Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Melakukan Sesuatu



Ariel membawa baskom berisi air hangat untuk menyeka Delia, tidak seperti kemarin hari ini ia bertekad untuk mengurus istrinya sendiri dalam segala hal.


Tidak lupa sebelumnya Ariel juga mengunci pintu kamar, agar tidak ada orang yang masuk.


Delia sendiri sebenarnya lebih merasa senang jika perawat yang melakukannya, atau hanya saja ia yang belum terbiasa.


Ariel berusaha bersikap tenang, meskipun dalam dirinya ada debaran yang cukup kuat mengguncang jantungnya.


Perlahan ia mulai membuka kancing baju rumah sakit istrinya, yang sebelumnya ia telah melepaskan arm sling.


Delia sebenarnya juga merasakan hal yang sama dengan suaminya, tapi ia hanya memilih diam. Hingga di ruangan itu hanya ada keheningan.


Seperti sebelumnya, Ariel memang sudah mengetahui jika istrinya tidak memakai pengaman di kedua asetnya. Hingga semakin tangannya turun membuka kancing baju, semakin terlihatlah dua bulatan itu.


Tangan yang biasanya lihai dalam urusan wanita itu, kini perlahan sedikit gemetar. Kenapa ini rasanya seperti hal baru baginya.


Dengan perlahan Ariel melepas pakaian yang di kenakan Delia, saat semua kancing sudah berhasil ia buka.


Delia rasanya tak mampu melihat wajah suaminya, ia hanya bisa menundukkan pandangannya.


"Aku akan hati-hati!" Ariel sebelum menyeka tubuh istrinya.


"Hmm."


Dan benar saja, dengan hati-hati Ariel mulai menyeka. Di mulai dari bagian tangan, hingga ke bagian yang lainnya.


Namun ketika di bagian depan, Ia berhenti sejenak. Tak dapat di hindari, pandangannya terkunci pada kedua aset itu.


"M-mas, aku bisa melakukannya sendiri." Delia langsung mengambil handuk di tangan suaminya.


"Emm oke." Ariel membiarkannya. Apalagi ia merasakan Tirex yang sedang berkembang secara sempurna di dalam sana, mungkin benda keramatnya itu membutuhkan ruang lebih untuk sekarang ini.


Untuk beberapa saat, bukannya Ariel merasa lega tapi justru semakin memanas.


Melihat adegan di mana istrinya membersihkan dirinya sendiri kenapa itu semakin membuatnya begitu tergoda.


Apalagi udara yang begitu dingin dari pendingin udara rasanya menjadi pendukung jika ingin berbuat lebih.


Tenggorokan nya sekarang rasanya benar-benar kering, mungkin ia membutuhkan sesuatu untuk melepaskan dahaganya.


"Sa-sayang!" Ariel memanggil istrinya.


"Iya!" Delia dengan ragu menoleh ke arah Ariel.


"Apa?" Pikiran Delia yang tidak sama dengan suaminya. Ia meletakkan handuk di atas nakas setelah selesai menyeka tubuhnya, dan perlahan menarik selimutnya untuk menutupi sedikit tubuhnya.


"Melakukan sesuatu!" Ariel sedikit lebih mendekat.


Melihat gelagat aneh suaminya, kenapa rasanya Delia tiba-tiba merinding.


"Bukankah kita sudah menikah, dan seharusnya tidak apa-apa jika melakukan sesuatu!" Ariel terus mengikis jarak di antara mereka.


Kini Delia benar-benar di buat merinding, sepertinya ia tau apa yang di maksud suaminya. Dan ia menjadi takut di buatnya. "M-mas, kapan mulai masuk kerja? Sepertinya sudah lama libur." Delia lebih memilih mengalihkan topik pembicaraan.


"Akan aku pikirkan setelah kamu pulang dari rumah sakit." Ariel menjawab, tapi ia semakin mendekat hingga jarak mereka hanya berjarak sejengkal saja.


"A-aku tidak apa-apa jika Mas tinggal, mungkin nanti Mami mau menemani." Delia semakin memundurkan tubuhnya.


Menyadari istrinya memberikan jarak di antara mereka, tangan Ariel langsung menahan punggung Delia.


"Kenapa menghindar, bukankah ini hal biasa bagi suami istri." Padangan Ariel di penuhi oleh wajah istrinya yang sekarang sedang menatapnya.


Wajah yang selalu memenuhi semua pikirannya.


Deg.


Jantung Delia berdetak dengan begitu cepatnya, apa suaminya itu akan benar-benar melakukan sesuatu?


Perlahan, Ariel mulai mendekatkan wajahnya. Hingga di detik berikutnya bibirnya mulai menyentuh bibir Delia.


Mengecap nya dengan lembut, seolah olah bibir itu akan lebur jika ia melakukannya tidak hati-hati.


Delia yang tadinya ingin menghindar pun tidak bisa melakukan apa-apa saat tangan Ariel menekan tengkuknya agar tidak bisa bergerak.


Ariel merasakan jutaan kupu-kupu meledak di dadanya, akhirnya ia bisa melakukan apa yang ia inginkan. Meskipun ia harus menahan kesadarannya agar tidak melukai istrinya.


Kecupan yang awalnya lembut kini lambat laut semakin menggebu, Ariel rasanya ingin merasakan sesuatu hal yang lebih dari ini.


Karena ia yang lebih berpengalaman hingga dengan mudah bisa menaklukkan Delia atas kendalinya.


...----------------...


...Maaf ya gengs ku potong dulu partnya takut nggak bisa ke up karena udah kemaleman, di lanjut besok aja 🤭...


...Tapi emang mereka mau ngapain sih? 🤔...