
...Area 17+...
...Yang bocil minggir dulu....
Kedua tautan bibir itu terlepas ketika Delia merasakan ia tak bisa bernafas lagi.
Lihatlah, nafas keduanya tampak memburu. Mereka seperti mengikuti lomba lari maraton dengan jarak berkilo kilo.
Entah apa yang di pikiran Ariel, ia sepertinya tidak mau berhenti sampai di situ saja. Masih ada hal lain yang ingin ia lakukan, ia sepertinya lupa tentang keadaan istrinya sekarang.
Ia sekali lagi mendekat, menghapus jarak di antara mereka.
Ia menyusuri leher jenjang milik Delia dengan bibirnya, merasai setiap jengkal kulit putihnya.
Delia yang di perlakukan seperti itu hanya bisa memejamkan mata, dalam hatinya ingin sekali ia menyudahi semua ini. Tapi kenapa tubuhnya tidak sejalan dengan hatinya.
Ia merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik, saat merasakan suaminya memberi kecupan kecupan kecil di lehernya.
Ini adalah hal baru baginya, rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dan suaminya adalah orang pertama yang berani menyentuhnya hingga seperti ini.
Delia tersentak, ketika ia merasakan suaminya menghisap di salah satu bagian lehernya.
Ariel menjeda kegiatannya, ada senyuman di wajah tampannya. Melihat maha karya yang ia buat di leher Delia, tanda jika perempuan itu adalah miliknya.
"Tolong biarkan aku melakukannya, aku berjanji akan berhati-hati agar tidak melukaimu." Pikiran Ariel sepertinya sudah tidak senormal biasanya, yang ia inginkan sekarang adalah mengambil apa yang seharusnya ia dapatkan beberapa hari lalu.
Namun perkataannya sepertinya hanya berlaku di mulutnya saja, karena sebelum Delia menjawab ia sudah lebih dulu menautkan bibirnya pada bibir Delia.
Delia tidak bisa menikmati apa yang di lakukan suaminya, pikirannya berkelana ke mana-mana.
Melakukan?
Maksudnya hubungan suami istri?
Sekarang?
Tapi seiring waktu berjalan, sepertinya pikiran itu hanya sementara bersarang di kepala Delia. Nyatanya tanah di sadari kini ia sudah memejamkan mata, mengikuti alur yang di buat oleh suaminya.
Saat tautan bibir itu berlangsung, diam-diam Ariel mencoba menarik selimut yang tadi di kenakan Delia untuk menutupi kedua asetnya.
Seolah dewi vortuna sedang berpihak padanya, selimut itu jutuh tanpa hambatan. Karena Delia sendiri tidak menyadari apa yang di lakukan Ariel.
Tangan kokoh itu menyentuh pinggang ramping Delia, merasakan betapa lembut dan halusnya. Tubuh yang selama ini selalu tertutup di balik pakaian.
Delia bereaksi, tubuhnya sekali lagi meremang ketika merasakan sebuah tangan mulai mengusap pinggangnya.
Ada sensasi aneh yang ia rasakan, namun di balik itu semua ada sisi menyenangkan yang tak dapat ia pungkiri.
Ariel kembali menyusuri leher jenjang istrinya, ia bahkan kembali menambah beberapa mahakarya nya.
"Ugh..." Suara itu lolos begitu saja saat tangan suaminya berhasil menyentuh salah satu aset berharganya.
Ia ingin berhenti, tapi Ariel tidak membiarkan itu.
Ariel perlahan mendorong tubuh Delia hingga kini perempuan itu berbaring di ranjangnya.
"Mas!" Begitu suaminya menyudahi apa yang di lakukan.
Nafas Delia naik turun, hingga membuat kedua asetnya bergerak seirama.
Mata Ariel sama sekali tidak berkedip melihat pemandangan itu, betapa indah dua bulatan itu.
lihatlah, puncak pada kedua bulatan itu sudah mencuat sempurna. Dan ia tau jika istrinya sudah ter*angsang olehnya.
Tanpa menunggu lama, Ariel segera melahap salah satunya. Menikmati benda yang belum terjamah siapapun selain dirinya sekarang.
Delia tak henti-hentinya mengeluarkan suara aneh, ini sungguh sensasi yang membuatnya menggila.
Tubuhnya semakin membusung ketika suaminya, menghisap semakin kuat. Bahkan tangannya pun tak tinggal diam, Ariel meremat satu bulatan lainnya.
"Mas... " Delia merintih.
Ariel rasanya juga semakin tak terkendali, mendengar suara rintihan istrinya justru semakin membuatnya memanas.
Dua bulatan itu tak lepas dari mulut Ariel, ia menyesap nya bergantian.
Setelah puas dengan kedua aset Delia, bibir itu terus saja turun. Ia mencari sesuatu yang akan ambil sebentar lagi sebagai miliknya.
"Mas!" Delia tersadar akan kemana alur setelah ini, dan ia merasa belum siap.
Ariel memandangi wajah istrinya. "Tidak apa-apa, bukankah sekarang aku sudah menjadi suami dan berhak atasnya!"
Delia menelan ludahnya susah paya, kenapa rasanya sekarang ia benar-benar takut. Bahkan mengalahkan ketegangan saat ia sedang balapan.
Ariel segera melepas kaosnya, hingga menampilkan otot-otot perut yang menggiurkan.
Kenapa sekarang ia seperti ada dalam drama Korea yang sering di lihatnya.
Mempunyai suami yang begitu tampan, dengan perawakan tubuh yang sempurna.
