Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Yang Pertama?



"Hei... buka pintunya!" Ariel berteriak dari luar.


Setelah kejadian di dapur, Delia langsung menyuruhnya keluar. Ia tidak mau menerima alasan apapun.


"Aku lapar!" teriak Ariel kembali.


"Tinggal beli apa susahnya." sahut Delia dari balik pintu.


Ariel mendengus mendengarnya. "Aku tidak punya uang." Ia beralasan.


Delia memutar bola matanya malas, mana mungkin orang seperti Ariel tidak mempunyai uang. "Tinggalkan saja KTP." Lalu ia pergi dari sana dan berjalan menuju kamarnya.


Ariel berdecak. "Kenapa dia tega sekali!" Ia menggerutu. Ia mencoba menunggu beberapa saat, tapi tidak ada tanda-tanda Delia di balik pintu. Yang membuat ia dengan berat hati meninggalkan rumah kontrakan itu.


Di dalam kamar, Delia sendiri merebahkan dirinya di ranjang. Rasa lapar yang tadi sempat mendera kini hilanglah sudah, tentu saja itu semua karena perbuatan Ariel dan mie yang tadi ia masak sudah gosong tak bisa terselamatkan.


"Ada apa dengannya hari ini?" Delia tidak habis pikir, rasa kesal di hatinya masih sungguh terasa. "Datang datang langsung--" Ia menggantung kata-katanya begitu teringat kejadian tadi "Aahh.... !" teriaknya frustasi.


Ia bersembunyi dalam selimutnya, wajahnya langsung saja memanas. "Kenapa harus Om? Itu kan yang pertama!" Rasanya sungguh ia tidak rela. Tapi bagaimana lagi semuanya sudah terjadi.


*


*


"Loh, kamu kok sudah pulang?" Rima mendapati putranya yang masuk ke dalam rumah dengan tampang lesu. Ia lalu menghampiri. "Semuanya baik-baik saja kan?"


"Iya Mi semuanya baik, dan Arga akan mengurus semuanya." Jawab Ariel. "Tapi hati aku yang tidak baik-baik saja" batinnya.


"Lalu kenapa seperti ini?" Rima masih penasaran.


"Besok sajalah ceritanya." Ariel meninggalkan Rima dan berjalan menuju kamarnya.


"Pi, ngerasa nggak ada yang aneh?" Rima menghampiri suaminya yang sedang asik melihat televisi.


"Mungkin ada sesuatu dengan putra kita, tapi ia masih ragu untuk bercerita." Bastian memberikan pendapatnya.


"Kira-kira apa, Pi?"


Tapi suaminya itu hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.


"Ck." Rima berdecak. "Papi nggak asik."


Bastian terkekeh. "Tunggulah sampai besok, bukankah tadi katanya besok akan bercerita!"


"Apa Mami nggak perlu menyelidiki?"


"Jangan dulu Mi, mungkin saja anak kita bisa menyelesaikan urusannya sendiri."


"Begitu!"


"Hhmm... Dan bagaimana kalau Mami buatkan saja Papi kopi?" Bastian tersenyum.


"No kopi." Rima menjawab cepat. "Teh saja." Ia lalu menuju ke arah dapur.


Di dalam kamar, Ariel merebahkan dirinya di ranjang. Matanya menatap langit langit kamarnya.


"Kenapa dia itu! Aku hanya meminta makan saja tidak boleh." Ia masih kesal kejadian tadi. "Padahal biasanya juga boleh." Ia bersungut-sungut.


Tapi di detik berikutnya, bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman begitu teringat kejadian di dapur. "Kenapa rasanya sangat enak!" gumamnya.


Ia masih ingat betul, bibir Delia yang terasa manis begitu ia mengecapnya. Belum pernah ia merasakan hal seperti itu sebelumnya, dan rasanya ia ingin mengulangnya kembali.


Namun, ia lalu merasa kesal kembali. Karena teringat di akhir perbuatannya yang membuat benda keramatnya menjadi korban. "Untung Tirex tidak kenapa-kenapa dan telurnya, coba kalau telurnya pecah dan Tirex keseleo. Pasti akan menjadi telur ceplok dengan toping sosis."


"Memang apa salahnya dengan ciu*man!" Ariel masih tidak mengerti. Tapi ia ingat kembali saat Delia hanya diam saja ketika ia menciumnya, dan bibir gadis itu hanya diam.


