Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Amarah Joana



"Arrrgghh... !" Semua barang yang berada di meja rias jatuh berhamburan akibat Joana yang mengamuk.


Beberapa saat lalu orang suruhannya baru saja mengirimkan beberapa informasi tentang Delia dan Ariel yang terlihat bersama selama beberapa hari.


"Kurang ajar! Ternyata dia membodohi ku." Bagaimana Joana tidak kesal, ia sudah beberapa hari di Bogor karena mengira Ariel masih berada di kota itu. Namun nyatanya pria itu justru bersenang-senang dengan gadis lain.


Matanya memerah, amarahnya sungguh memuncak. Kedua tangannya mengepal erat, ingin sekali ia menghajar Delia yang berani merebut kekasih hatinya.


"Ikeeee!" Joana berteriak.


"Iya!" Ike yang memang sedari tadi di kamar hotel Joana.


"Kita kembali ke Jakarta sekarang!" Joana sudah tidak mau membuang waktu lagi.


Ike hanya bisa menghembuskan nafasnya perlahan, jika saja Joana bukan modelnya sudah ia tinggalkan sejak dulu. Tempramen Joana yang buruk mengharuskan dirinya mempunyai stok sabar yang banyak.


*


*


"Om... !" Delia kesal melihat Ariel yang sedari tadi mengganggunya.


Pria itu tadi menjemputnya setelah kerja, tapi setelah di rumah meminta imbalan makan malam. Hingga membuat Delia memasak nasi goreng setelah membersihkan diri.


Handuk kecil masih membalut rambutnya yang masih basah setelah keramas. Tangannya cekatan dalam memasak nasi goreng, masakan sederhana untuk malam itu.


Nasi sisa tadi pagi, yang ia beri bumbu nasi goreng instan. Sebagai topingnya Delia memasukkan irisan sosis dan bakso.


"Kenapa lama sekali! Aku sudah lapar." Ariel mendekat dan melihat Delia masih berkutat dengan penggorengannya. "Pekerjaan ku saja sudah selesai." Ia memperlihatkan dua gelas es jeruk yang baru saja ia buat karena Delia tadi membagi tugas.


"Iya, dan Om sangat pandai." Sekalian saja Delia memujinya agar pria itu besar kepala.


"Itu pasti, dari dulu aku memang pandai." Ariel membanggakan dirinya.


Delia memutar bola matanya malas.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua menikmati nasi goreng dan es jeruk sebagai menu makan malam. Di temani acara televisi yang tidak begitu mereka hiraukan.


"Apanya yang enak, cuma nasi dengan bumbu nasi goreng." Delia tidak mungkin termakan rayuan Ariel begitu saja, tapi tanpa ia sadari pipinya merona karenanya.


"Sungguh, aku tidak bohong." Ariel bersungguh-sungguh agar kekasihnya itu percaya.


"Ehm... Cepat habiskan." Delia tidak mau pria itu terus membual.


Ketika malam semakin larut, Ariel memutuskan untuk pulang. "Ingat ya, besok sekolah aku yang antar, oke."


"Iya!" sahut Delia, entah sudah ke berapa kalinya Ariel mengatakan itu. Ia mengantar Ariel hingga teras.


"Awas saja kalau pesan ojek online." Ariel memperingatkan.


"Iya Om, sudah sana cepat pulang."


Kemudian mobil Ariel perlahan melaju pergi meninggalkan halaman rumah Delia.


Sesampainya di rumah, Ariel melihat Rima yang baru saja keluar dari dapur. Di tangannya ada segelas air yang baru saja ia ambil.


"Mih... " panggil Ariel, membuat Rima menghentikan langkahnya yang hampir saja menaiki tangga untuk menuju kamarnya.


"Kamu sudah pulang?" tanya Rima.


"Hmm... sudah malam, nggak enak kalau di lihat orang." ujar Ariel.


Mendengar perkataan putranya membuat Rima tersenyum, sepertinya Ariel memang benar-benar berubah.


"Mih... apa Ariel boleh bicara sebentar?" Ariel bertanya.


Hingga kemudian mereka berdua kini duduk di teras belakang rumah mereka.


Sebelumnya Ariel tidak pernah memikirkan hal ini, namun sepertinya ia harus merubah pola pikirnya.


...----------------...


...Maaf guys sedikit dulu ya, soalnya pekerjaan di dunia nyata lagi padat merayap 🙏...