergetar menahan tangis.


"Oh sayang!" Rima ingin sekali memeluk gadis itu, tapi ia takut mengenai tangannya yang terluka. Hingga ia hanya bisa mengenggam tangan kanan Delia. "Jangan menangis, nanti Ariel bisa marah."


"Mas Ariel!" Delia tersadar ia belum melihat kekasihnya itu sama sekali.


"Kamu tau, Ariel begitu mengkhawatirkanmu. Ia begitu menyesal karena tidak bisa melindungimu." Rima memberitahu.


Di mana ia mengingat wajah penyeselan putranya yang teramat sangat.


*


*


Ternyata matahari sudah terbit dengan terangnya, karena jam sudah menunjukkan pukul tuju pagi.


Ariel sendiri juga sudah berganti pakaian, ia tidak suka memakai pakaian rumah sakit. Apalagi dirinya yang sudah merasa baik-baik saja.


Setelah membersihkan diri, ia di antar Bastian menuju kamar Delia berada.


Saat baru saja masuk, Rima memberi mereka isyarat untuk diam.


Rupanya Delia terlelap kembali.


"Tadi Delia sudah sadar, tapi tidak lama tertidur kembali." Rima memberitahu Ariel yang duduk di tempatnya tadi.


"Mami sebaiknya pulang dulu, istirahat." Bastian mengajak Rima pulang. Selain agar istrinya itu beristirahat, juga agar putranya mempunyai waktu berdua dengan Delia. "Sekarang ada Ariel yang menjaganya."


Rima menatap sekilas ke arah dua sejoli itu, dan memang sepertinya mereka membutuhkan waktu. Meskipun ia khawatir meninggalkan Delia, yang sudah ia anggap putri sendiri.


Setelah kepergian Rima dan Bastian, ruang perawatan Delia terasa hening. Di sana hanya ada Ariel yang terus menatap Delia yang sedang tertidur.


Melihat wajah ayu kekasihnya yang terdapat beberapa luka goresan, dan lebam yang masih ketara.


Bagaimana ia tidak di hantui oleh penyesalan yang begitu besar, karena gadis itu rela mendapatkan kegilaan Joana hanya untuk dirinya.


Joana!


Iya dia baru teringat tentang wanita gila itu, tangannya mengepal erat ia belum memberi pelajaran. Namun sekarang bukan waktu yang tepat, biarkan saja sementara Arga yang mengurusnya.


"Haaa... " Ariel menghembuskan nafasnya kasar.


Ia mengenggam tangan kanan Delia dengan hati-hati, karena tidak mau gadis itu terbangun. "Sayang.... Aku mohon jangan melakukan hal seperti itu lagi, apa kamu tidak tau bagaimana takutnya aku menyaksikan itu semua."


Di mana masih teringat jelas hantaman kursi itu mengenai tubuh Delia, dan kejanian naas yang hampir menghancurkan masa depannya.


Mata Ariel rasanya memanas, ia takkan bisa memaafkan dirinya sendiri jika semua itu terjadi.


*


*


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan Ariel masih tetap di posisi sebelumnya.


Rasanya tidak ada kata lelah untuknya, ia hanya ingin saat kekasihnya terbangun bisa langsung melihatnya.


Benar saja, tidak lama Delia mulai membuka matanya. Dan seseorang yang ia lihat adalah Ariel. "Mas... "


"Apa aku mengganggu tidurmu?" Ariel bertannya, karena sedari tadi ia terus menggenggam tangan Delia tanpa mau melepaskannya.


Delia menggelengkan kepala dan tersenyum kecil. "Aku sepertinya sudah sangat lama tertidur."


"Tidak apa, tidur baik untukmu."


Delia mengamati wajah kekasihnya, wajah tampannya juga terhiasi beberapa lebam karena pukulan. "Mas tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Seharusnya aku yang tanya begitu."


Delia tersenyum. "Aku juga tidak apa-apa."


"Apanya yang baik-baik saja, lihatlah kakimu bahkan harus di beri penyanggah. Dan tanganmu yang nanti harus mengenakan arm sling." Ariel tidak habis pikir kenapa kekasihnya itu masih bilang baik-baik saja.


"Sepertinya nanti aku akan banyak menyusahkan orang." Delia berujar.


"Siapa yang bilang, semua orang tidak merasa terbebani. Bahkan aku juga."


"Tapi--"


"Stop, jangan bicara lagi." Ariel mengakhiri perdebatan mereka. "Orang sakit di larang banyak bicara."


Delia tersenyum sembari terus menatap wajah tampan Ariel.


"Apa aku sangan tampan?" Ariel menggodanya.


"Iya, Mas sangat tampan. Hingga membuatku jatuh hati." kata Delia.


Ariel tidak menyangka dengan jawaban Delia, awalnya ia yang ingin menggoda namun kini ia yang merasakan wajahnya memanas. Seperti ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di hatinya, bahkan hidungnya terlihat kembang kempis.


"Sepertinya obat rumah sakit bisa membuat kamu merayu." Ariel berusaha menahan senyum yang hampir terbit di bibirnya.


"Benarkah!" Delia tersenyum, ia tau kekasihnya sedang tersipu. "Apa aku sebelumnya belum pernah mengatakan itu?"


"Sepertinya belum pernah." Ariel mengingat.


"Berarti aku juga belum pernah mengatakan, kalau aku juga sangat menyayangi Mas!" Delia melipat bibirnya rapat-rapat setelah mengatakan itu. Rasanya ia ingin menutupi wajahnya dengan selimut.


Detak jantung Ariel rasanya berdetak dengan cepat dari sebelumnya, ia ingin sekali berteriak untuk meluapkan apa yang terjadi dalam dirinya sendiri.


Pipinya bahkan semakin ketara bersemu merah muda, ia menggigit bibirnya dengan kuat. Kenapa di saat kekasihnya sedang sakit seperti ini malah bertingkah yang membuatnya gemas. "Aku juga sangat mencintaimu."


...----------------...


...Ada yang senyum senyum sendiri nggak? 🤭...


...Dedek Delia bikin salting aja 😄🥰...


...Jangan lupa dukungannya guys, waktunya vote nih 🥰...