Girl Who Are You?

Girl Who Are You?
Mengajak Pergi



Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan ponsel Ariel terus berdering. Terlihat Meili sedari tadi menghubunginya.


"Kakak... Kenapa putriku belum pulang." Meili dari sebrang sana berbicara begitu panggilan terhubung.


Ariel memutar bola matanya malas. "Anakmu tidak mau pulang."


Teringat tadi ketika di mall, setelah mereka selesai mengisi perut. Alma mengajak Delia untuk kembali ke wahana permainan.


Tenaga gadis kecil itu seperti tidak ada habisnya, yang akhirnya Delia harus membujuknya agar mau pulang dan lain waktu akan bermain lagi.


"Lalu sekarang dimana Alma?" tanya Meili.


Ariel melirik ke sampingnya, dimana Delia yang memangku Alma. Keduanya tengah menikmati mimpi indah.


"Alma tidur, ini sudah di jalan. Sebentar lagi sampai ke rumah mu."


"Oh... baiklah, aku tunggu."


Kemudian sambungan berakhir.


*


*


Gerbang rumah Meili yang menjulang tinggi begitu saja terbuka ketika mobil Ariel tiba di sana.


Meili dan pengasuh Alma sudah berdiri di depan pintu, menunggu putrinya di antarkan oleh sahabat suaminya.


Setelah mobilnya berhenti, Ariel turun dan memutar ke arah Delia dan Alma tertidur.


Dengan hati-hati, ia mencoba meraih tubuh Alma tanpa membangunkan Delia.


"Delia juga tidur!" Meili melihat ke dalam mobil.


"Iya, karena putrimu sedari tadi mengajaknya berolahraga." Ariel memberikan Alma kepada pengasuhnya.


Meili terkekeh. "Mbak, tolong langsung tidurkan saja di kamarnya."


"Iya, Bu." Kemudian pengasuh itu membawa Alma pergi dari sana.


"Kakak nggak mampir dulu?" Meili menawari.


"Nggak lah, udah malam." Ariel menutup pintu mobilnya perlahan.


"Biasanya kakak juga nggak pulang." Meili mengingat dulu kelakuan pria itu.


"Kalau ngomong suka bener aja." Sebelum Ariel masuk ke dalam mobilnya.


"Hati-hati di jalan."


Di dalam perjalanan, sesekali Ariel melirik ke arah Delia. Sepertinya gadis itu benar-benar lelah, bagaimana tidak sepulang sekolah ia bekerja dan malamnya ia menemani Alma yang tingkahnya sangat aktif.


Sesampainya di rumah, Ariel bingung harus bagaimana. Sebenarnya ia bisa saja menggendongnya, tapi Delia tinggal di perkampungan yang padat penghuni. Jika ada yang tau pasti mereka akan di kira melakukan yang tidak-tidak.


Ariel menggenggam tangan Delia. "Delia...!" Ia sedikit mengguncangnya, beberapa kali ia melakukannya hingga mata gadis itu mulai sedikit terbuka. "Sudah sampai rumah!"


"Mana Alma!" Delia justru mencari Alma yang tadi ia pangku tapi sekarang tidak ada, sepertinya ia belum sedar sepenuhnya.


"Alma sudah pulang." Ariel menjawab. "Dan sekarang kita sudah di rumah kontrakan kamu."


Delia mengedarkan pandangannya, dan memang benar ia sudah pulang.


"Sekarang masuklah, sudah malam. Aku tidak mampir." Ujar Ariel.


"Ehmmm... Baiklah." Delia lalu bersiap untuk keluar tapi pria itu menahan pergelangan tangannya membuat ia menoleh.


"Apa aku tidak di beri upah!" tanya Ariel, ia tersenyum penuh arti. Pikirannya sekarang memikirkan banyak hal, dan tentunya hal-hal yang menguntungkan dirinya.


Alis Delia saling bertautan karena merasa heran, upah! Apa ia tidak salah mendengarnya. Bahkan uang pria di depannya ini tidak sebanding dengan dirinya. "Berapa?"


"Ck." Ariel berdecak, kenapa pikiran Delia tidak sama dengannya. "Bukan uang, tapi ini." Ia menunjuk bibir nya dengan tersenyum, ia mencoba peruntungan siapa tau ia akan mendapatkannya lagi seperti tempo hari.


"Oh... " Delia tersenyum manis. "Cium?"


Dan Ariel segera mengangguk.


"Boleh." kata Delia, semakin membuat senyum Ariel melebar. "Pilih yang mana! Kiri atau kanan?" Ia memperlihatkan kedua tangannya yang mengepal.


