Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Panggilan Baru



Kini Ibu dan anak itu tengah duduk di teras belakang rumah, menikmati udara malam yang cukup dingin.


Rima melihat raut wajah putranya yang nampak serius.


"Mih, apa Mami dan Papi akan memandang seseorang dari latar belakangnya! Maksud Ariel dari segi materi, pendidikan atau keluarga terpandang?" Dengan hati-hati Ariel bertanya.


Rima mengerutkan dahi karena merasa heran, tidak ada angin dan hujan putranya membahas itu. Tapi sesaat kemudian ia mengerti arah pembicaraan putranya.


"Mih!" Ariel menyadarkan Rima dari lamunannya.


Rima menghembuskan nafasnya perlahan. "Nak, Mami sama Papi melihat seseorang itu dari kepribadiannya. Jika seseorang itu berkepribadian baik, pasti ia adalah orang yang baik."


"Seperti halnya anak, mereka tidak tau akan terlahir dari keluarga yang seperti apa! Memiliki orang tua yang bagaimana?"


"Terkadang meskipun orang tuanya tidak baik, bukan berarti anaknya juga tidak baik. Itu namanya takdir Tuhan, mungkin saja dengan memiliki anak yang baik akan membuat orang tuannya menjadi lebih baik."


"Begitu pun sebaliknya, kadang orang tuanya baik tapi mempunyai anak yang tidak baik. Apa itu kesalahan orang tuanya? Padahal semua orang tua tentu menginginkan anaknya lebih baik dari mereka."


Ariel mendengarkannya dalam diam.


"Jadi, siapa seseorang itu?" Rima bertanya.


"Hmmm!" Ariel tersadar dari lamunannya.


"Siapa seseorang itu! Tidak mungkinkan kamu tiba-tiba tanya seperti ini." Rima menyelidik. "Delia?" tebaknya.


Di usiannya yang tidak lagi remaja itu Ariel merasakan salah tingkah.


Lihatlah hidungnya yang kembang kempis, dan wajahnya yang berubah merona.


"Ah... Sudah di pastikan." Rima berujar.


"Mami sok tau!" kata Ariel. Tapi ia tidak bisa menyembunyikan kegugupan nya.


"Hei... Kamu itu anak Mami, jadi Mami tau kamu itu luar dalam." Rima mengingatkan.


"Ehm... Apa Mami dan Papi senang jika aku menjalin hubungan dengan Delia? Apalagi usia kami yang terpaut cukup jauh?"


"Perbedaan usia tidak bisa di jadikan patokan seseorang itu akan bahagia atau tidak dalam menjalani sebuah hubungan, yang terpenting keduanya nyaman dalam menjalaninya."


Mendengar perkataan ibunya, rasanya ada jutaan kupu-kupu yang meledak dalam hatinya.


Hingga di detik berikutnya, sebuah senyuman terbit di wajah tampan Ariel.


*


*


Ariel rupanya benar-benar menjemput Delia untuk berangkat ke sekolah. Bahkan terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah.


"Om, ini masih pagi!" Delia bahkan baru saja selesai memasak.


"Ck." Ariel berdecak. "Sudah ku bilang jangan panggil Om!"


Delia terkekeh, ia masih belum tau harus memanggil kekasihnya itu apa. "Terus aku panggilnya apa?"


"Terserah, yang penting jangan Om." Ariel bersungut-sungut.


"Ehm... Bagaimana dengan oppa!" Delia merasa geli sendiri. Mungkin di drama Korea yang ia tonton, sang gadis terlihat begitu manis jika memanggilnya begitu. Tetapi saat ia mencobanya sendiri itu terdengar aneh.


Mata Ariel mendelik. "Aku tidak mau di panggil Om, kenapa malah opa! Apa aku setua itu?"


Delia memutar bola matanya malas. "Om, oppa itu artinya kakak bukan kakek."


"Bahasa dari mana itu, aku tidak pernah mendengarnya." Ariel masih kesal.


"Itu bahasa Korea."


"Astaga... Kenapa dia seperti Meili." Ariel menggumam. Ia tahu istri sahabatnya itu yang tergila gila semua yang berhubungan dengan Korea.


"Ya sudah aku mau mandi dulu." Delia masuk kedalam kamarnya untuk mengambil handuk, setelah itu pergi ke kamar mandi.


"Mandi!" Otak Ariel segera membayangkan sesuatu yang indah dalam pikirannya. "Hei... ! Apa kamu tidak mau mengajakku?"


"Bisa saja!" Delia menyahuti dari dalam kamar mandi. "Tapi aku tidak menjamin setelah itu bisa keluar atau tidak dengan selamat."


