
"Mami mau pergi kemana?" Bastian melihat istrinya. Bahkan ia sedikit heran pada penampilan istrinya pada sore hari itu. Memakai baju serba hitam, kacamata hitam, hingga topi pantai yang cukup besar. "Mami mau melayat?"
"Ck, Papi." Rima berdecak. "Mami sedang melakukan penyamaran Pih." Ia menjelaskan.
"Penyamaran?"
"Iya, Mami mau tau gadis SMA yang di maksud Ariel."
"Mami mau membuntuti putra kita?"
"Iya apalagi."
"Ada Arga Mih, kita tunggu saja informasi darinya."
"Kelamaan Pih, ya sudah Mami berangkat dulu. Sebentar lagi Ariel pulang kerja." Rima berpamitan pada suaminya. Dan ia menjalankan rencananya di antar sang supir.
*
*
"Ingat ya jangan sampai kita ketahuan." Rima mengingatkan pada supirnya. Mobilnya sekarang sedang berada tidak jauh dari perusahaan.
"Iya Bu."
Padahal jika di lihat penampilannya lah yang paling mencolok, jika pun ia tidak memakai pakaian seperti itu seharusnya akan lebih baik. Karena Rima ada di dalam mobil dan tidak ada yang melihatnya, kecuali jika Ariel sadar akan keberadaan mobilnya.
"Kenapa tidak keluar-keluar." Beberapa saat menunggu Rima tidak melihat mobil putranya keluar dari perusahaan. "Biar aku telepon Arga saja." Ia lalu melakukan panggilan telepon pada asisten putranya itu.
"Iya Bu Rima." Begitu Arga mengangkat teleponnya.
"Apa Ariel sudah pulang?" tanya Rima.
"Sudah lima menit yang lalu."
"Apa?" Rima terkejut mendengarnya. Padahal sedari tadi ia tidak melihat Ariel keluar dari perusahaan.
"Tadi Pak Ariel memakai mobil saya, katanya mau ke bengkel mobil Arsyad yang ada di jalan Anggrek." Arga menjelaskan. Karena tadi sebelum pulang, Ariel tiba-tiba ingin bertukar mobil dengannya.
Dahi Rima berkerut, untuk apa putranya ke bengkel. Biasanya jika urusan mobil ia akan menyuruh orang untuk pergi ke bengkel. "Baiklah kalau begitu Arga, terima kasih."
"Sama-sama Bu."
Panggilan berakhir.
"Kita ke jalan Anggrek, bengkel Arsyad." pinta Rima, yang segera saja supirnya itu melajukan mobilnya ke sana.
Tidak membutuhkan waktu lama, Rima sudah sampai di depan bengkel Arsyad, terlihat bengkel itu yang cukup ramai pengunjung.
Matanya segera saja mencari keberadaan putranya, dan benar saja ia melihat putranya sedang duduk di kursi tunggu pelanggan.
"Serius sekali." Rima memperhatikan, hingga kemudian ia mengikuti arah pandang Ariel. Yang ternyata memperhatikan montir perempuan. "Ya ampun, kenapa matanya itu tau saja ada perempuan cantik."
"Katanya gadis SMA, sekarang ganti lagi." Rima menggerutu. "Putraku memang pecinta wanita."
*
*
Delia menghampiri Ariel setelah memeriksa keadaan mobil milik pria itu. "Keadaan mesinnya tidak ada yang bermasalah."
Ariel mendengus, ternyata kenyataan tak seindah harapan. "Apa kamu sudah memeriksanya dengan benar?"
Delia memutar bola matanya. "Sudah, dan semuanya dalam kondisi baik."
"Seharusnya tadi aku menyiram mesinnya dulu dengan air sebelum kesini." Ariel menggumam.
"Apa?" Delia merasa pria di hadapannya itu mengatakan sesuatu.
"Bukan apa-apa, ya sudah ganti saja oli nya." ujar Ariel kemudian.
"Baiklah." Delia lalu pergi dari sana.
"Kalau begini pasti cuma sebentar." Ariel memikirkan cara lain agar ia ada alasan untuk tinggal lebih lama di sana.
Namun beberapa saat ia berpikir, ia tidak menemukan cara apapun. Hingga terlihat Delia menghampiri nya kembali.
"Sudah selesai." Delia memberitahu.
"Nanti kamu pulang jam berapa?" Tiba-tiba saja Ariel menanyakan itu.
"Ha... !" Delia merasa aneh dengan pertanyaan itu. Memang apa urusannya kepulangannya dengan Ariel.
"Kamu pulang kerja jam berapa?" Ariel memperjelas.
"Memangnya kenapa?" Delia balik bertanya.
"Nanti aku antar pulang?" Ariel berterus terang.
"Apa dia tidak punya kerjaan lain?" batin Delia. Karena Ariel terus saja ada di sekitarnya beberapa hari ini. Entah itu pagi, siang, sore atau malam. "Tidak usah." tolaknya. "Nanti aku sama temen."