Di dalam lamunannya ia tidak menyadari jika sekarang suaminya sudah melepas celananya, hingga hanya tersisa kain segitiga yang menutup area pribadinya.
Ariel yang melihat itu matanya tidak berkedip, meskipun di bagian beberapa tubuh Delia samar terlihat biru keunguan tapi tidak membuat hasratnya turun.
Ia segera mengungkung istrinya yang saat ini terus memandanginya. "Setelah ini apa yang ada pada dirimu semuanya adalah milikku." bisiknya.
Delia benar-benar tidak tau berbuat apa setelah ini, mungkin hanya pasrah adalah jalan satu satunya.
Ariel kembali menyentuh semua yang ada pada istrinya, seolah ia tidak mau kehilangan sejengkal pun.
Hingga beberapa saat kemudian, entah siapa yang memulainya keduanya sudah tampak polos tanpa sehelai benang.
Dahi keduanya tampak berkeringat, pendingin di ruangan itu nampaknya tidak mampu mendinginkan hawa panas di sekitar pengantin baru itu.
"Aku akan memulainya, dan mungkin akan sedikit sakit." Sebelum Ariel benar-benar mengambil apa yang ia inginkan.
Ia bahkan memposisikan kaki Delia yang cedera senyaman mungkin agar tidak melukai istrinya.
Delia melipat bibir nya rapat-rapat, sebelum ia merasakan sesuatu mulai menyentuh miliknya. Dan ia tau itu, milik suaminya yang tadi sempat ia lihat sedang menerobos pertahan dirinya.
"Mas... Sakit!" Alis Delia saling bertautan, matanya terpejam menahan nyeri pada inti tubuhnya.
"Tahanlah sedikit." Ariel berusaha menerobos masuk, yang ternyata sangat sulit dari perkiraannya.
"A.... Nggak jadi, nggak jadi. Batalin aja," Delia merengek. Sembari berusaha mendorong bahu suaminya.
"Bagaimana bisa!" Ariel tidak habis pikir, sedangkan dirinya sudah merasakan gejolak hingga ke ubun-ubun.
"Tinggal di cabut saja." Kata Delia. Posisinya sekarang tidak bisa membuatnya untuk memberontak.
"Kamu pikir, rumput tinggal di cabut." Ariel tetap berkonsentrasi pada tujuannya. Dan ia sedikit memaksakan miliknya untuk tetap masuk walaupun istrinya sudah mulai kesakitan.
"Sakit... Mas, kita tunda dulu saja." Delia benar-benar merasakan perih dan panas pada pusat intinya.
"Tidak bisa, sudah masuk sedikit. Kalaupun kita melakukannya besok-besok rasanya akan tetap sama." Ariel tidak mau mengalah.
"Tapi--" Delia tidak lagi bernegosiasi ketika suaminya begitu saja menautkan bibirnya.
Dan Ariel sendiri memberikan sentuhan kembali pada kedua bulatan itu, agar istrinya tidak terlalu berfokus pada pusat intinya.
Ariel yang berhasil perlahan menerobos, hingga di titik berikutnya ia merasakan sesuatu seperti menghalangi. Mungkin itu adalah mahkota Delia.
Ia sedikit menarik miliknya, sebelum ia benar-benar akan melakukannya.
Hingga kemudian di saat Delia sudah teralihkan dari rasa sakit, Ariel dengan sekali hentakan kuat menekan pinggulnya hingga tirex masuk seluruhnya.
"Unghh... " Delia merasakan milik suaminya berada di dalam pusat intinya, memenuhi dan mengobrak-abrik nya.
Dan rasa sakit itu menjalar ke seluruh pangkal paha nya.
Ariel membiarkan miliknya terbenam di sana, menikmati kehangatan yang baru ia rasakan.
Ia memandangi wajah istrinya yang masih memejamkan mata, bahkan terlihat buliran bening mengalir.
"Maafkan aku." Ariel mengusap dahi Delia yang penuh dengan keringat.
Delia membuka matanya, dan melihat suaminya yang sedang menatapnya. "Rasanya sakit."
Ariel justru tersenyum mendengarnya. "Nanti juga tidak, kalau aku sudah bergerak."
Kemudian Ariel mulai menggerakkan pinggulnya dengan perlahan, dan rasanya memang sangat luar biasa.
Delia masih merasakan sakit, berbeda sekali dengan suaminya yang sedang menikmati sekarang ini.
Setelah beberapa saat berpacu, Ariel rasanya tidak tahan jika tidak menghentak. Hingga kemudian ia mulai menghentak, menyalurkan apa yang ia tahan beberapa hari ini.
Delia sendiri juga mulai menikmati, meskipun ada rasa sakit yang masih ia rasakan.
Di dalam ruangan itu hanya terdengar des*ahan keduanya yang sedang menikmati indahnya surga dunia.
Dan Ariel mempercepat tempo hentakannya di saat ia sudah di ambang batas pertahanannya. Ia juga tau jika istrinya juga akan mengalami pelepasan untuk yang kesekian kalinya, terasa pusat inti Delia yang berdenyut meremas miliknya.
"Arghhhh..." Ariel yang tidak bisa lagi menahan pertahanannya, hingga terakhir kalinya ia menghentak kuat. Membiarkan miliknya terbenam di dalam sana. Menyemburkan benih berharganya. "Terima kasih."
...----------------...
...Astaga... Kenapa malah ngintip orang lagi anu 😅....
...Waduh sawan ini... 🤣...