
Di dalam mobil itu tak henti hentinya Ariel mengingatkan Delia, agar tidak terlalu banyak berinteraksi dengan teman laki-laki.
Meskipun Delia sendiri sudah mengerti akan batasannya tapi ia lebih memilih untuk mendengarkan saja, toh jika ia menyanggah ucapan suaminya ia takut akan terjadi perdebatan.
Mungkin jika sebelum menikah ia bisa memegang kendali situasi, namun berbeda dengan sekarang bagaimana pun ia menghormati laki-laki yang sudah menjadi suaminya.
Hingga tidak lama, mobil yang di kendarai Juna berhenti di depan sekolah Delia.
Terlihat banyak murid yang berlalu lalang berjalan tergesa-gesa, karena bel masuk sekolah sebentar lagi berbunyi.
"Aku masuk dulu ya." Delia menggapai tangan Ariel untuk ia cium, meskipun rasanya canggung tapi memang begitulah seharusnya.
"Tunggu!" Ariel mencekal tangan istrinya.
Delia menoleh, melihat suaminya mengeluarkan dompet dari saku.
Mata Ariel menyipit, ia baru menyadari jika tidak ada uang cash dalam dompetnya. Hanya tinggal selembar uang lima puluh ribu. "Aku hanya ada segini, nanti akan aku transfer."
Alis Delia saling bertautan merasa bingung. "Untuk apa?"
Ariel menghembuskan nafasnya perlahan. "Kamu sudah menikah, dan semua keperluan mu adalah kewajiban ku. Termasuk uang saku."
"Eum ... Aku masih punya uang." sahut Delia.
"Tidak ada penolakan." Ariel lalu memberikan uang itu ke tangan istrinya.
"Ini terlalu banyak." Delia menatap uang itu.
"Itu hanya lima puluh ribu, memangnya biasanya berapa uang sakumu?"
"Aku jarang beli makanan."
Kini membuat Ariel terdiam, entah bagaimana istrinya dulu melalui hari-hari sekolahnya. "Sudah ambil saja, nanti aku transfer untuk satu bulan ke depan."
Tapi kemudian Ariel terdiam menyadari sesuatu. "Apa kamu punya rekening?" Iya tidak mengetahui itu. Karena ia ingat terakhir waktu ia memberikan ganti rugi untuk kaca mobil yang pecah istrinya meminta cash padanya.
Delia menganggukkan kepalanya. "Ada."
"Ya sudah nanti kirimkan nomer rekeningnya."
"Baiklah, ya sudah aku mau masuk dulu. Nanti aku telat." Delia membuka pintu mobil, namun saat akan keluar suaminya itu justru menarik tangannya hingga membuatnya kembali terduduk. "Mas--"
Mata Delia membulat, suaminya itu tiba-tiba memberikan kecupan di bibirnya.
Juna sebagai pengemudi, di situasi seperti ini harus menutup mata dan telinga berpura-pura untuk tidak mengetahui apa yang majikannya lakukan.
"Ya sudah, pergilah nanti terlambat." Ariel menginterupsi setelah menyelesaikan aksinya, dan membuat kesadaran Delia kembali.
Delia mencebik, lalu ia segera pergi dari sana dan masuk ke dalam sekolah.
Kemudian mobil nya perlahan melaju meninggalkan area sekolah, setelah memastikan Delia benar-benar tidak terlihat.
*
*
Jantung Delia berdebar begitu langkahnya semakin dekat dengan kelasnya, ini rasanya ia seperti awal masuk sekolah pertama dulu.
Ia tidak berharap teman-temannya menyambutnya dengan suka cita, hanya saja ia merasa ini begitu mendebarkan.
Suasana sekolah yang sudah lama ia tinggalkan.
Di dalam kelas, Adi tidak tau jika hari ini sahabatnya akan masuk. Karena Delia sendiri tidak memberitahunya.
Ketika ia sedang mengobrol dengan Reksa, pria di hadapannya itu tiba-tiba menyenggol tangannya.
"Apaan sih?" Adi tidak mengerti.
Reksa mengarahkan pandangannya begitu Delia memasuki kelas.
"Apaan?" Tapi Adi mengikuti arah pandang Reksa dan mendapati sahabatnya itu.
Awalnya ia terdiam, namun beberapa saat senyumnya mengembang.
"Di, inget dia sudah punya tunangan!" Reksa berbisik mengingatkan.
Adi memutar bola matanya malas. "Udah tau."
Adi sendiri mulai berdamai dengan hatinya, mengubur rasa yang pernah ada dan sekarang hanya ada pertemanan di antara mereka. Tidak lebih.
"Kok nggak ngasih kabar?" Saat jarak Delia sudah dekat.
"Dadakan juga." Delia duduk di kursinya.
Membuat Adi memutar duduknya hingga sekarang berhadapan dengan Delia yang berada di belakangnya.
Hal itu membuat Reksa mencebik, tapi ia lalu menghampiri Delia. "Gimana, Del udah sehat?"
"Hmm, udah bisa buat sekolah lagi." jawab Delia.
"Syukur deh kalau gitu." Reksa lalu kembali ke tempat duduknya.
Tak lama beberapa murid lain juga menghampiri Delia, menanyakan tentang kesehatan gadis itu. Sedangkan Adi hanya bisa menyaksikan interaksi itu, sesekali menanyakan kabar sahabatnya.
...----------------...
...Ariel kayak nggak pernah sekolah aja, lagian istrinya masih sekolah dah di nikahin aja. Sekarang was-was kan ðŸ¤...