Karena Adi berencana main ke rumahnya, dan akan menjemput di bengkel.
"Om kenapa sih ... dari tadi tanya tanya melulu, aku mau kerja dulu." Delia pergi dari hadapan Ariel. Ia merasa jika pria itu mulai aneh.
"Hei ... aku hanya bertanya." kata Ariel, namun Delia tidak menghiraukannya. "Laki-laki atau perempuan ya?" Ia yang penasaran.
*
*
Sepeninggal dari bengkel, Ariel bukannya pulang ia malah memberhentikan mobilnya tidak jauh dari bengkel. Sepertinya rasa penasaran membuatnya menunggu Delia hingga pulang bekerja, padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Setelah ini kita tutup saja." Arsyad memberi tahu semua pegawainya. "Sepertinya sudah tidak ada pelanggan lagi."
"Baik Pak." Semua menjawab secara bersamaan.
Kemudian semuanya membereskan perkakas, dan membersihkan bengkel.
Satu persatu pegawai mulai meninggalkan bengkel, termasuk Arsyad yang sudah pergi pertama kali.
Di depan Bengkel terlihat mobil baru saja tiba, dan itu adalah mobil Adi. Beberapa saat lalu Delia telah menghubunginya, memberi tahu jika ia akan pulang.
"Pulang dulu De, Adi." Ujang berpamitan.
"Iya Kang." sahut Adi dan Delia.
Delia lalu masuk ke dalam mobil Adi, yang kemudian mobil itu segera saja melaju meninggalkan bengkel.
Tanpa mereka sadari dua mobil mengikuti mereka.
"Jadi temennya itu cowok!" Ariel sedikit kesal. Tapi ia tak urung juga terus mengikuti mobil Adi. "Masih kecil sudah berani pacaran." Ia yang terus menggerutu.
*
*
"Tumben sudah pulang?" tanya Adi sembari mengemudikan mobilnya.
"Papa kamu nyuruh tutup, ya ... kita pulang lah." jawab Delia.
Adi memutar bola. matanya malas.
"Eh ... nanti di depan ada pertigaan, belok kiri." Delia memberitahu.
"Oke."
Hingga beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah kontrakan Delia.
"Jadi ini rumahnya." Adi melihat sekeliling. Meskipun rumahnya tidak besar tapi sepertinya nyaman untuk di tinggali.
"Ayo masuk." Delia membuka pintu rumahnya dan membiarkannya tetap terbuka. "Sorry, nggak ada kursi." Ia menyalakan kipas angin yang tertempel di dinding, juga menyalakan televisi.
"Fasilitas nya lumayan untuk rumah kontrak, pasti pemiliknya sangat baik." ujar Adi, dan ia duduk di lantai beralaskan karpet.
Delia kembali setelah mengambil beberapa minuman dingin dan cemilan.
"Ini bukan milik yang punya kontrakan." sahut Delia.
"Kamu yang beli?" tanya Adi. "Tumben nggak sayang uangnya buat beli ginian!"
"Bukan aku juga yang beli, tapi di belikan orang." Delia beranjak. "Aku mau mandi dulu lah." Ia meninggalkan Adi.
"Di belikan siapa? Hei... !" Tapi Adi sudah tidak melihat keberadaan sahabatnya itu.
"Mana ada orang belikan ini semua tanpa maksud?" Adi tidak percaya begitu saja. "Kalau bukan ada udang di balik batu, pasti orangnya kurang sehat."
*
*
Delia sudah selesai membersihkan dirinya, ia sekarang tampak segar. "Di, mau makan nggak?" Ia menawari.
Adi mengalihkan perhatiannya pada televisi. "Boleh."
"Ok, tunggu sebentar." Delia lalu ke dapur untuk menghangatkan makanan.
Tidak membutuhkan waktu lama, makanan itu sudah tersaji.
"Makanannya cuma ini." Delia mengambilkan nasi untuk Adi. "Lauk sama sayurnya bil sendiri." Ia menyerahkan piring yang sudah terisi nasi.
Keduanya menikmati makan malam di temani oleh canda tawa, sebelum sebuah mobil juga berhenti di halaman rumah dan membuat mereka terdiam.
"Aku lapar, mau makan." Ariel yang baru saja masuk rumah, ia bahkan langsung berjalan ke arah dapur untuk mengambil piring dan sendok. Lalu kembali untuk bergabung bersama Delia dan Adi.
Ariel duduk di depan keduanya, dan tanpa basa basi mengambil nasi juga lauk dan sayur kemudian memakannya. Ia tidak memperdulikan dua orang yang sedang menatapnya heran.
...----------------...
...Si Om, datang tak di undang pulang tak di antar 😂...
...Waktunya vote guys, jangan lupa dukungannya ya 🥰...