Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Meminta Bantuan Raka



Sebelum keinginan Ariel.


Di luar kamar rawat Delia, para lelaki membahas bagaimana langkah selanjutnya yang Ariel ambil untuk kejadian naas itu.


"Apa tidak di serahkan saja pihak yang berwajib?" Reza bertanya.


"Nanti, setelah aku puas memberi pelajaran. Mereka masih belum seberapa menerima hukuman." jawab Ariel. "Apalagi untuk wanita gi*la itu."


"Ya dan kaupun pernah tidur dengannya." Reza mengingatkan. Kenapa sahabatnya itu bodoh sekali dalam memilih wanita ular seperti Joana.


"Ck." Ariel berdecak mendengarnya. Karena dirinya pun sebenarnya juga menyesal kenapa dirinya dulu pernah bisa berhubungan Joana.


"Sebaiknya cepat selesaikan, biar semuanya cepat selesai." Nathan angkat bicara. "Agar hukum cepat menindak lanjuti."


Ariel hanya mengangguk anggukkan kepala.


"Oh ya kekasihmu itu bukannya masih sekolah?" Reza menahan senyum.


Ariel memutar bola matanya melihat itu.


"Sebaiknya kau jaga baik-baik, tidak mungkin wanita-wanita seperti Joana bukan cuma satu. Apalagi mantan teman tidurmu kan banyak." kata Reza.


"Kenapa harus mengingatkan tentang teman tidur!" Ariel mendengus.


"Dan di sekolah pasti juga ada banyak lelaki yang mengejar gadis seperti Delia." Reza terus saja berbicara, sepertinya ia senang melihat Ariel yang mulai kesal. "Oh ya, dia sekolah di mana?"


"Di sekolah Tunas Bangsa." jawab Ariel dengan kesal.


"Tunas Bangsa? Bukannya itu sekolah milik keluarga Meili juga?" Reza mengingat-ingat.


Keluarga Meili yang sekarang memang memiliki beberapa sekolah, dan Meili menyerahkan pada Raka yang mengurusnya.


Alis Ariel tampak saling bertautan, seperti nya ia baru menyadari akan hal itu.


*


*


"Ka, datanglah ke rumah sakit sebentar!" Ariel melakukan panggilan telepon dengan Raka.


"Ada apa?Apa terjadi sesuatu?" Pasalnya tadi siang ia baru pulang dari menjenguk, dan kini sorenya sahabatnya itu memintanya kembali.


"Aku membutuhkan bantuanmu."


"Bantuan apa? Bicaralah yang jelas!" Raka mengira terjadi sesuatu kepada Delia.


"Aku ingin menikah besok."


"Apa!" Raka sepertinya salah dengar.


"Ck." Ariel berdecak. "Aku ingin menikah besok." Ariel mengulangi perkataannya dengan suara lebih keras.


"Kenapa mendadak? Jangan bilang Delia sudah hamil?"


"Kau gi*la!" Ariel tidak terima. "Mana mungkin aku melakukan itu! Aku bahkan baru menciumnya dua kali."


"Siapa yang tidak berpikiran seperti itu, jika kau suka tidur dengan perempuan."


"Apa perlu untuk di perjelas!" Ariel bersungut-sungut. Meskipun pada kenyataannya memang begitu, tapi rasanya ia tidak Terima. "Jadi cepatlah datang, aku perlu bantuanmu."


"Baiklah."


Lalu panggilan berakhir.


Ternyata di ponsel Ariel, juga masuk satu pesan. Yang ternyata dari Bastian, mengabarkan jika mereka sebentar lagi akan datang.


"Waktunya seperti nya tepat." Ariel sekalian saja memberitahu kedua orang tuanya.


Terlihat pergerakan kecil dari Delia, nya gadis itu akan terbangun dari tidurnya.


Ariel segera menyimpan ponsel Delia di laci nakas, setelah kekasihnya itu sembuh saja ia akan menanyakan tentang balapan. Dan nanti setelah berbicara dengan kedua orang tua juga Raka, ia akan memberitahu Delia tentang niatnya yang ingin menikahinya.


Ariel lalu mendekat. "Sudah bangun!"


Delia tersenyum setelah benar-benar terbangun, dan wajah kekasihnya yang mendominasi pandangannya. "Aku sudah terlalu lama tidur."


"Tidak apa! Kata Raka, bagus untuk penyembuhanmu."


"Raka?" Delia sepertinya baru mendengarnya.


"Kamu belum pernah bertemu dengannya ya! Dia sahabatku, ayahnya Alma. Tadi datang kesini, tapi kamu sedang tidur."


