
"Kamu ngantuk, sayang!" Rima memperhatikan menantunya yang sejak dari tadi menguap.
"Hm... Tidak Mi." Delia yang tersenyum canggung.
Padahal ia sebenarnya sangat mengantuk, bagaimana tidak Ariel sepanjang malam mengganggunya hingga tidak bisa membuatnya tidur nyenyak.
Dan puncaknya tadi subuh, hingga pagi menjelang akhirnya ia tidak tidur.
Padahal rencananya tadi ia mau tidur setelah perawat mengganti seprei, namun apa daya ibu mertuanya sudah datang. Tidak enak sekali jika ia tinggal tidur.
Matanya kemudian melirik suaminya, di mana pria itu sedang duduk di sofa dan tangannya yang bermain dengan ponsel pintarnya.
Lihatlah wajah tampan itu begitu berseri-seri, hingga sesekali tersenyum dengan pandangannya yang masih fokus pada ponsel.
Kemudian, pandangan mereka tidak sengaja bertemu. Yang di sambut oleh senyuman tampan suaminya
Delia memutar bola matanya malas.
Suaminya itu ternyata sangat menyebalkan.
"Kalau kamu mau tidur tidak apa-apa, mungkin karena minum obat jadinya mengantuk." Rima kemudian mendekat, membantu Delia berbaring dan mencari posisi nyaman untuk tidur.
Delia hanya diam dan menurut, padahal ia sebenarnya lupa jika belum minum obat. Tapi ya sudahlah, mungkin ini lebih baik.
"Mi ..." Delia menghentikan Rima yang akan beranjak.
"Ya!" Rima menatap menantunya.
"Uhm.... Kapan Delia pulang dari rumah sakit?" Takut-takut ia bertanya.
Mendengar pertanyaan Delia Ariel bereaksi, ia lalu mendekat ke arah istrinya.
"Kamu kan belum sembuh, di rumah sakit dulu saja sampai benar-benar membaik." kata Ariel.
Rima melihat raut wajah menantunya yang tidak terlalu senang mendengar apa yang di katakan Ariel.
"Nanti Mami tanyakan dulu pada Dokter ya." Rima berujar, hal itu sontak membuat Delia tersenyum. "Sekarang kamu tidur saja."
"Tapi Mi--"
"Lebih baik kita menemui Dokter." Rima mengajak Ariel keluar dari kamar Delia.
"Mami, kenapa bilang begitu?" Begitu mereka sudah keluar, dan Ariel tidak setuju dengan Rima.
"Bilang apanya! Memangnya kenapa? Orang sakit kalau sembuh ya memang harus pulang."
Mereka berjalan ke ruang Dokter.
"Tapi Delia belum sembuh."
"Kita kan belum tau apa kata Dokter, mungkin saja Delia sudah boleh pulang. Kita tidak tau." Rima lalu menghentikan langkahnya dan di ikuti Ariel. "Orang sakit terkadang lebih cepat sembuh jika berada di rumah, mungkin karena mereka merasa nyaman dan dekat dengan orang yang mereka sayangi."
Ariel diam mendengarkan.
"Delia kan masih bisa kontrol ke rumah sakit, kalau tidak kita bisa memanggil Dokter ke rumah. Lagi pula kalau Delia pulang bagus juga, Mami ada temannya." Rima tersenyum.
Ariel mendengus.
*
*
Semenjak Delia sakit, di sekolah sudah tidak se menyenangkan biasanya. Tentu saja itu hanya berlaku buat Adi, jika teman-teman yang lainnya tidak begitu berpengaruh.
Adi menatap bangku di belakangnya yang kosong sudah beberapa hari di tinggal penghuninya, dan tidak ada yang menempatinya.
"Ha... " Adi menghembuskan nafasnya kasar.
Ia tidak mengira jika persahabatannya dengan Delia akan berakhir secepat ini, meskipun dalam artian tidak benar-benar berakhir namun di antara mereka harus ada jarak. Mengingat Delia sudah memiliki suami.
"Di, nggak ke kantin?" Seperti biasanya Lira yang selalu mengajak Adi ke kantin setiap jam istirahat.
Tidak adanya Delia menjadikannya lebih leluasa untuk mendekati Adi, dan di antara teman yang lainnya hanya ia yang bersyukur atas sakitnya Delia.
Adi menoleh ke arah Lira yang berdiri di samping meja. "Makasih Lir, tapi aku udah ada janji sama yang lain."
"Reksa!" Adi memanggil temannya yang sudah di ambang pintu, ia lalu menoleh kembali ke arah Lira. "Sorry ya." Dan ia benar-benar pergi bersama Reksa.
Tangan Lira mengepal erat, kenapa susah sekali mendekati Adi padahal Delia sudah tidak ada. Namun nyatanya ia masih belum bisa mendekat.
"Udahlah lir, cari aja yang lain. Dia sepertinya nggak mau sama kamu." Jeni datang menghampiri.
Lira masih menampakkan raut wajah kesalnya, apalagi di tambah ocehan Jeni.
