Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Perasaan Orang Tua



"Ini sebenarnya bagaimana sih!" Rima tidak memahami situasinya. Dari tempatnya sekarang ia bisa melihat Delia dan Adi makan bersama, yang tak lama di susul putranya ikut masuk ke dalam rumah lalu makan bersama.


"Ya sudah, kita pulang saja. Pengintaian hari ini cukup di sini." Rima memutuskan untuk menyudahi. Ia akan memikirkan cara lain.


"Iya Bu."


*


*


Di teras rumah yang tidak terlalu besar menjadi tempat Ariel dan Adi duduk, tentu saja dengan beralaskan karpet.


"Kalian duduk di sini saja, tidak enak jika di lihat orang kalau di dalam." kata Delia. "Nanti takutnya ada tetangga ngiranya yang tidak-tidak."


"Aku mau cucu piring dulu." Delia pergi dari sana meninggalkan mereka berdua.


"Aku bantu--" Belum sempat Adi berdiri, tangannya sudah di tarik Ariel lebih dulu.


"Di sini saja, apa kamu nggak dengar! Nanti ada yang ngira nggak nggak." Ariel mengingatkan perkataan Delia tadi.


"Tadi sebelum Om datang, aku di dalam juga nggak apa-apa." Adi merasa sikap. pria dewasa di depannya ini semakin lama semakin menyebalkan.


Ia ingat ketika makan malam tadi, Ariel yang datang tiba-tiba lalu menghabiskan semua makanan.


Ariel yang mendengarnya mendengus. "Tapi sekarang tidak boleh." ketus nya. "Dan ingat jangan panggil Om, aku tidak setua itu."


"Tapi tadi Delia manggil Om." sahut Adi.


"Itu beda lagi."


"Bedanya di mana? Aku dan Delia sepantaran."


"Tetap saja beda, panggil aku Kakak atau Kak Ariel itu lebih baik."


Adi memutar bola matanya.


Beberapa saat kemudian Delia keluar setelah menyelesaikan urusannya. "Kalian kenapa?" Ia melihat dia pria yang beda usia itu saling diam.


"Tidak kenapa kenapa!" sahut keduanya kompak. Membuat Delia terkekeh.


"Sepertinya kalian sudah mengenal sangat baik." Delia berujar.


Dan Delia kembali tertawa, ketika melihat Ariel juga Adi sama-sama mendengus.


Di saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, nyatanya dua pria itu masih betah berada di kontrakan Delia.


"Apa kalian tidak ingin pulang?" Delia bertanya. "Sudah malam."


"Masih jam sembilan." Adi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kamu ngusir?" Ariel tanpa basa basi.


Delia menghembuskan nafasnya perlahan. "Bagi kalian jam sembilan, mungkin masih sore. Tapi aku perempuan, tinggal sendiri juga. Tidak baik jika ada laki-laki di rumahnya sampai malam, bisa jadi fitnah." Matanya melihat sekitar, di mana beberapa rumah tetangganya sudah mematikan lampu teras.


Adi dan Ariel sama-sama terdiam, memang kehidupan mereka dan gadis di depannya ini berbeda.


"Uhm ... ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu." Adi beranjak dari duduknya di ikuti Delia. "Besok sekolah aku jemput?"


"Ck," Ariel berdecak mendengarnya. Hingga membuat perhatian kedua orang itu beralih padanya.


"Nggak usah Di, aku pesan ojek aja." tolak Delia.


"Ya sudah kalau begitu." Saat Adi bersiap pergi, ia melihat Ariel masih duduk dengan nyamannya. "Om... eh maksudku Kak Ariel nggak pulang juga?"


Alis Delia saling bertautan, merasa heran dengan panggilan Adi. Dan itu rasanya lucu.


Ariel mencebikkan bibirnya. "Iya nanti aku pulang."


"Sekarang Kak." Adi terus berdiri di samping pria itu.


Yang membuat Ariel mau tidak mau berdiri. "Kenapa dia sangat menyebalkan." gumamnya. Lalu ia berpamitan dengan Delia. "Aku pulang."


"Hm..." sahut Delia.


"Apa itu tadi!" Rupanya Adi mendengar apa yang di katakan Ariel. "Lagian sudah tua juga masih mau kumpul sama anak sekolah." Adi menggerutu. Kemudian ia berjalan menuju mobilnya.


"Hei... aku mendengarnya." Ariel hampir saja masuk ke dalam mobilnya.