"Benarkah!"


"Hmm... "


*


*


"Mas!" Delia memanggil.


Membuat perhatian Ariel pada ponselnya teralihkan. "Iya." Kemudian ia mendekat. "Perlu sesuatu?"


Delia terdiam untuk beberapa saat, ia sekilas menatap wajah kekasihnya itu. "Ehm... Boleh panggilkan perawat?"


"Kenapa? Ada yang sakit?"


"Ti-tidak, hanya aku ingin buang air kecil." Delia memalingkan wajahnya.


Sekarang berganti Ariel yang terdiam. "Kata perawat sudah di pakaikan diapers."


Ariel mengingat apa yang di katakan Mami Rima sebelum pulang.


"I-iya, tapi tidak bisa keluar." Suara Delia semakin lirih. Ia rasanya malu membicarakan hal ini.


"Uhm... Bagaimana aku saja yang membantu?" Ariel menawarkan diri. Rasanya ia tidak rela tubuh sensitif kekasihnya di lihat orang lain, meskipun itu perawat perempuan.


Mata Delia membulat. "Nggak mau." jawabnya cepat, yang benar saja batinnya. "Aku mau perawat saja."


Ariel mengerucutkan mulutnya, setengah tidak rela akhirnya ia memanggilkan perawat untuk Delia.


Setelah beberapa saat, perawat perempuan datang seperti permintaan Ariel tadi.


Delia segera mengatakan jika ia ingin buang air kecil, namun saat perawat itu akan membantunya melepas diapers. Mata Delia melihat kekasihnya yang masih berada di ruang rawatnya. "Mas, kenapa masih di sini?"


"Memangnya aku harus kemana?" Ariel masih belum menyadari kesalahannya.


"Mas keluar!" Delia setengah menggeram, kesal antara melihat Ariel dan menahan buang air kecilnya.


Ariel menghelah nafasnya panang, tanpa banyak bicara ia keluar. "Memangnya kenapa! Aku kan hanya melihat tidak melakukan apa-apa." Ia menggerutu.


Dan bertepatan itu, Raka ternyata sudah sampai.


Mereka lalu duduk di depan ruang rawat Delia.


"Delia masih sekolah, jadi aku butuh bantuanmu." Ariel langsung saja mengungkapkan keinginannya.


"Kalau sudah tau begitu, kenapa masih ingin menikahinya. Tunggulah sampai lulus sekolah." kata Raka.


"Tapi dulu Nathan dan Jessy bisa." Ariel mengingat pasangan itu.


Raka memutar bola matanya. "Lalu aku harus bagaimana?"


Ariel seketika tersenyum penuh arti. "Delia sekolah di Tunas Bangsa, dan kamu pasti bisa membantunya."


"Apa!" Raka sedikit terkejut. Makannya ketika ia melihat Delia seperti tidak asing, karena ia ke sekolah jika ada keperluan saja.


Dan kini ia tau maksud sahabatnya itu, yang membuat kepanya pusing seketika.


*


*


"Tapi Delia masih sekolah, Nak." Bastian mengingatkan putranya. Ia dan istrinya begitu terkejut mendengar keinginan Ariel.


"Aku tau Pih, dan Raka bisa membantu." Ariel melihat ke arah sahabatnya dengan senyum lebar.


Padahal Raka sendiri belum mengatakan dan menjanjikan hal apapun.


"Raka pemilik yayasan di sekolah Delia." Ariel menambahkan.


"Lalu apa Delia setuju?" Rima bertanya.


"Ariel belum membicarakannya dengan Delia Mih." Ariel menjawabnya dengan enteng.


"Bagaimana kalau Delia tidak setuju?" Rima berandai-andai.


Ariel terdiam, rasanya ia tidak berpikir sejauh itu.


Ketiga orang itu menatap ke arah Ariel.


"Ariel menjamin Delia pasti setuju." Ariel meyakinkan.


"Kalau seandainya tidak setuju? Maksudku ia ingin lulus sekolah terlebih dahulu dan melanjutkan kuliah." tanya Raka.


"Iya Nak, seharusnya kamu bicarakan dulu dengan Delia." Bastian menasehati. "Tidak apa jika kamu punya keinginan begitu, tapi kamu juga harus mempertimbangkan keinginan Delia. Ingat, dia juga masih sakit."


Ariel terdiam, di pikirannya sekarang sedang menerka nerka apa yang sebenarnya harus ia lakukan.


Hingga suatu ide muncul di otaknya. "Apa Ariel harus menghamilinya dulu?"


...----------------...


...Ya ampun pikirannya Mas Ariel, sangat membagongkan 😂...