"Bagus!" ujar Delia dengan tersenyum gemas. Ia lalu turun dari mobil dan meninggalkan Ariel. "Tadi sudah mengambil kesempatan dalam kesempitan, sekarang masih berani minta cium!" Ia menggerutu hingga masuk kedalam rumah, ia lalu mematikan lampu ruang tamu dan berjalan menuju kamarnya.


Melihat lampu rumah Delia yang sudah padam, Ariel mulai melakukan mobilnya pergi dari sana. "Kenapa dia galak sekali!"


*


*


Keesokan paginya, seperti rencana semula. Delia menikmati waktu liburnya dengan bangun siang. Bahkan ponselnya yang berdering sedari tadi sama sekali tidak mengganggunya.


Hingga matahari mulai merangkak naik, terlihat Delia mulai menggeliat. Ia merasakan tubuhnya begitu ringan, sepertinya tidur dengan waktu yang cukup memang baik.


Ia menggapai ponselnya. "Sudah jam sembilan." Hal pertama yang ia lihat, hingga beberapa panggilan tak terjawab juga pesan menjadi perhatiannya.


Salah satunya panggilan dari Ariel dan sisanya dari Eva.


📩 Kemari kamu gajian kan? Ibu minta uang.


Delia menghembuskan nafasnya kasar.


Nyatanya meskipun Eva dan Dandi sudah sering berbuat jahat, ia masih tidak tega untuk menelantarkannya begitu saja.


📩Nanti sore Delia akan ke rumah.


Di lain tempat Ariel sudah begitu rapi, ia sepertinya akan pergi. Sebelum pergi ia mencari keberadaan Rima untuk berpamitan, dan terlihat wanita paruh baya itu sedang berada di kebun belakang rumah mereka.


"Mi... Ariel mau pergi dulu." Ariel sedikit berteriak, sehingga Rima menoleh kepadanya.


"Kamu mau pergi kemana?" Rima menghentikan menyiram tanamannya kemudian menghampiri sang putra.


"Mau pergi."


"Mami nggak ada temennya di rumah."


Ariel memutar bola matanya. "Ada Papi, Mi."


"Papi sudah pergi, kata nya main golf."


"Kenapa Mami nggak ikut?"


"Bosen ah, cuma lihat rumput doang."


Di detik kemudian Ariel tersenyum penuh arti. "Ya udah Ariel pergi sebentar, nanti langsung pulang."


"Beneran ya?"


"Iya...!" Ariel mencium pipi Rima sebelum pergi dari sana.


Kini tujuannya adalah ke rumah Delia, memang mau kemana lagi. Ia masih dalam misi berjuang untuk mendapatkan hati Delia.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang di kendarai sudah sampai di halaman rumah Delia. "Apa masih tidur?" Ia melihat pintu rumah itu masih tertutup.


Ariel mengetuk pintu beberapa kali, tapi penghuni rumah itu masih tidak terlihat.


Hingga lima menit menunggu, terdengar suara Delia dari dalam rumah. "Tunggu sebentar!"


Klek.


Lalu pintu terbuka, menampilkan Delia yang terlihat segar setelah mandi. Handuk kecil menggulung rambutnya yang basah setelah keramas.


Mata Ariel membulat melihat tampilan Delia, dan segera mendorong gadis itu masuk kembali ke dalam rumah. "Kenapa kamu memakai baju seperti ini?" geramnya.


Delia menatap dirinya sendiri, ia merasa tidak ada yang aneh. "Salahnya di mana?"


Ariel semakin kesal di buatnya. "Lihatlah, celanamu terlalu pendek. Bagaimana nanti kalau ada yang lihat!"


Delia menghembuskan nafasnya perlahan, jangan sampai ia emosi di pagi hari gara-gara Ariel. "Om... dari dulu aku juga pakainya seperti ini, dan sekarang yang lihat itu Om sendiri. Kalau begitu, kenapa Om malah masuk nggak keluar aja." Ia mendengus.


Delia kemudian pergi ke dapur untuk memasak dan tidak memperdulikan Ariel. Celana pendek yang ia kenakan menurutnya masih wajar, karena masih di atas lutut. "Dasar aneh... !"


Ariel lalu mengikuti Delia, sesekali ia harus menelan luda karena penampilan Delia yang menurutnya sungguh menggoda. "Ayo kita pergi." ajaknya.


...----------------...


...Hayo... Mau di ajak kemana nih 🤭...