Hingga kemudian kedua pria itu pergi dari sana.


Delia menggelengkan kepalanya. "Kenapa mereka berdua seperti anak TK!"


*


*


Melihat kedatangan sang putra, ingin sekali Rima segera menanyakan tentang apa yang di lihatnya tadi. Namun dengan Bastian meremas tangannya untuk mengurungkan niatnya.


Beberapa saat lalu istrinya telah menceritakan apa yang di lihatnya seharian ini.


"Papi sama Mami belum tidur?" Ariel melihat kedua orang tuannya masih terjaga.


"Itu karena kami menunggumu pulang." Rima berujar.


"Ariel sudah besar Mami, tidak usah di tungguin." Ariel terkekeh.


"Sebesar apapun seorang anak, di mata orang tua mereka tetap anak-anak."Sahut Rima membuat Ariel terdiam. "Nanti kalau kamu sudah berkeluarga dan mempunyai anak baru tahu rasanya bagaimana jika anak kita belum pulang, entah itu laki-laki atau perempuan itu sama saja. Mereka tetap seorang anak bagi orang tua, apalagi jika sebagai orang tua gagal membuat anaknya bahagia itu rasanya akan sangat menyakitkan."


Ariel semakin mengatupkan rapat-rapat.


"Makannya, cobalah kamu berhenti dengan permainan permainanmu. Pikirkan lah masa depanmu, kamu tidak bisa hidup sendiri selamanya. Ok, jika sekarang masih ada kami tapi jika kami sudah tidak ada bagaimana?" Entahlah Rima rasanya ingin mengatakan semua yang mengganjal di hatinya tentang putranya itu.


"Mami jangan bicara begitu." Ariel tidak suka jika Rima membahas kematian.


"Tapi itu kenyataannya Nak, umur tidak ada yang tau sampai kapan kita hidup. Dan Mami tidak mau jika suatu saat kami pergi, kami belum bisa melihatmu bahagia. Setidaknya bangunlah sebuah rumah tangga, kami bahkan tidak pernah menuntut dari segi bibit bebet dan bobot."


"Sayang... !" Bastian sekali lagi menggenggam tangan istrinya. "Sudah..." katanya dengan lembut, hingga membuat istrinya itu diam. Ia lalu menoleh pada putranya. "Istirahatlah, kamu pasti capek pulang bekerja."


Sejenak Ariel terdiam, ia merasakan sudut hatinya terasa ngilu karena ucapan ibunya. "Iya, Pih." Lalu ia berjalan menuju kamarnya.


Melihat putranya sudah menghilang dari pandangannya, kini Bastian menoleh pada istrinya. "Papi tau Mami lakukan semuanya demi kebaikan putra kita, mungkin kita beri waktu sedikit lagi. Setelah itu terserah Mami."


"Terserah Mami?" Rima mengulangi ucapan suaminya.


"Hmm... terserah Mami."


Membuat sudut bibir istrinya itu melengkung membentuk sebuah senyuman.


*


*


Pagi menjelang suasana kantor tampak begitu ramai, mereka tengah di sibukkan oleh pekerjaan masing-masing.


Tidak terkecuali dengan Ariel, ia juga mengerjakan pekerjaannya dengan lancar. Namun ucapan Rima semalam sungguh mengganggunya hingga kini.


Ia sejenak menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, matanya menatap langit-langit. Dengan pikirannya yang menerawang jauh. "Apa iya aku harus menikah?"


Mungkin menikah adalah sesuatu hal yang mudah, tetapi menjalankan komitmennya yang rasanya begitu sulit untuk di jalankan.


Ia memejamkan mata di saat pening menghinggapi kepalanya, berharap bisa mengurangi rasa pusingnya. Namun, justru wajah Delia yang melintas di pikirannya. Hingga membuat ia segera membuka matanya.


"Kenapa justru gadis itu!" Ia bermonolog.


Tok.


Tok.


"Masuk!" Ariel menyahuti.


Ternyata Arga yang datang. "Pak, lusa kita akan pergi ke Bogor untuk meninjau proyek yang baru saja di bangun."


Ariel menghembuskan nafasnya kasar. "Tidak bisakah kamu yang pergi?"


"Tidak bisa Pak."


...----------------...


...Wah... Bentar lagi ada yang nggak ketemu dedek gemes nih 🤭...


...Seperti biasa guys, jangan lupa dukungannya 🥰...