Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Ariel Yang Cerewet



"Tidak!" Lagi-lagi Ariel tidak menyukai model gaun yang di pakai Delia.


Sudah beberapa kali Delia mencoba gaun, namun Ariel tidak menyukainya. Berbagai alasan pria itu lontarkan, mulai dari yang terlalu seksi, terlalu terbuka, hingga warna gaun pun tak luput dari komentarnya.


Delia menghembuskan nafasnya kasar, kalau saja tidak ada orang di ruangan mereka berada ingin sekali ia mencakar wajah Ariel. Ia sudah lelah sedari tadi bergonta-ganti gaun.


"Terus Mas maunya yang bagaimana?" Delia sudah mulai merasa kesal.


"Aku maunya yang nggak terlalu pendek, lengan panjang, nggak terlalu ketat, dan tidak warna mencolok." Ariel berujar.


Delia memutar bola matanya.


Delia kemudian masuk kembali ke dalam ruang ganti di bantu oleh satu pegawai yang sedari tadi dengan sabar membantunya.


Delia memilih gaun yang berjejer rapi, ia mencocokkan apa yang di inginkan kekasihnya.


Gaun bewarna hijau sage, lengan sepanjang siku dan panjang gaun hingga di bawah lutut menjadi pilihannya.


Delia keluar dari ruang ganti dengan gaun pilihannya.


Ariel melihat Delia dari atas hingga ke bawah, gadis itu yang sebelumnya memang sudah cantik menjadi lebih bersinar dengan gaun yang di pakai.


Padahal Delia masih belum berdandan, namun sepertinya Ariel memang sudah terpikat dengan Delia tanpa polesan make-up.


"Bagaiman?" Delia melihat Ariel yang hanya menatapnya tanpa berkedip.


"Oke." Hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Ariel.


Hingga kemudian, di sesi berikutnya Delia memilih sepatu yang akan di gunakan.


"Aku tidak biasa memakai sepatu yang seperti itu." Delia melihat deretan sepatu mahal yang mempunyai heels tinggi.


Ariel lalu berbicara kepada pegawai butik, sebelum pegawai itu pergi meninggalkan mereka.


Hingga beberapa saat kemudian, pegawai butik kembali dengan sepatu flat bewarna putih bercampur hijau. Sama seperti warna gaun yang di kenakan Delia.


Ariel lalu mengambil sepatu itu dan membawa ke arah Delia. "Duduklah."


Ariel menggiring Delia ke arah sofa.


"Aku bisa sendiri." Saat Delia melihat Ariel berlutut di depannya.


"Tidak apa, biar aku bantu." Ariel tetap memakaikan sepatu itu, hingga terpasang di kakai Delia.


Dan benar saja, itu menjadi kesatuan yang sangat pas untuk Delia.


Delia menatap Ariel yang masih berlutut di depannya, entah kenapa di saat keluarganya menganggapnya seperti sampah namun bertemu pria di hadapannya ia di perlakukan seperti putri dalam dongeng.


Semuanya seperti mimpi untuk nya, andai saja jika ini benar-benar mimpi ia rasanya tidak ingin bangun.


"Hei... Kenapa?" Ariel menatap Delia yang sedang menatapnya. "Apa ada yang tidak kamu sukai?"


Dengan cepat Delia menggelengkan kepalanya. "Tidak, semuanya aku suka."


Membuat Ariel tersenyum, setidaknya apa yang aku lakukan bisa membuat kekasihnya bahagia meskipun itu semua tidak seberapa.


"Kalau begitu, sekarang ikutlah dengan mereka. Aku juga akan berganti baju." Ariel pergi meninggalkan Delia. Yang rupanya pegawai itu membawa Delia untuk di rias.


*


*


Beberapa saat kemudian, Ariel sudah selesai dengan urusannya. Pria itu ternyata mengenakan setelan jas dengan warna senada dengan Delia.


Ariel juga terlihat tampan dengan pakaiannya, kharisma pada dirinya juga tampak bersinar. Ia menghampiri di mana kekasihnya berada.


"Sudah se--" Dari pantulan kaca Ariel bisa melihat bagaimana penampilan Delia yang berbeda dari biasanya. Wajah cantiknya sudah terpoles make-up tipis, yang semakin membuatnya tak berkedip.


Rambut yang biasa tergelung, kini tergerai dengan indah.


"Apa ada yang kurang, Nona?" tanya pegawai yang merias Delia. Namun gadis itu menggelengkan kepalanya.


