
"Mas... !" Delia sedikit panik melihat Ariel yang terus mendekat padanya. Keadaannya yang sekarang tentu tidak bisa bertindak secara leluasa.
Dan Ariel yang awalnya hanya ingin menggoda, rasanya tidak mampu mengakhiri permainannya sendiri. Berdekatan dengan Delia memang membuatnya kehilangan akal sehat.
"Mas!" Delia kembali memanggil Ariel, agar kekasihnya itu tersadar.
Namun pria itu serasa menulikan pendengarannya, pandangannya yang awalnya tertuju pada wajah ayu Delia kini berhenti pada bibir pucat kekasihnya.
Meski tidak semerah biasanya, tapi itu tetap menggoda untuknya.
Hingga sedetik kemudian, ia sudah tidak lagi mampu mengendalikan dirinya. Ia mengikuti keinginan pikirannya.
"Ah.... !" Ariel berteriak ketika Delia meraup bibirnya dengan tangan.
"Itu kenapa bibirnya di monyong monyongin! Tuh kan apa kata aku bener, Mas mau ngapa ngapain." Delia mendelik.
Ariel memutar bola matanya malas. "Tangan kamu kan yang satunya tidak bisa bergerak, yang satunya juga di infus. Kenapa masih aja bisa nolak!" Ia menggerutu.
"Mas, meskipun tangan aku di infus kalau buat nampar orang juga masih bisa." Delia melihat tangan kanannya yang terdapat infus.
"Ck." Ariel berdecak. Lalu ia ingat akan sesuatu, tentang keinginannya untuk menikahi Delia. Apa mungkin sekarang waktu yang tepat untuk membicarakannya!
Ia kembali menatap lekat gadis itu. "Sayang!" Sembari menggaapi tangan kanan Delia.
"Mas jangan aneh-aneh deh!" Delia ingin menarik tangan kanannya dari genggaman Ariel namun tidak bisa.
"Dengarkan aku!" Ariel berujar dengan tatapan serius, dan suara lembut. Hingga membuat gadis itu terdiam. "Aku ingin membicarakan sesuatu, dan ini sangat serius."
Ariel menjeda perkataannya untuk meraup udara sebanyak-banyaknya.
"Menikalah dengan ku!" kata Ariel tanpa keraguan.
Deg.
Jantung Delia rasanya tiba-tiba berdetak dengan kecang, ia tidak dapat mengekspresikan dirinya seperti apa.
"Mas jangan bercanda?" Delia senyum terpaksa.
"Apa terlihat jika aku sedang bercanda?" tanya Ariel. Hingga tatapannya semakin dalam ke arah mata Delia. "Setelah kejadian naas itu tidak mungkin aku main-main, dan aku sudah memutuskannya matang-matang. Menikahlah dengan ku!" Ia kembali memintanya.
Delia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, hal ini sama sekali tidak ada dalam pikirannya.
"Aku sungguh ingin menjadikanmu sebagai milikku, aku serius dengan hubungan ini. Bahkan tidak ada sedikitpun pikiran untuk mempermainkan hubungan ini." Ariel terus meyakinkan Delia. "Aku mohon, terimalah niat baikku."
Melihat tatapan Ariel yang menusuk hingga hatinya, Delia hanya bisa menundukkan pandangannya. "Tapi aku masih sekolah." ujarnya lirih.
"Tidak apa, aku bisa mengurusnya." sahut Ariel.
"Tapi aku juga ingin kuliah nantinya."
"Itu juga aku tidak keberatan, kamu boleh malanjutkan pendidikan hingga ke jenjang lebih tinggi aku juga akan mendukungnya."
Delia mengatupkan bibirnya kembali, selain pendidikan yang ingin ia tempuh juga ada banyak alasan lain yang membuat dirinya ragu untuk menerima.
"Tapi keadaan kita berbeda." Delia memberanikan menatap ke arah mata Ariel. "Bahkan bisa di bilang langit dan bumi, Mas dengan kesuksesan dan keluarga yang berada. Sedangkan aku tidak punya siapa-siapa, adapun Ibu dan Bang Dandi mereka juga tidak menginginkan aku. Dan secara ekonomi aku harus berjuang setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan."
Ariel menggelengkan kepalanya. "Apa yang kamu bicarakan, aku tidak pernah memandangmu dari segi materi dan apapun itu. Kamu sudah lebih dari cukup hal terindah untuk hidupku."
Bibir Delia mulai bergetar, matanya memanas.
"Apa aku selama ini pernah mempersalahkan latar belakangmu dan soal materi?" tanya Ariel.
Delia menggelengkan kepalanya, dan buliran bening mengalir dari mata indahnya.
"Sungguh, semua itu tidak pernah menjadi masalah bagiku." Ariel mengusap air mata Delia.
"Tapi Tante dan Om!" Delia tentu tidak lupa dengan kedua orang tua Ariel.
"Mereka tidak masalah." jawab Ariel cepat.
Dan itu membuat Delia kembali terdiam.
"Aku sudah membicarakannya dengan kedua orang tuaku, dan mereka setuju."
Detak jantung Delia rasanya semakin tidak terkendali, dan air matanya semakin mengalir deras.
