Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Ariel Ikut Menghilang



"Aku tidak mau tau!" Joana dengan amarahnya. "Pokoknya kamu harus melakukan apa yang aku mau." katanya pada seseorang di sebrang sana.


Kemudian panggilan berakhir.


"Aku tidak akan membiarkan kalian lepas begitu saja!" geram Joana mengingat Ariel dan Delia yang mengarungi indahnya asmara di atas penderitaannya.


Ia bahkan rela menguras tabungannya selama menjadi model untuk membayar orang-orang yang ia perintah, demi balas dendam yang ia rencanakan.


*


*


Raka akhirnya datang setelah jam menunjukkan pukul setengah lima sore.


"Apa aku terlambat?" Ia menghampiri dimana Ariel, Nathan, dan Reza berkumpul.


"Kelihatannya seperti apa!" Reza menyahuti. "Dan Pak Dokter yang satu ini memang benar-benar sibuk."


Raka hanya tersenyum tipis. Matanya lalu mencari keberadaan istrinya yang tidak terlihat, ia hanya melihat di mana Jassy berada sedang memainkan ponselnya.


"Di mana istriku?" tanya Raka.


"Sepertinya di kamar tamu menemani Alma tidur." Reza tadi mengetahui Meili yang berjalan ke arah kamar tempat Alma tidur. "Di lantai dua, nomer dua dari kiri."


"Baiklah kalau begitu." Raka berniat menuju kamar yang di tempati Meili. Namun ia berhenti sejenak, ia menoleh ke arah Reza. "Selamat untuk acara tujuh bulanannya." Setelah itu ia pergi dari sana tanpa mendengar jawaban dari Reza.


"Kenapa dia masih sama seeprti dulu." Reza mencibir.


"Dan yang bisa menaklukkan nya hanya Meili." Ariel menimpali. Hingga kemudian mereka tertawa.


"Jangan tertawa." Nathan berujar. "Kau pun sama, hanya Delia yang bisa menaklukkan mu."


Membuat Ariel berhenti tertawa seketika.


Dan seketika ia teringat tentang keberadaan Delia, dia tadi pergi ke toilet kamar tamu dan belum melihatnya lagi. Ia melirik di mana Jessy, perempuan itu sedang sendirian.


"Ada apa?" tanya Reza.


"Aku belum melihat Delia lagi." Ariel beranjak dari sana.


"Mungkin dia belum selesai." kata Reza.


Namun Ariel tetap berjalan ke arah kamar tamu yang di gunakan toiletnya oleh Delia. Pintu kamar itu tertutup rapat, padahal tadi seingatnya sebelum ia pergi pintu itu ia biarkan terbuka.


"Delia... " Ariel masuk ke dalam kamar.


Pintu kamar mandi dalam keadaan terbuka, setelah ia mendekatinya memang sudah tidak ada siapa-siapa.


"Delia... " Ariel kembali memanggil, tapi tidak ada yang menyahutinya.


Ia memutuskan keluar dari kamar lalu menghampiri Jessy. "Apa kamu melihat Delia?"


Jessy mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Ariel. "Bukannya tadi dia ke toilet?"


"Tapi tadi aku mengeceknya tidak ada." jawab Ariel.


"Delia belum kembali, aku pikir dia masih di toilet." ujar Jessy.


Mendengar penuturan Jessy, Ariel memutuskan untuk mencari Delia. Rasa panik mulai menyerang dirinya, karena Delia rasanya tidak mungkin pergi di sekitar sana. Apalagi ini tempat baru baginya.


Ariel mulai berkeliling mencari Delia di sekitar rumah Reza, mulai dari halaman belakang, dapur, hingga taman. Namun gadis itu tidak ketemu.


Ia mencoba menelpon Delia, tapi sedetik kemudian ia baru ingat jika Delia tadi masuk ke dalam rumah Reza tidak membawa apa-apa dan meninggalkan barang-barangnya dalam mobil.


Ia lalu kembali masuk ke dalam rumah untuk menemui Reza. "Delia tidak ada." katanya dengan nafasnya yang sedikit tersengal. "Sudah aku cari di sekeliling rumah tapi tetap tidak ada."


"Bukannya tadi ke toilet?" sahut Reza.


"Tidak ada, sudah aku cari." Ariel merasa benar-benar panik.