"Meskipun apa yang aku ucapkan itu menyakitkan, tapi itulah kenyataannya. Denger ya,kamu itu cantik nggak kurang kok cowok yang mau sama kamu." Jeni memberi pengertian. "Lagi pula, lebih baik itu di cintai dari pada mencintai."
"Sok puitis!" Lira mencibir.
"Emang kamu dah punya pacar! Dah ngerti rasanya?" Lira bertanya.
"Ya ... Nggak juga sih." Jeni tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih.
"Dasar!" Membuat keduanya tertawa setelahnya.
Di kantin ternyata sudah banyak para murid yang datang memenuhi area kantin, tujuan mereka sama yaitu mengisi perut mereka yang terasa lapar setelah beberapa jam mengikuti pelajaran.
Tidak terkecuali Adi dan Reksa yang ternyata memang pergi ke kantin, mereka duduk area kantin paling pojok beberapa murid laki-laki lainnya.Namun mereka sibuk sendiri-sendiri.
Dan siang ini yang menjadi menu dua pria muda itu adalah bakso.
"Itu sih Lira kamu anggurin!" tanya Reksa sembari memakan baksonya.
Adi berdecak mendengar ucapan Reksa.
"Kamu di deketin gadis cantik malah kabur." Reksa sedikit tertawa.
Karena sebenarnya tadi ia dan Adi tidak ada rencana untuk pergi bersama ke kantin, dan Reksa tau jika Lira menyukai Adi. Melihat gadis itu yang selalu mendekat pada Adi.
"Siapa juga yang di deketin, dia cuma nawarin pergi ke kantin." Adi mengelak.
Adi sadar jika Lira menaruh hati padanya, oleh sabab itu ia selalu menolak ajakan gadis itu. Ia tidak mau jika Lira menganggap ia memberi harapan.
"Kalau nggak sama Lira sama siapa! Delia?" tanya Reksa lagi.
"Kepalamu!" Adi mendengus.
"Memangnya kenapa! Toh kalian selama ini kelihatan cukup dekat. Siapa tau yang awalnya temen jadi demen." Reksa terkekeh.
"Dia sekarang istri orang." batin Adi.
"Nggak lah, kita cuma cocok jadi teman aja. Lagian udah lama juga aku sama Delia temenan,jadi nggak mungkin ada yang aneh-aneh."
"Eh ... Siapa tau salah satu di antara kalian ada yang mempunyai rasa, tapi nggak berani mengungkapkan."
"Memang ada, dan rasa itu harus mati sebelum mekar." Adi yang lagi-lagi membatin.
"Alhamdulillah ... Dah kenyang." Reksa sudah menghabiskan bakso miliknya, dan segelas es jeruk. Begitupun Adi yang juga menyelesaikan makannya.
"Oh ya, dengar-dengar nanti pulang sekolah lebih awal. Dan katanya mau jenguk Delia juga, kamu nanti ikut?"
"Benarkah?" Adi tidak mengetahui akan hal itu. "Uhm ... Sepertinya aku ikut."
"Baguslah."
*
*
Dan benar saja, hari ini sekolah pulang lebih awal. Sekitar pukul satu siang beberapa murid sudah sampai di rumah sakit Delia di rawat.
Mereka mendapatkan informasi dari kepala sekolah.
Tidak semua murid ikut, hanya beberapa saja yang bisa mewakili.
Termasuk Adi, Reksa, Lira, dan tiga orang lainnya.
"Di kamu tau kamar Delia di rawat nggak?" Salah satu dari mereka bertanya setelah sampai di rumah sakit.
Adi tidak tau harus menjawab apa, mau di jawab tau takutnya mereka bertanya yang aneh-aneh setelah mengetahui kamar rawat inap Delia. Di jawab tidak tau rasanya aneh juga, mereka kan sahabat dekat.
"Aku belum sempat menjenguk." Akhirnya Adi memilih tidak tau.
"Kamu sahabat baiknya tapi belum menjenguk." ujar salah satu temannya.
Kemudian mereka memilih untuk bertanya saja pada pihak resepsionis.
"Pasien atas nama Delia Safitri ada di kamar VVIP nomer 2." Beri tau perawat yang sebelumnya mengkonfirmasi ke ruang ruang rawat Delia jika ada tamu yang ingin menjenguk, dan pemilik kamar mengijinkannya.
Mereka semua kecuali Adi hanya bisa saling pandang mendengar informasi itu, rasanya cukup aneh.
Hingga kemudian mereka berjalan di mana tempat Delia berada, di bangunan yang berbeda namun masih satu kawasan dengan rumah sakit.
"Beneran nggak sih!" Lira seperti tak percaya.
Kini mereka sudah berada di depan pintu yang bertuliskan VVIP 2.
Lalu Adi berinisiatif untuk mengetuk pintu, dan tidak lama terbuka dari dalam.
...----------------...
...Kalian nggak ada yang mau ikutan jenguk dedek Delia ðŸ¤...
...Jangan lupa dukungannya guys 🥰...