Apa sebenarnya sekrang ia sedang bermimpi? Apa kisah hidupnya akan seperti di dongeng?
Tapi jika ini kenyataan betapa beruntungnya ia, ada seseorang yang akan menjadi sandaran hidupnya. Menghiburnya di saat ia sedih, dan akan menjadi pendamping nya untuk melewati hari-hari yang mungkin akan berubah dari biasanya jika ia menikah.
"Ayah, Ibu apa kalian akan setuju jika Delia menikah?" batinya.
Dan hanya dalam seperkian detik, matanya melihat sosok kedua orang tuanya di tempat dimana Ariel tadi berada.
Orang tuanya yang selama ini hanya bisa ia lihat dalam mimpi, kini hadir menemuinya.
Orang tuanya hanya diam sembari menatapnya, namun lengkung bibir mereka sama-sama membentuk senyuman. Wajah mereka terlihat begitu berseri, mungkin tempat mereka berada sekarang jauh lebih indah di bandingkan dunia yang ia tinggali.
"Sayang!" Ariel meremat tangan Delia. Hingga pandangan gadis itu kembali ke arahnya.
Delia yang tersadar, kini pandangannya hanya di penuhi oleh keberadaan kekasihnya.
"Are you oke?" tanya Ariel lalu di jawab Delia dengan senyuman. "Apa kamu masih tidak bisah memberiku jawaban sekrang?"
Delia menganggukkan kepala.
Membuat raut wajah Ariel sedikit kecewa karena berarti dia harus menunggu.
"Ayo kita menikah." Delia berujar.
"Hmm... " Ariel merasa ada yang salah dengan pendengarannya.
"Ayo kita menikah." kata Delia, dan bibirnya yang pucat membentuk sebuah senyuman. Namun air matanya rasanya tidak mau berhenti mengalir.
"Jadi... Kamu mau!" Ariel tidak percaya. Jantungnya seperti ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan secara bersamaan.
"Hm... " Delia menganggukkan kepala.
"Oh sayang!" Ariel segera memeluk kekasihnya. Rasa haru dan bahagia telah menyelimuti nya.
Ia bahkan tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata selain bersyukur karena Delia mau menerima pinangannya.
"Terima kasih." Hanya itu yang bisa di katankan Ariel.
Beberapa saat kemudian, Ariel melepas pelukannya. Ia membingkai wajah ayu Delia, dan di detik kemudian ia segera mempertemukan bibirnya dengan bibir Delia.
Mata Delia seketika melebar.
Kenapa Ariel pandai sekali mencuri kesempatan darinya, di saat dirinya masih menikmati rasa haru.
"Umh..." Delia berusaha melepaskan diri namun Ariel sudah terlanjur menikmatinya.
Tangan Ariel mencekal tangan kanan Delia, hingga gadis itu tidak bisa berbuat banyak untuk melepaskan diri.
Ariel terus ******* bibir Delia, dan mencoba lebih mendesak agar bibir kekasihnya terbuka.
Benar saja di saat Delia mulai kewalahan dengan tindakan Ariel, tanpa sadar ia memberi celah untuk Ariel melakukan apa yang pria itu mau.
Ariel membelit lidah Delia, mempermainkan sesuka hatinya. Dan sesekali menyesap bibir Delia hingga membuat bibir gadis itu kini tidak sepucat tadi.
*
*
"Di, apa Delia tadi sekolah?" Arsyad menghampiri putranya yang sedang duduk di kursi santai dekat kolam renang di rumahnya.
Arsyad sendiri khawatir karena tidak mendapatkan kabar apapun dari Delia, terakhir kalinya Delia memberitahunys jika ada keperluan.
"Tadi kata guru Delia sakit Pak." jawab Adi namun matanya masih menatap layar ponselnya yang sedari tadi ia otak atik.
Ia mencoba menghubungi gadis itu tapi tidak ada jawaban.
"Benarkah!" Arsyad yang terkejud.
"Iya, tapi tadi Adi pulang sekolah mampir ke kontrakannya tapi Delia tidak ada." Adi yang memang tadi mampir ke rumah kontrakan Delia, tapi sudah beberapa kali ia mengetuk nya tidak ada sahutan.
Dan ia bertanya kepada tentannga Delia, katanya tidak melihat Delia sejak terakhir gadis itu berangkat sekolah kemarin pagi.
Tentu saja Adi semakin di buat khawatir.
Di saat yang bersamaan, rupanya ponsel Adi berdering tertera nama Delia di layar ponselnya.
"De, kamu kemana saja! Mulai kemarin malam nggak ada kabar?" Adi begitu saja memberondong Delia pertanyaan setelah panggilan tersambung.
("")
"Kamu membuat semua orang khawatir tau nggak!" Adi yang masih kesal, tapi jauh di lubuk hatinya ia merasa lega jika Delia sudah bisa di hubungi.
("")
"Kabar apa?" Adi merasa penasaran.
("")
Deg.
Jantung Adi rasanya berhenti untuk beberapa saat, kenapa rasanya begitu sesak. Seolah tidak ada udara di sekitarnya yang bisa ia hirup.
...----------------...
...Nah... Dah panjang kan part nya 🤭...
...Cie cie yang bakalan mau jadi manten 😁...