
Joana dan Ariel mereka memutuskan untuk makan bersama di restoran hotel, lebih tepatnya Joana yang mengajak.
Senyum tampak mengembang di bibir Joana, ini adalah rencana pertamanya untuk membuat pria itu agar selalu bersamanya.
"Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini!" Joana memulai makan siangnya, ia membuat pertemuannya dengan Ariel seolah olah karena kebetulan.
"Aku di sini ada pekerjaan." Ariel berbasa-basi.
"Ehm... aku juga sedang ada pemotretan di sekitar sini." Joana berdusta. Tentu saja ia tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya. "Apa kamu akan lama berada di sini?"
"Hanya beberapa hari, setelah itu aku akan kembali." Ariel telah menyelesaikan makan siangnya. "Sepertinya aku harus kembali ke kamar."
"Aku juga akan kembali ke kamar." Joana juga menyudahi makan siangnya.
Mereka berdua akhirnya menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai di mana kamar mereka berada.
*
*
"Sayang! Apa tidak mau sebentar untuk sekedar minum? Kita sudah lama tidak bertemu." Joana membujuk Ariel.
Ternyata kamar mereka adi lantai yang sama, dan sekarang mereka berada di depan kamar Joana.
"Aku harus istirahat." Ariel menolaknya.
Joana tersenyum kecut, rupanya pria di hadapannya ini memang benar-benar berubah. Tapi ia tidak boleh menyerah begitu saja.
"Oh... ayolah hanya sebentar saja." Joana berhasil membuka pintu kamar hotelnya, kemudian menarik Ariel masuk ke dalam. "Tunggulah sebentar, aku akan memesan minuman." tanpa mendengar persetujuan Ariel, ia segera melakukan pemesanan.
Ariel menghembuskan nafasnya kasar. "Hanya sebentar, ok."
"Tentu." Joana menyetujui. "Tunggulah, aku mau ganti baju sebentar." Ia meninggalkan Ariel.
Ariel sendiri merebahkan tubuhnya pada sofa.
Tidak lama bel pintu kamar Joana berbunyi. "Joana!" panggil Ariel.
"Tolong buka kan, aku belum selesai." Teriak Joana dari dalam kamar mandi.
"Ha... " Ariel menghembuskan nafasnya kasar, mau tak mau ia akhirnya yang membukakan pintu.
"Saya permisi." Begitu pelayan itu selesai menata pesanan Joana di atas meja.
"Apa dia akan menghabiskan semua ini?" Ariel melihat banyak botol minuman yang Joana pesan. Sekitar lima botol.
Klek.
Pintu kamar mandi terbuka, dan Joana sudah selesai berganti baju. "Maaf lama." katanya dan bergabung dengan Ariel duduk di sofa.
Siang ini Joana mengenakan gaun dengan potongan pendek dan berbahan cukup tipis. Bahunya yang indah tanpa penghalang tampak begitu mempesona, dan pahanya yang jenjang dengan warna kulitnya yang putih tampak begitu menggiurkan.
Rupanya ia benar-benar paham bagaimana cara menggoda Ariel yang notabene nya seorang Casanova.
Ariel mengetatkan rahangnya, pemandangan di depannya sepertinya memang di sengaja oleh perempuan itu.
"Kenapa?" Joana mengetahui jika Ariel sedang menatapnya lekat, tapi dalam hatinya tentu ia sungguh gembira. Ia mulai menuangkan minuman yang tadi ia pesan ke dalam gelas, dan menambahkan sedikit es batu. "Silahkan!" Ia meletakkan segelas minuman berwarna putih kekuningan itu di hadapan Ariel.
"Hm.... sahut Ariel." Tanpa ia sadar ia langsung menghabiskan nya sekali teguk. "Argh... " Rasa panas dan pahit yang tertinggal di tenggorokan nya.
"Hei... jangan buru-buru, minumannya masih banyak. Tenang saja." Joana berujar. Tapi ia segera mengisi gelas Ariel kembali hingga penuh.
"Cuaca di Bogor sejuk ya! Sudah lama aku tidak kemari." Joana melihat pemandangan luar dari jendela kamarnya.
"Hm... cuacanya memang selalu sejuk." Ariel yang menyetujui, dan ia kembali menenggak kembali minumannya.
"Sayang... ternyata kamu memang hebat jika urusan minum." Lagi-lagi Joana mengisi gelas Ariel kembali. Sepertinya ia memang sengaja akan membuat pria itu mabuk, ia lalu duduk tepat di sampingnya.
