
Ariel menggeram begitu ia selesai menerima telepon dari Riska sore itu, sekretaris nya memberitahu jika Joana sempat menanyakan tentang keberadaannya sekarang namun Riska tidak memberitahunya.
"Jadi dia berbohong?" Ia baru menyadari.
Memang kebetulan yang sungguh aneh, dari sekian banyaknya hotel mengapa ia bisa menginap di hotel dan lantai yang sama.
Mungkin ia dulu memang senang menghabiskan waktu bersama Joana, dan mencari kepuasan bersama. Tapi untuk sekarang seperti ada alarm tersendiri yang menghentikannya.
Ariel lalu mencoba menelpon Arga.
"Ya Pak!" Begitu sambungan telepon di angkat oleh Arga.
"Apa pekerjaanku di sini sudah bisa aku tinggal? Maksudku kamu saja yang menggantikannya." tanyanya. "Aku akan kembali ke Jakarta." lanjutnya.
Arga di sebrang sana sedikit heran, kenapa begitu tiba-tiba. Apa ini berhubungan dengan kedatangan Joana? Bukankah tadi sempat makan siang bersama?
"Arga!" Ariel memanggil asistennya yang hanya diam saja.
"Iya Pak, saya akan mengurusnya." Arga menyanggupi.
"Baiklah kalau begitu setelah ini aku langsung bersiap." Ariel memberitahu. "Dan jangan beritahu kepada Joana jika aku sudah kembali."
"Benarkan." batin Arga. "Iya Pak."
Setelah itu panggilan berakhir.
Ariel bersiap, dan membereskan semua keperluannya.
*
*
Ariel tiba di Jakarta ketika hari sudah malam, ia memerlukan tiga jam untuk sampai. Karena keadaan jalan yang cukup padat membuatnya sedikit lama dari yang seharusnya.
Namun, bukannya rumah yang menjadi tujuan pertamanya justru kontrakan Delia.
Lampu ruang tamu rumah itu masih menyala, pertanda penghuninya masih belum tidur. Lagi pula waktu masih menunjukkan pukul tujuh.
Dengan langkah lebar ia berjalan ke arah rumah Delia, hatinya sungguh berdebar. Ada rasa gelisah jika tidak bertemu.
Di saat di depan pintu, rupanya pintu itu tidak tertutup rapat. "Kenapa ceroboh sekali!"
Hingga kemudian ia masuk dan tidak menemukan gadis itu di ruang tamu, hanya televisi yang menyala. Tapi indra penciuman nya, mencium aroma sedap dari arah dapur.
Ariel segera menghampiri, rupanya gadis yang sedari tadi memenuhi memenuhi pikirannya sedang memasak dan bersenandung hingga tidak menyadari kedatangannya.
Ada senyum aneh di bibir Ariel melihat itu, perlahan ia mulai mendekat ke arah Delia. Hingga ia sampai di belakang gadis itu pun masih belum di sadari oleh Delia.
Melihat situasi ini membuat Ariel ingin memeluknya dan mendekap nya, mungkin dengan itu rasa gelisah yang sedari tadi ia rasakan akan hilang.
Dan rupanya itu bukan angan-angannya saja, tetapi Ariel semakin mendekat ke Delia hingga mengikis jarak yang ada.
Tetapi, tangannya baru saja menempel di pinggang Delia, sesuatu terjadi.
Pletak.
"Arrgh." Sebuah centong sayur mendarat tepat di kening Ariel.
Mata Delia membulat saat tau siapa pelakunya. "Om!"
Seseorang yang pandai berkelahi seperti Delia tentu sangat sensitif jika ada yang tiba-tiba menyentuhnya dari belakang, hingga centong sayur yang ia pegang seketika menjadi senjata untuk mempertahankan diri.
Ariel terus mendekap keningnya, bukan hanya rasa sakit yang ia rasakan namun juga panas. Karena sebelumnya centong itu Delia gunakan untuk mengaduk mie instan yang sedang ia rebus.
"Om, kenapa sih ngagetin! Pegang-pegang lagi. Untung cuma centong nya aja, coba kalau sekalian sama pancinya." Delia bersungut-sungut.
Ariel mendelik mendengarnya. "Kamu tega!"
"Lagian ya, kalau bertamu ke rumah orang itu minimal ketok pintu! Atau nggak, panggil. Bukannya malah ngagetin!" Delia terus saja mengomel.
Tapi Ariel justru senang melihat itu, setidaknya wajah sendu kemarin sudah tidak terlihat.