"Tenanglah, mungkin ia berada di kamar tamu lainnya." Reza kemudian beranjak. Ia mulai mengecek kamar tamunya satu persatu, tapi gadis itu tidak ada.


"Bagaimana?" Jessy menghampiri bersama Nathan.


"Tidak ada." jawab Reza.


"Lalu bagaimana?" Meili yang ikut bergabung bersama Raka setelah tau mereka mencari keberadaan Delia.


Sedangkan Ariel, pria itu benar-benar frustasi.


"Cctv." Raka berujar.


Hingga mereka semua berjalan menuju pos satpam di mana pusat kontrol CCTV berada.


Mereka lalu memutar ulang CCTV di jam Delia awal masuk ke kamar tamu, dan tidak lama setelah Ariel pergi dari sana terlihat dua orang dengan pakaian pelayan. Satu laki-laki dan satu perempuan.


Pelayan laki-laki terlihat membereskan beberapa piring kotor di depan kamar tamu, tapi anehnya ia tak segera pergi dari sana meskipun sudah selesai. Dan matanya seperti mengawasi keadaan sekitar.


Sedangkan pelayan perempuan masuk ke dalam kamar membawa seperti troli untuk pakaian kotor, hingga tidak lama ia keluar dengan troli yang penuh dengan seprei.


Setelah pelayan perempuan itu pergi, sang pelayan laki-laki juga ikut pergi. Hingga beberapa saat menunggu, Delia tidak nampak keluar hingga Ariel masuk ke dalam kamar.


"Troli." kata Raka.


Hingga satpam mengulang kembali CCTV.


"Sebelum masuk sudah ada spreinya dalam troli, dan ketika keluar spreinya masih sama. Tapi kelihatan penuh dalam troli." Nathan juga menyadari kejanggalan itu.


"Berarti kemungkinan Delia ada di dalam situ?" sahut Jessy.


"Si*al." Ariel yang merasa gagal menjaga kekasihnya hingga terjadi hal seperti ini.


"Tapi mereka berdua bukan pelayan rumah ini?" Reza tidak mengenali kedua orang itu.


Karena selama acara berlangsung, Reza dan Alina tentu tidak menyadari jika ada orang lain yang menjadi pelayan di rumah mereka.


Dan jika pun itu orang ketring, tidak mungkin memakai pakaian pelayan. Seharusnya mereka memakai seragam yang sama dengan pegawai ketring lainnya.


"Berarti memang ada seseorang yang sengaja ingin menculik Delia." Raka merasa semuanya telah terencana. "Apa kau mempunyai musuh?" tanya nya pada Ariel.


"Bukannya semua pembisnis juga mempunyai saingan?" Reza berujar.


"Tapi caranya tidak akan seperti ini, mereka akan lebih halus untuk memainkan rencana kotor." Nathan berujar.


Kemudian mereka semua terdiam.


"Joana!" Ariel mengingat bagaimana perempuan itu terkhirkalinya yang begitu marah terhadapnya.


"Model gatel itu?" kata Jessy.


"Siapa lagi!" sahut Meili sembari mengelus perutnya. "Amit-amit."


"Apakah tidak bahaya untuk Delia jika kita lapor pada polisi!" Nathan kurang setuju. "Tunggulah sebentar lagi, siapa tau kita akan mendapatkan petunjuk. Dan gunakan orang kita saja terlebih dahulu."


Kemudian mereka semua menghubungi anak buahnya masing-masing untuk mencari keberadaan Delia.


"Aku tidak bisa diam seperti ini, aku harus mencarinya." Ariel beranjak.


"Lalu kamu akan mencarinya kemana?" Raka mencegah. "Apartemen? Aku rasa itu adalah tempat yang paling tidak mungkin dia berada di sana."


Ariel berhenti.


Ike.


Ia teringat asisten Joana.


Ia mengotak atik ponsel nya, berharap mempunyai nomer perempuan itu. Dan keberuntungan seperti berpihak padanya, ia mempunyai nya.


"Halo... " Ketika Ike sudah mengangkatnya.


"Joana ada bersamamu?" tanya Ariel tanpa basa basi.


"Tidak ada, mulai pagi aku tidak melihatnya."


"Jangan bohong!" Ariel berteriak.