"Apa udara di sini kurang dingin?" Joana menyadari. Ia lalu menambah suhu dingin pada pendingin ruangannya.
"Kita sudah lama tidak seperti ini, kamu akhir akhir ini sangat sibuk." Joana lebih mendekat pada Ariel, ia bahkan mulai mengusap lengan kokoh itu. "Padahal aku sangat merindukanmu."
Ariel tidak menjawab ucapan Joana, tapi sekali lagi ia menenggak kembali minumannya hingga tak tersisa. Tatapannya sangat sulit di alihkan dari tubuh molek Joana, seperti kucing yang di hadapkan oleh ikan.
Apalagi gaun yang di kenakan sangat terbuka di bagian atas, hingga ia bisa melihat belahan yang terlihat cukup jelas.
"Hei... apa kau tidak merindukan aku?" Joana sekarang lebih berani, ia duduk mengang*kang di pangkuan Ariel. Tangannya ia kalungkan pada leher pria itu.
Joana sungguh bersorak dalam hatinya, rupanya mangsanya sudah termakan umpan yang ia berikan. Terlihat tidak ada penolakan dari Ariel.
Mata Ariel bahkan kini sedikit memerah.
"Sayang!" Joana berbisik di telinga Ariel, hingga membuat tubuh pria itu sedikit gemetar.
"Jo..." Ariel menggeram, hasrat dalam dirinya mulai bangkit.
"Iya..." sahut Joana. Ia lalu mengecup bibir pria itu sekilas.
"Kau yang memulainya." Ariel meremas paha Joana.
"Memangnya kenapa?" Joana justru tersenyum. Tapi di detik berikutnya ia kembali menempelkan bibirnya pada bibir Ariel.
Namun kini ia mulai bermain di bibir Ariel, sedikit menyesap nya dan mempermainkan ya. Ternyata usahanya tak sia-sia, rupanya Ariel juga menyambut permainannya.
Kedua bibir itu saling berlomba untuk menyesap, dan membelit. Seperti tidak ada puasnya, mereka berdua tidak ada yang mengakhiri.
Tangan Ariel sendiri tidak tinggal diam, tangannya mulai merayap ke atas hingga menemukan bulatan kenyal.
"Ah... " Joana mende*sah ketika Ariel meremas kedua asetnya.
Ariel yang terbakar gairah langsung menarik paksa gaun milik Joana kebawah, dan dugaannya benar wanita itu tidak memakai apa-apa di balik gaunnya.
"Apa kamu tidak merindukannya?" Joana melihat Ariel yang sekarang tatapannya pada dadanya. Dan dengan sengaja ia membusungkannya.
Joana sendiri juga sudah terbakar gairah, terlihat puncak dadanya begitu mencuat.
Tentu saja itu santapan yang lezat bagi pria termasuk Ariel, tidak membutuhkan waktu lama ia langsung melahapnya.
Menyesapnya juga mempermainkan dengan lidahnya.
"Akh... " Joana yang tidak tahan untuk menahan gejolak yang ada pada dirinya.
Ariel menyesapnya secara bergantian, dan sesekali meremas dengan tangannya. Membuat wanita itu semakin gila.
Perlahan tapi pasti Ariel mendorong Joana hingga berbaring di sofa, dan ia menang atas kendalinya.
"Oh... sayang." Joana meremas rambut Ariel, ketika ia merasakan sesapan di dadanya semakin keras. Meskipun sedikit sakit tapi ia menyukainya.
Tangan Ariel terus bergerak turun, hingga ia menemukan kain segitiga yang menjadi penghalang pusat Joana. Ia hampir saja melepaskannya, namun seketika bayangan wajah sendu Delia melintas di pikirannya.
"Kenapa?" Joana melihat Ariel yang menghentikan permainan yang, dan terdiam di tempatnya. "Sayang... !"
Ariel menggelengkan kepalannya, lalu beranjak. "Maaf, aku tidak bisa." Ia langsung pergi dari sana.
"Nggak." Joana tidak terima. "Ariel...!" panggilnya, namun pria itu sudah pergi dari kamarnya. "Sia*lan" teriaknya.
Di dalam kamar hotel, Ariel segera membasuh wajahnya dengan air dingin. Berharap bisa menyadarkannya kembali. "Astaga!" Ia merutuki kebodohannya.
...----------------...
...Anu... ya gitulah ðŸ¤...