"Om dengar nggak sih aku ngomong!" Delia melihat Ariel yang hanya terdiam sembari menatapnya. "Ck, menyebalkan sekali."
"Apa! Menyebalkan?" Ariel mengulangi perkataan Delia.
"Iya." ketus Delia.
"Benarkah?" Ariel maju mendekat ke arah Delia, membuat gadis itu reflek mundur karena tiba-tiba. "Di bagian mananya?" Ia tidak melepaskan pandangannya dari wajah Delia, ia bahkan menatap lekat ke arah mata Delia. Hingga membuat gadis itu sedikit gugup.
"Se-semuanya." Delia berusaha menghindari Ariel yang terus mengikis jarak di antara mereka. "Om... minggir nggak! Atau mau ku pukul lagi?" ancam nya.
"Kamu juga sangat cerewet malam ini, tapi sayang nya aku justru suka melihatnya." Ariel terus memojokkan Delia hingga punggung gadis itu membentur dapur.
Delia semakin tidak tau harus berbuat apa, kenapa otaknya tiba-tiba tidak berfungsi dengan baik saat seperti ini. "Om, ngaco." Ia berusaha mendorong Ariel, tapi sayangnya dengan cepat Ariel meraih kedua tangannya lalu menahannya di belakang punggungnya. Yang membuat ia tidak bisa berkutik. "Om!"
"Kamu tau! Dari sekian banyaknya hal yang pernah aku lakukan beberapa hari ini, tapi kenapa hanya kamu yang selalu memenuhi semua pikiranku?" Ariel mengungkapkan apa yang mengganjal pikirannya beberapa hari ini. "Dan aku tidak bisa untuk tidak memikirkan mu."
Delia mencerna baik-baik ucapan pria di hadapannya ini, kenapa dia berbicara seperti itu! Bukannya dia tidak mengerti apa yang di maksud hanya saja semuanya secara tiba-tiba.
Cup.
Mata Delia membulat.
Entah bagaimana mulanya, sekarang bibir Ariel sudah menempel pada bibirnya.
"Tidak bisakah, kamu juga mengalami apa yang aku alami?" Ariel menarik diri, dan mendapati Delia membeku. Namun di detik berikutnya ia kembali mempertemukan kedua bibir mereka.
Ariel mulai menyesap dan mempermainkan bibir Delia, menikmati rasa yang belum pernah ia temukan dengan para wanita yang pernah ia kencani.
Meskipun gadis itu tidak membalas permainannya, tapi ia tetap menikmati.
Ariel menekan tengkuk Delia dengan salah satu tangannya, semua itu agar ia lebih muda untuk lebih dalam dalam permainannya.
Delia yang baru tersadar, seketika ia memberontak. Tapi sayangnya kedua tangannya masih di kuasai oleh Ariel.
Delia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, yang membuat Ariel semakin gemas. Hingga membuat Ariel dengan sengaja menggigit kecil bibir gadis itu, dan seperti dugaannya bibir Delia langsung terbuka.
Ariel yang memang pengalaman dalam hal ini, tentu membuat Delia kewalahan dalam menghadapi nya. Apalagi saat ia merasakan lidah pria itu mulai membelit lidahnya.
Entah apa yang harus Delia sekarang lakukan, tapi yang jelas rasanya otak dan tubuhnya sedang tidak sejalan. Hingga di detik berikutnya, dengan sendirinya matanya terpejam.
Beberapa saat berlalu, Ariel melepaskan permainannya pada bibir Delia. Ia dapat melihat bibir gadis itu yang sekarang berubah sangat merah dan sedikit membengkak karena ulahnya.
"Jangan bersedih lagi seperti kemarin, itu membuatku sedih." kata Ariel, kemudian memeluk Delia.
Di saat itulah mata Dellia kembali terbuka, bahkan nafasnya tidak beraturan. Hal yang baru saja terjadi adalah yang pertama baginya, seseorang berani menyentuhnya.
Ia menghembuskan nafasnya kasar, setelah sekarang ia merasa sudah terbebas. Dan melihat Ariel yang masih memeluknya, rasanya kini ia sudah tau apa yang harus di lakukannya.
Tanpa aba-aba, Delia langsung saja mengangkat lututnya. Dan di detik berikutnya, lutut itu mengenai tepat sasaran. Sebuah benda keramat yang berada di antara kedua paha Ariel.
"Arrrggghhh.... " Ariel mendekapnya dengan kedua tangan. "Tirex."
...----------------...
...Makannya Om Ariel jangan berubah jadi soang 😂...
...Oh ya perkenalkan OM ARIEL...