"Su-sungguh." Ike yang ketakutan di sebrang sana. "Aku juga mencarinya, tapi belum ketemu."


"Jika saja kalian berdua berani macam-macam denganku, kalian akan tau akibatnya." Ariel mengancamnya.


Dan panggilan berakhir.


Ariel lalu pergi dari sana.


"Kak Ariel mau pergi kemana?" Meili melihat Ariel pergi menuju mobilnya. Lalu perlahan keluar dari pekarangan rumah Reza.


"Dia tidak bisa di hentikan." kata Raka.


*


*


Hingga malam menjelang, kabar Delia masih belum di ketahui. Dan kini Ariel pun tidak bisa di hubungi.


"Ariel masih tidak bisa di hubungi." Reza yang baru saja mencoba menghubungi sahabatnya itu, tapi hasilnya tetap sama.


Nathan dan Raka masih berada di kediaman Reza, tapi Meili dan Jessy sudah mereka suruh pulang terlebih dahulu.


"Apa kita perlu menghubungi Om?" Reza bertanya pada kedua temannya.


"Iya, lebih baik kita mengatakannya. Bagaimanapun mereka orang tua Ariel, dan sekarang putranya ikut sulit di hubungi." Nathan menyetujui.


Reza akhirnya menghubungi Sbastian.


"Halo Om." Begitu sambungan terhubung. "Apa Ariel beberapa saat lalu menghubungi Om?" Reza yang tidak langsung mengatakan keadaan yang sebenarnya.


Terdengar helaan nafas dalam dari Sbastian. "Belum."


"Terjadi--"


"Om sudah tau Za." sahut Sbastian.


Ia sudah mendengar dari anak buahnya, dan ia pun kecolongan. Ia tidak menyangka di hari perayaan istri sahabat putranya akan terjadi seperti ini.


Reza menghembuskan nafasnya kasar. "Kami juga sedang mencarinya Om."


"Terima kasih Za, nanti kalau ada kabar beritahu Om."


"Pasti Om."


Dan panggilan berakhir.


"Om Sbastian sudah tau." Reza berujar, membuat Raka dan Nathan menghembuskan nafasnya perlahan.


Mereka hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja.


*


*


"Pih, bagaimana dengan kabar putra kita juga Delia?" Rima yang sedari tadi tidak berhenti menagis setelah mengetahui kabar yang menimpa putranya.


"Mereka masih belum memberi kabar lagi Mi, kita berdoa agar mereka baik-baik saja." Sbastian mencoba menangkan istrinya. Tapi Rima sama sekali tidak mau berhenti menangis.


Sedangkan ia sendiri juga merasa khawatir, ayah mana yang tidak khawatir jika terjadi sesuatu terhadap putranya.


Tidak lama ponsel Sbasian berdering, terlihat nomer anak buahnya yang mencoba menghubungi.


"Bagaimana?" tanya Sbastian.


"Mobil Pak Ariel kami temukan di jalan xxx, namun mobilnya kosong tidak ada siapa-siapa."


"Cepat temukan mereka, dan pastikan mereka dalam keadaan baik-baik saja." Meskipun suara Sbastian terdengar datar, tapi dapat di pastikan itu lebih menakutkan dari pada teriakan.


"Baik Pak."


Setelah sambungan berakhir, kini Sbastian setidaknya dapat sedikit lega. Karena mereka medapatkan petunjuk. Ia yakin hilanya putranya berhubungan juga dengan hilanya Delia.


Kini ia harus bersabar menunggu informasi yang akan di berikan oleh anak buahnya.


"Bagaimana Pi! Sudah ketemu?" tanya Rima.


"Belum Mi, mungkin sebentar lagi mereka akan menemukan Ariel."


"Papi... Sedari tadi kenapa mereka belum menemukan nya." Rima rasanya sudah tidak sabar, tangisnya kembali pecah. Karena hal hal buruk terus berputar di pikirannya.


"Mereka juga sedang berusaha Mi."


"Oh... Putraku." Rima yang tidak bisa membendung kesedihannya. "Delia gadis yang malang."


Ponsel Sbastian kembali berdering.


"Pak, lokasi sudah di temukan." Anak buah Sbastian memberi tahu.


"Lakukan seperti biasa." Kata Sbastian.


"Baik Pak, perintah di terima."


...----------------...


...Ikut deg deg kan 😬...