
Jalanan hampir sore itu di penuhi pelajar yang memang memasuki jam pulang sekolah, tak terkecuali Delia.
Ia juga sudah pulang sekolah, dan Juna yang menjemputnya.
Selama perjalanan tidak ada obrolan di antara mereka, selain tidak ada topik untuk di bicarakan. Juna sendiri tidak berani untuk mengajak ngobrol istri atasannya, ia hanya di tugaskan untuk menjemput dan membawanya pulang dengan selamat.
Sedangkan Delia, ia memang tidak banyak bicara.
Gerbang tinggi itu terbuka dengan sendirinya begitu mobil yang di kendarai Juna terlihat.
"Terima kasih." Sebelum Delia turun dari mobil.
"Sama-sama, Nona." Juna memutar mobilnya, hingga kendaraan beroda empat itu kembali keluar dari pelataran rumah mewah milik Ariel.
Juna kembali ke perusahaan, menunggu Ariel pulang bekerja.
Saat kakinya memasuki rumah, terlihat ibu mertuanya baru keluar kamar.
"Mi." Delia menghampiri dan menggapai tangan Rima untuk ia cium.
"Kirain tadi Juna nggak bisa jemput kamu, Mami mau aja suruh supir buat jemput." Rima berujar.
"Jalanan sedikit macet Mi." Delia memberi tau.
"Ya sudah kamu bersihkan diri dulu, nanti Mami suruh bibi untuk buatkan minum."
"Nggak usah Mi, Delia ambil sendiri saja di dapur." tolak ya. Meskipun ia hampir satu bulan tinggal di rumah itu ia belum terbiasa di layani.
"Baiklah, nanti kalau kamu perlu apa-apa bilang saja sama bibi. Atau bisa panggil Mami."
Delia mengangguk. "Iya Mi."
Setelah itu Mira kembali ke kamarnya, dan Delia berjalan menuju dapur.
Meskipun udara di dalam rumah tidak sepanas di luar karena pendingin udara, tapi ia tetap merasakan gerah.
Di dapur rupanya sama sekali tidak ada orang, mungkin para bibi sedang mengerjakan pekerjaan lainnya.
Tujuan Delia adalah lemari pendingin, pertama kali ia membuka kulkas udara dingin seketika menerpa wajahnya.
"Hm ... Dingin." Ia menggumam.
Awalnya tadi ia hanya berniat mencari air putih dingin, tapi matanya tidak sengaja melihat lemon.
Hal itu membuatnya menelan air liurnya yang seketika membanjir di dalam mulutnya.
Dan ia juga melihat beberapa buah, seperti apel, melon dan anggur.
Yang tiba-tiba saja membuat ia ingin memakannya, apalagi cuaca sepertinya mendukung.
Delia mengambil satu lemon, ia akan membuat jus dari buah asam itu.
"Non Delia mau buat apa?" Salah satu bibi yang baru datang.
"Lagi pengen jus, Bi." Delia mulai mengupas.
"Biar bibi saja yang buatkan." Bibi tidak enak membiarkan majikannya membuat sendiri.
"Tidak apa Bi, Delia buat sendiri saja." Ia berjalan ke arah blender.
"Nanti, Mas Ariel nya marah kalau tau." Bibi itu mengingat majikan muda nya selalu marah jika melihat istrinya berkutat di dapur.
Delia tertawa mendengarnya. "Mas Ariel lagi kerja, jadi nggak akan tau. Dan bibi juga jangan bilang."
Delia lalu memasukkan potongan lemon itu, hingga suara bising dari blender terdengar.
Air lemon itu mengucur deras kedalam gelas, yang sudah terpisah dari ampas dengan sendirinya.
"Eum ... Gimana kalau bibi setelah ini bantu aku buat salad buah saja, soalnya aku ingin makan buah." Delia akhirnya memberikan solusi.
"Ya sudah kalau begitu." Bibi mulai mengeluarkan buah-buahan, mengambilnya beberapa dan memotongnya kecil-kecil.
Sedangkan Delia mengambil beberapa es batu untuk ia taruh ke dalam gelas yang berisi perasaan lemon, setelah itu ia tambahkan air dan sedikit madu.
"Non, nggak di tambah gula?" tanya bibi ketika Delia akan meminum jus lemon ya.
"Tadi udah di kasih madu bi." Delia mencobanya beberapa teguk, dan rasa segar dari dinginnya es batu bercampur asam begitu nikmat.
Bibi melihat itu hanya bergidik, membayangkan asam dari lemon.
"Segar ..." Delia yang puas akan racikan nya. "Bibi mau?" Ia menawarkan.
"Tidak Non, terima kasih." Bibi langsung menolak, selain tidak berani ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana asamnya lemon terasa di lidahnya.
Beberapa saat kemudian, salad buah yang di inginkan Delia selesai. Sesuai keinginannya, perbandingan yogurt lebih banyak dari pada s*su.