Ariel bergidik ngeri, bayangan indahnya musnah seketika. "Kenapa dia galak sekali."


Setelah menyelesaikan urusannya kini mereka berdua sarapan bersama.


Delia melihat Ariel begitu lahap memakan masakannya, sepertinya lidah pria itu cocok dengan masakannya.


Selesai sarapan, mereka langsung berangkat menuju sekolah.


"Nanti kalau ke bengkel jangan jalan kaki lagi." Ariel berujar.


Perjalanan pagi itu lumayan padat karena memang bertepatan anak sekolah juga orang-orang pergi ke sekolah dan bekerja.


"Siapa suruh kamu ngojek." sahut Ariel. "Nanti ada yang jemput."


Delia mengerutkan dahinya karena tidak mengerti.


"Biar kamu nggak terlalu capek." kata Ariel. "Kalau bisa jangan kerja lagi."


Delia memutar bola matanya. "Kalau nggak kerja nggak bisa makan Om."


"Aku bisa memenuhi semua keperluan mu."


"Nggak usah, aku masih bisa cari uang sendiri."


"Kamu keras kepala."


"Itu Om tau." Delia terkekeh. Membuat Ariel mencebikkan mulutnya.


Hingga kemudian mobil Ariel sampai di depan sekolah Delia. "Yang pintar belajarnya." pesan Ariel.


"Aku sudah menjadi juara umum." Delia memberitahu.


"Oh... Benarkah!" Ariel mengacak rambut Delia. "Pintar sekali kekasihku ini."


Delia yang tadinya sempat kesal karena rambutnya menjadi berantakan, kini ia hanya diam dengan pipi yang merona. Entah mengapa sebutan kekasih yang di ucapkan pria itu menjadi penyejuk hatinya.


"Kenapa?" Ariel melihat Delia terdiam. "Mau uang saku?" Entah kenapa ia tiba-tiba terpikirkan hal itu. Dan rasanya ia seperti mengantar Alma ke sekolah.


Delia menggelengkan kepalanya. "Aku sudah punya." Ia lalu bersiap untuk keluar dari mobil. "Aku masuk ke sekolah dulu, Mas."


Dengan cepat Delia pergi dari sana, kini giliran Ariel yang terdiam. "Mas!" Dia mencerna ucapan terakhir Delia, dan lambat laut ada senyuman di wajahnya. "Kenapa dia begitu manis sekali." Pandangan Ariel yang masih menatap kepergian gadis itu.


*


*


Jam pulang sekolah sudah berakhir beberapa saat lalu, ketika Delia baru keluar dari gerbang sekolah terlihat seorang pria dengan setelan jas hitam memanggilnya. "Nona Delia!"


Delia hanya diam sembari menatap nya dengan curiga.


"Saya di suruh Pak Ariel untuk menjemput Nona." beritahunya.


Seperti sebuah kebetulan, ponsel Delia berdering dan yang menghubunginya adalah Ariel.


"Sudah pulang sekolah?" tanya Ariel begitu panggilan tersambung.


"Iya, baru saja." jawab Delia.


"Nanti akan yang menjemputmu, namanya Juna."


Delia sembari melirik ke arah Juna.


"Tenang saja, dia bisa di percaya." Ariel menambahkan.


"Tapi seharusnya tidak ada acara pakai jemput begini." Delia berujar.


"Sudahlah, tidak ada penolakan."


"Dasar, tukang maksa." Delia mencibir.


"Kan kamu sudah tau." Ariel terkekeh. "Ya sudah hati-hati kalau begitu, aku harus kembali bekerja."


"Hmmm... "


"Aku ingin kamu memanggil ku seperti tadi pagi."


"Ah.. Kenapa harus di ingatkan lagi!" Delia membatin. "Aku lupa." elaknya. Tapi ia sekarang menjadi salah tingkah.


"Oh, ayolah. Aku suka mendengarnya." Ariel tidak berhenti untuk menggoda gadis itu.


"Baiklah baiklah." Delia menyerah. "Iya, Mas." Wajahnya kini rasanya memanas tiba-tiba.


Ariel pun tersenyum di seberang sana mendengarnya. "Sayang, hati-hati di jalan."


Hingga kemudian panggilan berakhir.


"Nona kita berangkat sekarang." Juna membuyarkan lamunan Delia.


"Hm... "


Hingga kemudian mobil Civic turbo bewarna merah menyala itu membawa Delia pergi dari sana.


...----------------...


...Duh... Rasanya jadi ABG lagi 🤭...


...Waktunya vote guys, jangan lupa dukungannya 🥰...