Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Berkumpul Dengan Sahabat



Mobil Ariel mulai memasuki pekarangan rumah Aluna, dan dari halamannya pun sudah terhias indah di sana.


Beberapa tamu terlihat berlalu lalang, sepertinya mereka akan pulang.


Karena memang sebenarnya acaranya sudah selesai, begitu kabar yang di terima oleh Ariel dari Nathan.


Sedangkan Delia, ia merasakan kegugupan yang cukup ketara. Pikiran-pikiran buruk terus saja melintas di kepalanya.


"Tenanglah, di sana akan baik-baik saja." Ariel mengerti kegelisahan kekasihnya.


Hingga keduanya mulai berjalan memasuki rumah Aluna, di dalam rumah masih terdapat beberapa orang. Mungkin beberapa tamu yang baru sempat datang seperti dirinya, dan sanak saudara yang masih menetap.


Meili dan lainnya berkumpul di satu meja, dan ia melihat kedatangan Ariel bersama Delia. "Kak Ariel beneran bawa pacarnya." Ia tersenyum. Pasti akan sangat menyenangkan jika nanti ia menggodanya.


Karena ucapan Meili, yang lainnya juga menoleh ke arah Ariel.


Termasuk Alma, gadis kecil itu langsung turun dari kursinya dan berlari ke arah Ariel. "Om Ariel.... "


Ariel yang mengetahui itu memutar bola matanya, gadis kecil itu rupanya juga ikut.


Melihat Alma yang merentangkan tangannya, Ariel tau seperti biasanya gadis itu akan meminta gendong.


Namun setelah jarak sudah dekat, mata Alma teralihkan oleh keberadaan Delia. Hingga ia kemudian lebih memilih mendekat pada Delia. "Tante... "


Delia tentu saja senang melihat adanya Alma, setidaknya di sana ia tidak merasa menjadi orang asing. Karena ia dan Alma sudah saling mengenal.


Ariel yang melihatnya mendengus.


"Hei sayang!" Delia langsung menggendong gadis kecil itu. "Kamu juga ada di sini?"


"Iya, sama Mama." Alma menunjuk keberadaan Meili.


Delia melihat arah pandang Alma, dan Delia juga mengenali Meili.


"Ayo kita ke sana, aku akan memperkenalkan pada teman-temanku." Ariel merangkul bahu Delia.


"Hai... Delia kita bertemu lagi." Meili yang pertama kali menyambut. Di ikuti oleh yang lainnya.


Semuanya menyambut Delia, termasuk Jessy dan Nathan, Reza dan Aluna.


Delia hanya bisa tersenyum mendapat sambutan hangat itu, lalu ia duduk untuk bergabung.


"Benar kan kata ku, kak Ariel pinter banget cari pacarnya!" Meili mulai menggodanya.


Mendengar itu, pipi Delia seketika bersemu merah.


"Delia kamu mau jadi pacarnya nggak karena di ancam kan?" Jessy yang rupanya ikut-ikutan. Membuat yang lainnya tertawa.


"Enak saja!" Ariel tidak terima. "Oh ya, acaranya benar-benar sudah selesai?"


"Nggak lihat kita sudah berganti pakaian!" sahut Reza. Dan terlihat ia dan istrinya memang sudah mengenakan pakaian biasa. Setelah tadi ia memakai pakaian khusus untuk acara. "Lagian kamu sama Raka datangnya belakangan."


"Raka juga belum datang?" Ariel juga baru menyadari.


"Papa nya Alma nanti nyusul, masih di rumah sakit." Meili menjawab.


"Ma, pacar itu apa?" Alma yang duduk di pangkuan Delia buka suara setelah tadi hanya menyimak.


Meili seketika terdiam, ia lupa jika putrinya memiliki rasa keingintahuan yang begitu besar. "Uhm... Pacar itu status seseorang yang sebentar lagi akan menikah." Ia menjawab asal.


"Jadi Tante Delia dan Om Ariel akan menikah?" Alma melihat Delia dan Ariel bergantian.


"Iya." jawab Meili. Tapi perkataannya membuat Delia salah tingkah.


"Kalau sudah menikah akan mempunyai adik bayi?" Alma sepertinya tidak akan berhenti bertanya.


"Uhm... Aku haus." Delia berkata tiba-tiba, lalu ia menoleh pada Alma. "Alma mau ikut ambil minum?"


Gadis kecil itu mengangguk. "Tadi di sana juga ada ice krim." Ia memberi tau.


"Wah... Benarkah! Ayo kita ambil." Delia lalu menurunkan Alma dari pangkuannya. "Permisi, aku mau ambil minum." Ia berpamitan kepada yang lainnya. Kemudian ia pergi dari sana dengan menggandeng tangan Alma.


"Nggak nyangka playboy dapat yang seperti itu." Jessy menyeletuk. Ia masih sama seperti yang dulu, berbicara apa adanya.


"Iya, kadang aku juga kasian." Meili menimpali.


"Hei... Kenapa kalian bicara seperti itu, aku sudah tidak seperti dulu. Aku sudah berubah." Ariel membela diri.


"Jadi power rangers." sahut Meili dan Jessy bersamaan. Hingga kemudian membuat yang lainnya tertawa.


Ariel hanya bisa berdecak kesal melihat itu.


