Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Melakukan Sesuatu



Adi semalaman tidak bisa tidur, ia bimbang untuk memutuskan hadir atau tidak di pernikahan Delia.


"Tumben kamu sudah bangun!" Arsyad melihat putranya.


Karena biasanya di hari libur sekolah pria muda itu akan bangun sedikit siang dari biasanya.


"Uhmm... " Adi sedikit terkejut melihat kedatangan ayahnya.


"Tidak bisa tidur?" Setelah Arsyad duduk di sebelah putranya dan dapat melihat wajah Adi yang lesuh, dan terdapat mata panda.


Adi hanya tersenyum kecil.


"Mau lari pagi bersama?" Arsyad menawari.


*


*


Arsyad dan Adi berlari kecil di taman komplek, dan pagi ini udaranya cukup dingin.


Dan beberapa orang yang datang juga melakukan hal yang sama seperti mereka.


Beberapa saat berlari, mereka memutuskan untuk beristirahat.


"Sepertinya pernikahan Delia sebentar lagi akan di mulai!" Arsyad melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian ia menenggak air mineral yang tadi di belinya.


Tidak ada tanggapan dari Adi.


Pemuda itu sibuk menenggak air minumnya.


"Papa ikut prihatin dengan nasibnya, di hari seperti ini seharusnya bisa di dampingi kedua orang tuanya." Arsyad berbicara. "Tapi kedua orang tuanya hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, dan Papa tidak yakin jika ibu tirinya mau mendampingi. Pasti sangat berat." Ia menghembuskan nafasnya perlahan.


Adi hanya diam, tapi dalam diamnya sesuatu seperti berkecamuk dalam hatinya.


"Semoga saja Delia bisa tegar menghadapi nya." Arsyad yang terus berbicara.


Tangan Adi mengepal erat, dan tanpa banyak bicara ia langsung pergi dari sana meninggalkan Arsyad.


"Hei... Mau kemana?" Arsyad berteriak, namun putranya itu justru berlari. Ia tertawa melihat itu. "Dasar anak muda."


Sedangkan Adi, rupanya ia berlari ke arah rumah. Tidak lama terlihat ia sudah berpakaian rapi, dengan tergesa-gesa ia masuk ke dalam mobil dan perlahan mobil itu melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah.


*


*


Ruang rawat inap Delia yang tadi sempat ramai karena acara pernikahan, kini perlahan mulai sepi. Para saudara yang tadi datang sudah berpamitan untuk pulang, begitupun sahabat Ariel.


"Aku pulang dulu, dan sekali lagi selamat ya." Adi yang saat itu menjadi tamu terakhir. "Sorry, nggak bawa hadiah. Menyusul saja hadiahnya." Ia terkekeh.


Setidaknya itu adalah keputusan yang tepat untuk hadir, bagaimana jadinya jika ia tidak hadir. Mengetahui jika hanya dirinya orang terdekat yang hadir, jika tidak mungkin ia akan menyesalinya seumur hidup.


Meskipun ada rasa sedikit tak nyaman, tapi rasa legah lebih mendominasi perasaannya saat ini.


Delia tersenyum. "Kamu mau datang aja aku udah seneng Di."


"Iya Nak, terima kasih sudah mau datang." Rima yang saat itu menemani Delia juga merasa senang, karena ada sahabat menantunya yang bersedia datang.


"Iya Tante sama-sama." sahut Adi.


"Uhm... Di, soal pernikahan ku jangan bilang ke teman-teman ya." Untuk ke sekian kalinya Delia memintanya.


"Iya, bawel banget. Nggak percaya!" Adi memutar bola matanya. Padahal iya tadi sudah menyanggupinya.


Membuat Delia dan Rima tertawa.


Ariel yang duduk bersama Bastian tak jauh dari sana hanya memutar bola matanya malas melihat interaksi isterinya.


Ia kemudian berniat menghampiri, namun lebih dulu di hentikan oleh Bastian. "Biarkanlah, mereka hanya mengobrol. Lagi pula sudah ada Mami yang menemani. Kamu juga bisa melihatnya dari sini."


Bastian tau gelagat aneh dari puteranya.


Ariel mendengus.


Tapi yang di katakan papinya ada benarnya juga, toh mereka tidak melakukan kontak fisik. Mungkin hanya dirinya saja yang berlebihan.


"Sekarang tanggung jawabmu bukan untuk dirimu sendiri, tapi juga istrimu." Bastian memulai obrolan.


"Aku sudah tau Pi." jawab Ariel tanpa memalingkan pandangannya.


Bastian menggelengkan kepalanya. "Tanggung jawab seorang suami, bukan hanya soal materi. Tapi lebih dari itu."


Ariel tidak menyahuti.


Mendengar itu Ariel menoleh ke arah Bastian, dan rupanya pandangan Papinya itu tertuju pada Rima.