"Terima kasih bibi." Delia membawa sepiring salad buah dan es lemon miliknya ke dalam kamar.
Di kamar, setelah menaruh tas dan melepas sepatunya Delia segera menuju balkon kamar.
Sepertinya akan cocok di makan sembari menikmati pemandangan.
"Hei, sedang ada di mana sekarang?" Wajah Ariel memenuhi layar ponsel Delia begitu telepon tersambung.
"Ada di balkon kamar." Delia menjawab dengan mulut yang penuh salad buah.
"Kamu sedang makan?"
"Hm ..." Delia menganggukkan kepalanya, ia lalu mengangkat piringnya hingga terlihat oleh Ariel apa yang di makan olehnya.
"Salad buah?"
"Iya, tadi minta di buatkan bibi."
"Tumben sekali makan salad buah!"
"Hanya saja di luar sangat panas, jadi waktu buka kulkas ada buah. Rasanya sangat cocok di makan di cuaca seperti ini." jawab Delia. "Dan ada juga jus lemon." Ia juga menunjukkannya.
"Apa tidak asam?" Air liur Ariel seketika membasahi tenggorokannya membayangkan buah asam itu, dan ia bergidik.
"Nggak Mas,, bahkan sangat segar." Delia meminumnya hingga tinggal setengah gelas.
"Sayang jangan banyak-banyak, nanti perutmu sakit." Ariel memperingatkan.
"Hanya satu gelas." Delia tertawa.
Kemudian ia teringat tentang pekerjaannya di bengkel. "Apa Mas, pulangnya masih lama?"
Ariel melihat jam tangannya, lalu kembali fokus pada Delia. "Tidak, mungkin satu jam lagi aku sudah pulang karena hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan."
Di detik berikutnya ada senyuman di wajah tampan Ariel. "Apa kamu sudah merindukan aku karena sudah seharian tidak bertemu?"
Delia memutar bola matanya malas.
"Oh ayolah sayang, aku tau itu." Ariel dengan bangganya. "Suamimu ini memang sangat layak untuk di rindukan."
Delia mencebik. "Iya ya ya, dan suamiku yang sangat tampan." Ia senyum terpaksa, meskipun apa yang di katakan adalah kebenarannya. Sekalian saja ia membuat suaminya itu besar kepala, bukankah menyenangkan hati suami adalah sebuah hal yang baik?
"Kamu memang istri yang pandai menyenangkan hati suami." Ariel tertawa. "Baiklah nanti saat aku pulang akan aku kasih hadiah."
"Hadiah?"
"Hm .... Nanti kita akan bertanding di atas ranjang tiga ronde." Ariel menaik turunkan alisnya.
Mata Delia mendelik. "Itu bukan hadiah, tapi modus."
Yang di balas tawa Ariel dari sebrang sana.
"Bahkan hampir tiap hari dia tidak membiarkanku tidur nyenyak." Delia menggumam.
"Nanti aku mau ke rumah Adi." Delia mengembalikan topik pembicaraan.
Mendengar nama Adi, tawa Ariel langsung berhenti. "Ada urusan apa?" Ia terlihat gusar.
Delia terdiam sejenak, dan menatap dalam suaminya. "Mas, kalau aku berhenti bekerja bagaimana?"
Setelah ia renungkan, ada banyak hal yang membuatnya harus memilih untuk berhenti.
Selain kehidupannya yang sekarang lebih layak dari sebelumnya, ada juga nama baik mertuanya yang harus di jaga.
Meskipun mereka tidak mengatakan apapun, tapi bagaimana jika ada yang merendahkan mertuanya karena pekerjaannya sebagai montir. Dan bagaimana jika ada relasi suaminya yang tau, mungkin suaminya juga akan terkena imbasnya.
Mungkin ia akan memikirkan pekerjaan lain yang cocok untuknya sekarang.
"Kenapa tiba-tiba, apa ada sesuatu?" Sesungguhnya Ariel senang dengan keputusan istrinya, tapi hanya sedikit aneh karena Delia mengatakannya tiba-tiba.
Padahal sudah dari dulu ia menyuruhnya untuk tidak bekerja lagi, tapi istrinya itu beralasan masih akan memikirkannya.
Delia menggelengkan kepalanya, sembari tersenyum. "Tidak, hanya saja aku baru memutuskan nya sekarang."
"Benarkah?"
"Hm ..."
"Baiklah, tunggu aku pulang nanti kita ke rumah Adi bersama."
"Iya."
Kemudian panggilan berakhir.
Delia menghembuskan nafasnya dengan kasar, mudah-mudahan keputusan yang ia ambil ini adalah keputusan yang tepat. Meskipun rasanya berat.
Mengingat Pak Arsyad selama ini sudah terlalu baik padanya.
Di saat yang bersamaan pula salad buah dan es lemonnya sudah habis tanpa ia sadari. "Kapan aku memakannya?"
...----------------...
...Delia tau aja ngemil yang enak-enak pas lagi panas-panasnya ðŸ¤...