Sedangkan Delia tidak benar-benar mengambil minum, ia hanya mengantar Alma mengambil ice krim.


"Alma sudah makan?" tanya Delia.


"Sudah tadi sama Mama." jawab gadis kecil itu.


Delia tersenyum. "Ya sudah kalau begitu."


*


*


"Makan lah." Ariel menaruh piring di depan Delia yang sudah terisi dengan nasi dan beberapa jenis lauk. "Tadi pulang sekolah belum makan kan!"


Melihat sikap Ariel yang seperti itu semua nya saling pandang, mereka tidak menyangka jika Ariel begitu perhatian terhadap Delia.


Dan mereka juga terkejut mengetahui jika Delia masih berstatus sekolah.


Beberapa saat bersama sahabat Ariel, Delia sudah mulai merasa nyaman. Mereka cukup menyenangkan. "Mas nggak makan juga?"


"Tadi sebelum ke sini aku sudah makan." Ariel lalu mengambil alih Alma dari pangkuan Delia. "Kenapa papa mu masih belum datang juga?" Ia menatap Alma.


"Papa lagi periksa orang sakit." Alma menjawab. Mata bulatnya kini sedikit sayu, mungkin rasa ngantuk mulai mendera.


Tidak lama setelah itu, ada seorang gadis yang datang menghampiri meja mereka. "Kak Aluna, maaf baru datang." Yang rupanya sepupunya Aluna.


"Tidak apa-apa." sahut Aluna. "Makanlah dulu."


"Nanti saja, aku masih belum lapar." Mata sepupu Aluna kemudian menatap ke arah Ariel, dulu mereka sempat berkenalan waktu di pernikahan Reza dan Aluna.


Dan ia merasa jika Ariel tertarik padanya, teringat dulu pria itu sering memujinya. Dan yang semakin membuatnya percaya diri adalah, ia mempunyai paras yang cantik. Apalagi dia mahasiswi semester akhir calon Dokter.


"Kak Ariel!" Ia mendekati Ariel. "Sudah lama tidak bertemu." Ia mengulurkan tangannya.


Tapi Ariel hanya diam, tidak berniat menjabat tangan gadis itu. "Iya, sudah lama."


Delia yang sudah menyelesaikan makannya, sedikit tersenyum tipis melihat reaksi kekasihnya.


Sepupu Aluna sedikit mengerutkan dahinya, kenapa pria di hadapannya tidak seperti dulu.


Delia mendekat ke arah Ariel. "Apa dia juga mantan temen boboknya Mas?" bisiknya.


Mata Ariel melebar mendengar nya. "Tidak." jawabnya cepat. "Dulu aku hanya sekedar mengenalnya waktu di pernikahan Reza."


Sepupu Aluna lalu melihat ke arah Delia.


Delia yang menyadari itu seketika tersenyum, seperti tidak terjadi apa-apa.


*


*


Sepupu Aluna harus menelan kekecewaan setelah ia mengetahui jika pria yang akan di incarnya sudah mempunyai kekasih bahkan akan segera menikah. Itulah yang ia dengar dari Aluna.


Kini ketiga perempuan itu sedang berkumpul, membiarkan para lelaki membahas bisnis mereka.


Sedangkan Aluna berpamitan beristirahat karena sudah merasa lelah, dan Alma yang sudah tertidur di kamar tamu.


"Kamu udah tau luar dalam Kak Ariel? Maksudku tentang kelakuannya." Meili bertanya. Saat tadi Delia berbisik, ia sedikit mendengarnya.


Delia masih belum paham apa yang di maksud Meili.


"Meili, pertanyaanmu kurang jelas." sahut Jessy, ia kemudian menoleh pada Delia. "Yang suka tidur dengan perempuan."


"Jessy, itu terlalu jelas." Meili dengan kekesalannya karena Jessy terlalu jujur.


"Sudah tau." jawab Delia kemudian.


Meili dan Jessy saling pandang, ia heran melihat reaksi Delia yang biasa saja.


"Kami nggak masalah?" tanya Meili kembali.


Delia menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa, yang penting sekarang udah nggak."


"Luar biasa." Meili yang takjub melihat Delia.


"Memangnya kamu bagaimana ketemunya dengan Ariel?" tanya Jessy.


"Nggak sengaja waktu di Bandung."


Kedua perempuan itu terdiam, lalu mereka mengingat sesuatu.


"Bukannya terakhir kali Kak Ariel ke Bandung, hampir mati di gebukin orang?" Meili tanya pada Jessy.


"Iya, lalu kapan dia ke sana lagi?" Jessy juga heran.


"Uhm... Waktu kejadian itu aku ketemu." kata Delia.


"Ha...!" Meili dan Jessy.


"Waktu ke Bandung aku nggak sengaja ketemu Mas Ariel yang di kejar preman." imbuh Delia.


Beberapa saat kemudian Meili dan Jessy tertawa, mereka baru menyadari jika perempuan yang menyelamatkan Ariel adalah Delia.


Para lelaki seketika mengalihkan perhatiannya pada ketiga perempuan itu.


"Pasti mereka mengajak Delia sesat." Ariel berdecak.


...----------------...


...Habis ini akan ada gonjang ganjing ya, jadi siapkan emosi kalian 🤭...


...Dan jangan lupa buat dukungannya 🥰...