"Kamu tau, terkadang orang meminta maaf jika berbuat salah. Tapi dalam rumah tangga, meskipun tidak salah lebih baik meminta maaf dan mengalah jika ada pertengkaran. Karena pertengkaran yang berlarut-larut akan membuat pondasi rumah tangga menjadi retak, apalagi jika komunikasi juga memburuk. Itu adalah hal yang di takutkan bagi orang yang sudah menikah, jadi kamu harus bisa menjaga itu. Dan ingatlah, Delia sudah tidak mempunyai siapa-siapa selain kamu yang sekarang bisa menjadi tempatnya bersandar. Jadi jangan sakiti istrimu." Bastian mengusap matanya yang mulai berembun.


Meskipun anaknya itu menikah di usia yang sudah matang, tapi tetap saja ada rasa harus yang menyeruak dalam hatinya.


Ariel menggapai tangan Bastian untuk ia genggam. "Ariel berjanji Pi, akan menjaga dan membahagiakan istri Ariel.


*


*


"Sayang, Mami sama Papi mau pulang. Apa kamu mau berganti pakaian sekarang? Biar Mami bantu." Rima dan suaminya yang sore itu akan pulang.


"Tidak usah Mi, nanti biar Ariel yang bantu." Ariel menyahut.


Delia yang mendengar itu menjadi salah tingkah, ia masih belum terbiasa dengan status baru nya.


Rima memicingkan mata. "Kamu jangan macam-macam ya! Istri kamu masih sakit." Ia tau apa yang ada dalam otak anaknya.


Ariel berdecak. "Cuma berganti pakaian Mi."


"Ya sudah, biarkan nanti Ariel yang membantunya." Bastian menengahi. "Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu." Ia berpamigan pada anak menantunya.


"Hati-hati di jalan." ujar Delia sebelum mertuanya benar-benar pergi meninggalkannya.


Dan di ruangan itu seketika menjadi hening, hanya ada kecanggungan di antara keduanya.


"Uhm... Mau ganti baju sekarang?" Ariel mendekati istrinya.


"Ehm... Bagaimana kalau ganti bajunya di bantu sama perawat saja?" Delia sungguh merasa malu jika di bantu oleh suaminya.


"Nggak!" Ariel menjawab cepat, tentu saja ia tidak rela jika tubuh istrinya di lihat orang lain. Sedangkan sekarang semua yang ada pada Delia sudah menjadi miliknya. "Biar aku saja."


Delia merasakan tenggorokannya yang tiba-tiba kering, apalagi melihat suaminya yang semakin mendekat padanya. "Mas saja yang ganti pakaian terlebih dahulu, setelah itu baru aku."


Ariel terdiam, dan mungkin sebaiknya memang begitu. "Baiklah, kalau begitu biar aku yang ganti baju lebih dulu."


Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Setelah ini bagaimana?" Delia sedikit bernafas legah. "Apa aku panggil perawat saja sekarang? Tapi bagaimana kalau nanti dia marah?"


Hingga akhirnya Delia hanya bisa menunggu, dan ia bisa mendengar jika suaminya tengah mandi.


Klek.


"Apa pakaian ku sudah di bawa Arga ke sini ya?" Ariel berjalan menuju lemari.


Mata Delia seketika membulat, melihat keadaan suaminya. Yang tanpa rasa malu berjalan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Mata Delia berkedip beberapa kali, hingga kesadarannya kembali dan seketika ia memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Sayang, kamu tau tidak?" Mata Ariel melihat isi lemari dan mencari keberadaan pakaiannya.


"A-aku tidak tau." jawab Delia dengan gugup dan tanpa menoleh ke arah suaminya. "Mu-mungkin di barisan paling bawah."


Alis Ariel saling bertautan karena merasa heran mendengar nada bicara istrinya. Dan saat ia menoleh, ia mendapati istrinya yang tengah gugup. Hingga kemudian ada senyuman kecil yang terbit di bibirnya. "Di mana, sepertinya tidak ada." bohongnya, padahal pakaiannya sebenarnya ada. Ia justru berjalan mendekat ke arah Delia tanpa sepengetahuan gadis itu.


"Coba Mas cari lagi." Delia yang lagi-lagi tidak menoleh.


Ariel mencondongkan tubuhnya, hingga wajahnya begitu dekat dengan wajah Delia. "Di mana! Aku tidak menemukan nya."


Mata Delia semakin melebar, saat nafas segar suaminya menerpa telinganya. Dan itu pertanda sedekat apa mereka sekarang ini.


"Kenapa bicara tidak menoleh? Itu tidak sopan." kata Ariel, dan posisinya tetap sama seperti tadi.


Delia perlahan menoleh, lalu mendapati suinya yang tersenyum padanya. "I-itu di sana." Tunjuknnya pada lemari.


"Di mana?" Ariel justru menggapai tangan Delia.


"M-Mas, cepat ganti baju. Nanti ada orang yang masuk." Delia berusaha menarik tangannya, tetapi Ariel tak membiarkannya lepas.


"Tidak akan ada yang berani masuk begitu saja." jawab Ariel, ia semakin menatap lekat wajah gugup istrinya. Tapi entah kenapa ia menyukainya. "Apa kamu gugup? Kita kan tidak melakukan apa-apa?"


"Apa kamu ingin melakukan sesuatu?" Ariel menaik turunkan alisnya.


...----------------...


...Emang melakukan apa? Kenapa aku nggak paham! Apa karena aku masih polos 😅🤭...


...Mungkin kalian tau 😁...