Delia sudah merasa puas dengan hasil kerja pegawai itu, ia sendiri melihat pantulan dirinya merasa takjub.


"Kalau begitu saya permisi." Pegawai lalu meninggalkan mereka berdua.


Delia menoleh ke arah Ariel. "Apa aku tidak terlihat aneh?"


Pandangan Ariel benar-benar tidak bisa terahlikan oleh apapun, perlahan ia berjalan mendekat. "Kamu bahkan sangat cantik."


Pipi Delia yang awalnya bewarna merah muda karena make-up, sekarang bertambah merah. Siapa yang tidak tersipu malu jika di puji oleh sang kekasih.


Alis Delia saling bertautan karena merasa bingung.


"Karena aku tidak rela jika semua orang akan melihatmu, aku ingin ini semua hanya untukku seorang." Ariel berujar, pandangannya pun terlihat jika ia menatap Delia penuh damba.


Delia yang tadinya bingung lagi-lagi dirinya di buat melayang oleh Ariel, kenapa pria itu pandai sekali membuatnya bahagia hanya dengan perkataannya.


Membuat senyumam terbit di wajah Delia.


Ariel semakin mendekat, hingga tangannya kini berada di pinggang Delia. Bahkan tubuh mereka sudah tidak berjarak.


Hal itu tentu saja seketika membuat Delia waspada. "Mas mau ngapain?" Delia menahan dada Ariel yang semakin medekat. "Jangan macam--"


Cup.


Sebuah kecupan singkat sudah mendarat di bibir pink Delia, membuat gadis itu terkejut.


"Aku tidak macam-macam, hanya satu macam." Ariel dengan tampang tanpa dosanya. "Ayo kita pergi sekarang."


*


*


Di dalam mobil, Delia memasang wajah sebalnya. Itu semua karena tindakan Ariel tadi yang berani menciumnya.


"Jangan cemberut, nanti kamu tambah cantik." Ariel menggapai tangan Delia lalu sedikit meremasnya.


Mereka di antar oleh Juna menuju tempat Reza dan Aluna menggelar acara.


"Makannya Mas jangan--" Hampir saja Delia mengatakan tentang kelakuan Ariel, tapi ia sadar di dalam mobil bukan hanya mereka berdua.


"Apa, kamu masih kurang! Baiklah nanti setelah acara selesai kamu boleh mencium ku lagi." Ariel menahan senyumnya.


Mata Delia membulat, memang sejak kapan ia menciumnya.


Juna yang menjadi supir, sebisa mungkin menulikan pendengarannya dari pembicaraan absurd tuannya.


"Mas!" Delia hampir saja menerjang Ariel, namun ia urungkan saat ponsel kekasihnya itu berdering.


Ariel melihat nama maminya mencoba menghubunginya.


"Iya Mi!" Begitu sambungan telepon terhubung.


"Kamu jadi pergi?" tanya Rima dari sebrang sana.


"Iya, dan bersama Delia." Ia melirik ke arah gadis itu yang menatapnya sebal. Namun ia tidak peduli.


"Oh... benarkah!" Rima terlihat senang.


Hingga kemudian Rima menggantinua dengan panggilan video.


"Di mana Delia?" Wajah Rima memenuhi layar ponsel Ariel.


Ariel langsung memberikan ponselnya pada Delia tanpa persetujuan gadis itu.


Hingga mau tidak mau Delia menerimanya.


"Wah... Kamu semakin cantik hari ini sayang." Begitu Rima melihat Delia.


"Terima kasih Tante." ujarnya tersenyum. Tapi wajah kesalnya masih ketara.


"Ada apa! Apa terjadi sesuatu?" Rima menyadari.


"Mas Ariel menyebalkan." kata Delia tanpa basa basi.


Ariel yang berada di sampingnya, membulatkan matanya. Ia kira Delia tidak akan mengadu.


Rima mendengar panggilan Delia sudah berubah pada putranya sedikit tersenyum, itu merupakan awal yang baik bagi mereka berdua. "Jika putra Mami macam-macam, kamu boleh memukulnya."


"Benarkah." Raut wajah Delia berubah senang.


Ariel mendengus mendengarnya. "Kenapa mereka cocok sekali!" gumamnya.


...----------------...


...Ayo siapa yang mo ikut 😁...


...Jangan lupa dukungannya guys, lope lope sekebon buat kalian 🥰...