"Jangan-jangan!" Ariel dengan tebakannya. "Dia belum pernah!" Ia tidak percaya. Bukankah jaman sekarang anak SMP saja sudah pengalaman? Pikirnya.


"Kalau begitu tadi aku yang pertama?" Ada rasa bangga dan senang yang berkumpul memenuhi rongga dadanya. Hingga kemudian ia menyentuh bibirnya kembali. "Pantas saja sangat berbeda."


*


*


Pagi harinya Delia sudah bersiap untuk pergi ke sekolah, dan ojek online yang di pesannya sudah menunggu di halaman.


Setelah mengunci pintu rumahnya, ada mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya. Ia tahu betul siapa pemilik mobil itu.


"Baik Neng."


"Delia... " Ariel mencoba memanggil gadis itu yang sudah berada di atas sepeda motor dan siap berangkat. "Tunggu!" Ia mencoba menahan. "Kita harus bicara."


"Kita jalan saja Pak." Delia tetap tidak mau menanggapi.


Hingga kemudian, gadis itu benar-benar pergi dari sana.


"Si*al." Ariel mengumpat. Ia lalu masuk kembali ke dalam mobilnya dan mengejar Delia.


Delia yang sudah sampai di sekolah segera masuk setelah membayar ojek.


"Delia... " Ariel yang juga baru sampai.


Mau tidak mau Delia menghentikan langkahnya, lihatlah! Beberapa siswa dan siswi yang baru datang melihat ke arahnya gara-gara Ariel yang memanggilnya dengan cukup keras hingga merebut perhatian mereka.


"Tolong... kita bicara sebentar!" Ariel menghampiri Delia.


Delia menghembuskan nafasnya kasar, rasanya melihat wajah Ariel mengingatkannya akan kejadian semalam. "Om mau apa sih... !"


"Kita harus bicara."


"Aku bentar lagi masuk."


"Hanya sebentar." Ariel memohon.


"Ck!" Delia berdecak. "Nanti kalau aku pulang kerja saja." katanya. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam sekolah.


Di dalam kelas, wajah masam Delia masih ketara.


"Ada apa?" Adi baru saja datang. "Pagi-pagi udah cemberut aja. Kemarin ayam tetanggaku mati gara-gara cemberut."


"Nggak ada hubungannya." ketus Delia.


"Ye.... Di bilangin juga." Adi yang duduk di depan Delia, kemudian melihat bibir Delia yang berbeda dari kemarin terakhir bertemu. "Tuh bibir kanapa? Habis di gigit semut!" Ia terkekeh.


Perkataan Adi membuat Delia seketika melipat bibirnya rapat-rapat.


"Jadi beneran!" Adi malah tertawa. "Makannya kalau habis makan dan minum yang manis di lap dulu sebelum tidur, biar nggak di gigit semut." Adi dengan pikirannya.


Semakin mendengar perkataan Adi, membuat wajah Delia memanas. Entah kenapa udara kelasnya tiba-tiba terasa panas, padahal pendingin udara sudah menyala sejak tadi.


"Gara-gara dia!" Delia menggumam.


*


*


Joana pagi ini tampak begitu cantik seperti biasanya, gaun yang begitu mewah membalut tubuhnya. Hingga membuatnya tampak begitu mempesona.


Ia berencana kembali mendekati Ariel karena rencanannya kemarin gagal, ia akan merayunya hingga Ariel jatuh ke dalam pelukannya.


Ketika ia keluar dari kamarnya, bertepatan pula Arga juga baru keluar.


"Apa Ariel masih di dalam kamarnya?" Joana bertanya dan ia berjalan ke arah kamar Ariel untuk membangunkan pria itu.


"Pak Ariel sudah pergi lebih dulu untuk menemui klien." Arga menjawab yang kemudian menghentikan langkah Joana. "Benarkah!"


"Iya Nona, tadi pagi-pagi sekali." Arga menjawab dengan wajah datarnya, sehingga membuat Joana percaya.


Raut wajah Joana berubah kecewa dan kesal, itu artinya pagi ini ia tidak bisa bertemu dengan lelaki pujaannya.


"Saya permisi, Nona." Arga lalu pergi dari sana.


"Kenapa sekarang sulit sekali mendekatinya!" kesal Joana.


...----------------...


...Dedek Delia nya ngambek kan 🤭...


...Nih kenalin ya Dedek Delia. ...